Pages

2/25/11

Bengawan Solo Expedition Book


Judul: Bengawan Solo; Riwayatmu Kini...!
Penerbit: National Geographic Indonesia
Tebal: 216 + XXIV halaman
Reviewer: Ayos Purwoaji


Hifatlobrain baru saja mendapatkan sebuah buku spesial yang berjudul "Bengawan Solo; Riwayatmu Kini...!" yang diterbitkan secara eksklusif oleh National Geographic Indonesia. Tentu saja kami senang bukan kepalang, pasalnya buku yang dicetak dalam format coffee table book ini sangat bagus dan keren pisan cyiiin; dibalut dalam kertas hard cover, cetak full color di atas kertas jenis art paper, serta berisi ratusan foto dan data yang sangat bermanfaat,

Buku terbitan tahun 2009 ini sebetulnya isinya tidak jauh berbeda dengan laporan perjalanan Kompas dalam Ekspedisi Bengawan Solo. Namun bedanya, jika dalam buku Kompas hanya berisi feature dan dicetak dalam format hitam putih, maka buku yang diterbitkan National Geographic Indonesia ini adalah advanced version-nya. Selain berisi feature, buku catatan ekspedisi ini juga dihiasi dengan beberapa data geografis yang ditampilkan dalam format infografis yang cantik. Sehingga isinya tidak monoton dan membosankan.

Beberapa feature panjang yang disajikan dalam buku ini berjudul: "Bengawan Solo Purba; Misteri yang Semakin Terkuak", "Sumber Kehidupan", "Nadi yang Terbebani", dan bagian terakhir adalah "Mempertahankan Sang Nadi Kehidupan". Empat feature panjang ini ditulis oleh dua orang, Andreas Maryoto (feature satu dan dua) dan Subur Tjahjono (feature dua, tiga, dan empat).

Tapi sebetulnya membaca buku ini tidak bisa disebut membaca, karena komposisi fotonya jauh lebih banyak dengan ukuran besar-besar, jadi sebagai penikmat visual, saya sangat puas melihatnya. Hahaha.

Sayangnya saya tidak iseng untuk mencoba menghitung jumlah foto yang ada di dalamnya. Karena sudah pasti sangat buanyak, berasal dari bidikan empat fotografer: Dwi Oblo, Feri Latief, Edy Purnomo, dan Tantyo Bangun. Nama terakhir, selain membantu sebagai fotografer, Tantyo sekaligus adalah direktur dalam proyek pembuatan buku ini.

Dalam kata sambutannya, Tantyo Bangun, selaku mantan editor-in-chief National Geographic Indonesia, mengatakan bahwa, "Mungkin di sini pandangan masa kanak-kanak lebih berguna, bahwa Bengawan Solo tetaplah harus dirawat dan dicintai, sebagai salah satu sumber kehidupan utama manusia sepanjang alirannya..." Me, couldn't agree more, Bray!

Saya sebetulnya tidak punya kenangan khusus dengan Bengawan Solo, selain fakta bahwa setiap pulang mudik ke Klaten ibu saya selalu menunjukkan sungai legenda ini sebagai pertanda sudah memasuki kawasan Solo, itu artinya perjalanan mudik sudah dekat. Itu artinya saya tidak perlu uring-uringan lagi karena menghirup udara mobil tua keluarga kami yang pengap penuh barang selama perjalanan. Itu artinya terbayang senyum wajah nenek saya dan rasa sambal tomatnya yang lezat. Itu artinya dalam waktu dekat saya mendadak kaya karena bakal dapat banyak angpao.

Intinya, bagi saya pribadi, Bengawan Solo berarti kebahagiaan yang meluap, seperti aliran airnya yang menjadi-jadi saat musim hujan tiba.

Buku ini menjadi menarik karena isinya bukan hanya berisi catatan perjalanan yang cenderung membosankan. Buku ini lengkap, bercerita tentang Bengawan Solo dari berbagai sisi, mulai dari bagaimana sungai ini menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitarnya, berbagai budaya yang bisa ditemui di sepanjang alirannya, pencemaran yang dilakukan oleh industri, serta bagaimana kisah Bengawan Solo menginspirasi Gesang untuk menciptakan gubahannya yang sangat terkenal itu.

Saya pribadi merindukan buku traveling seperti ini beredar di rak-rak buku komersial, bersanding dengan buku-buku traveling murah yang sekarang membanjiri pasaran namun miskin mutu. Saya memberikan rating 4.5 dari 5 bintang untuk buku yang dicetak terbatas ini.[]

2 comments:

Giri Prasetyo said...

bagus nih kayaknya, ini terbitan pertama buku NGI kah?berapaan nih mas?

Ayos Purwoaji said...

Bukunya tidak dijual secara umum Giri...