Pages

2/11/11

Bakmie Gang Kelinci

Photograph is courtesy of Susan Stephanie (@thesuusan)

"
Jakarta kotaku indah dan megah
Disitulah aku dilahirkan
Rumahku di salah satu gang
Namanya gang kelinci

Entah apa sampai namanya kelinci
Mungkin dulu kerajaan kelinci
...
"
(Lilis Suryani - Gang Kelinci)
Saya baru tahu kalo Gang Kelinci itu ada di dalem Passer Baroe. Nylempit diantara ratusan toko tekstil dan sepatu yang berjajar padat. Ini bukanlah gang yang saya bayangkan sebelumnya. Imajinasi saya dulu mengatakan kalo Gang Kelinci itu pasti sempit sekali, cuman kelinci dan hobbit yang bisa masuk. Ternyata saya salah, cukup lebar untuk dilalui satu buah mobil pick up atau dua buah bajaj. Saya kemari saat melakoni city tour bersama para happy jobless ibukota yang bisa haha hihi di hari Senin.

Konon ini bakmi legendaris yang udah eksis dari tahun 1957. Wuih itu berarti seumuran sama bapak saya men.

Tapi memang waktu tidak pernah berbohong. Meski hari Senin, ini warung tua ramenya naujubillah. Saya nggak bisa bayangin kalo weekend seperti apa ramenya warung bakmie ini, pasti berkali lipat lebih crowded dan pengap. Dan yang saya tahu: cuma makanan enak yang bisa bikin orang berkorban kayak gini.

Akhirnya saya memesan menu Bakmie Ayam, seperti umumnya yang rombongan kami pesan. Konon ini adalah menu andalan dari Bakmie Gang Kelinci yang resepnya dirahasiakan selama puluhan tahun. Saya jadi penasaran. Di antara kami cuma Ucy yang memesan Ifumie, cukup aneh memang seleranya, dan nantinya dia akan menyesal telah memesan menu tidak populer ini, hahaha.

Saya tidak ingat berapa menit waktu yang saya perlukan untuk membabat habis semangkuk mie beserta kuah kaldunya. Tiba-tiba saja saya tersadar kalo mangkuk saya udah kosong, WTF! Hahaha ini mie memang enak sekali bung -tapi bisa jadi juga karena saya yang lapar berat setelah jalan kaki city tour. At least saya bisa kasih nilai 4/5 untuk bakmie ini. Sebetulnya bentuknya biasa aja, hampir sama seperti Bakmie Gajah Mada, tapi toppingnya lebih beragam; cah jamur dan daging ayam dua rasa! Puas.

Oh ya, kalo menurut temen saya, Susan, seorang reviewer makanan handal yang juga seorang talented designer, bilang kalo sebetulnya yang paling istimewa itu sambalnya. Ada rasa yang khas dan otentik. Saya lihat Susan sampe kepedesan tapi wajahnya memancarkan rona ketagihan. "Hushh aahh, Yosh, ambilinh sambhelnyah dhongh..." katanya sambil terus ber-hu-ha kepedesan. Saya melihatnya jadi ketawa, mungkin di Singapura nggak ada sambal se-tasteful ini, hehehe.

Jangan lupa untuk mampir ke blognya Susan yang penuh dengan foto makanan. Saya termasuk fans beratnya dalam hal food photography, bagi saya foto-foto dia simply awesome dan selalu sukses bikin saya ngiler. Cewek lajang ini juga seneng banget berbagi kisahnya dalam melakukan foodspotting yang seru via twitter.

Yang paling saya notice dari kedai ini adalah: pramuniaga wanita menggunakan pakaian yang sangat keren. Sangat Gang Kelinci! Potongannya centil tapi classy. Apalagi warna seragamnya merah muda! Wuih baby doll abis pokonya mah...

Anyway, nanti liputan Jakarta City Tour akan saya tulis terpisah ya. Keep reading guys.

Silahkan kunjungi fans page Bakmie Gang Kelinci di sini.

7 comments:

Wana said...

tulisanmu ya mas, tak kirain bukan..haha
oia,

Anonymous said...

hastaga cuuuk
emang g makan segitunya kah?
sumpah #kode abiss LOL!

thanks yosh, g link ke blog ntar ya
*jadi pengen malu ^^

bondan said...

klo tau pada makan di pasar baru, gw kan bisa ikutan

winda said...

Akan lebih bijaksana lagi jika di cek label Halal-nya :D. *kabuuuuurrrr*

liek said...

mas ayosh sibuk ngapain lho sekarang ne? kayae isine jalan-jalan thok... kapan2 qta orang diajakin jalan yo mas ^_^

dan sapar said...

coba ahhh..>

Ayos Purwoaji said...

@ Mas Dan: Cobalah om :)