Pages

2/11/11

Traditional Pizza Delicacy


Beberapa waktu yang lalu saya ditanya sama Nuran Wibisono, seorang sahabat yang saya malu mengakuinya sahabat. Dia bilang: "Lapo Hifatlobrain dadi dot Net nek awakmu malah jarang nulis! Mending ganti ae nang dot Blogspot maneh..." (Ngapain Hifatlobrain jadi dot Net kalo kamu malah jarang nulis! Mending diganti aja ke blogspot lagi aja...) Uhukkk, saya tertohok men. Ya Tuhan, kapan ya terakhir kali saya nulis di blog saya sendiri? Hahahaha.

Jujur saja, beberapa waktu terakhir saya disibukkan dengan jalan-jalan, nah traveloguenya belom sempet ditulis (baca: males) eh sudah jalan-jalan lagi... Jadi sebetulnya hutang travelogue saya buanyaaak sekali. Ehm err sebetulnya nggak begitu banyak sih :p

Anyway, saya sebetulnya tetep nulis. Tapi lebih ke yang berbau jurnalistik, writing for some assignment. Sangat nggak asyik sebetulnya. Saya harus berpikir alur dan struktur. It's kinda boring actually, dan saya merasa kangen buat nulis yang nggak pake mikir. Nulis yang apa adanya. Nulis di blog...

Maka kali ini saya kembali lagi Hifatlobrainers! Untuk itu saya akan mereview kuliner, sebuah topik yang saya suka dan pembaca juga suka! Hohoho dan iseng-iseng saya makan sepotong pizza di Nanamia Pizzeria. Warung ini akan membuat Anda berpikir ulang tentang bagaimana cara menikmati sepotong pizza!

Saya datang bersama teman tepat sebelum matahari terbenam. Saat itu saya melihat banyak meja masih kosong. Hanya ada satu dua pengunjung wanita yang tampak. Mereka duduk berkelompok, asyik bercanda di meja paling ujung. Saya mengambil sebuah meja double seat yang masih kosong. Tiba-tiba seorang pelayan datang dengan wajah ramah, mempersilahkan saya pindah, ternyata meja yang saya duduki sudah dipesan, begitu juga meja sampingnya dan sampingnya lagi.

Ternyata, meski kecil, pizzeria (toko pizza) ini begitu diminati. Pengunjung sampai harus pesan terlebih dahulu karena takut kehabisan tempat. “Pengunjung kita setiap hari memang sangat banyak, bahkan jika meja sudah habis, Anda harus rela menunggu,” kata operational manager Nanamia Pizzeria, Putri Agustin, seraya menunjuk sebuah deretan kursi plastik yang biasa digunakan sebagai ruang tunggu.

Akhirnya saya menuju ruang samping, ada beberapa meja yang memang benar-benar kosong. Akhirnya saya pesan menu Nanamia Speciale, pizza spesial khas Nanamia yang memiliki citarasa pedas dengan topping sederhana. Saya menunggu pesanan tidak begitu lama, mungkin karena pengunjung masih sedikit. Selama menunggu yang saya lakukan adalah menikmati nuansa pesisir Italia yang hadir di setiap dekorasi di resto kecil ini.

Akhirnya pesanan saya tiba, yang pertama kali datang adalah blueberry juice yang saya pesan untuk menemani Nanamia Speciale.

Saya perhatikan, di atas tembok ada mural Nanamia Pizzeria dengan grafis memukau, bersulur-sulur klasik. Membawa semangat Victorian, namun tidak aristokrat. Di bawahnya terdapat tagline; traditional pizza for modern people. Sebuah motto yang ambigu tapi menarik.

Nanamia memang warung pizza tradisional yang taat aturan. Mereka masih menggunakan tungku kayu bakar untuk memasak, itu semua dilakoni agar citarasa orisinal Italian pizza bisa hadir. Efeknya memang terasa, pizza pun terhidang dengan aroma sedikit gosong, akibat terkena pembakaran langsung dari tungku yang tanpa sekat. Bagi saya, ini merupakan salah satu kunci yang membuat pizza Nanamia terasa seksi. “Kami memilih kayu tidak sembarangan, tapi hanya dari pohon buah-buahan,” kata Nana, pemilik Nanamia Pizzeria. Hal ini dilakukan agar aroma yang tercipta dari pizza tidak berbau arang melainkan berbau harum dengan sedikit aroma buah-buahan.

Selain itu, ciri khas lain pizza Nanamia adalah lapisan roti yang tipis, sehingga terasa sangat crunchy. Konon, aslinya pizza Italia memang harus dihadirkan seperti ini, sama seperti empat ratus tahun yang lalu saat pizza pertama kali ditemukan di Italia. Tanpa saus tomat, hanya mozzarella dan beberapa topping sederhana.

Pizza tradisional Italia ini sangat berbeda dibandingkan dengan american pizza yang memiliki lapisan roti tebal dan mengenyangkan. Pizza suguhan Nanamia tentu saja tidak cocok digunakan sebagai pengganti makan besar. Tapi jika Anda bersikeras untuk mengganjal perut saat datang ke Nanamia, maka silahkan coba sajian lainnya, seperti Spaghetti al Tonno Piccante, Spaghetti Bolognese, Insalata Mediterania, dan Insalata le Marche. Masih ada sederetan panjang menu pasta lainnya yang namanya membuat lidah saya keselo blah blah, semua dibikin dengan citarasa tradisional Italia.

Karakteristik yang khas ini sangat berpengaruh kepada cara makan pizza Nanamia. Ini yang saya suka; sebuah pan pizza hadir apa adanya tanpa piring, pisau, dan garpu. Maka silahkan comot slice pizza-nya dan makan saja dengan tangan! “Justru ini cara makan pizza Italia yang baik dan benar,” kata teman saya.

Sebagai pemilik warung pizza ini, Nana tampaknya benar-benar ingin menciptakan ambience yang kuat dalam penataan interior ruangan. Dindingnya berwarna oranye muda dengan aksen rustic di beberapa bagian memberi kesan oldies yang kuat. Penambahan mural berupa motif floral berwarna coklat menghadirkan kesan klasik. Semua itu elemen ini mengingatkan pada film Malena yang dibintangi Monica Belluci dengan berlatar belakang Italia di tahun 1940.

Suasana Italia hadir semakin kuat dengan alunan Italian world music yang chillout. “Kami ingin menghidupkan suasana yang cozy, tenang, dan sangat Italia. Ini salah satu daya jual yang dimiliki Nanamia dibanding resto pizza yang lain. Banyak pengunjung yang suka dengan konsep ini dan rela berlama-lama duduk, padahal waiting list-nya banyak ha-ha-ha,” kata Nana.

Seluruh konsep interior didesain sendiri oleh Nana. Sebagai seorang arsitek, tentu Nana tahu benar bagaimana cara menghadirkan suasana yang nyaman melalui penataan ruangan. “Itu lubang besar penyekat antar ruang, sengaja aku buat seperti itu biar pengunjung satu sama lain bisa saling melihat meskipun ada di ruangan lain, apalagi banyak ekspatriat yang makan di sini, lumayan lah bisa buat cuci mata,” kata Nana setengah bercanda.

Tapi bisa jadi benar juga, meskipun tidak terlalu besar, tetapi Nanamia berhasil menghadirkan suasana yang hangat. Itu yang membuat pelanggannya kembali dan kembali lagi. Sederetan selebritis nasional bahkan menjadi pelanggan tetap warung yang terletak di pertigaan Universitas Sanata Dharma ini. “Diplomat dari beberapa negara juga sering makan di sini, mereka enjoy meski tempatnya nggak begitu besar,” kata Nana.

Sebagai pizzeria dengan banyak penggemar seharusnya Nanamia bisa dikembangkan menjadi lebih besar dengan tempat yang lebih luas. Namun tampaknya opsi tersebut tidak pernah dipilih oleh Nana,”Konsep warung dengan tempat kecil memang sengaja dijaga. Agar keintiman yang hadir tidak hilang begitu saja,” kata Nana. []

4 comments:

Dwi Putri Ratnasari said...

yo ngene la, om... say what you need to say.. :)

bondan said...

pizzanya tipis, enak, tapi nunggunya lama

Hilmy Nugraha said...

sing neng foto ayu2 mas, hehe

seniman vertex said...

enak tenan :)