Pages

3/31/11

Next Review: Around The Globe

Photo courtesy of Suluh Pratita

Photo by Dwi Putri Ratnasari

Oke bakal ada dua buku yang siap direview Hifatlobrain pada awal April nanti. Dua buku yang menarik dan fresh from the oven karena sama-sama baru terbit. Jika dua buku sebelumnya Hifatlobrain lebih banyak menyorot tentang Indonesia, maka dua buku kedepan bakal mengajak para Hifatlobrainers untuk berkeliling dunia! Yeah!

Buku pertama adalah sekuel EuroTrip dan UKTrip yang ditulis oleh Matatita. Kebetulan, honorabel contributor Hifatlobrain, Dwi Putri Ratnasari, berkesempatan untuk menghadiri acara launching kedua buku ini di Jogja beberepa hari lalu. Putri melaporkan bahwa acaranya cukup menarik karena selain launching buku, Matatita juga berbagi tentang kiat travel writing dan menembus media.

"...Dan anehnya mereka lebih banyak bertanya tentang “cara traveling ke luar negeri" bukan “travel writing”. Sampe mbak moderatornya bilang gini, “Ayo yang mau tanya lagi, tapi tentang menulis yaaa…” Ga ada tuh yang nanya, “Travel writing itu apa sih, kak?” Sigh." lapor Putri dalam email yang ditulisnya.

Buku kedua berjudul "Amazing Places, They Inspired Me and Will Inspire You" yang merupakan photo book karya Agung Krisprimandoyo. Ini merupakan catatan perjalanan visualnya berkeliling dunia dan mengunjungi tempat-tempat yang menarik. Buku yang diterbitkan oleh komunitas Fotografer.Net ini sebetulnya merupakan hadiah atas pengukuhan gelar doktoral yang ditempuh Agung di Unair. Namun buku yang dicetak terbatas ini juga bisa dibeli di Bursa FN.

Semoga kedepan Hifatlobrain selalu punya uang atau dikirimi orang agar bisa menyajikan review buku travel paling hot yang ada di Indonesia yes. Hehehe.

3/25/11

One Step Ahead


Semakin tahun blog ini menjadi semakin dewasa dan fitur yang semakin bertambah. Belum lagi predikat dot Net yang sekarang disandang Hifatlobrain, tentu saja itu memiliki dimensi tanggung jawab yang berbeda. Artinya, kami harus terus berbenah dan melakukan inovasi, apalagi perkembangan dunia pariwisata di Indonesia yang makin bergairah dari hari ke hari.

Bahkan saat ini mulai bermunculan profesi baru yang belum pernah dibayangkan sebelumnya; ada travel writer, travel celebrity dan bahkan social media traveler. Berbagai majalah baru yang berbicara tentang aspek pariwisata juga tumbuh subur, jumlahnya puluhan dan setiap bulan terbit berganti edisi memenuhi rak toko buku. Belum lagi deretan penerbitan buku-buku traveling yang semakin marak, meski banyak diantaranya memiliki mutu rendah.

Di tengah situasi seperti ini Hifatlobrain berganti wajah. Menjadi sebuah institut yang berkutat untuk mengembangkan dunia traveling di Indonesia. Kedepan, selain tetap menerbitkan catatan perjalanan yang maknyus, kami juga bakal menerbitkan lebih banyak ebook dan mereview lebih banyak buku traveling bermutu. Semua dilakukan agar dunia pariwisata di Indonesia semakin maju dan lebih banyak lagi anak muda yang menjelajah sudut-sudut Nusantara. Racun kami akan semakin hebat untuk membujuk para remaja lebih jauh mengeksplorasi negeri ini.

Namun, kami tetap tidak meninggalkan angka 2.0 di belakang nama Hifatlobrain. Itu berarti silahkan siapa pun Anda, para pecinta traveling dan pemerhati budaya di Indonesia untuk berkontribusi memperkaya blog traveling paling catchy ini. Silahkan menulis dan memotret untuk kami. Silahkan sebarkan kabar baik dari Indonesia melalui Hifatlobrain. Silahkan salurkan euforia kalian yang ingin berteriak bahwa; Indonesia itu indah!

Dan kami akan selalu menunggu catatan perjalanan, tulisan, dan foto kalian.

Kami belum tahu kapan akan melakukan grand launching untuk Hifatlobrain Travel Institute. Namun langkah kami ini mengawali pihak lain untuk bersama-sama memperhatikan dunia pariwisata dan budaya di Indonesia. Maka kami memulainya, dengan membentuk travel institute.

Tabik,
Hifatlobrain

3/23/11

Living Treasures of Indonesia

Judul: Living Treasures of Indonesia
Penyusun dan fotografer: Riza Marlon
Penerbit: Indonesia Nature and Wildlife Publishing
Tebal: 216 halaman
Reviewer: Ayos Purwoaji

Masih segar benar dalam ingatan bagaimana empat tahun lalu saya kalang kabut pinjam duit ke teman sekamar saya, Hanif, untuk membeli satu buku karangan Alain Compost di sebuah stand pameran yang menjual buku bekas. Harganya tidak mahal, lima puluh ribu saja, tapi saat itu uang saya habis untuk memborong buku ini itu. Sialnya, saya baru lihat buku Alain Compost sesaat sebelum pulang. Sigh.

Melalui bukunya, Compost membuka mata saya lebih lebar lagi bahwa Indonesia ini sangat kaya, khususnya kekayaan hayati berupa flora fauna yang tak terhitung banyaknya. Saya memang tidak kuliah di jurusan Biologi, tapi membaca buku Compost, mendadak saya menaruh perhatian pada beragam jenis fauna yang hidup di Indonesia. Saya sadar, buku Compost ini adalah hasil kerja keras dan riset yang tidak mudah. Berbagai foto alam liar dengan teknologi yang masih berupa kamera film itu membuat saya geleng-geleng kepala, terlebih karena Compost tidak memiliki tombol delete di kamera filmnya. Tidak seperti saat ini, generasi fotografi digital yang dimanjakan oleh gadget. Seperti saya.

Tapi saat itu ada satu pertanyaan besar yang menggantung di benak saya: Apakah tidak ada fotografer lokal yang bisa bikin karya seperti Compost?

Ternyata pertanyaan itu baru terjawab empat tahun kemudian. Riza Marlon menjawab tantangan berat itu dengan meluncurkan buku pertamanya yang diberi judul "Living Treasures of Indonesia". Sebuah buku dengan format coffee table book yang hampir 80 persen berisi foto berbagai jenis fauna endemik yang ada di Indonesia. Karya hebat ini adalah sari pati hasil dari perjalanan Riza selama 20 tahun menembus hutan dan gunung di Nusantara. Sebuah pekerjaan yang mustahil dilakukan dengan cara instan.

Saat prensetasinya di Forum Fotografi Candranaya di Jakarta beberapa waktu lalu saya membayangkan begitu keras dan intens pekerjaan yang dilakoni Riza dalam dua dasawarsa terakhir hidupnya. Dalam epilog bukunya, Riza menjelaskan sedikit tentang perjuangannya selama ini: "Traveling in remote areas to take pictures is an adventurous experience indeed. Walking the whole day for weeks, with no other mode of transportation is common story..." Dari situ banyak yang menganggap Riza adalah orang gila. Satu-satunya fotografer gila yang rela berjalan dan bersakit-sakit hanya untuk mendapatkan beberapa frame gambar hewan langka. Edan.

Saya tidak habis-habis memberikan rasa kagum saat membuka halaman-halaman buku ini dan membaca segala caption yang ada di dalamnya. Setiap foto membawa saya pada imajinasi tentang sebuah ekspedisi tertentu. Membayangkan hewan dalam wujud aslinya, bagaimana tekstur kulitnya, suara unik yang dikeluarkannya. Hemat kata, buku ini membawa saya keliling hutan dan gunung di Indonesia selama hampir dua jam.

Buku eksklusif yang berisi 132 foto berwarna ini dibagi dalam tiga babak besar yang dibagi menurut bioregion yang ada di Indonesia: Sundaland, Wallacea, dan Sahul. Setiap bab memiliki masing-masing satwa unik yang tidak mungin ditemukan di bioregion lain.

Beberapa foto menimbulkan impresi khusus bagi saya. Seperti foto Tarsius (Tarsius spectrum) yang sedang melompat dan diambil dengan teknik multiexposure. Ini bukan gambar Tarsius yang biasa saya lihat di majalah-majalah sains, sebuah bukti bahwa Riza melakukan inovasi dalam pendekatan teknologi dan artistik dalam fotonya. Tidak asal jepret saja.

Foto lain adalah gambar Katak Berau yang sedang bertengger di atas daun. Dalam captionnya Riza bilang bahwa katak ini berukuran sangat kecil kurang lebih satu sentimeter saja. Saya berpikir; bagaimana bisa Riza menemukan katak sekecil ini diantara ribuan hektar hutan hujan yang seperti tak berbatas? Ternyata Riza mengenali lokasi katak ini berdasarkan suara yang ditimbulkan. Saya jadi penasaran ingin tahu berapa jenis suara binatang yang sudah Riza hafal luar kepala...

Foto kover berupa Julang Sulawesi (Aceros cassidix) juga menarik untuk dicermati. Bagi saya, ini adalah sebuah kebetulan yang manis. Riza mampu mendapatkan foto hornbill berparuh cantik ini dengan mode panning yang cukup keren. Setahu saya foto seperti ini memiliki tingkat kesulitan yang advanced. Beruntung foto ini terpilih menjadi kover, bisa jadi karena ada campur tangan Arbain Rambey yang membantu Riza untuk menjadi photo editor buku ini.

Ada satu buah foto di dalam buku ini yang saya kenali sempat dimuat dalam majalah National Geographic Indonesia. Sebuah foto burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacei) yang sedang mengembangkan sayap indahnya. Betul-betul terlihat seperti seorang bidadari, karena dua buah bulu di pundaknya yang melingkar seakan membentuk 'halo' di atas kepalanya. Sangat cantik. Semoga burung ini tidak lekas punah sebelum saya dan anak cucu saya bisa menikmatinya.

Ular Pucuk (Ahetulla prasina) | this photograph is courtesy of Riza Marlon

Dalam sebuah komentarnya di Facebook, Riza mengatakan,"Yos, itu baru keraknya dari kekayaan biodiversitas Indonesia...masih banyak lagiii...ayo kita motret terus alam Indonesia bersama..." Yes, i'd love to Sir, tapi saya nawaitu dulu ya. Saya nggak bisa membayangkan jadi istri dan keluarga bang Riza yang sering ditinggal mblusuk masuk ke dalam hutan selama berminggu-minggu tanpa ada kabar karena nihil sinyal. Saya haqqul yaqin, istri bang Riza ini pasti istri jagoan, yang mendukung pilihan hidup suaminya tanpa banyak keluh kesah.

Saya mengamini pernyataan bang Riza bahwa buku ini memang 'hanya' keraknya saja. Bayangkan, dalam buku ini Riza masih jarang menyentuh keluarga Ornithoptera (kupu-kupu) dan Anthropoda (serangga) yang jumlahnya naujubilah di Indonesia. Menurut teman saya, seorang entomolog di Universitas Cenderawasih, Indonesia adalah surga bagi serangga dunia. Di Papua saja dia beserta tim dan entomolog senior, Bruder Henk, bisa mengumpulkan 60.000 jenis kupu-kupu endemik. Dan, setahu saya dalam buku ini, Riza belum banyak menyentuh dua jenis hewan mungil ini. Dalam catatan saya yang lain, juga masih sedikit obyek fauna bawah laut yang dibidik oleh Caca, panggilan akrab bang Riza. Jadi masih terbuka kemungkinan bagi para fotografer alam liar junior untuk mengeksplorasi kekayaan alam Nusantara.

Sama seperti sampul bukunya, Riza adalah orang yang bergegas. Sebagai seorang dokumentarian khusus kehidupan satwa, Riza musti bergerak terburu bertaruh dengan waktu. Ia harus sesegera dan sebanyak mungkin mendokumentasikan berbagai jenis "harta karun hidup" Nusantara yang luar biasa banyaknya, namun di sisi lain degradasi hutan semakin cepat dan angka satwa punah semakin tinggi. Bagi saya ini adalah pertaruhan yang mahal. Saya yakin , pada suatu saat nanti ketika Orangutan (Pongo pygmaeus) sudah musnah dari hutan Kalimantan, maka hasil foto Riza akan menjadi sejarah yang berharga.

Saya memberikan nilai 5 dari 5 bintang untuk buku ini. Ada beberapa hal yang membuat buku ini terasa hebat di mata saya; pertama, ini adalah buku wildlife photography pertama yang dibuat oleh orang Indonesia. Buku ini sepenuhnya dikerjakan dan didanai oleh Riza, dengan kocek pribadinya, tentu saja effort ini tidak bisa diabaikan. Kedua, saya juga memberikan nilai lebih atas tata artistik buku yang dicetak diatas kertas art paper full color ini. Tanpa desain dan tata letak yang baik, maka buku ini akan terlihat murah. Beruntung Riza dan tim menyadari hal ini, dan eksekusi desainnya menurut saya sangat bagus.

Hifatlobrain bertemu Riza Marlon dan istri (photo by Eddie Targo)

Dalam situs FOBI, dengan setengah bercanda bang Riza bilang,“Kalo lu bilang buku gua jelek, lu coba deh bikin sendiri. Gua mau liat..." Sebuah tantangan baru muncul bagi para fotografer alam liar muda untuk mengabadikan Indonesia sebagai surga biodiversitas dunia. Anyone, ada yang berminat mengalahkan Riza Marlon?[]

Amazing Ambon; Above, Under, and Beyond


Judul: Amazing Ambon; Above, Under, and Beyond
Penyusun : M Noer Moeis, Prita Laura, Ria Qorina Lubis, Harum Sekartaji, Yvone Armanto & Hary Susanto
Photo on Cover: Edy Purnomo
Kontributor: Andy Atis, Camelia Siagian, Christoffel Simanjuntak, Cipto Aji Gunawan, Edy Purnomo, Heru Suryoko, Lelita Larashati, M. Noer Muis, Maya Helvig Manuputty, Ronald Soefajin, Ronny Rengkung, Teguh Tirtaputra, Yoyon Soebagyo
Penerbit : NMbooks
Tebal: 204 halaman
Reviewer: Ayos Purwoaji


Sejak seorang teman membawakan pasir pantai Pulau Kei, keinginan saya untuk mengunjungi Maluku meletup-letup di kepala. Pasir putih pantai sehalus susu itu dimasukkan dalam wadah botol bekas air minum mineral dan dia bawa ke Bandung, dimana dia tinggal saat ini untuk menempuh kerasnya hidup sebagai mahasiswa. "Ini pasir pantai Kei, bikin aku selalu pengen pulang ke Maluku..." kata kawan saya yang hidungnya extra bangir seperti orang Arab itu. "Maluku panggil pulang..." itu kata kelompok hip-hop Belanda asal Maluku, Ambonwhena.

Maka saat kampung halaman memanggil, siapa yang bisa menolak ajakan untuk pulang?

Masalahnya, Maluku itu juga termasuk kampung halaman bagi ribuan spesies bawah air yang sangat indah. Berbagai jenis nudibranch, crustacean, dan cephalopode hilir mudik di antara reruntuhan shipwreck bekas peninggalan PD II yang berubah menjadi rumah yang nyaman bagi ribuan ikan. Lautnya begitu kaya dan -sebentar saya ambil nafas dulu- anjrit sangat indah! Saya hampir yakin tidak ada diver yang bakal melewatkan Maluku sebagai destinasi diving sebelum mati. Begitu banyak world class dive site yang ada di sekitar perairan Maluku.

Rasa mupeng saya untuk mengunjungi Maluku sedikit banyak terhibur dengan hadirnya buku "Amazing Ambon; Above, Under, and Beyond" yang hadir di perpustakaan Hifatlobrain beberapa waktu lalu. Buku ini hadir dengan berbagai foto indah jepretan para fotografer underwater profesional yang merekam kehidupan laut Ambon dengan nyaris sempurna. Apalagi buku ini hadir dalam format coffee table book yang full color dan dicetak diatas kertas art paper, sehingga ada sebuah kepuasan visual yang didapat saat melihat berbagai foto dalam buku setebal 204 halaman ini.

Kesan menarik itu langsung muncul dari kovernya yang menggambarkan tradisi orang Ambon saat berburu ikan dengan menggunakan tombak ikan tradisional. Foto karya Edy Purnomo ini memang sebuah pilihan tepat untuk memulai petualangan underwater yang bakal dibahas secara detail di halaman lainnya dalam buku ini. Satu kata buat kover buku ini: splendid!

Bagian pertama buku ini membahas tentang kehidupan masyarakat Ambon pada umumnya. Tentang pasar tradisional, anak-anak kecil, angkot, becak, dan beberapa peninggalan sejarah yang tersebar hampir di seluruh Kota Ambon. Dalam chapter "The Living History" saya seperti diajak jalan-jalan city tour ke sudut-sudut Ambon yang menyimpan banyak cerita masa silam. Mulai dari Benteng Victoria (Nieuw Victoria) yang dibangun pada tahun 1512 oleh Portugis, Benteng Amsterdam yang merupakan saksi kejayaan VOC, hingga Commonwealth War Cemetery sebagai bukti bahwa Ambon adalah titik penting perebutan Pasifik dalam PD II.

Sedikit bagian dalam buku ini juga menyinggung harmoni kehidupan beragama setelah Ambon luluh lantak akibat isu keagamaan pada awal tahun 2000. Ada semacam optimisme yang muncul bahwa masyarakat Ambon yang terdiri lintas budaya dan agama akan selalu harmonis di masa yang akan datang. Saya salut kepada para penyusun yang memperhatikan isu sejarah kontemporer ini, termasuk bagaimana buku ini sedikit mengungkit budaya dan kuliner masyarakat Ambon, tidak hanya aspek pariwisata saja.

Woho tentu saja bagian kuliner selalu saja seru untuk diperhatikan, buku ini menyebut satu persatu ragam makanan yang patut diburu para pecinta gastronomi. Kopi rempah Cafe Sibu-Sibu, rujak pantai Natsepa, nasi kuning Ambon, hingga salah satunya adalah ikan tuna asap atau bagi warga lokal disebut ikan asar. Foto-foto Harum Sekartaji mampu menggugah saya untuk menduga-duga bagaimana rasanya. "...Setelah matang ikan terasa garing dan dimakan dengan sambal colo-colo," begitu Harum mendeskripsikan ikan asar. Saya langsung lapar seketika. Sambil membayangkan duduk di pinggiran pantai Ambon ditemani sepotong ikan asar, semangkuk sambal colo-colo dengan pedas level super, dan sepiring nasi hangat. Oh God.

Chapter selanjutnya, "The Blue Heaven" adalah main course dari buku ini, sejak halaman 79 - 153 yang bakal Anda temui hanya tiga hal: sea creatures, birunya air laut, dan tabung selam. Bagian ini akan menjadi showcase yang memajang keindahan-keindahan bawah laut kota Ambon yang sebagian besar merupakan foto Ria Qorina Lubis dan Hary Susanto.

Saya tidak tahu apakah foto-foto underwater ini diambil dari semua titik selam di Ambon yang mencapai 43 buah atau tidak. Tapi yang saya bisa simpulkan adalah perairan Ambon sangat kaya akan underwater attractions. Berbagai jenis dive site bertebaran di Ambon, mulai dari yang disebut Pintu Kota (sebuah dive site berupa gua sepanjang 300 meter yang di dalamnya memiliki taman bawah laut), Gua Laut Hukurila (sebuah dive site dimana Anda bisa dengan mudah menemukan seafan dan sponge berukuran raksasa), hingga berbagai jenis kapal karam kuno yang permukaannya diselimuti aneka terumbu karang.

Berbagai jenis makhluk laut juga mendapat perhatian khusus dalam buku ini. Salah satunya, favorit saya adalah Mandarin Fish yang memiliki kulit berwarna-warni seperti pelangi. Apakah Anda tahu nama latinnya? Synchiropus splendidus! Namanya saja splendidus, splendid, hebat! Entah saya bakal bilang apa saat bertemu dengan ikan ini suatu saat nanti, mungkin bersujud saja di hadapannya.

Berbagai foto terumbu karang kaya warna, udang laut yang cantik, dan jenis cuttlefish yang langka bisa Anda temukan di dalam buku ini. Termasuk banya gambar Nudibranch atau siput laut yang sering menjadi buruan para fotografer bawah air karena tubuhnya kaya warna. Nudibranch dijuluki sebagai the most colorful creature in on earth.

Underwater photographs is courtesy of Ria Qorina Lubis

Bagi para pecinta pantai, ada satu chapter khusus dalam buku ini yang membahas berbagai pantai yang bisa ditemukan di sekitar kota Ambon. Jadi tidak melulu diving.

Sebetulnya ada satu hal yang saya tunggu tapi tidak muncul di buku ini, yaitu feature perjalanan yang bersifat personal. Saya pikir, dari sebagian besar penulisnya yang merupakan wanita, pasti banyak detail kecil dalam perjalanan yang membekas. Wujud excitement traveler wanita pun biasanya sangat menarik untuk diikuti, cerita tentang bagaimana mereka menyusuri gua laut, bertemu dengan ikan batu, atau merasakan kuliner lokal pasti akan sangat menarik untuk dituliskan. Sayangnya dalam buku keren ini, teks hanya diberi porsi sekitar 10 persen saja. Jadi yang saya tangkap, teksnya hanya menjadi pelengkap. Caption.

Sebagai sebuah buku yang mempromosikan keindahan Ambon, saya pikir buku ini sudah melaukannya dengan all out. Seluruh halaman dicetak berwarna, tata letaknya diusahakan maksimal, dihias dengan berbagai foto indah, dan deilengkapi dengan caption yang menggugah. Langkah penerbitan buku "Amazing Ambon" ini layak ditiru oleh daerah lain yang ingin mengembangkan industri pariwisata. Bahkan jika perlu dicetak dalam versi bahasa Inggris juga, biar nginternasional.

Saya bermimpi, suatu saat buku "Amazing Ambon" English edition dicetak lebih banyak dan disebar di seluruh dive center dan toko buku yang ada di seluruh Ambon. Buku ini layak menjadi oleh-oleh sepulang menyelam di perairan Ambon, dan tanpa banyak bicara, daya magis buku ini akan bekerja untuk menarik ribuan diver lain untuk berkunjung ke Ambon.

Kesimpulannya, saya memberikan buku ini nilai 4 dari 5 bintang. Buku ini sarat informasi dan membuat saya ingin segera dapet license! Arrgghh...[]

P.S. Oh ya, ada beberapa kawan yang ingin tahu bagaimana cara membeli buku ini, silahkan email ke riaqorina@yahoo.com, termasuk tentang biaya kirim dan sebagainya. Terimakasih.

Mooi Bali on Bella Donna


Yeah, akhirnya Bella Donna, sebuah wedding magazine terkemuka, memuat artikel saya tentang Bali. Dimuat dalam 14 halaman yang semua fotonya milik Barry Kusuma. Alhamdulillah.

3/21/11

The Urban Monkeys

Photo by Ary 'siary' Hartanto (above) and Ayos Purwoaji (below)

Dalam buku Living Treasures of Indonesia, fotografer alam liar, Riza Marlon bercerita bahwa jauh sebelum ia berkelana menembus hutan hujan lebat di Sumatera dan Kalimantan, atau menyusur alam Papua yang indah, hobinya adalah memotret hewan yang terkurung di dalam kandang besi Kebun Binatang Ragunan. Saya membayangkan, dengan kamera pertamanya yang setia digantungkan di leher, seorang Riza muda berjalan-jalan keliling Ragunan dan menunggu momen di depan jeruji besi dengan sabar.

Ya, bahkan di Jakarta yang sudah berubah total menjadi hutan beton pun Anda masih bisa berburu gambar ala wildlife. Tidak melulu model cantik dengan pakaian minim saja kan yang bisa difoto di Ibukota? Maka silahkan datang ke Pusat Primata Schmutzer (PPS) yang merupakan salah satu pusat primata terbesar di dunia. Dahulu pusat primata terbesar di dunia ada di Leipzig, Jerman. Sekarang, Pusat Primata Schmutzer adalah yang terbesar dengan luasnya yang mencapai 13 hektar. Membanggakan, bukan?

Atau, jika Anda ingin sedikit adventurous, silahkan berkelana ke Muara Sungai Angke yang penuh bakau. Bawalah lensa tele sebesar pipa air dan mulailah berburu foto burung. Lebih jauh lagi, silahkan menyeberang laut menuju Pulau Rambut yang berada di gugusan Kepulauan Seribu, lantas bawakan saya foto Bangau Bluwok (Mycterea cinerea) yang berparuh kuning cantik itu.

Dan ini bisa jadi alternatif menarik untuk menghabiskan weekend Anda selain pergi ke Grand Indonesia atau Plasa FX.

Saya sendiri belum pernah ke Pulau Rambut, Muara Sungai Angke, atau bahkan Schmutzer. Namun keinginan itu kembali menyala setelah melihat foto Simpai hasil hunting teman saya, seorang arsitek gaul bernama Ary Hartanto, yang weekend kemarin menghabiskan jomblo-quality-time-nya ke Ragunan. Dalam fotonya yang sederhana tersebut saya melihat sebuah primata juga bisa tampil anggun. Ahey!

Sama-sama di Jakarta, saya juga pernah memotret seekor simpanse yang bersantai di geladak sebuah kapal. Saya memotretnya di Pelabuhan Sunda Kelapa yang dipenuhi jejeran kapal phinisi raksasa. Salah satu foto favorit saya. Hehe.

Anyway, we're just urban monkey lads, happy monday!

3/17/11

Prihatin

"Prihatin pada mereka yang menganggap traveling sebagai tindakan pemborosan uang... Belum tahu ya, apa yang saya peroleh dari traveling nilainya jauuuhhh lebih besar dari ongkos yang saya bayarkan... Jadi bukan boros tapi malah untung...!"
(Matatita, 2011)
Meski sama-sama prihatin, namun quote ini bukan diucapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memang selalu prihatin. Kata-kata bijak ini diucapkan oleh seorang travel-mommy bernama Suluh Pratitasari atau yang lebih familiar dengan sebutan Matatita.

Semoga menyadarkan orang-orang yang masih tersesat dalam labirin "untungnya-traveling-apa-sih". []

3/16/11

Next Review

Oke sodara-sodara, kita sudah sama-sama tahu bahwa hari ini sudah banyak sekali traveler yang membukukan perjalanannya. Tapi tidak banyak traveler yang memiliki kesadaran artistik terhadap karya tulisnya sendiri. Membuat buku itu memang hebat, namun membuat buku yang bermutu dan indah itu jauh lebih saya hargai. Karena dari buku yang bermutu dan indah itu terlihat effort yang lebih besar, juga adanya perpaduan antara kerja keras dan kecerdasan yang di atas rata-rata.

Sore hari kemarin, sebuah tweet muncul di timeline saya, intinya bakal ada buku perjalanan baru yang akan meramaikan jagad traveling Indonesia. Dari attachment image yang saya buka, saya langsung jatuh cinta. Warna buku ini sangat ceria, sangat lolipop sekali. Judulnya juga nakal: Bali is My Country. Saya langsung megandaikan penulis buku ini pastilah antitesis dari Nadine yang pernah keceplosan; Indonesia is a beautiful city.

Bowo Hartanto, travel blogger yang menyebut dirinya sebagai Travel Junkie ini adalah penulisnya. Saya masih harus meraba-raba, apa sebetulnya isi buku Bowo yang catchy ini? Semoga konten bakal semenarik kovernya.

Belum ada keterangan bakal dijual dengan harga berapa dan dimana saja bisa didapat. Namun Hifatlobrain tidak sabar untuk segera mereviewnya. Syukur-syukur dapet gratisan dari penulisnya :)

Oh ya, dalam waktu dekat buku ketiga Matatita yang berjudul UK TRIP juga bakal terbit dan beredar di toko-toko buku. Konon kitab anyar ini memiliki kualitas yang jauh lebih ajib dan bakal menjadi penuntun bagi Anda yang ingin menjelajahi negeri para hooligan.

Mbak Matatita berjanji untuk memberikan satu copy buku terbarunya ini untuk direview oleh Hifatlobrain. Yeah! Oh ya, sebetulnya saya sempat melakukan sebuah chit chat yang menyenangkan dengan Matatita, ia bercerita panjang lebar tentang dunia penerbitan buku travel dan masa depan indie publishing bagi para traveler kreatif. Tapi belum bisa saya hadirkan karena transkrip wawancara yang sudah saya tulis baru setengahnya saja :p Sabar yo bray.

Buku terakhir yang akan masuk dapur review Hifatlobrain adalah coffee-table book berjudul Living Treasures of Indonesia yang disusun oleh seorang pelopor fotografer alam liar di Indonesia bernama Riza Marlon. Saya sudah sempat baca bukunya sih pas mampir ke Taman Nasional Baluran beberapa waktu lalu. Namun belum sempat khatam saya perhatikan karena hampir semua fotonya menarik dan langka. Buku itu dikirim kemarin Senin, tapi hingga hari ini, hari Rabu kok belum nongol juga ya...

Semoga buku Om Riza bisa segera hadir untuk secepatnya saya review.

Buat temen-temen yang mau nyumbang review silahkan lho. Mboten sah isin bray :p

Visit Indonesia, Comrade!

Photos courtesy of Kompas (1) and Embassy of Cuba in Indonesia (2 & 3)

Ini sebetulnya sudah lama, tentang sebuah foto menarik saat Che Guevara berkunjung ke Candi Borobudur. Seperti sebuah pertemuan agung antara dua timeless icon, namun tidak banyak diketahui orang. Ini adalah koleksi foto milik Kompas yang dipamerkan dalam acara "From Indonesia with Love" setahun yang lalu. Acara ini dilaksanakan untuk memperingati 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dengan Kuba.

Saya sengaja memposting koleksi lawas ini karena beberapa hal. Pertama, beberapa hari yang lalu saya melihat sebuah video travel dokumenter tentang Kuba yang dibuat dengan sangat keren dan menarik. Sang dokumentarian tidak saja mengambil gambar tentang keindahan Pantai Havana dan muscle car bobrok yang bertebaran di seluruh kota. Namun ia -dengan sangat baik- mengambil gairah warga Kuba yang suka menari-nari sepanjang hari. Saya jadi ingat film Dirty Dancing yang klasik itu. Parahnya lagi, video ini diedit dengan memberikan kesan vintage dengan warna-warna kontras khas kamera lomo, oh God! Saya jadi pengen ke Kuba dan kulakan cerutu di sana...

Kedua, saya jadi ingat foto ini karena seorang editor majalah travel yang saya kenal memajang foto ini di wall photo Facebook miliknya. Dia suka sekali dengan foto ini. Semacam rare moment yang nggak bakal terulang meskipun Obama dan Khaddafi bebarengan mengunjungi Pulau Komodo. Hehehe.

Ketiga, yaa kali aja diantara jutaan pembaca setia Hifatlobrain masih ada yang belum tahu kalo pada 12 Juni 1959, belum genap enam bulan sesudah Revolusi Kuba meraih kemenangan, Castro mengutus Che selama tiga bulan untuk mengunjungi 14 negara Asia, kebanyakan negara peserta Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955. Pada rentang tiga bulan inilah Che berkunjung ke Jakarta dan menyempatkan diri ke Borobudur.

Gitu aja deh, jadi thanks for visit, Comrade!

3/8/11

The Lost Culture


The Lost Culture from Giri Prasetyo on Vimeo.

Yeah akhirnya Giri Prasetyo mengeluarkan videonya tentang Kirab Makco. Silahkan dinikmati kawan!

3/7/11

The Makco's Road

Teks: Ayos Purwoaji | Foto: Ayos Purwoaji & Dwi Putri Ratnasari

Hari Minggu yang lalu (6/3) dihelat sebuah perayaan istimewa bagi para penganut Konghucu di Surabaya. Yaitu kirab patung Dewi Makco yang sudah 47 tahun lamanya tidak dilakukan. Menurut catatan pihak klenteng, terakhir kali kirab seperti ini diadakan pada tahun 1964. Saat itu memang belum lahir Orde Baru, namun sentimen terhadap warga pendatang cukup kuat, Tionghoa dan segala budayanya diklaim sangat dekat dengan komunisme, sebuah isu yang sangat sensitif kala itu.

Sejak tahun ini, pihak Klenteng Hok An Kiong, klenteng tertua di Surabaya, akan memulai kembali tradisi kuno ini. Yaitu mengarak patung Dewi makco lengkap dengan altarnya berkeliling pecinan. Rute pawai ini adalah sebagai berikut: Jl. Coklat - Jl. Karet - Jl.Kembang Jepun - Jl.Dukuh Kertopaten - Jl.Pegirian - Jl.Waspada - Jl.Slompretan. Ini adalah ruas-ruas jalan penting di sepanjang kampung pecinan.

Sejak pagi saya sudah bersiap di Klenteng Hok An Kiong bersama Giri dan Putri. Konon sebelum pawai dilaksanakan, para jemaat klenteng akan melakukukan sembahyang untuk Dewi Makco yang diletakkan di altar utama klenteng. Ruangan seluas lima meter persegi ini hampir sesak dipenuhi sekitar 50 orang jamaah yang melantunkan kidung doa. Saat mendengarnya bayangan saya langsung terbang ke Nepal, hahaha.

Setelah berdoa dan menunggu tim barongsai datang, saya ngaso dulu di depan klenteng. Saat itu juga saya merasa lapar menyerang karena memang tidak sempat sarapan. Ah untung saja panitia pawai menyediakan berbagai sarapan gratis untuk peserta, ada soto ada pula pecel dan bubur. Tentu saja tawaran makan gratis ini tidak pantas ditolak kawan.

Giri dan Putri sendiri lebih jaim, mereka malas mengambil berbagai makanan gratis yang tersaji di depan muka mereka. "Aku wes mangan mie kok mau isuk..." elak Putri dengan muka malas sambil terus melihat saya yang makan pecel dengan lahap.

Sebelum diarak, patung Makco setinggi 25 centimeter ini diletakkan di dalam sebuah altar yang mirip tandu, warga Konghucu berebutan meminta doa dan keselamatan kepada Makco, mereka berulang kali mengusapkan asap dupa ke wajah mereka untuk mengharapkan keberkahan hidup, kesehatan, dan keselamatan hidup. Bahkan ada warga yang meminta obat sekalipun. Teman saya, Giri, bahkan konon mendengar seorang nenek tua berguman,''Makco, darah tinggi, Makco, darah tinggi....nyuwun obate, Makco...'' diucap dengan lirih namun konsisten, mencoba tidak tenggelam di tengah banyak doa lain yang dipanjatkan.

Setelah menunggu agak lama, akhirnya pawai pun dimulai pada pukul setengah sembilan. Awalnya yang saya tahu dari Giri, pawai ini hanya diikuti oleh 25 orang saja, lantas H-2 saya mendengar kabar darinya jika peserta pawai mencapai 100 orang, wah lumayan banyak. Tapi pada hari H ternyata perhitungan itu tidak tepat, saya melihat ratusan orang memadati jalan Karet, itu tidak mungkin 100 orang saja, taksiran saya sih mencapai 400 orang lebih. Dan jumlah tersebut membengkak manakala anak-anak pribumi yang sedang bermain di sekitar klenteng memutuskan untuk ikut rombongan defile para warga keturunan ini.

Arak-arakan bergerak begitu cepat melintas jalan Karet hingga berbelok ke arah Kembang Jepun. Tampaknya semua peserta tampak antusias, senyum lebar tertera pada wajah para peserta lansia. Mungkin ini semacam ekspresi rindu pada pawai Makco yang tersimpan erat di memori masa kecil mereka. Selebihnya para remaja dan anak kecil yang ikut merasa senang karena melihat bisa melihat aksi barongsai dan mereka mendapat ikat kepala merah yang manis. Hari itu semua orang tampak terlihat senang. Saya pun senang karena biasanya di acara seperti ini bisa dapat banyak gambar bagus hehehe. Dwi Putri juga senang, karena memang dia adalah seorang festival hunter. Begitu juga Giri Prasetyo yang girang karena mendapatkan banyak footage langka untuk proyek dokumenternya tentang pecinan.

Defile panjang ini melintas berbagai jalan dan gang di sekitar pecinan yang asing saya lewati. Menembus beberapa kanal kecil yang berakhir tembus di jalan besar. Pada setiap persimpangan jalan yang minimal berjumlah empat, altar Makco dibawa berputar dengan jalur yang membentuk huruf 'O' di tengah perempatan. Mereka, para penandu ini berputar dengan gerakan yang cepat dan bersemangat, seperti orang yang kemasukan roh. Sedangkan satu orang dengan awas menjaga keseimbangan altar di titik tengah putaran.

Saat menggasing di tengah perempatan seperti itu memang kadang altar Makco sedikit doyong ke arah dalam, mungkin akibat terkena gaya sentrifugal, tapi mungkin juga karena beban altar yang berat. Saya tidak tahu pasti, namun altar yang dikelir merah tua dengan ornamen berwarna emas ini terbuat dari kayu. Entah kayu apa, mungkin kayu jati tua yang terkenal berat dan kuat itu. Ini adalah altar asli yang dibuat 181 tahun lalu, sama tuanya dengan umur Klenteng Hok An Kiong.

Sebagai klenteng tertua di Surabaya, tentu saja klenteng ini punya banyak cerita. Ia dibangun oleh para pelaut dan saudagar Cina gelombang pertama yang merapat di pelabuhan Ujung Galuh, Surabaya. Awalnya, bangunan yang terletak di persimpangan jalan Cokelat ini tidak digunakan sebagai klenteng, melainkan sebuah wisma dan tempat bermalam bagi para pelaut yang tidak memiliki rumah. Lambat laun, fungsinya berubah menjadi klenteng seperti yang dikenal saat ini. Hok An Kiong sendiri berarti Kuil Kebahagiaan dan Perdamaian.

Dewi Makco (Tianhou) menjadi dewi utama di Hok An Kiong. Ini adalah suatu hal yang wajar mengingat para jemaat awal klenteng ini terdiri dari para pelaut dan nelayan dimana sangat memuja dewi yang menguasai lautan dan melindungi para pelaut dari marabahaya. Menurut Giri yang sedang melakukan riset, Laksamana Cheng Ho pun membawa serta Makco dalam kapalnya.

Sebuah insiden terjadi di depan Klenteng Hok Tiek Hian. Patung Makco yang semula akan dibawa masuk ke dalam klenteng urung dilakukan, sebab ada dua orang penjaga klenteng yang dengan asiknya menonton arak-arakan ini dari lantai dua. Mengambil posisi di atas sang Dewi tentu saja dianggap tabu, dianggap melangkahi yang suci. Para peserta marah dan menunjuk -nunjuk dua orang dungu tersebut.

Setelah sedikit berdebat dan diputuskan tidak bisa masuk Hok Tiek Hian, akhirnya pawai Makco dilanjutkan untuk melintas jalan Pegirian yang padat dengan pengguna jalan yang distop. Masyarakat pun antusias untuk memperhatikan pawai yang baru mereka lihat ini. Mereka meotretnya dengan kamera poket atau hape. Warga keluar dari rumahnya; berdiri di balik pagar-pagar atau bahkan turut masuk dalam barisan.

Berbelok dari Pegirian dan masuk ke jalan Waspada, ini adalah etape terakhir yang harus dilalui Makco sebelum kembali masuk ke dalam Klenteng Hok An Kiong. Para pemain barongsai sudah terlihat lelah karena berjingkrak-jingkrak hiperaktif selama pawai, beberapa penandu altar pun terpasa menyingkin untuk digantikan dengan yang lain karena pundak mereka yang mulai nyeri. Tapi kemeriahan ini tidak susut, senyum pun masih terkembang di wajah peserta pawai, menampung bulir-bulir keringat yang leleh perlahan dari pelipis. Empat ibu tua yang memegang sapu di barisan depan juga masih semangat mengibas sapu-sapu ijuk itu di atas aspal. Mereka ini penting artinya, memiliki makna simbolis agar jalur yang dilewati Makco tetap suci dan terhindar dari sial.

Setelah hampir satu jam pawai mengelilingi pecinan. Akhirnya Dewi makco kembali ke rumahnya di jalan Cokelat. Ternyata di depan klenteng sudah banyak fotografer yang menunggu, mereka ini adalah fotografer-fotografer yang kesiangan. Sayang sekali mereka tidak bisa melihat momen yang menarik selama perjalanan. Termasuk gadis kecil cantik bernama Jessica yang memiliki pipi super dan wajah yang manis. Selama pawai, Jessica berjalan sendiri, ia tidak mau digendong. Kaki kecilnya melangkah perlahan sambil bergelayut manja pada bapak-ibunya.

Sementara Dewi Makco sudah dikembalikan ke altar dan barongsai masih melakukan atraksi perpisahan di depan klenteng, Putri merengek kepada saya, sambil meringis dia berbisik minta pulang,"Yos, aku laperrr..." Huahaha, kapokmu kapan! []