Pages

3/23/11

Amazing Ambon; Above, Under, and Beyond


Judul: Amazing Ambon; Above, Under, and Beyond
Penyusun : M Noer Moeis, Prita Laura, Ria Qorina Lubis, Harum Sekartaji, Yvone Armanto & Hary Susanto
Photo on Cover: Edy Purnomo
Kontributor: Andy Atis, Camelia Siagian, Christoffel Simanjuntak, Cipto Aji Gunawan, Edy Purnomo, Heru Suryoko, Lelita Larashati, M. Noer Muis, Maya Helvig Manuputty, Ronald Soefajin, Ronny Rengkung, Teguh Tirtaputra, Yoyon Soebagyo
Penerbit : NMbooks
Tebal: 204 halaman
Reviewer: Ayos Purwoaji


Sejak seorang teman membawakan pasir pantai Pulau Kei, keinginan saya untuk mengunjungi Maluku meletup-letup di kepala. Pasir putih pantai sehalus susu itu dimasukkan dalam wadah botol bekas air minum mineral dan dia bawa ke Bandung, dimana dia tinggal saat ini untuk menempuh kerasnya hidup sebagai mahasiswa. "Ini pasir pantai Kei, bikin aku selalu pengen pulang ke Maluku..." kata kawan saya yang hidungnya extra bangir seperti orang Arab itu. "Maluku panggil pulang..." itu kata kelompok hip-hop Belanda asal Maluku, Ambonwhena.

Maka saat kampung halaman memanggil, siapa yang bisa menolak ajakan untuk pulang?

Masalahnya, Maluku itu juga termasuk kampung halaman bagi ribuan spesies bawah air yang sangat indah. Berbagai jenis nudibranch, crustacean, dan cephalopode hilir mudik di antara reruntuhan shipwreck bekas peninggalan PD II yang berubah menjadi rumah yang nyaman bagi ribuan ikan. Lautnya begitu kaya dan -sebentar saya ambil nafas dulu- anjrit sangat indah! Saya hampir yakin tidak ada diver yang bakal melewatkan Maluku sebagai destinasi diving sebelum mati. Begitu banyak world class dive site yang ada di sekitar perairan Maluku.

Rasa mupeng saya untuk mengunjungi Maluku sedikit banyak terhibur dengan hadirnya buku "Amazing Ambon; Above, Under, and Beyond" yang hadir di perpustakaan Hifatlobrain beberapa waktu lalu. Buku ini hadir dengan berbagai foto indah jepretan para fotografer underwater profesional yang merekam kehidupan laut Ambon dengan nyaris sempurna. Apalagi buku ini hadir dalam format coffee table book yang full color dan dicetak diatas kertas art paper, sehingga ada sebuah kepuasan visual yang didapat saat melihat berbagai foto dalam buku setebal 204 halaman ini.

Kesan menarik itu langsung muncul dari kovernya yang menggambarkan tradisi orang Ambon saat berburu ikan dengan menggunakan tombak ikan tradisional. Foto karya Edy Purnomo ini memang sebuah pilihan tepat untuk memulai petualangan underwater yang bakal dibahas secara detail di halaman lainnya dalam buku ini. Satu kata buat kover buku ini: splendid!

Bagian pertama buku ini membahas tentang kehidupan masyarakat Ambon pada umumnya. Tentang pasar tradisional, anak-anak kecil, angkot, becak, dan beberapa peninggalan sejarah yang tersebar hampir di seluruh Kota Ambon. Dalam chapter "The Living History" saya seperti diajak jalan-jalan city tour ke sudut-sudut Ambon yang menyimpan banyak cerita masa silam. Mulai dari Benteng Victoria (Nieuw Victoria) yang dibangun pada tahun 1512 oleh Portugis, Benteng Amsterdam yang merupakan saksi kejayaan VOC, hingga Commonwealth War Cemetery sebagai bukti bahwa Ambon adalah titik penting perebutan Pasifik dalam PD II.

Sedikit bagian dalam buku ini juga menyinggung harmoni kehidupan beragama setelah Ambon luluh lantak akibat isu keagamaan pada awal tahun 2000. Ada semacam optimisme yang muncul bahwa masyarakat Ambon yang terdiri lintas budaya dan agama akan selalu harmonis di masa yang akan datang. Saya salut kepada para penyusun yang memperhatikan isu sejarah kontemporer ini, termasuk bagaimana buku ini sedikit mengungkit budaya dan kuliner masyarakat Ambon, tidak hanya aspek pariwisata saja.

Woho tentu saja bagian kuliner selalu saja seru untuk diperhatikan, buku ini menyebut satu persatu ragam makanan yang patut diburu para pecinta gastronomi. Kopi rempah Cafe Sibu-Sibu, rujak pantai Natsepa, nasi kuning Ambon, hingga salah satunya adalah ikan tuna asap atau bagi warga lokal disebut ikan asar. Foto-foto Harum Sekartaji mampu menggugah saya untuk menduga-duga bagaimana rasanya. "...Setelah matang ikan terasa garing dan dimakan dengan sambal colo-colo," begitu Harum mendeskripsikan ikan asar. Saya langsung lapar seketika. Sambil membayangkan duduk di pinggiran pantai Ambon ditemani sepotong ikan asar, semangkuk sambal colo-colo dengan pedas level super, dan sepiring nasi hangat. Oh God.

Chapter selanjutnya, "The Blue Heaven" adalah main course dari buku ini, sejak halaman 79 - 153 yang bakal Anda temui hanya tiga hal: sea creatures, birunya air laut, dan tabung selam. Bagian ini akan menjadi showcase yang memajang keindahan-keindahan bawah laut kota Ambon yang sebagian besar merupakan foto Ria Qorina Lubis dan Hary Susanto.

Saya tidak tahu apakah foto-foto underwater ini diambil dari semua titik selam di Ambon yang mencapai 43 buah atau tidak. Tapi yang saya bisa simpulkan adalah perairan Ambon sangat kaya akan underwater attractions. Berbagai jenis dive site bertebaran di Ambon, mulai dari yang disebut Pintu Kota (sebuah dive site berupa gua sepanjang 300 meter yang di dalamnya memiliki taman bawah laut), Gua Laut Hukurila (sebuah dive site dimana Anda bisa dengan mudah menemukan seafan dan sponge berukuran raksasa), hingga berbagai jenis kapal karam kuno yang permukaannya diselimuti aneka terumbu karang.

Berbagai jenis makhluk laut juga mendapat perhatian khusus dalam buku ini. Salah satunya, favorit saya adalah Mandarin Fish yang memiliki kulit berwarna-warni seperti pelangi. Apakah Anda tahu nama latinnya? Synchiropus splendidus! Namanya saja splendidus, splendid, hebat! Entah saya bakal bilang apa saat bertemu dengan ikan ini suatu saat nanti, mungkin bersujud saja di hadapannya.

Berbagai foto terumbu karang kaya warna, udang laut yang cantik, dan jenis cuttlefish yang langka bisa Anda temukan di dalam buku ini. Termasuk banya gambar Nudibranch atau siput laut yang sering menjadi buruan para fotografer bawah air karena tubuhnya kaya warna. Nudibranch dijuluki sebagai the most colorful creature in on earth.

Underwater photographs is courtesy of Ria Qorina Lubis

Bagi para pecinta pantai, ada satu chapter khusus dalam buku ini yang membahas berbagai pantai yang bisa ditemukan di sekitar kota Ambon. Jadi tidak melulu diving.

Sebetulnya ada satu hal yang saya tunggu tapi tidak muncul di buku ini, yaitu feature perjalanan yang bersifat personal. Saya pikir, dari sebagian besar penulisnya yang merupakan wanita, pasti banyak detail kecil dalam perjalanan yang membekas. Wujud excitement traveler wanita pun biasanya sangat menarik untuk diikuti, cerita tentang bagaimana mereka menyusuri gua laut, bertemu dengan ikan batu, atau merasakan kuliner lokal pasti akan sangat menarik untuk dituliskan. Sayangnya dalam buku keren ini, teks hanya diberi porsi sekitar 10 persen saja. Jadi yang saya tangkap, teksnya hanya menjadi pelengkap. Caption.

Sebagai sebuah buku yang mempromosikan keindahan Ambon, saya pikir buku ini sudah melaukannya dengan all out. Seluruh halaman dicetak berwarna, tata letaknya diusahakan maksimal, dihias dengan berbagai foto indah, dan deilengkapi dengan caption yang menggugah. Langkah penerbitan buku "Amazing Ambon" ini layak ditiru oleh daerah lain yang ingin mengembangkan industri pariwisata. Bahkan jika perlu dicetak dalam versi bahasa Inggris juga, biar nginternasional.

Saya bermimpi, suatu saat buku "Amazing Ambon" English edition dicetak lebih banyak dan disebar di seluruh dive center dan toko buku yang ada di seluruh Ambon. Buku ini layak menjadi oleh-oleh sepulang menyelam di perairan Ambon, dan tanpa banyak bicara, daya magis buku ini akan bekerja untuk menarik ribuan diver lain untuk berkunjung ke Ambon.

Kesimpulannya, saya memberikan buku ini nilai 4 dari 5 bintang. Buku ini sarat informasi dan membuat saya ingin segera dapet license! Arrgghh...[]

P.S. Oh ya, ada beberapa kawan yang ingin tahu bagaimana cara membeli buku ini, silahkan email ke riaqorina@yahoo.com, termasuk tentang biaya kirim dan sebagainya. Terimakasih.

7 comments:

ton said...

mantabbss! buku apik, foto maknyuss, reviewer cakeep.. (jiaah.. hehe :) sip budal mas!

toko online said...

Dari dulu ingin sekali pergi ke Ambon. Dari Jakarta ke Ambon berapa jam perjalanan ya?

Ayos Purwoaji said...

@ Ton: Makasih :)
@ Toko Online: harga tiket bisa dicek di situs maskapai penerbangan mas :)

dansapar said...

beneran teksnya cuman dikit ya...hiks...

seniman vertex said...

jos gandos...
tuku ahh...

dharmaarif said...

Dapat buku itu dimana? saya ingin memilikinya juga...

dharmaarif said...

Dapat buku ini dimana? saya ingin punya juga...