Pages

3/7/11

Jakarta 20km/Jam!


Selama beberapa bulan terakhir saya jadi semakin sering untuk ke Jakarta. Untuk menghadiri beberapa workshop menulis, untuk menghadiri kuliah dari fotografer profesional, untuk menghadiri pameran, untuk membicarakan beberapa hal yang bersifat editorial dengan media, bertemu teman-teman, hingga untuk bersenang-senang.

Tapi jujur saja, untuk poin bersenang-senang ini perlu digarisbawahi dengan pertanyaan: apakah Jakarta merupakan tempat yang tepat untuk berpelesir ria dan menghilangkan penat?

Semakin sering ke Jakarta, saya jadi semakin yakin untuk tidak tinggal di kota megapolis ini. Terlalu luas bagi saya, terlalu ruwet untuk batin saya. Saya tidak mengutuk, tapi memang seringkali kemacetan menjadi hal pertama yang saya salahkan jika mood saya sedang buruk -dan memang seringkali mendadak buruk ketika terjebak macet dan keruwetan central shelter busway.

Jarak yang bisa ditempuh selama 20 menit di Surabaya, maka di Jakarta Anda akan menempuhnya selama dua jam saat rush hour. Dua jam di jalan dan hanya bergerak perlahan, apakah tidak ada yang berpikir ini sebagai sebuah siksaan? Terkungkung dalam kotak baja dengan air conditioner yang menderu dan asap dari knalpot mobil depan yang menyesaki pandangan adalah makanan yang harus ditelan sehari-hari, di saat pagi dan sore hari. Padahal pada dua waktu tersebut biasanya Tuhan memiliki cara yang indah untuk memulai dan menutup hari, sayang sekali bukan...

Berjam-jam terperangkap di jalan adalah sebuah kisah sedih yang dialami oleh ribuan pekerja di ibukota. Mereka terpaksa menyerahkan hampir sepertiga waktu hidupnya untuk mengukur aspal, bergerak sedepa demi sedepa. Padahal waktu yang sebegitu panjangnya bisa digunakan untuk berbuat banyak hal. Saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana waktu selama itu ditempuh saat musim hujan dan jalanan yang becek banjir?

Pulang kantor jam 5, sampai rumah jam 9, tidur kecapekan, dan esok harinya berangkat lagi mengulang ritme. Terpenjara dalam gedung-gedung megah yang disusun dari bata-bata dan direkatkan dengan semangat pembangunan ala developmentalisme. Pelita repelita build rebuild layer by layer by lying.

Dan suara Alex Turner yang membawa semangat dari High Green, sebuah kampung damai di pinggiran Sheffield meradang di telinga saya.

I wanna build you up
brick by brick

I wanna break you down
brick by brick

I’m gonna reconstruct
brick by brick

I wanna feel your love
Brick by brick…
Brick by brick…

Semakin sering ke Jakarta saya semakin sulit untuk berdamai dengan lirik lagu 'Aku Cinta Jakarta' dari C'mon Lennon. Rasa-rasanya kota ini hanya diperuntukkan bagi mereka, orang-orang yang memiliki rasa sabar tingkat dewa. Dan malangnya saya bukan termasuk dari kaum super-sabar tersebut.

"Gue sehari-hari pulang pergi kerja butuh waktu sembilan jam..." kata seorang teman. What a fuckin' life bray? Bisa mati tua di jalan kalau setiap hari harus merelakan waktu selama sembilan jam berada di kendaraan. Padahal saya yang suatu saat pernah terperangkap selama enam jam di jalur busway saja merasakannya sudah seperti setengah neraka. Baris berdempet-dempet, mawas diri seandainya ada copet, saling berbagi bau badan, atau tidak sengaja lelah ketiduran. Itulah kehidupan Jakarta kecil edisi busway.

Kalau ada waktu, sempatkan diri juga untuk merasakan sensasi central shelter Harmoni di saat matahari mulai redup dan para pekerja meninggalkan kubikelnya. Saya memperhatikan betul bagaimana langkah kaki mereka berjalan cepat setengah berlari menuju pintu-pintu jurusan yang berbeda, berderap-derap menyentuh lantai besi. Menimbulkan sebuah irama yang tersenggal-senggal dan mengancam untuk minggir. Bruk bruk bruk bruk...

Bagaimana saya bisa hidup di kota seperti ini?

"Gue juga ngerasa hidup gue ini pathetic, Yos," ujar kawan lain yang memiliki seorang anak yang lucu. "Gue tahu hidup di Jakarta ini nggak nyaman. Sama sekali nggak nyaman. Tapi buktinya gue masih bisa ketawa juga di atas tanah ini. Sakit kan gue?" Saya diam saja, entahlah kawan, hanya dirimu yang bisa menjawabnya.

Hingga hari ini saya belum pernah punya keinginan untuk kerja di Jakarta. Di satu sisi harus diakui bahwa 80% lebih uang di Indonesia hanya beredar di sini. Jakarta memang telah menjelma menjadi kota kapital yang bengkak dan penuh ketimpangan. Kelas pekerja, supporter pengangguran, hipster urban, pengemis kecut, jagoan pasar, mahasiswa migran, ustadz seleb, front pembela anarki, socialita, politisi brengsek, polisi preman, nelayan udang, atau peramal tarot semua bercampur dalam labirin gelap yang dulunya merupakan kota kecil manis di ujung Sunda Kelapa. Jakarta is a maximum city, and will explode in a big riot. Seperti kerusuhan bersejarah tahun '98 yang selalu mengerikan untuk dikenang. A whole city riot! Blah...

"Dulu aku yo nggak mau kerja di Jakarta, eh tapi malah keterima kerja di Jakarta. Udah lah Yos, nggak perlu ngomong nggak mau kerja di Jakarta, nanti paling kamu juga kerja di sini..." kata seorang teman lain yang seorang arek Suroboyo dan sekarang menjadi HRD di sebuah perusahaan.

Jujur saja ramalan seperti itu membuat saya takut. Takut termakan omongan sendiri sekaligus takut jika itu benar-benar terjadi. Saya kerja di Jakarta? Oh big no dream! Tapi mungkin seandainya benar kejadian, maka strategi seorang kawan akan saya pergunakan: kerja boleh di Jakarta, tapi nggak perlu lama, cukup untuk ngumpulin duit demi berkeliling dunia! Yeah!

"Aku gak tahan, Yos. Aku pengen resign ae rasane, terus backpackingan nang Aceh, trus nikah ambek cewek kono, terus dadi petani kopi nang Takengon..." kata seorang sahabat yang kosnya selalu menjadi tempat menginap gratis terbaik selama saya di Jakarta. Padahal dia baru kerja tiga bulan, hihihi. "Budhal cok!" ujar saya sembari tersenyum mendengar curhatnya. Tanpa basa-basi. []

14 comments:

Augene said...

Hohoho...igauan pedas Yos.

agitha said...

bener.....
ga usah komentar
ntar kualat seperti saya :)) :((

aRuL said...

hahaha sy jg pernah menulis kegalauan saya tentang jakarta ini bahkan tak ingin kerja di kota ini, tapi kenyataan sy dipekerjakan di kota ini.. but, so far jakarta masih bersahabat koq, tinggal kita aja mensiasati hidup di kota ini...

tidak ingin mendapati macet? kost beberapa langkah dari kantor, mengurangi ongkos transport dan capek *nih sampai bisa berleha-leha ngenet di kost* hahaha

Hilmy Nugraha said...

ibukota lebih kejam daripada ibu tiri, bang ayos!

mari kita hidupkan potensi lokal daerah, hehe

seniman vertex said...

bhahahah...
aku wes tuwuk kenek
jalur neraka ragunan - kuningan
the mampang prapatan.
kalo males, tidur kantor sebagai solusi
*nominasi tokek kantor sempat melekat gara2 keseringan nginep kantor... :))

untung saya sudah insaf :D

Ayos Purwoaji said...

@ mas Jeri: aku wingi wis turu mantan kantormu pak! Hahaha tibake tokek kantore akeh, aku tidur dengan kasur di lantai 5 di kubikel paling ujung!

Ayos Purwoaji said...

"mari kita hidupkan potensi lokal daerah, hehe..."

Bener banget Hilmy! Yu rockksss!

Anonymous said...

hahaha.. wuassu..
tp lu bener yos, gw wes swummpekk bin swempakk tinggal nang kene.
mending turu nang kasur kecut kost mu, masio sehari2 dadi bahan pelecehan..
aq resign saiki ae ah, budal nang gayo

Galih S Putro said...

haha...itu tergantung dimana kau akan melangkahkan kaki di sepenggal tanah di jakarta...

sepakat dg Arul...tergantung gmn km menyiasati jakarta..

dan saya pun sama dg Arul, never dream to live in this city...Jakarta punya kontras yg menarik, saat keruwetan, kemacetan, kriminal bersanding mesra dg seni, hiburan dan religi...

seorang teman dr jogja malah bilang kl jakarta itu memiliki tata kota yg menarik, kontras bukan..

yahh..dimana pun kita berada, disana bumi dipijak, disitu langit dijunjung..

winda savitri said...

kesuwen. ojok ngomong tok lu prul, ndang resign kono. :p

Asop said...

Benar, harapan saya pun nanti sebisa mungkin saya gak mau tinggal di Jakarta... :(

Bisa tua di jalan... Bisa2 lebih dari setengah umur kita dihabiskan di jalan akibat macet... :(

Anonymous said...

iya yos..ati2 ma omonganmu
sayapun akhirnya terdampar karam di kota ini :)
dan mengalami mobil siputmu itu...
-tzee-

Ayos Purwoaji said...

@ Tzee: Dipertimbangkan! Hehehe

dansapar said...

makanya aq seneng meninggalkan jakarta di akhir pekan, yos ;)