Pages

3/23/11

Living Treasures of Indonesia

Judul: Living Treasures of Indonesia
Penyusun dan fotografer: Riza Marlon
Penerbit: Indonesia Nature and Wildlife Publishing
Tebal: 216 halaman
Reviewer: Ayos Purwoaji

Masih segar benar dalam ingatan bagaimana empat tahun lalu saya kalang kabut pinjam duit ke teman sekamar saya, Hanif, untuk membeli satu buku karangan Alain Compost di sebuah stand pameran yang menjual buku bekas. Harganya tidak mahal, lima puluh ribu saja, tapi saat itu uang saya habis untuk memborong buku ini itu. Sialnya, saya baru lihat buku Alain Compost sesaat sebelum pulang. Sigh.

Melalui bukunya, Compost membuka mata saya lebih lebar lagi bahwa Indonesia ini sangat kaya, khususnya kekayaan hayati berupa flora fauna yang tak terhitung banyaknya. Saya memang tidak kuliah di jurusan Biologi, tapi membaca buku Compost, mendadak saya menaruh perhatian pada beragam jenis fauna yang hidup di Indonesia. Saya sadar, buku Compost ini adalah hasil kerja keras dan riset yang tidak mudah. Berbagai foto alam liar dengan teknologi yang masih berupa kamera film itu membuat saya geleng-geleng kepala, terlebih karena Compost tidak memiliki tombol delete di kamera filmnya. Tidak seperti saat ini, generasi fotografi digital yang dimanjakan oleh gadget. Seperti saya.

Tapi saat itu ada satu pertanyaan besar yang menggantung di benak saya: Apakah tidak ada fotografer lokal yang bisa bikin karya seperti Compost?

Ternyata pertanyaan itu baru terjawab empat tahun kemudian. Riza Marlon menjawab tantangan berat itu dengan meluncurkan buku pertamanya yang diberi judul "Living Treasures of Indonesia". Sebuah buku dengan format coffee table book yang hampir 80 persen berisi foto berbagai jenis fauna endemik yang ada di Indonesia. Karya hebat ini adalah sari pati hasil dari perjalanan Riza selama 20 tahun menembus hutan dan gunung di Nusantara. Sebuah pekerjaan yang mustahil dilakukan dengan cara instan.

Saat prensetasinya di Forum Fotografi Candranaya di Jakarta beberapa waktu lalu saya membayangkan begitu keras dan intens pekerjaan yang dilakoni Riza dalam dua dasawarsa terakhir hidupnya. Dalam epilog bukunya, Riza menjelaskan sedikit tentang perjuangannya selama ini: "Traveling in remote areas to take pictures is an adventurous experience indeed. Walking the whole day for weeks, with no other mode of transportation is common story..." Dari situ banyak yang menganggap Riza adalah orang gila. Satu-satunya fotografer gila yang rela berjalan dan bersakit-sakit hanya untuk mendapatkan beberapa frame gambar hewan langka. Edan.

Saya tidak habis-habis memberikan rasa kagum saat membuka halaman-halaman buku ini dan membaca segala caption yang ada di dalamnya. Setiap foto membawa saya pada imajinasi tentang sebuah ekspedisi tertentu. Membayangkan hewan dalam wujud aslinya, bagaimana tekstur kulitnya, suara unik yang dikeluarkannya. Hemat kata, buku ini membawa saya keliling hutan dan gunung di Indonesia selama hampir dua jam.

Buku eksklusif yang berisi 132 foto berwarna ini dibagi dalam tiga babak besar yang dibagi menurut bioregion yang ada di Indonesia: Sundaland, Wallacea, dan Sahul. Setiap bab memiliki masing-masing satwa unik yang tidak mungin ditemukan di bioregion lain.

Beberapa foto menimbulkan impresi khusus bagi saya. Seperti foto Tarsius (Tarsius spectrum) yang sedang melompat dan diambil dengan teknik multiexposure. Ini bukan gambar Tarsius yang biasa saya lihat di majalah-majalah sains, sebuah bukti bahwa Riza melakukan inovasi dalam pendekatan teknologi dan artistik dalam fotonya. Tidak asal jepret saja.

Foto lain adalah gambar Katak Berau yang sedang bertengger di atas daun. Dalam captionnya Riza bilang bahwa katak ini berukuran sangat kecil kurang lebih satu sentimeter saja. Saya berpikir; bagaimana bisa Riza menemukan katak sekecil ini diantara ribuan hektar hutan hujan yang seperti tak berbatas? Ternyata Riza mengenali lokasi katak ini berdasarkan suara yang ditimbulkan. Saya jadi penasaran ingin tahu berapa jenis suara binatang yang sudah Riza hafal luar kepala...

Foto kover berupa Julang Sulawesi (Aceros cassidix) juga menarik untuk dicermati. Bagi saya, ini adalah sebuah kebetulan yang manis. Riza mampu mendapatkan foto hornbill berparuh cantik ini dengan mode panning yang cukup keren. Setahu saya foto seperti ini memiliki tingkat kesulitan yang advanced. Beruntung foto ini terpilih menjadi kover, bisa jadi karena ada campur tangan Arbain Rambey yang membantu Riza untuk menjadi photo editor buku ini.

Ada satu buah foto di dalam buku ini yang saya kenali sempat dimuat dalam majalah National Geographic Indonesia. Sebuah foto burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacei) yang sedang mengembangkan sayap indahnya. Betul-betul terlihat seperti seorang bidadari, karena dua buah bulu di pundaknya yang melingkar seakan membentuk 'halo' di atas kepalanya. Sangat cantik. Semoga burung ini tidak lekas punah sebelum saya dan anak cucu saya bisa menikmatinya.

Ular Pucuk (Ahetulla prasina) | this photograph is courtesy of Riza Marlon

Dalam sebuah komentarnya di Facebook, Riza mengatakan,"Yos, itu baru keraknya dari kekayaan biodiversitas Indonesia...masih banyak lagiii...ayo kita motret terus alam Indonesia bersama..." Yes, i'd love to Sir, tapi saya nawaitu dulu ya. Saya nggak bisa membayangkan jadi istri dan keluarga bang Riza yang sering ditinggal mblusuk masuk ke dalam hutan selama berminggu-minggu tanpa ada kabar karena nihil sinyal. Saya haqqul yaqin, istri bang Riza ini pasti istri jagoan, yang mendukung pilihan hidup suaminya tanpa banyak keluh kesah.

Saya mengamini pernyataan bang Riza bahwa buku ini memang 'hanya' keraknya saja. Bayangkan, dalam buku ini Riza masih jarang menyentuh keluarga Ornithoptera (kupu-kupu) dan Anthropoda (serangga) yang jumlahnya naujubilah di Indonesia. Menurut teman saya, seorang entomolog di Universitas Cenderawasih, Indonesia adalah surga bagi serangga dunia. Di Papua saja dia beserta tim dan entomolog senior, Bruder Henk, bisa mengumpulkan 60.000 jenis kupu-kupu endemik. Dan, setahu saya dalam buku ini, Riza belum banyak menyentuh dua jenis hewan mungil ini. Dalam catatan saya yang lain, juga masih sedikit obyek fauna bawah laut yang dibidik oleh Caca, panggilan akrab bang Riza. Jadi masih terbuka kemungkinan bagi para fotografer alam liar junior untuk mengeksplorasi kekayaan alam Nusantara.

Sama seperti sampul bukunya, Riza adalah orang yang bergegas. Sebagai seorang dokumentarian khusus kehidupan satwa, Riza musti bergerak terburu bertaruh dengan waktu. Ia harus sesegera dan sebanyak mungkin mendokumentasikan berbagai jenis "harta karun hidup" Nusantara yang luar biasa banyaknya, namun di sisi lain degradasi hutan semakin cepat dan angka satwa punah semakin tinggi. Bagi saya ini adalah pertaruhan yang mahal. Saya yakin , pada suatu saat nanti ketika Orangutan (Pongo pygmaeus) sudah musnah dari hutan Kalimantan, maka hasil foto Riza akan menjadi sejarah yang berharga.

Saya memberikan nilai 5 dari 5 bintang untuk buku ini. Ada beberapa hal yang membuat buku ini terasa hebat di mata saya; pertama, ini adalah buku wildlife photography pertama yang dibuat oleh orang Indonesia. Buku ini sepenuhnya dikerjakan dan didanai oleh Riza, dengan kocek pribadinya, tentu saja effort ini tidak bisa diabaikan. Kedua, saya juga memberikan nilai lebih atas tata artistik buku yang dicetak diatas kertas art paper full color ini. Tanpa desain dan tata letak yang baik, maka buku ini akan terlihat murah. Beruntung Riza dan tim menyadari hal ini, dan eksekusi desainnya menurut saya sangat bagus.

Hifatlobrain bertemu Riza Marlon dan istri (photo by Eddie Targo)

Dalam situs FOBI, dengan setengah bercanda bang Riza bilang,“Kalo lu bilang buku gua jelek, lu coba deh bikin sendiri. Gua mau liat..." Sebuah tantangan baru muncul bagi para fotografer alam liar muda untuk mengabadikan Indonesia sebagai surga biodiversitas dunia. Anyone, ada yang berminat mengalahkan Riza Marlon?[]

1 comment:

hadiiswa said...

manteb sanget review bukune cak...good job...kirim limk-nya aja ke bang caca (riza marlon)