Pages

3/7/11

The Makco's Road

Teks: Ayos Purwoaji | Foto: Ayos Purwoaji & Dwi Putri Ratnasari

Hari Minggu yang lalu (6/3) dihelat sebuah perayaan istimewa bagi para penganut Konghucu di Surabaya. Yaitu kirab patung Dewi Makco yang sudah 47 tahun lamanya tidak dilakukan. Menurut catatan pihak klenteng, terakhir kali kirab seperti ini diadakan pada tahun 1964. Saat itu memang belum lahir Orde Baru, namun sentimen terhadap warga pendatang cukup kuat, Tionghoa dan segala budayanya diklaim sangat dekat dengan komunisme, sebuah isu yang sangat sensitif kala itu.

Sejak tahun ini, pihak Klenteng Hok An Kiong, klenteng tertua di Surabaya, akan memulai kembali tradisi kuno ini. Yaitu mengarak patung Dewi makco lengkap dengan altarnya berkeliling pecinan. Rute pawai ini adalah sebagai berikut: Jl. Coklat - Jl. Karet - Jl.Kembang Jepun - Jl.Dukuh Kertopaten - Jl.Pegirian - Jl.Waspada - Jl.Slompretan. Ini adalah ruas-ruas jalan penting di sepanjang kampung pecinan.

Sejak pagi saya sudah bersiap di Klenteng Hok An Kiong bersama Giri dan Putri. Konon sebelum pawai dilaksanakan, para jemaat klenteng akan melakukukan sembahyang untuk Dewi Makco yang diletakkan di altar utama klenteng. Ruangan seluas lima meter persegi ini hampir sesak dipenuhi sekitar 50 orang jamaah yang melantunkan kidung doa. Saat mendengarnya bayangan saya langsung terbang ke Nepal, hahaha.

Setelah berdoa dan menunggu tim barongsai datang, saya ngaso dulu di depan klenteng. Saat itu juga saya merasa lapar menyerang karena memang tidak sempat sarapan. Ah untung saja panitia pawai menyediakan berbagai sarapan gratis untuk peserta, ada soto ada pula pecel dan bubur. Tentu saja tawaran makan gratis ini tidak pantas ditolak kawan.

Giri dan Putri sendiri lebih jaim, mereka malas mengambil berbagai makanan gratis yang tersaji di depan muka mereka. "Aku wes mangan mie kok mau isuk..." elak Putri dengan muka malas sambil terus melihat saya yang makan pecel dengan lahap.

Sebelum diarak, patung Makco setinggi 25 centimeter ini diletakkan di dalam sebuah altar yang mirip tandu, warga Konghucu berebutan meminta doa dan keselamatan kepada Makco, mereka berulang kali mengusapkan asap dupa ke wajah mereka untuk mengharapkan keberkahan hidup, kesehatan, dan keselamatan hidup. Bahkan ada warga yang meminta obat sekalipun. Teman saya, Giri, bahkan konon mendengar seorang nenek tua berguman,''Makco, darah tinggi, Makco, darah tinggi....nyuwun obate, Makco...'' diucap dengan lirih namun konsisten, mencoba tidak tenggelam di tengah banyak doa lain yang dipanjatkan.

Setelah menunggu agak lama, akhirnya pawai pun dimulai pada pukul setengah sembilan. Awalnya yang saya tahu dari Giri, pawai ini hanya diikuti oleh 25 orang saja, lantas H-2 saya mendengar kabar darinya jika peserta pawai mencapai 100 orang, wah lumayan banyak. Tapi pada hari H ternyata perhitungan itu tidak tepat, saya melihat ratusan orang memadati jalan Karet, itu tidak mungkin 100 orang saja, taksiran saya sih mencapai 400 orang lebih. Dan jumlah tersebut membengkak manakala anak-anak pribumi yang sedang bermain di sekitar klenteng memutuskan untuk ikut rombongan defile para warga keturunan ini.

Arak-arakan bergerak begitu cepat melintas jalan Karet hingga berbelok ke arah Kembang Jepun. Tampaknya semua peserta tampak antusias, senyum lebar tertera pada wajah para peserta lansia. Mungkin ini semacam ekspresi rindu pada pawai Makco yang tersimpan erat di memori masa kecil mereka. Selebihnya para remaja dan anak kecil yang ikut merasa senang karena melihat bisa melihat aksi barongsai dan mereka mendapat ikat kepala merah yang manis. Hari itu semua orang tampak terlihat senang. Saya pun senang karena biasanya di acara seperti ini bisa dapat banyak gambar bagus hehehe. Dwi Putri juga senang, karena memang dia adalah seorang festival hunter. Begitu juga Giri Prasetyo yang girang karena mendapatkan banyak footage langka untuk proyek dokumenternya tentang pecinan.

Defile panjang ini melintas berbagai jalan dan gang di sekitar pecinan yang asing saya lewati. Menembus beberapa kanal kecil yang berakhir tembus di jalan besar. Pada setiap persimpangan jalan yang minimal berjumlah empat, altar Makco dibawa berputar dengan jalur yang membentuk huruf 'O' di tengah perempatan. Mereka, para penandu ini berputar dengan gerakan yang cepat dan bersemangat, seperti orang yang kemasukan roh. Sedangkan satu orang dengan awas menjaga keseimbangan altar di titik tengah putaran.

Saat menggasing di tengah perempatan seperti itu memang kadang altar Makco sedikit doyong ke arah dalam, mungkin akibat terkena gaya sentrifugal, tapi mungkin juga karena beban altar yang berat. Saya tidak tahu pasti, namun altar yang dikelir merah tua dengan ornamen berwarna emas ini terbuat dari kayu. Entah kayu apa, mungkin kayu jati tua yang terkenal berat dan kuat itu. Ini adalah altar asli yang dibuat 181 tahun lalu, sama tuanya dengan umur Klenteng Hok An Kiong.

Sebagai klenteng tertua di Surabaya, tentu saja klenteng ini punya banyak cerita. Ia dibangun oleh para pelaut dan saudagar Cina gelombang pertama yang merapat di pelabuhan Ujung Galuh, Surabaya. Awalnya, bangunan yang terletak di persimpangan jalan Cokelat ini tidak digunakan sebagai klenteng, melainkan sebuah wisma dan tempat bermalam bagi para pelaut yang tidak memiliki rumah. Lambat laun, fungsinya berubah menjadi klenteng seperti yang dikenal saat ini. Hok An Kiong sendiri berarti Kuil Kebahagiaan dan Perdamaian.

Dewi Makco (Tianhou) menjadi dewi utama di Hok An Kiong. Ini adalah suatu hal yang wajar mengingat para jemaat awal klenteng ini terdiri dari para pelaut dan nelayan dimana sangat memuja dewi yang menguasai lautan dan melindungi para pelaut dari marabahaya. Menurut Giri yang sedang melakukan riset, Laksamana Cheng Ho pun membawa serta Makco dalam kapalnya.

Sebuah insiden terjadi di depan Klenteng Hok Tiek Hian. Patung Makco yang semula akan dibawa masuk ke dalam klenteng urung dilakukan, sebab ada dua orang penjaga klenteng yang dengan asiknya menonton arak-arakan ini dari lantai dua. Mengambil posisi di atas sang Dewi tentu saja dianggap tabu, dianggap melangkahi yang suci. Para peserta marah dan menunjuk -nunjuk dua orang dungu tersebut.

Setelah sedikit berdebat dan diputuskan tidak bisa masuk Hok Tiek Hian, akhirnya pawai Makco dilanjutkan untuk melintas jalan Pegirian yang padat dengan pengguna jalan yang distop. Masyarakat pun antusias untuk memperhatikan pawai yang baru mereka lihat ini. Mereka meotretnya dengan kamera poket atau hape. Warga keluar dari rumahnya; berdiri di balik pagar-pagar atau bahkan turut masuk dalam barisan.

Berbelok dari Pegirian dan masuk ke jalan Waspada, ini adalah etape terakhir yang harus dilalui Makco sebelum kembali masuk ke dalam Klenteng Hok An Kiong. Para pemain barongsai sudah terlihat lelah karena berjingkrak-jingkrak hiperaktif selama pawai, beberapa penandu altar pun terpasa menyingkin untuk digantikan dengan yang lain karena pundak mereka yang mulai nyeri. Tapi kemeriahan ini tidak susut, senyum pun masih terkembang di wajah peserta pawai, menampung bulir-bulir keringat yang leleh perlahan dari pelipis. Empat ibu tua yang memegang sapu di barisan depan juga masih semangat mengibas sapu-sapu ijuk itu di atas aspal. Mereka ini penting artinya, memiliki makna simbolis agar jalur yang dilewati Makco tetap suci dan terhindar dari sial.

Setelah hampir satu jam pawai mengelilingi pecinan. Akhirnya Dewi makco kembali ke rumahnya di jalan Cokelat. Ternyata di depan klenteng sudah banyak fotografer yang menunggu, mereka ini adalah fotografer-fotografer yang kesiangan. Sayang sekali mereka tidak bisa melihat momen yang menarik selama perjalanan. Termasuk gadis kecil cantik bernama Jessica yang memiliki pipi super dan wajah yang manis. Selama pawai, Jessica berjalan sendiri, ia tidak mau digendong. Kaki kecilnya melangkah perlahan sambil bergelayut manja pada bapak-ibunya.

Sementara Dewi Makco sudah dikembalikan ke altar dan barongsai masih melakukan atraksi perpisahan di depan klenteng, Putri merengek kepada saya, sambil meringis dia berbisik minta pulang,"Yos, aku laperrr..." Huahaha, kapokmu kapan! []

8 comments:

putri said...

Foto A-Puk lagi 'mengibaskan doa' lebih dreamy daripada foto matahari di kiri atas tandu

Cool.. :)

btw, aku ga merengek.. plisdeyos!

Tekno aka Bolang said...

always apik....sukses terus kang..suka foto ayos yang pakek payung di bawah judul :))

papadoh said...

mas, sekali sekali, si om ini diajak dong. kan bisa bawa bekal buat dimakan dik putri yg suka lapar itu. piye?

papadoh said...

Mas Ayos, sekali sekali si om ini diajak dong. kan bisa bawa bekal buat dik putri yg sering kelaparan. hehehe

Putri said...

tenanan yo, papadoh! bawain aku serantang lontong balap plus sate kerang.... tanggal 26 mas, boleh pilih, Pasola atau Pecinan :)

Ayos Purwoaji said...

@ mas reza: Waaa ayo mas! Mari hunting bareng :)

musim said...

setahuku kok klenteng tertua di Surabaya bukannya yang di jalan Dukuh kang? kekeke....^_^v

Ayos Purwoaji said...

@ Mas Asim: Menurut sumber yang aku baca, Hok An Kiong (Klenteng Jalan Coklat) adalah yang tertua di Surabaya mas, merujuk dari buku sejarah "Boen Bio" dan jurnal sejarah yang ditulis Claudine Salmon...