Pages

4/23/11

Book's Day Out 2011

Photo courtesy of C2O Library

Text by Anitha Silvia and Ayos Purwoaji

Di Surabaya, kita kerap mendengar keluhan minimnya keberadaan tempat-tempat yang menyediakan buku, media dan informasi lainnya. Jika diamati, tempat-tempat itu sebenarnya ada, bahkan tumbuh semakin banyak dalam 2-3 tahun terakhir dalam bentuk taman baca, perpustakaan, toko buku, penerbit, dan lain sebagainya. Sayangnya, informasi keberadaan masing-masing tempat masih cenderung tidak tersosialisasi dengan baik.

Sebagai langkah awal, Kami ingin membuat sebuah peta kota Surabaya yang dapat menunjukkan lokasi tempat-tempat yang berhubungan dengan buku di Surabaya. Di sini, tempat yang dimaksud bisa jadi perpustakaan, taman baca, lembaga dengan perpustakaan yang terbuka untuk umum, toko buku, penerbit, penulis, dan lain sebagainya. Harapan kami, peta ini dapat membantu kita untuk setidaknya mengetahui keberadaan dan mendorong kolaborasi pegiat-pegiat buku, literasi dan budaya di Surabaya dengan masyarakat sekitarnya.

Peta ini akan dibuat dalam bentuk kertas yang dapat dibawa ke mana-mana sebagai panduan berisi peta, alamat, dan informasi masing-masing tempat. Selain itu, juga akan dibuat versi online di google maps untuk memudahkan kolaborasi dan update informasi.

Dengan begitu, peta ini akan menjadi projek yang akan terus berkelanjutan dan diperbaharui dengan munculnya tempat-tempat dan informasi baru.


Lihat petanya di: http://bit.ly/petabukusby

Kami membayangkan nanti Kota Surabaya bisa mengembangkan jenis wisata berupa literary tourism, sebuah konsep wisata ala kutu buku yang ingin berburu surga penuh kitab. Sebetulnya, ini bukan konsep baru di luar negeri, karena di Eropa dan Amerika sudah berkembang konsep literary traveler, sebuah sebutan bagi pejalan yang suka melakukan napak tilas ala novel atau berburu buku di sebuah destinasi.

C2O dan Kampoeng Ilmu adalah salah dua destinasi penting bagi literary traveler yang sedang berkunjung ke Surabaya. Ada banyak buku bagus yang bisa kita temukan di dalam bangunan kuno C2O, atmosfer penuh ilmu meruap diantara tumpukan kitab dan bau kertas lawas. Sedangkan Kampoeng Ilmu adalah sejenis flea market yang menjual buku-buku bekas dan paket latihan Ebtanas seperti Kwitang di Jakarta dan Shopping di Jogja.

Bagi yang berminat dan ingin tahu lebih jauh, silahkan datang pada acara Book's Day Out 2011 yang diadakan oleh perpustakaan C2O dan bergembiralah! Ada pula pameran "Postcards From Bookworms" yang menampilkan karya berbagai jenis postcard aneh buatan tangan yang dibuat oleh para kutu buku. Salah satu yang paling menarik menurut saya adalah kartupos dengan tema Henri Matisse, seorang seniman besar yang menciptakan aliran Matisse Art. Kartupos Matisse ini dibuat oleh Simon Hureau, seorang komikus Prancis yang sempat residensi di Surabaya. Gambarnya oh so lovely...

Project postcard from bookworm ini masih terus berlangsung. Untuk gambar postcard lainnya silahkan menuju tumblr mereka. Keren-keren.

Hari kedua pesta kutu buku ini masih saja seru. Ada setumpuk buku diatas meja yang di-swap. Ini semacam metode tukar buku random yang unik. Kau silahkan datang dengan buku apa saja koleksimu yang sudah kuno, lalu taruh di atas meja, dan silahkan ambil buku apa saja yang kau sukai di atas meja. Kau beri satu, kau ambil satu. Seru kan. Bahkan ada yang rela menukar kitab babon "Pengantar Antropologi" milik Koentjaraningrat untuk sebuah novel grafis atau membawa setumpuk komik untuk ditukar komik lainnya.

Woho intinya, hail the magnificient bookworm!


4/13/11

Situs-Situs Marjinal Jogja

Judul: Situs-Situs Marjinal Jogja (Sanctuaires Retrouvés/ Sites Out of Sight)
Penyusun dan fotografer: M. Rizky Sasono, Jean-Pascal Elbaz, Agung 'Leak' Kurniawan
Penerbit: enrique indonesia
Tebal: 133 halaman
Reviewer: Winda Savitri

Apa yang Anda bayangkan pada saat mendengar kata situs? Jawabannya pasti akan beragam. Pastilah sebagian besar orang akan mengasosiasikannnya dengan kata ‘website’. Yah, jaman sudah semakin berkembang memang, ingatan akan ‘situs’ berupa lokasi kejadian, struktur, objek, atau bahkan hal lain baik yang aktual, virtual, lampau, maupun yang direncanakan sudah semakin memudar. Bahasa informatika lebih mendominasi hari ini.

Dan, review kali ini akan membahas situs-situs berupa artifak arkeologi yang dikemas dengan sangat catchy dalam buku yang berjudul 'Situs-Situs Marjinal Jogja'.

Dalam buku ini ditawarkan kurang lebih ada 34 tempat. Hal ini yang memaksa M. Rizky Sasono dan kawan-kawan antropolog bekerja keras serta ekstra hati-hati dalam penulisannya. "Wah mblusak-mblusuk risetnya itu mas, hahaha..." ujar Risky dalam sebuah pesan pendek.

Buku ini memang menelanjangi Jogja dan mengungkap berbagai situs purba yang yang ada di baliknya. Selama ini yang kita kenal dari Jogja hanyalah Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko saja, atau jika mengarah sedikit lagi ke arah utara bisa menemui Candi Borobudur di Magelang. Padahal, selain tiga candi touristy tersebut masih terdapat beberapa candi dan arca peninggalan lain yang patut dikunjungi. Apalagi bagi para petualang yang mencintai folklore setempat.

Jangan anda bayangkan bahwa buku ini seperti buku-buku sejarah pada umumnya, yang cukup rumit dan sulit dimengerti, tebal dan membutuhkan waktu yang lama untuk melahapnya. Saya ibaratkan yellow pages sajalah, karena memudahkan si pembaca dalam menemukan lokasi atas dasar nama objeknya. Namun tentu saja buku ini tidak setebal buku kuning itu, buku ini jauh lebih tipis.

Karena tipis dan mudah dipahami inilah, yang menjadikannya sebagai buku panduan jalan-jalan bagi para traveler, seperti yang pernah diceritakan oleh Ciptadi Sukono, seorang karyawan perusahaan swasta di Jakarta, dalam rangkumannya yaitu ‘buku-buku favorit tentang traveling di Indonesia’ yang pernah dimuat di website jakartabeat.net.

Buku ini menjadi sangat menarik karena menjelaskan sebuah situs tidak hanya berupa deskripsi fisiknya saja tetapi juga cerita yang ada di baliknya. Berbagai mitos dan misteri yang berkembang di masyarakat sekitar tentu saja menjadikan obyek-obyek ini semakin kaya dan tak biasa. Seperti kisah misteri penemuan Situs Payak, legenda emas di Candi Banyunibo, dan tujuh arca misterius Gupolo.

Legenda-legenda aneh yang asing di telinga saya, sebuah legenda yang terdengar jauh tinimbang legenda Rara Jonggrang dan Bandung Bondowoso yang membangun seribu candi Prambanan. Justru dari buku ini saya diajak bertamasya ke dalam jalinan legenda tidak populer yang ganjil, sebuah dunia folklore dimana raksasa sakti dan para jin yang menjadi penguasanya.

Membaca buku ini saya berimajinasi menjadi Indiana Jones dalam film Raiders of the Lost Ark yang menyusun kepingan mitos untuk sebuah perburuan menuju harta karun. Superb!

Tidak itu saja, Rizky juga tak alpa menambahkan entri seperti "how to get there" dalam setiap destinasi yang dibahas. Meski banyak tempat dalam buku ini yang harus dituju dalam perjalanan yang off to beaten track. Contohnya untuk menuju situs Candi Abang yang terkenal dengan sebutan 'La pyramide de Piyungan' kita harus berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer karena jalan menuju menuju bukit yang rusak. Keren kan! Lebih menarik lagi karena konten buku ini dilengkapi dengan peta berskala 1.300.000, jadi pembaca memiliki bayangan spasial tentang dimana artifak-artifak ini bisa ditemui.

Jangan kaget jika dalam buku ini tidak ada satu foto pun! Tapi itu tidak lantas membuat buku ini menjadi tidak menarik, karena ada gambar tangan keren karya Agung 'Leak' Kurniawan yang menjadi pemanis visual buku ini. Saya harus akui ilustrasi karya Leak ini terasa sangat klasik dan tidak biasa. Selain rekonstruksi berbagai bentuk arca sesuai aslinya, pada beberapa gambar Leak tak segan untuk menambahkan imajinasinya yang liar. Dan karena ilustrasi Leak inilah mitos yang disajikan terasa segar dan tidak monoton.

Pada chapter situs Candi Ratu Boko misalnya, Leak dengan jenaka menggambarkan sosok raja kanibal dengan kulit berwarna ungu yang telanjang tanpa baju dan sedang asyik menyantap manusia. Awalnya saya kira Prabu Boko sedang makan swikee, karena manusia-manusia santapan ini berukuran sekecil katak. Hahaha.

Ada dua ilustrasi kesukaan saya yaitu pada gambar kyai sakti yang terbang dengan roket di punggungnya pada chapter Candi Sambisari dan manusia tanpa kepala dalam chapter Kotagede.

Dibantu juga oleh seorang Perancis bernama Jean-Pascal Elbaz sebagai penerjemah yang membuat buku ini menjadi bilingual. Jadi, buat Anda yang merasa berdarah campuran, jangan khawatir tidak bisa membacanya dalam versi Indonesia. Situs-situs marginal ini menawarkan tiga pilihan bahasa dalam satu buku. Perancis, Inggris dan tentu saja Indonesia.

Elizabeth D. Inandiak, seorang penulis yang mengalihbahasakan Serat Centhini dalam versi française, pun membuat kata pengantar yang ciamik untuk buku ini. Dalam satu paragrafnya, Elizabeth berujar,“Panduan ini mengundang para pencari keindahan, kita semua, pada sebuah perjalanan penuh kesederhanaan..."

Sangat menarik. Dan saya tidak ragu memberikan nilai 4.5 dari 5 bintang pada buku bagus seharga 30.000 rupiah ini. []

4/10/11

Weekend Tanpa Ke Mal



"Kita pernah tuh, long weekend jalan pake mobil gitu, per orang cuma habis 150 ribu bo! Libur tiga hari padahal. Bayangin uang segitu kita bawa ke mal, paling habis buat nonton, makan sama transport aja kan..."
(Umi Akhdadiyah)

Beberapa waktu yang lalu, saat saya bercengkerama di sudut Bandara Soekarno-Hatta, Mas Tekno Bolang mengutarakan keinginannya untuk membuat sebuah charity project berupa "foto keluarga" bagi masyarakat miskin. Saat dijelaskan sekilas, saya langsung bisa menangkap bahwa ini adalah sebuah ide yang luar biasa. "Kan banyak juga Yos, keluarga tidak mampu yang ndak bisa pergi ke studio untuk bikin foto keluarga," kata Mas Tekno menjelaskan latar belakang project itu,"Toh mumpung aku bisa motret, buat amal lah, hehehe."

Ternyata ini adalah sebuah project menyenangkan yang dibalut dengan acara jalan-jalan. Mereka ini, adalah segerombolan orang yang memiliki gerakan "Weekend Tanpa Ke Mal" yang melegenda itu. Ketuanya adalah teman saya sendiri, Saiful Azhar, seorang petualang tanggung yang juga anak ACI. Hampir setiap minggu kelompok ini punya acara-acara kreatif yang bisa menjadi alternatif warga ibukota untuk melewati weekend tanpa harus masuk mal.

Beruntung kegiatan ini diliput oleh SCTV, sehingga saya berharap semakin banyak masyarakat urban Jakarta yang mau menghabiskan waktu luangnya di akhir minggu tidak hanya dengan sekedar ngeceng dan nonton di mal.

Saya mendadak jadi salut dengan kakak-kakak saya ini. Mereka mampu menerjemahkan ide yang sederhana menjadi kegiatan yang luar biasa. Apalagi mereka dengan istiqomah melakoni kegiatan ini sejak tahun 2009. Saya masih terus mengikuti berbagai inovasi yang mereka ciptakan. Kadang mupeng juga lihat itinerary mereka yang aneh-aneh, seperti bikin keramik, ke museum, atau birdwatching. Saya masih belum menemukan gerakan serupa yang ada di Surabaya, selain kegiatan-kegiatan dari kelompok Jejak Petjinan.

Anyway salut buat kakak-kakak di Weekend Tanpa Ke Mal! Kapan-kapan saya ikutan yaaaa!

Kebuli Night


Berburu makanan enak di malam minggu adalah kegiatan yang menyenangkan. Saya merasa beruntung memiliki banyak teman yang suka melakukan hal serupa. Jadilah satnite kali ini saya lewatkan bersama mereka, berburu tempat makan enak lagi! Yeah.

Kali ini saya mencoba seporsi Nasi Kebuli yang ada di Depot Ampel. Lokasi warungnya bukan di Kampung Ampel, tapi di Jalan Ondomohen. Tepatnya di seberang jalan Sate Kelapa Ondomohen yang tenar itu, sejajar dengan Warung Mie Kocok Bandung. Saya baru tahu ada warung ini dari teman saya. Tempatnya cukup meyakinkan. Sebetulnya warung ini terbagi dua, ada yang vintage ada pula yang baru. Sebetulnya saya mau makan di tempat yang lawas, tapi sepertinya itu hanya digunakan kalo warung anyar di sebelahnya sudah penuh dengan orang.

Kami memesan masing-masing seporsi nasi kebuli, konon ini adalah menu jagoan dari warung ini. Sambil menunggu, saya mengambil foto beberapa sudut depot. Termasuk dua orang pekerja yang sedang membakar iga di depan warung. Bau asapnya membuat saya menjadi semakin tersiksa karena lapar. Ough.

Hanya menunggu sekitar 7 menit, akhirnya pesanan kami tiba, seporsi nasi kebuli dengan dua potong besar danging kambing dan sesendok dua sendok acar. Wohooo ini adalah cara lain untuk menikmati malam minggu tanpa harus hangout dengan pacar yang itu-itu saja.

Seperti nasi kebuli yang lain, rasanya spicy. Jinten, kapulaga, dan cengkehnya merasuk dengan tuntas. Warna nasinya cerah, tidak seperti beberapa nasi kebuli yang biasa saya makan di Kampung Ampel yang berwarna cokelat kotor. Ada sedikit kuah gulai yang ditumpahkan di atas nasi. Aromanya keluar seiring dengan uap panas yang naik ke udara. Sedangkan tekstur nasi di lidah nggak terlalu oily, jadi saya sangat menikmati nasi ini.

Sedangkan daging kambingnya, hmm ini juga enak. Sepertinya sih ini dagingnya dibacem dengan berbagai macam bumbu gitu. Dagingnya rapuh, sama sekali tidak terasa liat saat digigit. Memudahkan saya untuk mengoyaknya dengan sendok garpu.

Daging kambing dalam seporsi nasi kebuli itu menurut saya cukup esensial. Kenapa? Karena itu membuat saya tidak berpikir bahwa rasa kambing di dalam nasi kebuli ini palsu belaka. Fake. Nasi rasa kambing tanpa daging kambing menurut saya adalah penipuan. Dan hadirnya daging kambing dalam menu ini adalah kejujuran yang patut dihargai. Rasa kambingnya memancar dari dua sumber; nasi dan daging kambing itu sendiri. Jadi rasa kambingnya kuadrat! Oh God...

Semetara si acar, hmm, yaaah ini semacam aksentuasi rasa yang membuat seimbang. Di tengah gempuran rasa kambing yang memenuhi rongga mulut, memasukkan sekeping acar timun ke dalam mulut itu jadi semacam sensasi unik.

Tapi terlepas dari nasi kebuli seharga 20.000 rupiah yang rasanya lumayan banget itu, saya sangat salut sama teh anget dari Depot Ampel ini. Saya memang memesan teh hangat saja, sebuah minuman standar yang bisa ditemukan di mana saja di Surabaya. Tapi baru kali ini saya minum teh anget dengan campuran kayu manis di dalamnya. Sumpah ini teh anget enak tenan!

Teh yang merupakan minuman sejuta umat itu, kalo diseduh dengan kayu manis, aroma mewahnya keluar. Nuansanya menjadi sangat Timur Tengah gitu. Hahaha. Saya merekomendasikan Anda yang mencoba depot ini untuk mencoba teh angetnya.

Selain menu biasa seperti nasi kebuli, gulai kambing, kambing oven, dan roti maryam, depot ini juga menyajikan menu spesial berupa 'sate rudal kambing'! It's sound interesting, isn't it? Hahaha mari dicoba!

Anyway, happy weekend Hifatlobrainers!

4/9/11

Travelounge Edisi Februari 2011


"Konon, Handelstraat dipenuhi kafetaria, warung, dan restoran, yang selalu memutar lagu-lagu Mandarin. Setiap orang bisa datang dan duduk untuk menikmati hidangan khas Tiongkok atau sekadar minum teh sembari bercengkerama. Banyak pula penjaja makanan kecil, obat Cina, Shanghai dress, kwetiau, bakmi, dan es krim..."
Err ini sebetulnya sudah lama. Tentang artikel Pecinan Surabaya saya dan Dwi Putri Ratnasari yang nampang di Travelounge edisi Februari 2011. Tapi terpaksa baru saya posting sekarang karena versi PDF-nya baru saja diunggah.

Liputan ini cukup menarik karena memaksa saya dan Putri untuk berkeliling sepanjang Kembang Jepun dan mblusuk ke beberapa klenteng tua di Surabaya. Semuanya menyenangkan. Apalagi Putri sudah memiliki jaringan luas di kelompok Jejak Petjinan yang peduli dengan chinese heritage yang ada di Surabaya, jadi semua peliputan dan pengumpulan data terasa lebih mudah. Termasuk fakta tentang kampung kungfu yang juga kami masukkan. Sebetulnya ini memang bukan tujuan wisata populer sih, tapi destinasi ini tidak bisa dilewatkan untuk pelancong yang ingin 'tahu benar' tentang sejarah pecinan di Surabaya.

Nanti bakal saya posting artikel aslinya sebelum dipotong sana-sini oleh editor Travelounge ya, sekarang saya kasih versi online-nya saja dulu. Silahkan baca di bawah.

4/7/11

In Behind

"Menunggu Kereta Tiba" courtesy of Sephinal Jati Rosyidi


Membuka halaman Fotokita.net pagi ini saya menemukan sesuatu yang baru. Seorang fotografer bernama Sephinal Jati Rosyidi mengunggah foto yang berjudul "Menunggu Kereta Tiba" yang menurut saya patut untuk diapresiasi.

Foto ini sebetulnya blurry, tapi secara keseluruhan saya sangat suka fotonya. Sedikit eksperimental memang, dalam foto ini Jati bermain dengan cahaya dan bayangan. Tapi jujur saja, foto ini membuat saya tidak bosan. Stasiun Jakarta Kota yang penuh dengan manusia, gerbong kereta, dan barisan kawat listrik yang centang perenang selalu saja digambarkan monoton, namun Jati bisa memotretnya dengan lebih baik. Ia keluar dari pola itu.

Saya tidak tahu harus bilang Jati adalah orang yang beruntung atau tidak. Tapi komposisi fotonya ini juga menarik perhatian saya. Tentang orang-orang yang pulang larut sore, ingin lekas sampai rumah, lantas memadati pinggiran rel. Uyel-uyelan. Menunggu kereta tiba.

Cahaya terang yang ada di sisi kiri foto itu tentu saja bukan matahari senja sayang. Itu adalah kereta yang terlambat datang. Namun tetap saja membawa cahaya dan harapan. Mengantarkan tubuhmu yang lelah itu untuk segera sampai rumah. Meninggalkan kota yang langitnya semakin redup dan sebentar lagi mati. Digantikan cahaya ribuan kunang-kunang artifisial.

"Lautan Manusia" courtesy of Sephinal Jati Rosyidi

Foto Jati berikutnya juga menarik. Saya tidak tahu di mana lokasi pengambilan gambarnya. Namun tetap dengan angle yang berani dia -sekali lagi- menempatkan manusia sebagai siluet, sebagai anonim yang tak perlu diingat namanya, sebagai entitas yang tidak lebih menarik ketimbang lingkungan di sekelilingnya.

Saya merinding setelah lihat foto yang kedua ini. Gambaran neraka menjadi begitu dekat di benak saya. Hahaha.

Bagi saya sih dua foto Jati ini adalah dua travel photography yang menarik. Menggunakan angle yang berani dengan menempatkan cahaya di belakang obyek. Membiarkan imajinasi kita, sebagai penonton, untuk menerka-nerka siapa mereka, sedang apa, dan sebagainya. Jati, dengan sadar atau tidak, mengajarkan kita untuk tidak monoton dalam mengambil sudut pandang. Toh pantai kan tidak hanya banyu biru dan pasir putih saja kan?

4/6/11

Kuta Kotor

Photograph courtesy of Claude Graves

Photograph courtesy of Madden Lynch

Hari ini saya dua kali dibuat berpikir oleh situs TIME.

Pertama dalam page TIME Travel, ada rubrik City Guides yang menyajikan panduan berwisata untuk berbagai negara di belahan dunia. Misal di Eropa, Anda bisa melihat panduan untuk kota Athena, London, atau Moscow. Sedangkan untuk benua America, silahkan pilih panduan untuk Los Angeles hingga Detroit, atau San Francisco sampai Boston.

Dari Asia, ada banyak kota yang bisa dibaca travel guide-nya, ada Bangkok, Beijing, Manila, hingga Tokyo. Sayang sepertinya Indonesia tidak ada panduannya. Jakarta dan Denpasar tidak muncul dalam entri pilihan. Padahal ibukota negeri tetangga, Kuala Lumpur, masuk. Ah saya sempat meradang. Apa tidak ada redaktur TIME yang pernah berkunjung ke Indonesia? Tapi bukankah John Stanmeyer, kontributor foto utama TIME, sempat tinggal lama di Jakarta dan Bali?

Entahlah. Mungkin seharusnya besok-besok saya yang bikin panduan Jakarta atau Denpasar buat TIME.

Lalu, menjelang malam, saya tambah kaget ketika membaca sebuah feature di TIME berjudul "Holidays in Hell: Bali's Ongoing Woes" yang ditulis dengan lumayan oleh Andrew Marshall. Judulnya sangat provokatif; berlibur ke neraka. Hahaha ciamik.

Dalam artikelnya tersebut Andrew berbicara tentang Pantai Kuta yang kotor dan dipenuhi sampah. Apalagi saat musim hujan seperti ini, saat sungai-sungai meluber dan menjlentrehkan sampah di sepanjang Kuta. "Rivers swell and flush their trash and frothing human waste into the sea off Kuta Beach, the island's most famous tourist attraction, where bacteria bloom and the water turns muddy with dead plankton," kata Andrew.

Yaiks, saya jadi jijik dibuatnya.

Terakhir ke Kuta, dua tahun lalu bersama Nuran, sebelum melunaskan perjalanan kami ke Flores. Kuta memang tidak pernah jadi tujuan favorit saya. Suasana yang ingar bingar, macet, dan udara yang dipenuhi bau alkohol, tiga hal yang membuat kuta sama sekali tidak bernilai di mata saya. Ubud adalah jauh jauh jauh lebih baik.

Sampah dan kemacetan di Kuta bukanlah persoalan baru. Sejak setahun lalu saya sudah pernah membaca isu ini dari Jakarta Globe, dan saat ini semakin parah. Sepertinya pengelola wisata di Bali tidak cepat tanggap untuk menanggulangi isu klasik ini. Ketika berbagai properti dibangun, ketika kepemilikan kendaraan tidak dikontrol, ketika itu pula mereka lupa pada hal yang paling sepele; waste management.

Kuta memang primadona pada medio 1970-an, tapi apakah akan terus bertahan hingga masa depan? Saya tidak bisa berani jamin, jika masalah kecil seperti sampah ini tidak segera diselesaikan, maka saya pikir pariwisata Bali akan tamat riwayatnya. Setidaknya secara perlahan. "It's like Bali is slowly committing suicide," kata jurnalis lokal yang diwawancara Andrew, Wayan Juniarta.

Referensi lain:
Bali: Paradise Lost (Roadjunky)
When Mermaids Cry: The Great Plastic Tide (CoastalCare)

Setelah mendapat sorotan dunia, sampah yang menumpuk di sepanjang Pantai Kuta dibersihkan secara massal. Pantai Kuta pun bersih dari sampah, namun untuk sementara waktu. (Detik.com)

Thanks mas Jeri atas upadate-nya :)

4/4/11

Bromo Eruption



Sejak bulan November 2010, Gunung Bromo mulai batuk-batuk. Kawahnya mengeluarkan debu vulkanis yang menutupi jalanan aspal hingga setebal 5-10 centimeter. Beberapa jalur kendaraan hancur dan banyak pohon jatuh tumbang. Sisanya rumah-rumah warga yang kotor berbalut debu.

Ini adalah erupsi terlama yang pernah dicatat untuk Gunung Bromo. "Biasanya seminggu atau sepuluh hari gitu, terus selesai mas. Tapi yang ini enggak, sudah berbulan-bulan asapnya keluar. Kadang gemuruhnya terdengar hebat. Takut juga kita," kata Pak Jianto, pemilik hartop yang kami sewa.

Tidak ada korban dalam erupsi berkepanjangan ini. Hanya saja, jumlah wisatawan yang berkunjung turun drastis.

Video ini saya buat seadanya dengan kamera poket. Musik latarnya milik seorang komposer bernama Diego Stocco, komposisi ambience-nya berjudul The Attack dan The Cloud Chaser saya mix menjadi ilustrasi untuk video ini. Semoga berkenan :) []

4/3/11

Grassland

Puncak Tomia (photograph courtesy of Terryna Tunjungsari)

Saya sedang getol membaca sebuah buku yang ditulis oleh Ian Frazier. Judulnya Great Plains, sebuah roman perjalanan klasik yang hampir sama besarnya dengan The Great Railway Bazaar karya Paul Theroux.

Buku ini bercerita tentang daratan raya Amerika yang membentang diantara pegunungan Rocky Mountains hingga Blackhills. Sebuah padang mahaluas yang menyimpan banyak cerita dan mitos di balik tanah dan lapisan udaranya.

Saya sangat terkesan dengan bagaimana Ian menggambarkan dengan detail dan sangat indah kehidupan di atas padang prairi, tentang kemah-kemah suku Indian, tentang jalur rel yang pertama kali membelah Amerika, tentang bagaimana bangsa kulit putih datang, tentang bagaimana Bonnie and Clyde -salah satu komplotan penjahat paling terkenal mati tertembak, tentang bagaimana Truman Capote menulis karya agungnya; In Cold Blood, tentang bagaimana kisah kepahlawanan Crazy Horse -salah satu pemimpin suku Indian paling disegani, tentang bagaimana praktik ritual Ghost Dance ala Indian, tentang bagaimana Ian Frazier seorang diri berkelana menyusuri daratan ini dengan van.

Membaca deskripsinya tentang padang rumput yang luas ingatan saya kembali pada beberapa hal; komik lawas Lucky Luke, iklan Marlboro, dan sebuah foto bukit rumput karya teman saya Terryna Tunjungsari.

Foto Terryna menurut saya sederhana namun cantik. Simply beautiful. Melihatnya saja terasa hangat dan lega.

"Ini di Puncak Tomia. A breathtaking place indeed! Tempat tertinggi di Pulau Tomia (salah satu pulau pembentuk gugusan Wakatobi -Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko). Paling pas buat menunggu sunset sambil ngeliat Pulau Onemobaa dan Binongko.

Salah satu fakta yg menarik di sini adalah ditemukannya bekas-bekas kerang kima dengan ukuran raksasa. Diduga bukit ini dulunya adalah dasar lautan yang kemudian naik karena gerakan lempeng bumi.

Kalo kepikiran pensiun gue rasa tempat ini adalah satu satu tempat ideal menghabiskan masa tua sambil angon kambing, menjadi nelayan, dan membesarkan cucu-cucu gue hehehe…" kata Terryna menjelaskan fotonya. []