Pages

4/7/11

In Behind

"Menunggu Kereta Tiba" courtesy of Sephinal Jati Rosyidi


Membuka halaman Fotokita.net pagi ini saya menemukan sesuatu yang baru. Seorang fotografer bernama Sephinal Jati Rosyidi mengunggah foto yang berjudul "Menunggu Kereta Tiba" yang menurut saya patut untuk diapresiasi.

Foto ini sebetulnya blurry, tapi secara keseluruhan saya sangat suka fotonya. Sedikit eksperimental memang, dalam foto ini Jati bermain dengan cahaya dan bayangan. Tapi jujur saja, foto ini membuat saya tidak bosan. Stasiun Jakarta Kota yang penuh dengan manusia, gerbong kereta, dan barisan kawat listrik yang centang perenang selalu saja digambarkan monoton, namun Jati bisa memotretnya dengan lebih baik. Ia keluar dari pola itu.

Saya tidak tahu harus bilang Jati adalah orang yang beruntung atau tidak. Tapi komposisi fotonya ini juga menarik perhatian saya. Tentang orang-orang yang pulang larut sore, ingin lekas sampai rumah, lantas memadati pinggiran rel. Uyel-uyelan. Menunggu kereta tiba.

Cahaya terang yang ada di sisi kiri foto itu tentu saja bukan matahari senja sayang. Itu adalah kereta yang terlambat datang. Namun tetap saja membawa cahaya dan harapan. Mengantarkan tubuhmu yang lelah itu untuk segera sampai rumah. Meninggalkan kota yang langitnya semakin redup dan sebentar lagi mati. Digantikan cahaya ribuan kunang-kunang artifisial.

"Lautan Manusia" courtesy of Sephinal Jati Rosyidi

Foto Jati berikutnya juga menarik. Saya tidak tahu di mana lokasi pengambilan gambarnya. Namun tetap dengan angle yang berani dia -sekali lagi- menempatkan manusia sebagai siluet, sebagai anonim yang tak perlu diingat namanya, sebagai entitas yang tidak lebih menarik ketimbang lingkungan di sekelilingnya.

Saya merinding setelah lihat foto yang kedua ini. Gambaran neraka menjadi begitu dekat di benak saya. Hahaha.

Bagi saya sih dua foto Jati ini adalah dua travel photography yang menarik. Menggunakan angle yang berani dengan menempatkan cahaya di belakang obyek. Membiarkan imajinasi kita, sebagai penonton, untuk menerka-nerka siapa mereka, sedang apa, dan sebagainya. Jati, dengan sadar atau tidak, mengajarkan kita untuk tidak monoton dalam mengambil sudut pandang. Toh pantai kan tidak hanya banyu biru dan pasir putih saja kan?

4 comments:

dansapar said...

fotonya jati emang keren2
kasih link ini ke jati ah
:)

Anonymous said...

rasannya anget liat gambar ini

Djati said...

Makasih Broo..semuanya.......

Djati said...

Makasih MAs Bro semuanya...