Pages

4/6/11

Kuta Kotor

Photograph courtesy of Claude Graves

Photograph courtesy of Madden Lynch

Hari ini saya dua kali dibuat berpikir oleh situs TIME.

Pertama dalam page TIME Travel, ada rubrik City Guides yang menyajikan panduan berwisata untuk berbagai negara di belahan dunia. Misal di Eropa, Anda bisa melihat panduan untuk kota Athena, London, atau Moscow. Sedangkan untuk benua America, silahkan pilih panduan untuk Los Angeles hingga Detroit, atau San Francisco sampai Boston.

Dari Asia, ada banyak kota yang bisa dibaca travel guide-nya, ada Bangkok, Beijing, Manila, hingga Tokyo. Sayang sepertinya Indonesia tidak ada panduannya. Jakarta dan Denpasar tidak muncul dalam entri pilihan. Padahal ibukota negeri tetangga, Kuala Lumpur, masuk. Ah saya sempat meradang. Apa tidak ada redaktur TIME yang pernah berkunjung ke Indonesia? Tapi bukankah John Stanmeyer, kontributor foto utama TIME, sempat tinggal lama di Jakarta dan Bali?

Entahlah. Mungkin seharusnya besok-besok saya yang bikin panduan Jakarta atau Denpasar buat TIME.

Lalu, menjelang malam, saya tambah kaget ketika membaca sebuah feature di TIME berjudul "Holidays in Hell: Bali's Ongoing Woes" yang ditulis dengan lumayan oleh Andrew Marshall. Judulnya sangat provokatif; berlibur ke neraka. Hahaha ciamik.

Dalam artikelnya tersebut Andrew berbicara tentang Pantai Kuta yang kotor dan dipenuhi sampah. Apalagi saat musim hujan seperti ini, saat sungai-sungai meluber dan menjlentrehkan sampah di sepanjang Kuta. "Rivers swell and flush their trash and frothing human waste into the sea off Kuta Beach, the island's most famous tourist attraction, where bacteria bloom and the water turns muddy with dead plankton," kata Andrew.

Yaiks, saya jadi jijik dibuatnya.

Terakhir ke Kuta, dua tahun lalu bersama Nuran, sebelum melunaskan perjalanan kami ke Flores. Kuta memang tidak pernah jadi tujuan favorit saya. Suasana yang ingar bingar, macet, dan udara yang dipenuhi bau alkohol, tiga hal yang membuat kuta sama sekali tidak bernilai di mata saya. Ubud adalah jauh jauh jauh lebih baik.

Sampah dan kemacetan di Kuta bukanlah persoalan baru. Sejak setahun lalu saya sudah pernah membaca isu ini dari Jakarta Globe, dan saat ini semakin parah. Sepertinya pengelola wisata di Bali tidak cepat tanggap untuk menanggulangi isu klasik ini. Ketika berbagai properti dibangun, ketika kepemilikan kendaraan tidak dikontrol, ketika itu pula mereka lupa pada hal yang paling sepele; waste management.

Kuta memang primadona pada medio 1970-an, tapi apakah akan terus bertahan hingga masa depan? Saya tidak bisa berani jamin, jika masalah kecil seperti sampah ini tidak segera diselesaikan, maka saya pikir pariwisata Bali akan tamat riwayatnya. Setidaknya secara perlahan. "It's like Bali is slowly committing suicide," kata jurnalis lokal yang diwawancara Andrew, Wayan Juniarta.

Referensi lain:
Bali: Paradise Lost (Roadjunky)
When Mermaids Cry: The Great Plastic Tide (CoastalCare)

Setelah mendapat sorotan dunia, sampah yang menumpuk di sepanjang Pantai Kuta dibersihkan secara massal. Pantai Kuta pun bersih dari sampah, namun untuk sementara waktu. (Detik.com)

Thanks mas Jeri atas upadate-nya :)

4 comments:

seniman vertex said...

Bad news lagi...
Setelah akhir maret kemaren
kabar sampah (juga) yang menggunung di Pantai Bunaken Manado.
Sampah memang masalah simple tp kronis di Indonesia...

Bartian Rachmat (BaRT) said...

wah sayang banget :-(

Walaupun Kuta juga gak pernah jadi pantai favorit saya, tapi Kuta itu ibarat Copacabana nya Bali.

Dimana pantai ini menjadi rujukan pertama yang disarankan untuk orang-orang yang akan mengunjungi Bali (terutama yang baru pertamakali).

Saya pernah baca, selain Kuta ini sekarang bermasalah dengan sampah. Pantai satu ini juga dari tahun ketahun mengalami kemunduran garis pantai, alias semakin sempit ...

Hilmy Nugraha said...

akankah ikon pariwisata indonesia berpindah ke lebih timur?

mumun said...

*sigh
can't deny that Kuta is the gate way to Bali/Indonesia. What a great first impression.

Thanks for the post.