Pages

4/13/11

Situs-Situs Marjinal Jogja

Judul: Situs-Situs Marjinal Jogja (Sanctuaires Retrouvés/ Sites Out of Sight)
Penyusun dan fotografer: M. Rizky Sasono, Jean-Pascal Elbaz, Agung 'Leak' Kurniawan
Penerbit: enrique indonesia
Tebal: 133 halaman
Reviewer: Winda Savitri

Apa yang Anda bayangkan pada saat mendengar kata situs? Jawabannya pasti akan beragam. Pastilah sebagian besar orang akan mengasosiasikannnya dengan kata ‘website’. Yah, jaman sudah semakin berkembang memang, ingatan akan ‘situs’ berupa lokasi kejadian, struktur, objek, atau bahkan hal lain baik yang aktual, virtual, lampau, maupun yang direncanakan sudah semakin memudar. Bahasa informatika lebih mendominasi hari ini.

Dan, review kali ini akan membahas situs-situs berupa artifak arkeologi yang dikemas dengan sangat catchy dalam buku yang berjudul 'Situs-Situs Marjinal Jogja'.

Dalam buku ini ditawarkan kurang lebih ada 34 tempat. Hal ini yang memaksa M. Rizky Sasono dan kawan-kawan antropolog bekerja keras serta ekstra hati-hati dalam penulisannya. "Wah mblusak-mblusuk risetnya itu mas, hahaha..." ujar Risky dalam sebuah pesan pendek.

Buku ini memang menelanjangi Jogja dan mengungkap berbagai situs purba yang yang ada di baliknya. Selama ini yang kita kenal dari Jogja hanyalah Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko saja, atau jika mengarah sedikit lagi ke arah utara bisa menemui Candi Borobudur di Magelang. Padahal, selain tiga candi touristy tersebut masih terdapat beberapa candi dan arca peninggalan lain yang patut dikunjungi. Apalagi bagi para petualang yang mencintai folklore setempat.

Jangan anda bayangkan bahwa buku ini seperti buku-buku sejarah pada umumnya, yang cukup rumit dan sulit dimengerti, tebal dan membutuhkan waktu yang lama untuk melahapnya. Saya ibaratkan yellow pages sajalah, karena memudahkan si pembaca dalam menemukan lokasi atas dasar nama objeknya. Namun tentu saja buku ini tidak setebal buku kuning itu, buku ini jauh lebih tipis.

Karena tipis dan mudah dipahami inilah, yang menjadikannya sebagai buku panduan jalan-jalan bagi para traveler, seperti yang pernah diceritakan oleh Ciptadi Sukono, seorang karyawan perusahaan swasta di Jakarta, dalam rangkumannya yaitu ‘buku-buku favorit tentang traveling di Indonesia’ yang pernah dimuat di website jakartabeat.net.

Buku ini menjadi sangat menarik karena menjelaskan sebuah situs tidak hanya berupa deskripsi fisiknya saja tetapi juga cerita yang ada di baliknya. Berbagai mitos dan misteri yang berkembang di masyarakat sekitar tentu saja menjadikan obyek-obyek ini semakin kaya dan tak biasa. Seperti kisah misteri penemuan Situs Payak, legenda emas di Candi Banyunibo, dan tujuh arca misterius Gupolo.

Legenda-legenda aneh yang asing di telinga saya, sebuah legenda yang terdengar jauh tinimbang legenda Rara Jonggrang dan Bandung Bondowoso yang membangun seribu candi Prambanan. Justru dari buku ini saya diajak bertamasya ke dalam jalinan legenda tidak populer yang ganjil, sebuah dunia folklore dimana raksasa sakti dan para jin yang menjadi penguasanya.

Membaca buku ini saya berimajinasi menjadi Indiana Jones dalam film Raiders of the Lost Ark yang menyusun kepingan mitos untuk sebuah perburuan menuju harta karun. Superb!

Tidak itu saja, Rizky juga tak alpa menambahkan entri seperti "how to get there" dalam setiap destinasi yang dibahas. Meski banyak tempat dalam buku ini yang harus dituju dalam perjalanan yang off to beaten track. Contohnya untuk menuju situs Candi Abang yang terkenal dengan sebutan 'La pyramide de Piyungan' kita harus berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer karena jalan menuju menuju bukit yang rusak. Keren kan! Lebih menarik lagi karena konten buku ini dilengkapi dengan peta berskala 1.300.000, jadi pembaca memiliki bayangan spasial tentang dimana artifak-artifak ini bisa ditemui.

Jangan kaget jika dalam buku ini tidak ada satu foto pun! Tapi itu tidak lantas membuat buku ini menjadi tidak menarik, karena ada gambar tangan keren karya Agung 'Leak' Kurniawan yang menjadi pemanis visual buku ini. Saya harus akui ilustrasi karya Leak ini terasa sangat klasik dan tidak biasa. Selain rekonstruksi berbagai bentuk arca sesuai aslinya, pada beberapa gambar Leak tak segan untuk menambahkan imajinasinya yang liar. Dan karena ilustrasi Leak inilah mitos yang disajikan terasa segar dan tidak monoton.

Pada chapter situs Candi Ratu Boko misalnya, Leak dengan jenaka menggambarkan sosok raja kanibal dengan kulit berwarna ungu yang telanjang tanpa baju dan sedang asyik menyantap manusia. Awalnya saya kira Prabu Boko sedang makan swikee, karena manusia-manusia santapan ini berukuran sekecil katak. Hahaha.

Ada dua ilustrasi kesukaan saya yaitu pada gambar kyai sakti yang terbang dengan roket di punggungnya pada chapter Candi Sambisari dan manusia tanpa kepala dalam chapter Kotagede.

Dibantu juga oleh seorang Perancis bernama Jean-Pascal Elbaz sebagai penerjemah yang membuat buku ini menjadi bilingual. Jadi, buat Anda yang merasa berdarah campuran, jangan khawatir tidak bisa membacanya dalam versi Indonesia. Situs-situs marginal ini menawarkan tiga pilihan bahasa dalam satu buku. Perancis, Inggris dan tentu saja Indonesia.

Elizabeth D. Inandiak, seorang penulis yang mengalihbahasakan Serat Centhini dalam versi française, pun membuat kata pengantar yang ciamik untuk buku ini. Dalam satu paragrafnya, Elizabeth berujar,“Panduan ini mengundang para pencari keindahan, kita semua, pada sebuah perjalanan penuh kesederhanaan..."

Sangat menarik. Dan saya tidak ragu memberikan nilai 4.5 dari 5 bintang pada buku bagus seharga 30.000 rupiah ini. []

5 comments:

dan sapar said...

buku ini bisa dibeli di mana ya?

Ayos Purwoaji said...

Bisa didapatkan di LIP (CCF) Jogja mas :)

maharsi wahyu | kinkin said...

tapi malah bagus tuh strateginya mas. ga ada foto justru bikin pembaca penasaran seperti apa bentuk situs itu sebenarnya. superb!

muda berani dan berbahaya said...

LIP Sagan?

Ayos Purwoaji said...

@ Muda Berani dan Berbahaya: Yup :)