Pages

5/26/11

Kopitiam Oey

Teks oleh Winda Savitri | Foto oleh Bondan Wahyutomo

"Koffie Mantep Harganja Djoejoer..."
Jakarta sore itu sama seperti biasanya. Masih dipenuhi dengan rutinitas monoton para manusia metropolitan. Di sudut Thamrin senja itu, saya seperti melihat pertandingan lari marathon di Olympic Games, isinya menusia saling beradu kekuatan otot kaki, berlari sekencang mungkin untuk mengejar kopaja dan busway, tubuh mereka lelah dipenuhi peluh dan target kerja. Begitu saja berulang tanpa akhir. Hectic.

Sebagai gadis yang hidup di belantara Jakarta, tentu saja saya tidak ingin cepat tua. Maka dari itu, penting bagi saya untuk meluangkan waktu bersama teman. Sekedar ngopi dan duduk santai, sambil minta film bajakan atau main Angry Birds. Sejenak berhenti untuk menertawakan hidup yang kelewat patetik ini.

Sore itu saya mengiyakan ajakan Bondan untuk ngobrol di sebuah warung kopi sederhana di pinggiran jalanan Sabang, namanya Kopitiam Oey. Sebuah warung kopi bergaya peranakan yang kecil namun menarik. Nice.

Warung kopi ini milik Bondan 'Maknyus' Winarno. Dari websitenya saya tahu fakta historis bahwa :

Kopitiam Oey berasal dari kata 'Kafe Tien' dalam dialek Hokkien yang berarti 'Warung Kopi'. Kopitiam Oey -di jaman voor de oorlog disebut Kofflehuls Oey, pertama kali dibuka di jalan Haji Agus Salim 19 (d/h Laan Holle 18), Jakarta Pusat.

Sejarah yang menarik ini membuat saya jadi semakin tertarik untuk mencoba, kebetulan kafe ini tidak jauh dari kantor tempat saya dan Bondan kerja. Jadi memang ini adalah tempat yang pas untuk bertemu, tinggal jalan berapa blok saja, hup hup, maka sampailah saya.

Kami janjian selepas jam pulang kantor. Sebagai sesama penganut faham tenggo (begitu teng langsung go) maka segala kewajiban pekerjaan, sesegera mungkin kami selesaikan dengan tepat waktu. Dengan harapan akan ada waktu lebih, extend, untuk ngobrol berlama-lama.

Saya datang terlambat, Bondan menunggu saya sedikit lama. Yasudahlah, karena perut yang sudah lapar, masuklah kami ke dalam Kopitiam.

Wow! pertama kali melihat interiornya, yang ada di dalam otak saya adalah kata 'lawas'. Mengapa? Karena Kopitian menggunakan berbagai kursi kayu kuno yang dipadu dengan meja marmer yang sama antiknya. Di sudut lain saya melihat kaleng krupuk yang sangat klasik, mengingatkan saya pada sebuah rumah makan di Jawa Tengah.

Ada kesan arsitektur Tionghoa peranakan saat masuk ke dalam kedai kopi ini. Barisan lampion berwarna merah, padanan kain batik pada kelambu dan taplak meja, dan selembar lukisan klasik bergambar seorang Nonya tanpa baju memperkuat kesan peranakan tersebut.

Arsitektur peranakan memang memiliki ciri berupa akulturasi budaya yang kental antara langgam Tiongkok dan Jawa. Perpaduan ini selain sangat romantik, juga memunculkan kesan sederhana yang kuat. Ada kemewahan yang bersahaja dari interior kedai ini. Perlahan kebisingan kota Jakarta pun berlalu, digantikan dengan bayangan saya tentang kehidupan para Babah dan Nonya di sekitar bantaran kali Ciliwung pada abad 17.

Beberapa elemen interior juga menarik perhatian saya. Seperti wadah lampu yang bergantungan seperti sangkar burung, serta tulisan-tulisan hokkien yang menggantung di pintu selamat datang dengan warna cat yang senada dengan lampion. Cahaya lampu neon perlahan menjadikan suasana ruangan menjadi cozy. Membuat kami semakin betah ngobrol dan lupa untuk segera memesan makanan. Hahaha.

Begitu membuka menu, mata saya dipaksa untuk membaca ejaan lawas. Macam; Kopi Toebroek Djawa, Ijs Kopi Soesoe, Djoes Djeroek+Ijs Soda atau Koedapan. Widih lucu sekali, batin saya. Sembari meneliti satu-persatu menu yang ditawarkan, saya dan Bondan saling berdiskusi tentang banyak hal, sampai akhirnya menjatuhkan pilihan pada Djoes Apel+Ijs Soda feat. Ijs Tjingtjao Djahe Tjikini sebagai minoeman-nya dan Sate Ajam Ponorogo feat. Mie Kepiting Pontianak sebagai santap malamnya.

Bondan cukup kaget, karena bayangan Mie Kepiting Pontianak yang bakalan mirip seperti mie goreng pada umumnya tidak sesuai harapan. Ternyata menu ini tersaji dalam wujud menyerupai mie pangsit ayam. Sebagai pakar mie ayam, tentu saja lidah Bondan sangat peka untuk memberikan penilaian. "Hehe, untuk rasa lumayanlah, 3.5 dari 5 bintang," kata Bondan. Saya mengamini penilaian Bondan.

Untuk harga, hmm relatif berimbang lah, kisaran dua-puluhan-ribu-something untuk makanan. Sedangkan untuk minuman, harganya masih berkisar belasan ribu rupiah.

Overall, perjalanan kuliner kami malam itu menyenangkan. Ada banyak menu lain yang membuat kami penasaran dan ingin mencobanya lain kali. Silahkan lihat ragam menu di website resmi Kopitiam Oey.

www.kopitiamoey.com

Mountain and The Sea

"You call me a mountain
And I call you the sea
I'll stand tall and certain
And watch you swallow me..."
(Mountain and The Sea - Inggrid Michaelson)

Oh sepertinya klasik dan klise banget ya kalo Anda disuguhi pertanyaan seperti ini: "Kalo traveling lebih suka kemana; gunung atau laut?" Jawabannya bisa salah satu, bisa juga dua-duanya. Sang penanya juga seharusnya mencermati fakta seperi adanya gunung di tengah lautan seperti Kakatau, juga 'lautan' air tawar di kawah gunung seperti Danau Toba. Jadi ya, menurut saya pertanyaan itu kurang begitu relevan sih, hehehe.

Oke paragraf diatas sebetulnya tidak penting untuk dibahas sih. Out of topic banget! Karena sebetulnya pagi ini saya akan membagikan dua buah ebook inspiratif bagi Hifatlobrainers sekalian yang bingung mau kemana melewatkan long weekend minggu depan.

Dua ebook ini bukanlah buatan saya, tapi buatan teman-teman saya yang jago motret dan suka jalan. Jadi ya, saya dengan hormat minta mereka untuk membagikan ebook mereka di blog yang hangudubilah setan kerennya ini! Hahaha.

Satu buku berjudul "Bromo in Mono" dibuat oleh adik kelas saya, Rijal Asy'ari (@titikterang) yang merupakan traveler mahasiswa berbakat dari Universitas Padjajaran. Hobinya memotret dan sesekali membuat keributan. Saya mengenalnya dari majalah sekolah belasan tahun lalu. Saya pemrednya, dan dia adalah anak baru yang harus saya ospek! Ohohoho but time flies so fast, sekarang saya bertemu lagi dengannya sebagai seorang Nikonian yang karyanya lumayan sip. Ahay!

Rijal membuat ebook "Bromo in Mono" ini sebagai refleksi cintanya pada lanskap keindahan kaldera Brahma yang melegenda itu. Dua kali Rijal rela menempuh perjalanan panjang dari Bandung untuk melihat sunrise Bromo yang terkenal itu, "Bromo bagaikan rumah impian bagi siapapun, di mana suatu saat kita harus kembali dan tinggal sejenak menikmati keindahannya..." kata Rijal. Bius Bromo itu pula yang membuatnya selalu ingin datang,"Sekarang saya pun merencanakan trip ke Bromo untuk ketiga kalinya..." kata Rijal.

Buku kedua adalah milik mas Philardi Ogi (@philardi) yang bercerita tentang pengalamannya berburu pantai surga di Bali. Traveler handal penyuka John Legend dan Koil ini mereview tujuh pantai populer yang berada di Bali. Buku berjudul "Bali; The Blue of the Magical Island" ini memang sangat cocok digunakan sebagai panduan para pecinta pantai yang ingin menggosongkan kulit di Bali. Tapi santai saja, buku mas Ogi ini tidak berbentuk travel guide yang hambar. Ia menuliskan berbagai kisah uniknya saat berkunjung ke pantai-pantai tersebut.

Seperti cerita menangkap belut di Pantai Suluban:

Mereka menangkap belut dengan cara menombaknya dengan besi panjang yang ujungnya sudah diruncingkan, lalu pada pangkalnya diberi karet sebagai pelontar, cukup tradisional.

Saya meminjam kacamata renang Budi untuk ikut mencari, sedangkan urusan menombak diserahkan kepada Darma, teman Budi yang paling pandai menyelam.

Setelah hampir setengah jam mencari-cari belut laut yang bentuknya saya belum pernah lihat sebelumnya, Darma dengan cepat menepuk bahu saya ”Bli saya tangkap satu!” Wow, belut sepanjang 30 cm berwarna coklat dan mulut menganga dengan tombak menempel sudah berada ditangan Ketut,"Nanti malam akan kami bakar untuk dimakan ramai-ramai,” ucap Budi dengan senyum yang lebar.

Hoho saya jadi ingin mencobanya.

Kualitas pemilik situs Mainmakan.com ini semakin teruji karena ia tak alfa memberikan review kuliner selama ia pergi ke Bali! Yeah. Sayang dia tak memasukkan entry nasi Jinggo yang menjadi panganan wajib para traveler kere seperti saya, huhuhu. Saya punya pemikiran alangkah bijak seandainya suatu saat Mainmakan.com membuat lebih banyak ebook yang spesifik pada review kuliner pada sebuah daerah. Itu akan menjadi food guide yang sangat resourceful!

***
Ada beberapa catatan penting dalam dua karya ini. Pertama buku Rijal memiliki desain yang bersih dan minimalis. Bahkan sampai minimalisnya sampai dia pelit untuk memberikan teks tentang catatan perjalanannya ke Bromo yang pasti menarik.

"Bromo in Mono", wow saya membayangkannya sebagai sebuah judul tulisan yang ciamik di dalam in-flight magazine terkenal! Tapi ya itu, saya kejeblos ekspektasi saya sendiri. Rijal hanya memberi teks separuh-separuh dan tidak penuh. Kita dipaksa untuk menduga-duga bagaimana perjalanan Rijal sebenarnya. Bagaimana impresi Rijal saat bertemu dengan bapak-bapak penyabit rumput? Bagaimana perasaannya saat melihat Pura Poten yang yang lengang diselimuti abu vulkanis? Maka silahkan menduganya sendiri. Hehehe.

Hal yang berbeda ditemui pada ebook "Bali; The Blue of the Magical Island" milik mas Ogi. Begitu banyak teks pada karya ini, sayang tidak dilayout secara maksimal. Grid yang tidak konsisten membuat bingung dan di beberapa page, jarak antar paragraf begitu berhimpitan. Mungkin lain waktu mas Ogi harus mempertimbangkan tampilan visual ebooknya agar terlihat lebih prima.

Anyway, buat Rijal dan Mas Ogi, kami tunggu karya kalian selanjutnya ya!

Oke sekian saja persembahan Hifatlobrain pagi ini. Semoga long weekend Anda menjadi lebih berwarna. Jadi pilih mana nih; gunung atau pantai? Hehehe.

Bali-The Blue of the Magical Island

Bromo in Mono

5/15/11

The Surabaya Playgrounds

"at The Bottom of Tugu Pahlawan" by Ayos Purwoaji.
Shoot in Ixus 220 HS with Lomo-mode.

Zine travel Halimun milik Tinta, teman saya, di edisi kedua berkisah tentang Surabaya. Dia mendedah habis berbagai destinasi populer dan tidak populer tentang Surabaya. Tinta bercerita pendek-pendek tentang Dolly hingga Sinagog, dari Monuman Kapal Selam hingga Taman Bungkul, dari Pasar Loak Gembong hingga Pasar Kaos Kapasan. Sangat menarik!

Silahkan download zine keduanya di sini.

Itu pula yang membuat saya bikin postingan ini. Tentang Surabaya's playground, tentang berbagai taman bermain yang mengepung Surabaya di berbagai sisi. Mulai dari tengah kota hingga agak pinggiran. Alhamdulillah, Surabaya dikaruniai berbagai taman kota yang asyik untuk pacaran dan menghabiskan waktu minggu pagi bersama keluarga.

Taman-taman kota ini memiliki fungsi dan hakikatnya masing-masing. Seperti Taman Bungkul yang asyik untuk membolos dan pacaran di siang hari, Taman Apsari yang sangat pas untuk melakukan demonstrasi, Taman Prestasi yang memiliki predikat taman mesum karena tempatnya yang tersembunyi, atau Surabaya Skate Park yang sangat cocok digunakan untuk berlaga bagi Anda, hai para skater dan biker handal.

Tanpa terasa, keberadaan taman-taman ini begitu penting. Tanpa hadirnya Taman Surya, dimana lagi publik Surabaya akan menggelar Pesta Kuliner Bango dan acara sepeda santai? Tanpa hadirnya Taman Kalimantan, dimana para lansia akan menemukan jogging track? Tanpa adanya Taman Hiburan Rakyat, akankah kelompok Srimulat menjadi legenda?

Meski belasan taman ini tidak banyak membantu menurunkan suhu Surabaya yang naujubillah panasnya, tapi tanpa adanya taman kota, Surabaya bisa berubah menjadi neraka.

Inilah beberapa nama taman yang selalu mengingatkan orang Surabaya untuk tidak lupa bermain di tengah penatnya hidup, tetap menjadi homo ludens, manusia yang selalu bermain-main:

Taman Prestasi

Berada di Taman Prestasi bagai menemukan sebuah oase di tengah kota. Taman seluas 6.000 m2 ini dihiasi sekitar 21 jenis tanaman sehingga terasa nyaman untuk melepas penat. Anak-anak pun dapat bermain sambil belajar mengenal lingkungannya. Area ini dilengkapi panggung terbuka, panggung teater, dan sarana permainan anak. Di sini, kita juga dapat menyaksikan replika penghargaan yang pernah diraih Kota Surabaya, seperti Wahana Tata Nugraha, Adipura Kencana, dan lain-lain. Obyek wisata ini juga menawarkan petualangan lain, seperti menyusuri Kalimas dengan perahu naga atau perahu dayung. Bahkan, bagi keluarga yang ingin menikmati suasana asri taman dengan menunggang kuda, telah tersedia kuda-kuda anak-anak. kekar yang siap mengantar.

Taman Bungkul
Revitalisasi Taman Bungkul dengan konsep Sport, Education, dan Entertainment telah diresmikan sejak 21 Maret 2007. Area seluas 900 m2 yang dibangun dana sekitar Rp 1,2 milyar itu pun dilengkapi berbagai fasilitas, seperti skateboard & sepeda BMX track, jogging track, plaza (sebuah open stage yang bisa digunakan untuk live performance berbagai jenis entertainment), akses internet nirkabel (Wi-Fi atau Hotspot), telepon umum, arena green park seperti kolam air mancur, dan area pujasera. Bahkan, taman ini juga dilengkapi dengan jalur bagi penyandang cacat agar mereka pun bisa ikut berekreasi. Taman yang berada di jalan protokol yakni di Jl. Raya Darmo itu makin bisa dirasakan manfaatnya bagi warga kota metropolitan Surabaya.

Taman Kalimantan

Sejak diresmikan tanggal 21 Maret 2007, Taman Bungkul dilengkapi fasilitas skateboard & BMX track, jogging track, serta akses internet nirkabel

Fungsi taman kota Surabaya sebagai tempat olahraga, rekreasi warga kota, hang out, dan menghirup udara segar jauh dari polusi, makin banyak alternatif. Surabaya bahkan telah memiliki taman lanjut usia atau taman lansia. Area yang dimanfaatkan sebagai taman alternatif untuk para lanjut usia itu berlokasi di Jalan Kalimantan. Area seluas sekira 2.000 m2 eks SPBU Kalimantan itu, di set up menjadi taman yang cantik sekaligus segar.

Beragam tanaman dan bunga cantik menghiasi. Di sela warna-warni tanaman indah itu tersedia track yang khusus dibuat untuk kenyamanan kursi roda para lansia. Ada pula tempat duduk untuk pengantar saat menemani para lansia menikmati suasana kota di pagi atau sore hari. Kesejukan suasana di taman ini kian segar oleh keberadaan air mancur di tengah taman. Kesegaran itu tentu bisa memecah kepekatan polusi udara dari kendaran bermotor yang cukup padat melewati bilangan ini.

Taman Apsari
Taman Apsari memiliki keunikan dibanding kawasan Surabaya lainnya. Taman yang berada di depan Gedung Grahadi itu terasa sejuk dan relatif tenang, meski tempatnya di tengah kota. Area ini di dalamnya terdapat Patung Suryo dan Joko Dolog. Di area seluas 5.300 m2 itu dilengkapi lebih kurang 20 jenis bunga dan tanaman. Di sela bunga dan tanaman itu disediakan jogging track yang nyaman untuk jalan-jalan. Sebagian anak muda bahkan menggunakannya untuk bermain skateboard. Sebagian warga Surabaya yang lain memanfaatkannya sebagai tempat kongkow kongkow semalaman sampai pagi menjelang.


Taman Flora
Taman Flora seluas 2,4 hektar di eks Kebun Bibit Baratang Surabaya kian bertambah nilainya. Selain rindang oleh ratusan jenis pohon dan tanaman, taman ini juga disebut Techno Park karena dilengkapi fasilitas teknologi internet. Setelah diresmikan Agustus 2007, area ini dilengkapi sebuah ruang sekitar 5x10 m2 sebagai ruang pembelajaran IT dengan 6 line jaringan komputer yang tersambung internet. Ruangan ini juga dilengkapi software berbagai games interaktif untuk sosialisasi tentang lingkungan dan masalah sampah. Techno Park ini sifatnya interaktif, yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak sekolah untuk praktek atau membentuk komunitas IT.

Taman Sulawesi
Area seluas 2.259 m2, eks SPBU Sulawesi, kini telah disulap menjadi taman yang indah. Taman Sulawesi ini pun menambah deretan taman rekreasi yang nyaman bagi keluarga di Surabaya. Warga kota kerap memanfaatkan tempat ini untuk wisata bersama keluarga dan anak-anaknya. Area ini tampak elok oleh warna-warni 50 jenis bunga dan tanaman yang menghiasi taman. Arena wisata ini juga dilengkapi jogging track, shelter, arena permainan anak, dan air mancur. Anak-anak muda sering memanfaatkan tempat ini untuk bermain skateboard dan olahraga sepatu roda. Area ini selalu tampak indah, baik pada siang maupun malam hari, karena dilengkapi lampu penerangan dan lampu hias warna-warni.

Taman Sulawesi dilengkapi jogging track, shelter, arena permainan anak dan air mancur.

Taman Yos Sudarso
Taman Yos Sudarso terdiri dari taman dan pedestrian yang kerap dijadikan jalan kaki warga kota maupun turis mancanegara. Di area taman ini terdapat monumen Panglima Sudirman yang tampak kian gagah diterangi sorot lampu di waktu malam. Para penghobi skateboard kerap menjadikan track di bawah monumen sebagai arena berlatih dan mengadu kemampuan. Bahkan di akhir pekan, sekitar tamanan dan pedestrian ini ramai dikunjungi warga Kota Surabaya untuk sekadar dudukduduk bersama sanak keluarganya.

Taman Dr. Soetomo
Jalur Dr. Soetomo-Darmo maupun Dr. Soetomo-Diponegoro mrupakan jalur kota yang ramai. Namun, melewati jalur ini berada teduh karena terdapat taman yang membelah dua jalur tersebut. Apalagi di jalur ini terdapat bundaran yang dijadikan taman untuk interaksi keluarga. Tak jarang warga kota menikmati keceriaan bersama keluarga di taman seluas 103 m2 ini. Taman ini dilengkapi sekitar enam tanaman warnawarni dan jogging track untuk jalan-jalan atau untuk anak-anak bersepeda.

Taman Mayangkara

Taman Mayangkara dibangun antara lain untuk mengenang keberanian Batalyon 503 Mayangkara di bawah pimpinan Mayor Djarot Soebyantoro saat menghadapi Belanda. Di area Taman Mayangkara, di depan Rumah Sakit Islam (RSI), terdapat monumen Mayor Djarot Soebyantoro menaiki kuda putih Mayangkara. Warga Surabaya biasa menyebut Monumen Mayangkara. Berada di lokasi ini terasa makin nyaman karena seluruh area taman telah berhias warna-warni bunga dan tanaman hias. Bahkan, di sekeliling monument dilengkapi arena untuk jalan-jalan dan sarana untuk memadu keceriaan bersama keluarga.

Taman Ronggolawe
Monumen Ronggolawe di Jalan Gunungsari didirikan sebagai kenangan bahwa Surabaya memiliki sosok pemberani dan berjiwa kepahlawanan tinggi. Area monumen itu pun dibuat menjadi Taman Ronggolawe. Setelah dilakukan pembenahan, taman itu kian sering dijadikan tempat bersuka ria warga kota Surabaya bersama keluarga, karena terdapat playground area untuk anak-anak. Kenyamanan di bawah rindangnya pepohonan juga kerap dimanfaaatkan anak-anak sekolah untuk belajar dan bermain di sekitar taman. Area sisanya juga sering digunakan anak-anak muda untuk area bermain sepak bola.

Taman Hiburan Rakyat

Taman Hiburan Rakyat Surabaya atau yang dikenal dengan THR terletak di Jl. Kusuma Bangsa 110 Surabaya (belakang Hi-Tech Mall) menyediakan fasilitas gedung dan panggung terbuka beserta kelengkapannya, selain itu disini juga terdapat stand-stand yang menjual makanan dan produk kesenian.THR juga merupakan salah satu obyek wisata yang dimiliki oleh Kota Surabaya bernaung dibawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya

Lokasi ini digunakan untuk tempat kegiatan seni baik tradisional maupun modern yang memiliki agenda tetap seperti pementasan drama, konser musik, ludruk, dan srimulat, wayang orang, dll yang digelar setiap hari Jumat pukul 19.00 WIB, sedangkan untuk Hari Sabtu terdapat Pagelaran Dangdut yang juga dimulai sejak pukul 19.00 WIB.

Taman Remaja Surabaya

Taman Remaja Surabaya yang terletak di jl. Kusuma Bangsa 112 - 114 yang termasuk wilayah Surabaya Timur, merupakan tempat rekerasi keluarga dengan beraneka ragam jenis permainan dan hiburan seperti boom - boom car, mini coaster, tele combat, water jumping, view wheel, captain hook, twist alladin, rumah hantu, komedi putar, mono rail, kereta api mini, kolam bola dan lain - lainnya. Juga tersedia stand adrotness, musik, cinderamata dan panggung hiburan dang dut atau pop dengan penyanyi atau artis Surabaya maupun Jakarta. Pada hari - hari tertentu tersedia pertunjukan khusus seperti warioa show dan lain - lainnya. Buka setiap sore pukul 17.00 sampai dengan 01.00 dengan area parkir yang luas.

Pantai Ria Kenjeran

Berada dibagian timur Surabaya, dengan udara pantai yang semakin Anda rasakan begitu Anda berada di kawasan Mulyosari maupun Sutorejo. Pantai Ria Kenjeran ini merupakan pantainya arek-arek Suroboyo dengan beberapa fasilitas yang beraneka ragam mulai dari olah raga hingga cinderamata khas Surabaya.

Apabila Anda ingin menikmati udara pantai dengan berjalan kaki atau berkuda di taman yang telah disediakan oleh Pantai Ria Kenjeran. Dan juga bermain layang-layang dengan bebas disini karena angin pantai yang mendukung untuk permainan ini. Sehingga akan sangat menyenangkan membawa keluarga untuk berlibur di Pantai Ria Kenjeran ini.

Pantai Ria Kenjeran juga sering mengadakan acara-acara pada hari-hari tertentu (Sabtu/Minggu) yang sangat menarik sehingga sayang sekali jika terlewatkan begitu saja. Diantaranya adalah drag race di park-sirkuit, pacuan kuda, pertunjukan barongsai di saat bulan purnama, permainan layang-layang dan sebagainya.

Pantai Ria Kenjeran dibuka setiap hari selama 24 jam. Pihak pengelola Pantai Ria Kenjeran terkadang memberikan potongan harga tiket pada hari-hari biasa.

Disclaimer: Seluruh tulisan deskripsi tentang taman kota dicopy dan dipaste dari situs Surabaya.go.id

PS: Tadinya saya mau bikin peta Surabaya Playground di Google Maps gitu, tapi ternyata saya kurang canggih, hahaha! Ada yang mau bantu memetakan taman di Surabaya di Google Maps? Anyone?

5/14/11

Slow Traveler

"After the funeral" by Ayos Purwoaji

Oleh: Dwi Putri Ratnasari


Saya percaya bahwa setiap orang memiliki gaya traveling yang berbeda-beda. Ada yang ngaku backpacker, light traveler, flashpacker, bikepacker, koperer dan beberapa er, yang lain. Saya sendiri bingung jika harus mendefinisikan diri sendiri sebagai traveler macam apa. Bukan berarti karena saya suka nenteng ransel lalu saya dengan bangga menyebut diri sebagai backpacker. No. Saya memilih memanggul ransel ya karena lebih efektif dan efisien saja untuk jalan-jalan. Dan saya percaya, bahwa yang namanya backpacker tidak bisa hanya dinilai dari penampakan bawaannya saja. It’s more than a backpack. Apapun itu, yang namanya traveling pasti memiliki makna tersendiri bagi tiap pelakunya. Ada yang untuk having fun, tuntutan pekerjaan, cari pengalaman atau mungkin pelarian.

Beberapa minggu yang lalu, saya diajak seorang teman untuk mengunjungi Lasem, sebuah kota kecil di wilayah pesisir Pantai Utara. Sempat ragu-ragu karena saya sendiri belum pernah bepergian dengannya untuk ukuran luar kota. Apalagi dia berencana untuk menghabiskan waktu selama seminggu di sana. Ya, seminggu untuk satu kota kecil saja! Saya belum punya bayangan pasti apa yang harus dilakukan di sana untuk kurun waktu selama itu. Tapi toh akhirnya saya mengiyakan ajakannya.

Ketika sampai di Lasem, kami bertemu dengan dua orang bapak dari Jakarta dan Bogor yang kemudian saya panggil Om David dan Om Andi. Keduanya memang teman dari teman saya itu, yang kebetulan sedang berada di Lasem juga. Mereka datang beberapa hari sebelum kami sampai.

“Rencana berapa lama di Lasem, Om?” tanya saya.

“Ya… semingguan lah…,” jawab Om David santai.

Kedua lelaki ini adalah para pecinta dan pemerhati bangunan tua di Indonesia. Mereka kerap traveling dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk memenuhi hasrat sebagai penikmat kota lawas. Lasem bagaikan firdaus bagi orang-orang macam Om David dan Om Andi. Dan ini bukan kali pertama mereka bertandang kemari.

Saya berkesempatan mengelilingi beberapa sudut Lasem dengan kedua lelaki ini. Pada setiap bangunan tua, kami menghentikan langkah, mengetuk pintu lalu berkenalan dengan empunya rumah dan meminta ijin masuk ke dalam. Walau tak jarang yang menghuni hanya seorang pembantu rumah tangga beserta empat anjing galak.

“Rumah ini perpaduan Indische dan Tiongkok… Coba perhatikan terasnya, perhatikan lekuk atapnya, tapi kamu lihat di depan ada patung burung elang besar. Itu gaya kolonial,” kata Om David kepada saya ketika kami berada di depan sebuah rumah tua suram yang tak berpenghuni. Puas melihat dan mengidentifikasi, lalu kami beranjak menuju tempat lain. Begitu, berulang-ulang.

“Penghuni rumah ini punya buanyak koleksi perangko lawas,” ujar Om Andi sambil menunjuk pada sebuah rumah tua dengan pohon-pohon rimbun yang sedang kami lewati. Lalu dia berhenti. “Nah, itu putranya."

"Hey, Nyo!” sapa lelaki berkacamata ini ketika melihat seorang anak kecil gemuk sedang mengangkat ember berisi air di teras rumah.

Si anak peranakan Tionghoa itu menoleh dan tersenyum. “Mau masuk, Om? Ketemu Papah? Aku bukain gemboknya.”

“Enggak deh, mau jalan-jalan ke depan,” jawab Om Andi.

Dua orang ini kerap menyapa penduduk sekitar. Ini yang bikin saya terpana. Mereka seakan telah menjelma menjadi warga Lasem, bukan sosok orang asing dari kota besar dengan dandanan kece, yang sibuk jeprat-jepret sana-sini. Saking akrabnya dengan penduduk setempat, kami bahkan sempat dijamu makan malam oleh Ibu Merry, seorang pembatik di Lasem.

Kebetulan sore tadi saya membaca sebuah artikel di Majalah Dewi tentang slow traveling. Dan saya meyakini bahwa orang-orang seperti Om Andi dan Om David adalah salah dua dari penikmat gaya traveling satu ini.

Mungkin tidak banyak orang yang menganut slow traveling. Ada beberapa hal yang bisa menjadi alasan. Pertama, keterbatasan cuti kerja. Kedua, tidak ada ketertarikan tertentu yang membuatnya harus tinggal berlama-lama di satu destinasi.

Majalah bergaya kosmopolitan yang saya baca ini, memberikan beberapa gambaran seperti apa seorang slow traveler itu. Katakanlah ada tiket gratis PP Jakarta – Prancis, beserta uang akomodasi untuk berlibur dua minggu di sana. Maka seorang slow traveler pecinta kuliner tidak akan menghabiskan hari-harinya dengan mengitari Paris dan daerah wisata keren lainnya. Tapi dia akan memilih menyelami Lyon, sebuah kota kelahiran dan tempat berkiprahnya seorang master chef senior, Paul Bocuse. Menghabiskan hari-harinya dengan mengeksplor culinary Prancis sembari mengikuti kelas memasak di Institute Paul Bocuse yang terletak di tengah pasar gourmet terkenal, Les Halles de Lyon.

Fiuh! Saya langsung membayangkan betapa asiknya menjadi seorang slow traveler. Tidak menguras tenaga, tidak terburu-buru harus kesana kemari, semua terasa santai dan yang terpenting, tetap enjoy.

Sementara tren yang terjadi belakangan ini adalah sebaliknya. Banyak yang berencana untuk menghabiskan masa cuti kerja dengan menginjakkan kaki di berbagai negara dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Om Teguh Sudarisman, seorang editor majalah wisata, bahkan pernah tergelitik dengan traveling macam ini dan menuliskannya dalam sebuah status Facebook:

"Merasa heran kalau ada orang yang mau 'backpackeran' dengan rute Medan - KL - Shanghai - Guangzhou - Macau - Hongkong - Medan hanya dalam waktu 6 hari. Jadi, rencananya cuma mau numpang mandi saja di kota-kota ini? :))"

In my humble opinion, slow traveling pasti akan menghasilkan sesuatu yang lebih berkualitas daripada traveling-numpang-mandi seperti status tadi. Tapi sekali lagi, orang berhak menentukan gaya traveling yang dianutnya selama dia nyaman dan senang atas pilihan tersebut. Tidak ada undang-undang yang mengatur traveler untuk menjadi A atau B. Dan selama tidak menggunakan uang orang lain, maka semua gaya traveling adalah sah hukumnya.

Cheers!

PS:
Artikel ini sebelumnya sudah pernah dipublikasikan oleh Dwi Putri Ratnasari di blognya.

The Forbidden City

Lasem, 2011. Photographs by Dwi Putri Ratnasari.

5/9/11

Trio Ebook Landscape Indonesia


Judul:
Hunt for Little Niagara (17 Halaman)
Menelususri Jejak Odeng Ujung Kulon (31 Halaman)
Heaven of Borneo (28 Halaman)

Penyusun dan fotografer: Wahyu Widhi
Penerbit: Landscape Indonesia
Reviewer: Dwi Putri Ratnasari


Pembaca yang budiman, kali ini saya mendapat kehormatan untuk mereview trio e-book yang diproduksi oleh Landscape Indonesia dengan judul Hunt for Little Niagara, Menelusuri Jejak Odeng Ujung Kulon, dan Heaven of Borneo. Saya rasa sudah banyak yang tahu bahwa Landscape Indonesia adalah situs penyedia berbagai foto lanskap di seluruh pelosok Indonesia, yang salah satu editornya adalah Mas Wahyu Widhi, atau lebih akrab dipanggil dengan Widhibek.

Ketiga e-book yang sedang nangkring di layar monitor saya ini, dibuat oleh Mas Widhibek dan kawan-kawan dengan gaya scrapbook. Didesain dengan gaya sealami mungkin seperti buku diary perjalanan yang biasa dibawa oleh para avonturir masa lampau. Tentu saja ini menjadi inovasi yang menarik! Tampilan e-book perjalanan pun tidak lagi monoton, membosankan, dan begitu-begitu saja. Ada beberapa buku yang mengadopsi gaya scrapbook ini dalam tampilan layout mereka, salah satunya adalah pictorial book "Land of Water Vol. 1: Bali to Komodo" yang disusun oleh George Tahija.

Sebagai pecinta diary, saya punya cita-cita untuk membuat buku scrapbook perjalanan saya sendiri dalam format asli, bukan sekedar olah digital.

Meski turut memperkaya ranah penerbitan ebook perjalanan di Indonesia, namun menurut saya gaya scrapbook tiga buku elektronik terbitan Landscape Indonesia ini lebih terkesan so high school, sangat abege sekali. Apalagi untuk ukuran pembaca seusia saya yang berusia dua puluh tahun sekian ini. It's so yesteryears buddy... Saya seperti melihat majalah dinding yang dipajang di depan kantin sekolah.

Beberapa hal kecil lain yang menarik greget dan menganggu mata saya adalah penulisan kata yang kurang tepat sehingga terkesan buru-buru. Saya tidak membicarakan masalah gaya bahasa lho ya, karena saya meyakini bahwa setiap penulis memiliki aliran unik sendiri yang tidak bisa dibandingkan dengan penulis lain. Contoh kecil yang bisa diambil adalah penulisan ‘thx’. Hanya perlu menekan tombol delete dan mengetik ulang menjadi ‘thanks’ atau ‘terima kasih’, yang bakal lebih enak dibaca, karena pada dasarnya e-book ini akan disuguhkan kepada banyak orang terutama penikmat jejalan, bukan SMS yang dikirim pada teman sendiri.

Dengan mengusung gaya berupa scrapbook, maka wajar jika layout tiap halaman e-book ini terkesan berantakan, karena saya pikir memang itulah seni sebuah scrapbook. Hanya saja, saya merasa layout tiga e-book ini terlalu heboh. Gambar yang itu-itu saja malah tumpang tindih di mana-mana (e.g foto jamur dengan berbagai sudut). Saya memang penganut aliran less is more atau simple is beautiful, tapi saya merasa, even scrapbook pun bisa dibuat sederhana dengan tidak meninggalkan gaya khasnya. Oke, bukannya saya mau membandingkan, tapi agar review ini tidak terkesan asal cingcong saja, maka bolehlah kita membandingkannya dengan buku "Dead Pig Diary" karya John Carlile yang menurut saya jauh lebih elegan.

Image taken from Afterhours collection.

Silahkan menilai sendiri tampilan tersebut. Menurut saya buku perjalanan satu ini nampak benar-benar dikonsep dengan matang sebelum dirilis kepada pembacanya. John Carlile tidak saja menawarkan paduan grafis yang memukau, tapi juga tulisan tentang perjalanannya menembus belantara Papua layak dipuji karena memberi kita banyak informasi. Context dan content dari buku Dead Pig Diary ini sangat menarik. Tidak cuma ajang narsis belaka.

Sedangkan untuk e-book Landscape Indonesia, dari segi konten saya melihat ada perkembangan menarik dari e-book kedua yang berjudul "Menelusuri Jejak Odeng Ujung Kulon". Pada e-book ini, si penulis mulai memiliki cerita unik untuk dibagikan pada penikmat jejalan. Bahkan boleh dikatakan, dari ketiga karya keluaran Landscape Indonesia, e-book kedua adalah favorit saya. Gaya penulisannya santai dan kocak, alur cerita yang jelas, serta foto-foto yang disusun seperti sebuah comic strip berhasil melayangkan imaji saya seakan ikut berburu dan tersengat lebah hutan yang ganas di tengah belantara Ujung Kulon.

Namun, lagi-lagi saya harus agak kecewa karena ekspektasi yang berlebihan pada e-book ketiga. Awalnya saya mengira, peningkatan ini juga akan terjadi pada karya selanjutnya. Dengan mengangkat judul "Heaven of Borneo", maka saya dengan menyesal harus mengatakan bahwa saya tidak membaca ataupun merasakan bagian yang disebut heaven itu. Bagi saya e-book ketiga lebih mirip katalog foto saja.

Demikian review saya yang cukup pedas ini, tapi ya saya hanya mencoba menjadi pembaca yang jujur saja sih. Dan saya harus memberi 2,5 dari 5 bintang untuk nilai rata-rata tiga e-book ini.

Saya sangat menghargai ide membuat e-book perjalanan dalam bentuk scrapbook yang tentu berpotensi menjadi sangat seksi dan menarik jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Jadi saya berharap situs sebesar Landscape Indonesia bisa menghasilkan karya-karya yang lebih enak dipandang dan dibaca serta lebih terkonsep dengan matang, sehingga tidak terkesan asal-asalan dalam menyusunnya. Oke, ditunggu karya berikutnya, Om Widhibek!

Cheers :)

PS:
Silahkan baca dan download tiga e-book terbitan Landscape Indonesia di bawah ini.

Curug Malela - Hunt for Little Niagara

Ujung Kulon - mencari jejak odeng

Heaven of Borneo

5/8/11

Travel Couple

"Couple who travel together, learn together..."
(Nurwahid Budiono, 2011)


Sebuah travel quote yang dibuat oleh teman saya Nurwahid Budiono. Jika Anda menebak bahwa pembuat kata bijak ini sedang kasmaran, maka intuisi Anda tidak salah! Hahaha

National Geographic Traveler Edisi Mei 2011


Alhamdulillah, setelah melewati beberapa tahapan editing dan tulis ulang, akhirnya artikel saya tentang Taman Nasional Baluran akhirnya muncul juga di Majalah National Geographic Traveler edisi Mei 2011. Silahkan temui artikel saya, dan saya minta masukannya :)

Dari assignment ini saya mendapatkan banyak pelajaran. Saya mengerjakan artikel ini bersama dua teman saya yang keren, yaitu fotografer alam liar, Swiss Winasis, dan diver muda kelahiran Aceh, Ferzya Farhan. Dua orang ini banyak membantu saya dalam mengerjakan tulisan tentang Baluran ini.

Dari mas Swiss, saya mendapatkan banyak stok foto satwa langka yang hidup di Taman Nasional Baluran. Sejak lama memang saya mengagumi karya Swiss, ada bakat besar yang saya temui dalam diri pemuda yang baru saja melepas lajang ini.

Potensi yang sama juga saya temui pada mahasiswi UGM bernama Ferzya. Meski dia lebih muda dari saya, namun dalam banyak hal, saya akui saya harus belajar banyak dari anak ini. Mereka berdua, menurut saya, bakal menjadi the next big thing yang harus diantisipasi.

***
Meski seringkali menulis sendiri, namun banyak kali saya melakukannya secara kolaboratif. Mengerjakan assignment secara bersama ini, selain meringankan beban dan berbagi pengalaman, saya juga jadi bisa belajar banyak hal.

Setahun belakangan ini saya banyak belajar dari sesama rekan menulis. Do sharing will lead me to the market of ideas! Dan itu bakal saya lakukan terus, yaitu membuat karya kolaboratif dengan talent-talent baru yang segar dan berpikiran besar. Merangkul penulis-penulis muda jagoan atau begawan-begawan yang sarat pengalaman untuk membuat karya bersama.

Tahun ini memang saya hanya sebatas menulis artikel buat majalah. Tapi mungkin tahun depan karya saya bisa berupa buku, film, atau assigment dalam skala yang jauh lebih besar. Woho saya sudah tidak sabar lagi...

Dan saya tidak pernah takut untuk berbagi, karena dari situ datangnya rezeki :)
Tabik!

5/3/11

NGI Frame #8


Bagaimana rasanya berkelana seorang diri di negeri-negeri Asia Tengah yang misterius, menguak misteri tentang takdir manusia yang terpisah dalam kotak-kotak garis batas? Di mana surga Asia Tengah?

Ikuti diskusi FOTOKITA Sharing Moment (frameFK) edisi ke 8 bersama Agustinus Wibowo, seorang pribadi nan sederhana asal Lumajang, Jawa Timur yang melakukan perjalanan melintasi China, Nepal, India, Pakistan, Afghanistan, Iran, Tajikistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Mongolia selama 4 tahun. Ikuti kisahnya secara langsung dan dapatkan cerita perjalanannya yang belum terungkap selama ini, hanya di #frameFK08.

Pembicara
Agustinus Wibowo (http://avgustin.net)

Waktu dan Tempat
Sabtu, 14 Mei 2011
10.30-15.30 WIB
Food Court Gramedia Majalah
Jl. Panjang No. 8A Kebon Jeruk Jakarta Barat
(Depan halte bus Transjakarta Kebon Jeruk)

Persyaratan Peserta
Melakukan pendaftaran online via: http://fotokita.net/frame/8#registrasi
Pendaftaran dibuka mulai tanggal 3 Mei 2011 dan ditutup tanggal 12 Mei 2011.
Panitia berhak menutup pendaftaran lebih awal apabila kuota sudah terpenuhi.
Daftar peserta akan ditampilkan di halaman ini.
Dapatkan beragam merchandise dan doorprize menarik selama kegiatan berlangsung.

Pendaftaran gratis, tidak dipungut biaya.
Tempat terbatas.

Informasi Acara
National Geographic Indonesia
http://fotokita.net/frame/8
Email : event[at]nationalgeographic.co.id
FB: http://nationalgeographic.co.id/facebook
Twitter: @fotokitanet & @NGIndonesia #frameFK

5/2/11

12 Things I Love About Myanmar

Teks dan foto oleh Ciptadi Sungkono

Visiting Myanmar about two months ago, is about keeping my own promise.
Myanmar masuk ke dalam list destinasi saya semenjak lebih dari tujuh tahun yang lalu. Batal mengunjunginya di tahun 2004, saya terdampar di tempat-tempat lain sejauh Kairo, sesepi Hue di Vietnam, atau sehiruk-pikuk Manila yang menyerupai London kecil, menjelang natal.

Buku panduan yang saya gunakan untuk menelusuri Yangon dan Bagan, saya beli lebih dari tiga tahun sebelumnya di sebuah gang sempit di Siam Reap, Kamboja, yang sesak oleh deretan café di suatu malam yang gerah di tahun 2007. Even the humblest dream might take years to materialize. In fact, the best part of visiting Myammar is telling myself, that after all these years, I still keep my own promises. Here’s my top twelve of Yangon and Bagan, dua kota yang saya datangi di kunjungan pendek ke Myanmar, dua bulan lalu.

1. Shwedagon Paya
Tidak banyak monumen yang berhasil menahan saya betah duduk berjam-jam, tenggelam dalam keagungan dan kekhidmatan orang-orang di sekelilingnya. Shwedagon adalah salah satunya. Berlapis emas 24 karat, stupa setinggi lebih dari 50 meter ini bermandikan cahaya di pagi, siang, atau malam hari. Berkali-kali saya mengunjunginya, hanya untuk larut dalam tarik menarik antara yang sehari-hari dan yang spiritual di tempat peribadatan ini. Subuh adalah saat yang paling menyihir. Tak ada turis. Hanya Anda sendirian dan ‘burung-burung pagi’ yang menabalkan doa dan pengharapan sebelum memulai hari...

2. Crumbling colonial buildings
Beberapa bangunan kolonial termegah di Asia Tenggara ada di Yangon. Mengingatkan saya pada deretan pencakar langit di The Bund, Shanghai. Hanya saja, di sini segalanya melebar kesamping, membentuk blok-blok bangunan raksasa. Sesekali meminjam elemen-elemen dekorasi Moor dan Indochina, memberi kesan eklektisme yang kuat. Gedung-gedung kudisan, tapi disitulah charming-nya.

3. Food glorious food
Somewehere between Padang, Indian, Malay, Thai, and Java. Selain jejak samar after taste yang pahit, cukup sulit menentukan dimanakah letak khas makanan orang-orang Bamar (Bamar adalah etnis terbesar di Myanmar, asal kata Burmaan). Terutama di warung-warung di kota Yangon, dimana pengaruh India dan China sangat kuat. Salah satu restoran paling asyik adalah Feel Myanmar, yang terletak di jantung kompleks kedutaan di Yangon. Makanan disajikan ala Masakan Padang yang berpiring-piring. Btw, ‘dendeng’ serta ‘rendang’ mereka, seperti dendeng dan rendang Orang Awak yang telah disamarkan pedasnya..

4. The communities
Sebelum nasionalisasi besar-besaran di tahun 70an, Yangon adalah melting pot dari beberepa komunitas: India, Cina, Bamar, Bule, dan sekelompok kecil yahudi. Jejak-jejaknya masih nampak di beberapa quarter di pusat kota, membentuk kantung-kantung khasnya sendiri. Termasuk masjid-masjid dari pelbagai aliran, seperti sempalan Syiah Daudi Bohras dan Ismailiyah yang sebelumnya hanya saya dapati di buku-buku. Masjid-masjid itu kini relatif lengang, ditinggal oleh sebagian besar jamaahnya, hampir empat puluh tahun yang lalu.

5. Yangon Taxi
No offense buat para pecinta motor. Tapi Yangon terasa sangat membebaskan, saat saya mendapati tak ada satu pun sepeda motor, termasuk ojek, lalu lalang di kota ini. Taksi adalah gantinya. Meski meyakini tidak ada cara lain untuk meresapi jiwa satu kota selain dengan berjalan kaki menelusurinya. Di satu titik, Anda akan membutuhkan taksi-taksi bobrok ini, untuk mengantar Anda menikmati Yangon dari kursi belakang.

6. Reruntuhan di Bagan
Megah, enigmatik, wingit, terpencil, terlupakan. Pilih sendiri candimu. Nikmati sendiri reruntuhanmu. Bagan tidak untuk semua orang. Tapi mudah sekali bagi saya untuk jatuh cinta. Biasanya saya meninggalkan kamar, saat subuh masih menyelimuti kota dengan 11 derajatnya. Dan pulang dengan wajah berdebu dua jam setelah mentari terbenam. Terayun-ayun di bendi bermatras, dari satu candi ke berikutnya, saya tenggelam dalam lorong waktu yang menyihir. Di malam pertama saya sempat melepas penat di sebuah outdoor café, bermandi kerlip lilin. Saya memilih meja paling pinggir hampir-hampir berbatas dinding dengan sebuah kuil kecil berusia lebih dari delapan ratus tahun. Menara-menaranya terasa hidup oleh lampu-lampu yang sudut sorotnya diatur tepat, seakan memberi nyawa pada reruntuhan ini. Di atas kepala saya purnama melayang rendah. Dan saya tak henti-hentinya bersyukur berada di tempat itu.

7. Pemandangan Bagan
Sunset, sunrise, sore hari, atau siang bolong. Tentukan satu Paya, lalu daki dan nikmati pemandangan tak terlupakan dari ribuan candi yang menghiasi dataran Bagan hingga ke ujung cakrawalanya. Foto-foto tentang dataran Bagan inilah yang berhasil mengundang saya ke sana, dan menggoda ratusan fotografer untuk menghabiskan waktu di daerah terpencil ini. Beberapa orang, bahkan rela merogoh 250 USD dari koceknya, demi satu jam penerbangan balon udara melintasi dataran Bagan, saat mentari terbit.

8. The Murals
Puluhan candi di Bagan masih menyisakan mural-mural yang gemilang. In fact, mural-mural ini demikian indah, sehingga saya selalu mengubah jadwal makan siang saya, lebih awal atau belakangan, agar bisa mengunjungi candi-candi ini sendirian tanpa gangguan. Pada jam-jam makan siang, kebanyakan pelancong sedang mengambil rehat. Dalam kesendirian itu, saya sesekali sembunyi-sembunyi menyentuh mural ini (jangan ditiru!) dengan penuh rasa haru. Estetika, keagungan, dan usianya itulah yang memompakan rasa tak terkatakan itu. Hampir semua mural berisi pengajaran Budhism, namun beberapa menggambarkan kehidupan sehari-hari di Bagan pada masa-masa keemasannya. Salah satunya menyerupai komik raksasa, berisi gambar-gambar detil yang menjulang hingga keatapnya. Mural ini bisa dibaca dengan cara mengelilingi dinding dalam candi melawan arah jarum jam. Ada tiga lapis dinding di dalamnya. Konon, menurut kuncen yang meminjami saya lentera, mural dahsyat yang memenuhi Gubyaukgyi, nama candi ini, dilengkapi dengan keterangan dalam empat bahasa: Pali, Sanskrit, Bamar, dan sebuah bahasa minoritas. Menggambarkan derajat internasionalisme Bagan sepuluh abad yang lalu.

9. Gunung Popa
Melalui buku-buku, saya mengenali romantisme tentang biara dan pertapaan yang bertengger di puncak-puncak gunung terjal. Umumnya, di bayangan saya, ini melibatkan tempat-tempat seperti Nepal, Tibet, atau Bhutan. Tapi melihat dan mengunjunginya sendiri, baru saya alami di gunung Popa, dua jam perjalanan dari Bagan ke arah dataran tinggi Shan. In fact saat pesawat terbang merendah, Anda akan melihat tebaran pagoda, stupa, atau bangunan keemasan di tiap puncak gunung, tebing, atau perbukitan, hampir di seluruh dataran Myanmar

10. The People
Saya banyak bercerita tentang sebagian orang yang saya temui di perjalanan pendek ini di catatan saya yang lain. Beberapa melibatkan sesama traveller, sesekali dengan anak-anak, dan lain waktu dengan para pedagang wisata. Dua sahabat seusia kelas 2 SMP ini, menemani saya mengelilingi Shulamani Pahto, salah satu pagoda paling besar sekaligus paling misterius -- karena banyaknya bagian yang ditutup tanpa penjelasan yang memuaskan -- di Bagan. Mereka menyanyi, mengapit saya bak dayang-dayang mungil menelusuri lorong-loring Shulamani, dan dengan bahasa Inggris yang amat bagus mencoba menjadi guide amatiran. Pertemuan kami berakhir dengan kegagalan saya mengatasi ‘sales pitch’ mereka yang mematikan. Di Shulamani saya membeli dua souvenir yang semula tak pernah ingin saya beli. These great sales ladies, namanya Sasa dan Ook..

11. Lacquerware
Berbeda dengan Thailand dan Laos yang memiliki tradisi kain yang kuat, adikarya kerajinan rakyat Myanmar ada di Lacquerware. It’s so happened, salah satu pusat lacuerware terbaik di Myanmar ada di desa Myinkaba, di Bagan. Dan saya beruntung sempat berlama-lama di salah satu workshop yang bagus di tempat ini, lagi-lagi, sendirian. Hmm.. saya kesulitan bagaimana ya menjelaskan lacquerware. Rasanya tidak ada padanannya di Indonesia.

12. Cruising The Irrawwady
Perjalanan menyusuri sungai-sungai raksasa seperti Mekong, Nil, atau Rhein, adalah perjalanan yang selalu mengundang perasaan romantis. Tadinya saya hendak menempuh setengah hari perjalanan sungai dari Bagan menuju Mandalay menyusuri Irrawady yang mengalir lebih dari seribu kilometer, menghidupi negeri ini. Kemewahan ini menjadi tidak mungkin dengan keterbatasan waktu. Tapi lumayan juga, empat jam menuju matahari terbenam, adalah sebuah sampler yang tak terlalu buruk. Reruntuhan candi yang diselimuti semak dan lumut di sepanjang pinggir sungai, desa nelayan, satu dua dermaga kecil dan kesibukan orang-orangnta, lalu senja yang memerah. Aaah, nikmat juga..

Maximum City

Photo by Ayos Purwoaji

5/1/11

Post Mooi Indie

"Post Mooi Indie" by Pidi Baiq

Hahaha saya cuman bisa tertawa saat melihat gambar cerdas nan absurd ala pentolan grup musik "The Panas Dalam" ini. Sebuah gambar asal yang menghancurkan bayangan kita akan sebutan mooi indie yang melegenda itu. Setelah mooi apalagi bung?

Lukisan seperti ini memang sangat mudah kita temui. Di rumah mbah saya, di Klaten, ada dua lukisan besar yang mirip seperti ini. Secara garis besar komposisinya sama dan itu-itu saja; barisan sawah emas, gunung yang kebiruan, seorang petani atau gerobak datang dari jauh, halimun yang mengawang di udara, langit biru dan suasana syahdu. Bisa jadi itu adalah gambaran masa-masa indah pra kumpeni. Jawa sebagai negeri padi yang gemah ripah loh jinawi. Nusantara adalah mutiara yang penuh misteri.

Salah satu pelukis besar di Indonesia yang menganut aliran mooi indie ini adalah Raden Saleh yang terkenal dengan lukisannya berjudul "Perkelahian dengan Singa" dan "Diponegoro". Karyanya yang berjudul "Javanese Landscape" mengambarkan keindahan abadi itu, dua orang pejalan dengan latar belakang gunung dan lembah sedang diintai oleh dua harimau Jawa yang saat itu masih mudah ditemui. Tidak seperti hari ini dimana menemukan Panthera tigris sundaica itu seperti mencari pejabat jujur di gedung DPR. Susahnya minta ampun.

"Javanese Landscape, with Tigers Listening
to the Sound of a Traveling Group" by Raden Saleh


Semua keindahan optis ala mooi indie inilah yang membawa gelombang penduduk Belanda untuk datang menetap di Indonesia. Iming-iming berupa gambaran surga dari Timur memang begitu membius. Ada barisan orang-orang pribumi yang bertelanjang dada dan eksotika natural yang jarang ditemui pada masa Eropa setelah masa revolusi Industri. Semua gambaran itu membuat kangen sekaligus iri. Pantaslah orang orang seperti Antonio Blanco, Walter Spies, dan Rudolf Bonnet akhirnya tinggal dan menetap di Indonesia.

"Desa mit Sumbing" anno 1924 by Walter Spies

"Preangerlandschaft" anno 1923 by Walter Spies

"Panen Padi" anno 1952 by Rudolf Bonnet

Jerat keindahan Indonesia memang susah untuk ditaklukan. Bahkan hingga hari ini.

"Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa"
(Rayuan Pulau Kelapa, Ismail Marzuki)

Gaya mooi indie yang dibalut dengan sentuhan art deco juga sempat menghiasi poster-poster K.N.I.L.M (Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij) utawa Royal Netherlands Indian Airways yang membuka jalur langsung antara Bandara Cililitan (kini Halim Perdanakusuma) di Batavia dengan berbagai kota besar di dunia, seperti Nederland, Sydney, Singapore, dan sebagainya.

K.N.I.L.M print ad

Poster "Fly to Java" ini adalah karya dari Jan Lavies. Saya suka sekali dengan karya-karya dia yang klasik dan minimalis. Ia membuat berbagai poster untuk K.N.I.L.M, ia juga membuat kartupos, ia juga mendesain label dan logo hotel-hotel terkenal di Jawa. Antara lain Savoy-Homann - Bandoeng, Grand Hotel - Djokdja, dan Hotel Bellevue - Buitenzorg (Bogor).

Beberapa luggage label bikinan Jan Lavies.

***
Apakah hari ini kita masih bisa menemukan gambaran mooi indie di Indonesia? Barangkali jika mengunjungi kota-kota kecil seperti Garut, Magelang, Temanggung dan Lumajang masih bisa ditemui kesan mooi itu. Tapi cobalah lihat Jakarta atau Surabaya yang crowded itu, saya pikir Pidi Baiq harus membuat karya baru selain "Post Mooi Indie" yaitu "Industrial-Kraut-Garage Mooi Indie", yeah!