Pages

5/2/11

12 Things I Love About Myanmar

Teks dan foto oleh Ciptadi Sungkono

Visiting Myanmar about two months ago, is about keeping my own promise.
Myanmar masuk ke dalam list destinasi saya semenjak lebih dari tujuh tahun yang lalu. Batal mengunjunginya di tahun 2004, saya terdampar di tempat-tempat lain sejauh Kairo, sesepi Hue di Vietnam, atau sehiruk-pikuk Manila yang menyerupai London kecil, menjelang natal.

Buku panduan yang saya gunakan untuk menelusuri Yangon dan Bagan, saya beli lebih dari tiga tahun sebelumnya di sebuah gang sempit di Siam Reap, Kamboja, yang sesak oleh deretan café di suatu malam yang gerah di tahun 2007. Even the humblest dream might take years to materialize. In fact, the best part of visiting Myammar is telling myself, that after all these years, I still keep my own promises. Here’s my top twelve of Yangon and Bagan, dua kota yang saya datangi di kunjungan pendek ke Myanmar, dua bulan lalu.

1. Shwedagon Paya
Tidak banyak monumen yang berhasil menahan saya betah duduk berjam-jam, tenggelam dalam keagungan dan kekhidmatan orang-orang di sekelilingnya. Shwedagon adalah salah satunya. Berlapis emas 24 karat, stupa setinggi lebih dari 50 meter ini bermandikan cahaya di pagi, siang, atau malam hari. Berkali-kali saya mengunjunginya, hanya untuk larut dalam tarik menarik antara yang sehari-hari dan yang spiritual di tempat peribadatan ini. Subuh adalah saat yang paling menyihir. Tak ada turis. Hanya Anda sendirian dan ‘burung-burung pagi’ yang menabalkan doa dan pengharapan sebelum memulai hari...

2. Crumbling colonial buildings
Beberapa bangunan kolonial termegah di Asia Tenggara ada di Yangon. Mengingatkan saya pada deretan pencakar langit di The Bund, Shanghai. Hanya saja, di sini segalanya melebar kesamping, membentuk blok-blok bangunan raksasa. Sesekali meminjam elemen-elemen dekorasi Moor dan Indochina, memberi kesan eklektisme yang kuat. Gedung-gedung kudisan, tapi disitulah charming-nya.

3. Food glorious food
Somewehere between Padang, Indian, Malay, Thai, and Java. Selain jejak samar after taste yang pahit, cukup sulit menentukan dimanakah letak khas makanan orang-orang Bamar (Bamar adalah etnis terbesar di Myanmar, asal kata Burmaan). Terutama di warung-warung di kota Yangon, dimana pengaruh India dan China sangat kuat. Salah satu restoran paling asyik adalah Feel Myanmar, yang terletak di jantung kompleks kedutaan di Yangon. Makanan disajikan ala Masakan Padang yang berpiring-piring. Btw, ‘dendeng’ serta ‘rendang’ mereka, seperti dendeng dan rendang Orang Awak yang telah disamarkan pedasnya..

4. The communities
Sebelum nasionalisasi besar-besaran di tahun 70an, Yangon adalah melting pot dari beberepa komunitas: India, Cina, Bamar, Bule, dan sekelompok kecil yahudi. Jejak-jejaknya masih nampak di beberapa quarter di pusat kota, membentuk kantung-kantung khasnya sendiri. Termasuk masjid-masjid dari pelbagai aliran, seperti sempalan Syiah Daudi Bohras dan Ismailiyah yang sebelumnya hanya saya dapati di buku-buku. Masjid-masjid itu kini relatif lengang, ditinggal oleh sebagian besar jamaahnya, hampir empat puluh tahun yang lalu.

5. Yangon Taxi
No offense buat para pecinta motor. Tapi Yangon terasa sangat membebaskan, saat saya mendapati tak ada satu pun sepeda motor, termasuk ojek, lalu lalang di kota ini. Taksi adalah gantinya. Meski meyakini tidak ada cara lain untuk meresapi jiwa satu kota selain dengan berjalan kaki menelusurinya. Di satu titik, Anda akan membutuhkan taksi-taksi bobrok ini, untuk mengantar Anda menikmati Yangon dari kursi belakang.

6. Reruntuhan di Bagan
Megah, enigmatik, wingit, terpencil, terlupakan. Pilih sendiri candimu. Nikmati sendiri reruntuhanmu. Bagan tidak untuk semua orang. Tapi mudah sekali bagi saya untuk jatuh cinta. Biasanya saya meninggalkan kamar, saat subuh masih menyelimuti kota dengan 11 derajatnya. Dan pulang dengan wajah berdebu dua jam setelah mentari terbenam. Terayun-ayun di bendi bermatras, dari satu candi ke berikutnya, saya tenggelam dalam lorong waktu yang menyihir. Di malam pertama saya sempat melepas penat di sebuah outdoor café, bermandi kerlip lilin. Saya memilih meja paling pinggir hampir-hampir berbatas dinding dengan sebuah kuil kecil berusia lebih dari delapan ratus tahun. Menara-menaranya terasa hidup oleh lampu-lampu yang sudut sorotnya diatur tepat, seakan memberi nyawa pada reruntuhan ini. Di atas kepala saya purnama melayang rendah. Dan saya tak henti-hentinya bersyukur berada di tempat itu.

7. Pemandangan Bagan
Sunset, sunrise, sore hari, atau siang bolong. Tentukan satu Paya, lalu daki dan nikmati pemandangan tak terlupakan dari ribuan candi yang menghiasi dataran Bagan hingga ke ujung cakrawalanya. Foto-foto tentang dataran Bagan inilah yang berhasil mengundang saya ke sana, dan menggoda ratusan fotografer untuk menghabiskan waktu di daerah terpencil ini. Beberapa orang, bahkan rela merogoh 250 USD dari koceknya, demi satu jam penerbangan balon udara melintasi dataran Bagan, saat mentari terbit.

8. The Murals
Puluhan candi di Bagan masih menyisakan mural-mural yang gemilang. In fact, mural-mural ini demikian indah, sehingga saya selalu mengubah jadwal makan siang saya, lebih awal atau belakangan, agar bisa mengunjungi candi-candi ini sendirian tanpa gangguan. Pada jam-jam makan siang, kebanyakan pelancong sedang mengambil rehat. Dalam kesendirian itu, saya sesekali sembunyi-sembunyi menyentuh mural ini (jangan ditiru!) dengan penuh rasa haru. Estetika, keagungan, dan usianya itulah yang memompakan rasa tak terkatakan itu. Hampir semua mural berisi pengajaran Budhism, namun beberapa menggambarkan kehidupan sehari-hari di Bagan pada masa-masa keemasannya. Salah satunya menyerupai komik raksasa, berisi gambar-gambar detil yang menjulang hingga keatapnya. Mural ini bisa dibaca dengan cara mengelilingi dinding dalam candi melawan arah jarum jam. Ada tiga lapis dinding di dalamnya. Konon, menurut kuncen yang meminjami saya lentera, mural dahsyat yang memenuhi Gubyaukgyi, nama candi ini, dilengkapi dengan keterangan dalam empat bahasa: Pali, Sanskrit, Bamar, dan sebuah bahasa minoritas. Menggambarkan derajat internasionalisme Bagan sepuluh abad yang lalu.

9. Gunung Popa
Melalui buku-buku, saya mengenali romantisme tentang biara dan pertapaan yang bertengger di puncak-puncak gunung terjal. Umumnya, di bayangan saya, ini melibatkan tempat-tempat seperti Nepal, Tibet, atau Bhutan. Tapi melihat dan mengunjunginya sendiri, baru saya alami di gunung Popa, dua jam perjalanan dari Bagan ke arah dataran tinggi Shan. In fact saat pesawat terbang merendah, Anda akan melihat tebaran pagoda, stupa, atau bangunan keemasan di tiap puncak gunung, tebing, atau perbukitan, hampir di seluruh dataran Myanmar

10. The People
Saya banyak bercerita tentang sebagian orang yang saya temui di perjalanan pendek ini di catatan saya yang lain. Beberapa melibatkan sesama traveller, sesekali dengan anak-anak, dan lain waktu dengan para pedagang wisata. Dua sahabat seusia kelas 2 SMP ini, menemani saya mengelilingi Shulamani Pahto, salah satu pagoda paling besar sekaligus paling misterius -- karena banyaknya bagian yang ditutup tanpa penjelasan yang memuaskan -- di Bagan. Mereka menyanyi, mengapit saya bak dayang-dayang mungil menelusuri lorong-loring Shulamani, dan dengan bahasa Inggris yang amat bagus mencoba menjadi guide amatiran. Pertemuan kami berakhir dengan kegagalan saya mengatasi ‘sales pitch’ mereka yang mematikan. Di Shulamani saya membeli dua souvenir yang semula tak pernah ingin saya beli. These great sales ladies, namanya Sasa dan Ook..

11. Lacquerware
Berbeda dengan Thailand dan Laos yang memiliki tradisi kain yang kuat, adikarya kerajinan rakyat Myanmar ada di Lacquerware. It’s so happened, salah satu pusat lacuerware terbaik di Myanmar ada di desa Myinkaba, di Bagan. Dan saya beruntung sempat berlama-lama di salah satu workshop yang bagus di tempat ini, lagi-lagi, sendirian. Hmm.. saya kesulitan bagaimana ya menjelaskan lacquerware. Rasanya tidak ada padanannya di Indonesia.

12. Cruising The Irrawwady
Perjalanan menyusuri sungai-sungai raksasa seperti Mekong, Nil, atau Rhein, adalah perjalanan yang selalu mengundang perasaan romantis. Tadinya saya hendak menempuh setengah hari perjalanan sungai dari Bagan menuju Mandalay menyusuri Irrawady yang mengalir lebih dari seribu kilometer, menghidupi negeri ini. Kemewahan ini menjadi tidak mungkin dengan keterbatasan waktu. Tapi lumayan juga, empat jam menuju matahari terbenam, adalah sebuah sampler yang tak terlalu buruk. Reruntuhan candi yang diselimuti semak dan lumut di sepanjang pinggir sungai, desa nelayan, satu dua dermaga kecil dan kesibukan orang-orangnta, lalu senja yang memerah. Aaah, nikmat juga..

6 comments:

Adi Prakoso said...

Gila, bikin ngiler aja :D

Adi Prakoso said...

Gila bikin ngiler aja :D

irma afifa said...

wah mas ada omku di myanmar,,asikk

irma afifa said...

waah ada omku mas di myanmar

lucy said...

Uh, uh.... jadi enggak sabar nunggu bulan Agustus tiba.....
bener2 tulisan yang 'meracuni'

Troy said...

This is such a beautiful country. I wish I could travel there and see all these wonderful places of Myanmar.

pimalai resort & spa koh lanta