Pages

5/26/11

Mountain and The Sea

"You call me a mountain
And I call you the sea
I'll stand tall and certain
And watch you swallow me..."
(Mountain and The Sea - Inggrid Michaelson)

Oh sepertinya klasik dan klise banget ya kalo Anda disuguhi pertanyaan seperti ini: "Kalo traveling lebih suka kemana; gunung atau laut?" Jawabannya bisa salah satu, bisa juga dua-duanya. Sang penanya juga seharusnya mencermati fakta seperi adanya gunung di tengah lautan seperti Kakatau, juga 'lautan' air tawar di kawah gunung seperti Danau Toba. Jadi ya, menurut saya pertanyaan itu kurang begitu relevan sih, hehehe.

Oke paragraf diatas sebetulnya tidak penting untuk dibahas sih. Out of topic banget! Karena sebetulnya pagi ini saya akan membagikan dua buah ebook inspiratif bagi Hifatlobrainers sekalian yang bingung mau kemana melewatkan long weekend minggu depan.

Dua ebook ini bukanlah buatan saya, tapi buatan teman-teman saya yang jago motret dan suka jalan. Jadi ya, saya dengan hormat minta mereka untuk membagikan ebook mereka di blog yang hangudubilah setan kerennya ini! Hahaha.

Satu buku berjudul "Bromo in Mono" dibuat oleh adik kelas saya, Rijal Asy'ari (@titikterang) yang merupakan traveler mahasiswa berbakat dari Universitas Padjajaran. Hobinya memotret dan sesekali membuat keributan. Saya mengenalnya dari majalah sekolah belasan tahun lalu. Saya pemrednya, dan dia adalah anak baru yang harus saya ospek! Ohohoho but time flies so fast, sekarang saya bertemu lagi dengannya sebagai seorang Nikonian yang karyanya lumayan sip. Ahay!

Rijal membuat ebook "Bromo in Mono" ini sebagai refleksi cintanya pada lanskap keindahan kaldera Brahma yang melegenda itu. Dua kali Rijal rela menempuh perjalanan panjang dari Bandung untuk melihat sunrise Bromo yang terkenal itu, "Bromo bagaikan rumah impian bagi siapapun, di mana suatu saat kita harus kembali dan tinggal sejenak menikmati keindahannya..." kata Rijal. Bius Bromo itu pula yang membuatnya selalu ingin datang,"Sekarang saya pun merencanakan trip ke Bromo untuk ketiga kalinya..." kata Rijal.

Buku kedua adalah milik mas Philardi Ogi (@philardi) yang bercerita tentang pengalamannya berburu pantai surga di Bali. Traveler handal penyuka John Legend dan Koil ini mereview tujuh pantai populer yang berada di Bali. Buku berjudul "Bali; The Blue of the Magical Island" ini memang sangat cocok digunakan sebagai panduan para pecinta pantai yang ingin menggosongkan kulit di Bali. Tapi santai saja, buku mas Ogi ini tidak berbentuk travel guide yang hambar. Ia menuliskan berbagai kisah uniknya saat berkunjung ke pantai-pantai tersebut.

Seperti cerita menangkap belut di Pantai Suluban:

Mereka menangkap belut dengan cara menombaknya dengan besi panjang yang ujungnya sudah diruncingkan, lalu pada pangkalnya diberi karet sebagai pelontar, cukup tradisional.

Saya meminjam kacamata renang Budi untuk ikut mencari, sedangkan urusan menombak diserahkan kepada Darma, teman Budi yang paling pandai menyelam.

Setelah hampir setengah jam mencari-cari belut laut yang bentuknya saya belum pernah lihat sebelumnya, Darma dengan cepat menepuk bahu saya ”Bli saya tangkap satu!” Wow, belut sepanjang 30 cm berwarna coklat dan mulut menganga dengan tombak menempel sudah berada ditangan Ketut,"Nanti malam akan kami bakar untuk dimakan ramai-ramai,” ucap Budi dengan senyum yang lebar.

Hoho saya jadi ingin mencobanya.

Kualitas pemilik situs Mainmakan.com ini semakin teruji karena ia tak alfa memberikan review kuliner selama ia pergi ke Bali! Yeah. Sayang dia tak memasukkan entry nasi Jinggo yang menjadi panganan wajib para traveler kere seperti saya, huhuhu. Saya punya pemikiran alangkah bijak seandainya suatu saat Mainmakan.com membuat lebih banyak ebook yang spesifik pada review kuliner pada sebuah daerah. Itu akan menjadi food guide yang sangat resourceful!

***
Ada beberapa catatan penting dalam dua karya ini. Pertama buku Rijal memiliki desain yang bersih dan minimalis. Bahkan sampai minimalisnya sampai dia pelit untuk memberikan teks tentang catatan perjalanannya ke Bromo yang pasti menarik.

"Bromo in Mono", wow saya membayangkannya sebagai sebuah judul tulisan yang ciamik di dalam in-flight magazine terkenal! Tapi ya itu, saya kejeblos ekspektasi saya sendiri. Rijal hanya memberi teks separuh-separuh dan tidak penuh. Kita dipaksa untuk menduga-duga bagaimana perjalanan Rijal sebenarnya. Bagaimana impresi Rijal saat bertemu dengan bapak-bapak penyabit rumput? Bagaimana perasaannya saat melihat Pura Poten yang yang lengang diselimuti abu vulkanis? Maka silahkan menduganya sendiri. Hehehe.

Hal yang berbeda ditemui pada ebook "Bali; The Blue of the Magical Island" milik mas Ogi. Begitu banyak teks pada karya ini, sayang tidak dilayout secara maksimal. Grid yang tidak konsisten membuat bingung dan di beberapa page, jarak antar paragraf begitu berhimpitan. Mungkin lain waktu mas Ogi harus mempertimbangkan tampilan visual ebooknya agar terlihat lebih prima.

Anyway, buat Rijal dan Mas Ogi, kami tunggu karya kalian selanjutnya ya!

Oke sekian saja persembahan Hifatlobrain pagi ini. Semoga long weekend Anda menjadi lebih berwarna. Jadi pilih mana nih; gunung atau pantai? Hehehe.

Bali-The Blue of the Magical Island

Bromo in Mono

2 comments:

ogi philardi said...

Thank You mas Ayos, thanks bangeett :)

galih s putro said...

keren2 nich...Bromo in Mono juga lbg superb...foto2nya jd lbh gahar dalam format BW....

koq dulu ke Bromo gak kepikiran ya ambil gambar2 kyk gitu...hehe...keburu-buru sich...