Pages

5/1/11

Post Mooi Indie

"Post Mooi Indie" by Pidi Baiq

Hahaha saya cuman bisa tertawa saat melihat gambar cerdas nan absurd ala pentolan grup musik "The Panas Dalam" ini. Sebuah gambar asal yang menghancurkan bayangan kita akan sebutan mooi indie yang melegenda itu. Setelah mooi apalagi bung?

Lukisan seperti ini memang sangat mudah kita temui. Di rumah mbah saya, di Klaten, ada dua lukisan besar yang mirip seperti ini. Secara garis besar komposisinya sama dan itu-itu saja; barisan sawah emas, gunung yang kebiruan, seorang petani atau gerobak datang dari jauh, halimun yang mengawang di udara, langit biru dan suasana syahdu. Bisa jadi itu adalah gambaran masa-masa indah pra kumpeni. Jawa sebagai negeri padi yang gemah ripah loh jinawi. Nusantara adalah mutiara yang penuh misteri.

Salah satu pelukis besar di Indonesia yang menganut aliran mooi indie ini adalah Raden Saleh yang terkenal dengan lukisannya berjudul "Perkelahian dengan Singa" dan "Diponegoro". Karyanya yang berjudul "Javanese Landscape" mengambarkan keindahan abadi itu, dua orang pejalan dengan latar belakang gunung dan lembah sedang diintai oleh dua harimau Jawa yang saat itu masih mudah ditemui. Tidak seperti hari ini dimana menemukan Panthera tigris sundaica itu seperti mencari pejabat jujur di gedung DPR. Susahnya minta ampun.

"Javanese Landscape, with Tigers Listening
to the Sound of a Traveling Group" by Raden Saleh


Semua keindahan optis ala mooi indie inilah yang membawa gelombang penduduk Belanda untuk datang menetap di Indonesia. Iming-iming berupa gambaran surga dari Timur memang begitu membius. Ada barisan orang-orang pribumi yang bertelanjang dada dan eksotika natural yang jarang ditemui pada masa Eropa setelah masa revolusi Industri. Semua gambaran itu membuat kangen sekaligus iri. Pantaslah orang orang seperti Antonio Blanco, Walter Spies, dan Rudolf Bonnet akhirnya tinggal dan menetap di Indonesia.

"Desa mit Sumbing" anno 1924 by Walter Spies

"Preangerlandschaft" anno 1923 by Walter Spies

"Panen Padi" anno 1952 by Rudolf Bonnet

Jerat keindahan Indonesia memang susah untuk ditaklukan. Bahkan hingga hari ini.

"Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa"
(Rayuan Pulau Kelapa, Ismail Marzuki)

Gaya mooi indie yang dibalut dengan sentuhan art deco juga sempat menghiasi poster-poster K.N.I.L.M (Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij) utawa Royal Netherlands Indian Airways yang membuka jalur langsung antara Bandara Cililitan (kini Halim Perdanakusuma) di Batavia dengan berbagai kota besar di dunia, seperti Nederland, Sydney, Singapore, dan sebagainya.

K.N.I.L.M print ad

Poster "Fly to Java" ini adalah karya dari Jan Lavies. Saya suka sekali dengan karya-karya dia yang klasik dan minimalis. Ia membuat berbagai poster untuk K.N.I.L.M, ia juga membuat kartupos, ia juga mendesain label dan logo hotel-hotel terkenal di Jawa. Antara lain Savoy-Homann - Bandoeng, Grand Hotel - Djokdja, dan Hotel Bellevue - Buitenzorg (Bogor).

Beberapa luggage label bikinan Jan Lavies.

***
Apakah hari ini kita masih bisa menemukan gambaran mooi indie di Indonesia? Barangkali jika mengunjungi kota-kota kecil seperti Garut, Magelang, Temanggung dan Lumajang masih bisa ditemui kesan mooi itu. Tapi cobalah lihat Jakarta atau Surabaya yang crowded itu, saya pikir Pidi Baiq harus membuat karya baru selain "Post Mooi Indie" yaitu "Industrial-Kraut-Garage Mooi Indie", yeah!

No comments: