Pages

5/14/11

Slow Traveler

"After the funeral" by Ayos Purwoaji

Oleh: Dwi Putri Ratnasari


Saya percaya bahwa setiap orang memiliki gaya traveling yang berbeda-beda. Ada yang ngaku backpacker, light traveler, flashpacker, bikepacker, koperer dan beberapa er, yang lain. Saya sendiri bingung jika harus mendefinisikan diri sendiri sebagai traveler macam apa. Bukan berarti karena saya suka nenteng ransel lalu saya dengan bangga menyebut diri sebagai backpacker. No. Saya memilih memanggul ransel ya karena lebih efektif dan efisien saja untuk jalan-jalan. Dan saya percaya, bahwa yang namanya backpacker tidak bisa hanya dinilai dari penampakan bawaannya saja. It’s more than a backpack. Apapun itu, yang namanya traveling pasti memiliki makna tersendiri bagi tiap pelakunya. Ada yang untuk having fun, tuntutan pekerjaan, cari pengalaman atau mungkin pelarian.

Beberapa minggu yang lalu, saya diajak seorang teman untuk mengunjungi Lasem, sebuah kota kecil di wilayah pesisir Pantai Utara. Sempat ragu-ragu karena saya sendiri belum pernah bepergian dengannya untuk ukuran luar kota. Apalagi dia berencana untuk menghabiskan waktu selama seminggu di sana. Ya, seminggu untuk satu kota kecil saja! Saya belum punya bayangan pasti apa yang harus dilakukan di sana untuk kurun waktu selama itu. Tapi toh akhirnya saya mengiyakan ajakannya.

Ketika sampai di Lasem, kami bertemu dengan dua orang bapak dari Jakarta dan Bogor yang kemudian saya panggil Om David dan Om Andi. Keduanya memang teman dari teman saya itu, yang kebetulan sedang berada di Lasem juga. Mereka datang beberapa hari sebelum kami sampai.

“Rencana berapa lama di Lasem, Om?” tanya saya.

“Ya… semingguan lah…,” jawab Om David santai.

Kedua lelaki ini adalah para pecinta dan pemerhati bangunan tua di Indonesia. Mereka kerap traveling dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk memenuhi hasrat sebagai penikmat kota lawas. Lasem bagaikan firdaus bagi orang-orang macam Om David dan Om Andi. Dan ini bukan kali pertama mereka bertandang kemari.

Saya berkesempatan mengelilingi beberapa sudut Lasem dengan kedua lelaki ini. Pada setiap bangunan tua, kami menghentikan langkah, mengetuk pintu lalu berkenalan dengan empunya rumah dan meminta ijin masuk ke dalam. Walau tak jarang yang menghuni hanya seorang pembantu rumah tangga beserta empat anjing galak.

“Rumah ini perpaduan Indische dan Tiongkok… Coba perhatikan terasnya, perhatikan lekuk atapnya, tapi kamu lihat di depan ada patung burung elang besar. Itu gaya kolonial,” kata Om David kepada saya ketika kami berada di depan sebuah rumah tua suram yang tak berpenghuni. Puas melihat dan mengidentifikasi, lalu kami beranjak menuju tempat lain. Begitu, berulang-ulang.

“Penghuni rumah ini punya buanyak koleksi perangko lawas,” ujar Om Andi sambil menunjuk pada sebuah rumah tua dengan pohon-pohon rimbun yang sedang kami lewati. Lalu dia berhenti. “Nah, itu putranya."

"Hey, Nyo!” sapa lelaki berkacamata ini ketika melihat seorang anak kecil gemuk sedang mengangkat ember berisi air di teras rumah.

Si anak peranakan Tionghoa itu menoleh dan tersenyum. “Mau masuk, Om? Ketemu Papah? Aku bukain gemboknya.”

“Enggak deh, mau jalan-jalan ke depan,” jawab Om Andi.

Dua orang ini kerap menyapa penduduk sekitar. Ini yang bikin saya terpana. Mereka seakan telah menjelma menjadi warga Lasem, bukan sosok orang asing dari kota besar dengan dandanan kece, yang sibuk jeprat-jepret sana-sini. Saking akrabnya dengan penduduk setempat, kami bahkan sempat dijamu makan malam oleh Ibu Merry, seorang pembatik di Lasem.

Kebetulan sore tadi saya membaca sebuah artikel di Majalah Dewi tentang slow traveling. Dan saya meyakini bahwa orang-orang seperti Om Andi dan Om David adalah salah dua dari penikmat gaya traveling satu ini.

Mungkin tidak banyak orang yang menganut slow traveling. Ada beberapa hal yang bisa menjadi alasan. Pertama, keterbatasan cuti kerja. Kedua, tidak ada ketertarikan tertentu yang membuatnya harus tinggal berlama-lama di satu destinasi.

Majalah bergaya kosmopolitan yang saya baca ini, memberikan beberapa gambaran seperti apa seorang slow traveler itu. Katakanlah ada tiket gratis PP Jakarta – Prancis, beserta uang akomodasi untuk berlibur dua minggu di sana. Maka seorang slow traveler pecinta kuliner tidak akan menghabiskan hari-harinya dengan mengitari Paris dan daerah wisata keren lainnya. Tapi dia akan memilih menyelami Lyon, sebuah kota kelahiran dan tempat berkiprahnya seorang master chef senior, Paul Bocuse. Menghabiskan hari-harinya dengan mengeksplor culinary Prancis sembari mengikuti kelas memasak di Institute Paul Bocuse yang terletak di tengah pasar gourmet terkenal, Les Halles de Lyon.

Fiuh! Saya langsung membayangkan betapa asiknya menjadi seorang slow traveler. Tidak menguras tenaga, tidak terburu-buru harus kesana kemari, semua terasa santai dan yang terpenting, tetap enjoy.

Sementara tren yang terjadi belakangan ini adalah sebaliknya. Banyak yang berencana untuk menghabiskan masa cuti kerja dengan menginjakkan kaki di berbagai negara dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Om Teguh Sudarisman, seorang editor majalah wisata, bahkan pernah tergelitik dengan traveling macam ini dan menuliskannya dalam sebuah status Facebook:

"Merasa heran kalau ada orang yang mau 'backpackeran' dengan rute Medan - KL - Shanghai - Guangzhou - Macau - Hongkong - Medan hanya dalam waktu 6 hari. Jadi, rencananya cuma mau numpang mandi saja di kota-kota ini? :))"

In my humble opinion, slow traveling pasti akan menghasilkan sesuatu yang lebih berkualitas daripada traveling-numpang-mandi seperti status tadi. Tapi sekali lagi, orang berhak menentukan gaya traveling yang dianutnya selama dia nyaman dan senang atas pilihan tersebut. Tidak ada undang-undang yang mengatur traveler untuk menjadi A atau B. Dan selama tidak menggunakan uang orang lain, maka semua gaya traveling adalah sah hukumnya.

Cheers!

PS:
Artikel ini sebelumnya sudah pernah dipublikasikan oleh Dwi Putri Ratnasari di blognya.

2 comments:

didut said...

keren :) ... tp u/ menjadi slow traveler kadang kita juga hrs belajar banyak mengenai tempat yang akan kita kunjungi sehingga perjalanan itu sendiri menjadi nikmat :)

mumun said...

Memang perlu waktu ya untuk menikmati suatu area. Tapi emang tujuan orang jalan-jalan berbeda-beda.

Saya sendiri ga biasanya harus lebih dari satu hari tapi boleh lebih dari 3 hari di suatu tempat. Minimal pindah tempat tinggal atau pindah kecamatan. Bukan apa-apa, biasanya setelah 3 hari jadi lembam, udah ikut ritme kota dan males beranjak. Kadang saya malas akut! Hehehehee....

Suka deh postingnya. Jarang ada yang bahas slow traveler, terutama dengan tren traveling sekarang. Orang kadang cuman pengen sempat singah terus dan udah mau bergerak lagi.

Sekali lagi makasih untuk posting yang menarik.