Pages

5/9/11

Trio Ebook Landscape Indonesia


Judul:
Hunt for Little Niagara (17 Halaman)
Menelususri Jejak Odeng Ujung Kulon (31 Halaman)
Heaven of Borneo (28 Halaman)

Penyusun dan fotografer: Wahyu Widhi
Penerbit: Landscape Indonesia
Reviewer: Dwi Putri Ratnasari


Pembaca yang budiman, kali ini saya mendapat kehormatan untuk mereview trio e-book yang diproduksi oleh Landscape Indonesia dengan judul Hunt for Little Niagara, Menelusuri Jejak Odeng Ujung Kulon, dan Heaven of Borneo. Saya rasa sudah banyak yang tahu bahwa Landscape Indonesia adalah situs penyedia berbagai foto lanskap di seluruh pelosok Indonesia, yang salah satu editornya adalah Mas Wahyu Widhi, atau lebih akrab dipanggil dengan Widhibek.

Ketiga e-book yang sedang nangkring di layar monitor saya ini, dibuat oleh Mas Widhibek dan kawan-kawan dengan gaya scrapbook. Didesain dengan gaya sealami mungkin seperti buku diary perjalanan yang biasa dibawa oleh para avonturir masa lampau. Tentu saja ini menjadi inovasi yang menarik! Tampilan e-book perjalanan pun tidak lagi monoton, membosankan, dan begitu-begitu saja. Ada beberapa buku yang mengadopsi gaya scrapbook ini dalam tampilan layout mereka, salah satunya adalah pictorial book "Land of Water Vol. 1: Bali to Komodo" yang disusun oleh George Tahija.

Sebagai pecinta diary, saya punya cita-cita untuk membuat buku scrapbook perjalanan saya sendiri dalam format asli, bukan sekedar olah digital.

Meski turut memperkaya ranah penerbitan ebook perjalanan di Indonesia, namun menurut saya gaya scrapbook tiga buku elektronik terbitan Landscape Indonesia ini lebih terkesan so high school, sangat abege sekali. Apalagi untuk ukuran pembaca seusia saya yang berusia dua puluh tahun sekian ini. It's so yesteryears buddy... Saya seperti melihat majalah dinding yang dipajang di depan kantin sekolah.

Beberapa hal kecil lain yang menarik greget dan menganggu mata saya adalah penulisan kata yang kurang tepat sehingga terkesan buru-buru. Saya tidak membicarakan masalah gaya bahasa lho ya, karena saya meyakini bahwa setiap penulis memiliki aliran unik sendiri yang tidak bisa dibandingkan dengan penulis lain. Contoh kecil yang bisa diambil adalah penulisan ‘thx’. Hanya perlu menekan tombol delete dan mengetik ulang menjadi ‘thanks’ atau ‘terima kasih’, yang bakal lebih enak dibaca, karena pada dasarnya e-book ini akan disuguhkan kepada banyak orang terutama penikmat jejalan, bukan SMS yang dikirim pada teman sendiri.

Dengan mengusung gaya berupa scrapbook, maka wajar jika layout tiap halaman e-book ini terkesan berantakan, karena saya pikir memang itulah seni sebuah scrapbook. Hanya saja, saya merasa layout tiga e-book ini terlalu heboh. Gambar yang itu-itu saja malah tumpang tindih di mana-mana (e.g foto jamur dengan berbagai sudut). Saya memang penganut aliran less is more atau simple is beautiful, tapi saya merasa, even scrapbook pun bisa dibuat sederhana dengan tidak meninggalkan gaya khasnya. Oke, bukannya saya mau membandingkan, tapi agar review ini tidak terkesan asal cingcong saja, maka bolehlah kita membandingkannya dengan buku "Dead Pig Diary" karya John Carlile yang menurut saya jauh lebih elegan.

Image taken from Afterhours collection.

Silahkan menilai sendiri tampilan tersebut. Menurut saya buku perjalanan satu ini nampak benar-benar dikonsep dengan matang sebelum dirilis kepada pembacanya. John Carlile tidak saja menawarkan paduan grafis yang memukau, tapi juga tulisan tentang perjalanannya menembus belantara Papua layak dipuji karena memberi kita banyak informasi. Context dan content dari buku Dead Pig Diary ini sangat menarik. Tidak cuma ajang narsis belaka.

Sedangkan untuk e-book Landscape Indonesia, dari segi konten saya melihat ada perkembangan menarik dari e-book kedua yang berjudul "Menelusuri Jejak Odeng Ujung Kulon". Pada e-book ini, si penulis mulai memiliki cerita unik untuk dibagikan pada penikmat jejalan. Bahkan boleh dikatakan, dari ketiga karya keluaran Landscape Indonesia, e-book kedua adalah favorit saya. Gaya penulisannya santai dan kocak, alur cerita yang jelas, serta foto-foto yang disusun seperti sebuah comic strip berhasil melayangkan imaji saya seakan ikut berburu dan tersengat lebah hutan yang ganas di tengah belantara Ujung Kulon.

Namun, lagi-lagi saya harus agak kecewa karena ekspektasi yang berlebihan pada e-book ketiga. Awalnya saya mengira, peningkatan ini juga akan terjadi pada karya selanjutnya. Dengan mengangkat judul "Heaven of Borneo", maka saya dengan menyesal harus mengatakan bahwa saya tidak membaca ataupun merasakan bagian yang disebut heaven itu. Bagi saya e-book ketiga lebih mirip katalog foto saja.

Demikian review saya yang cukup pedas ini, tapi ya saya hanya mencoba menjadi pembaca yang jujur saja sih. Dan saya harus memberi 2,5 dari 5 bintang untuk nilai rata-rata tiga e-book ini.

Saya sangat menghargai ide membuat e-book perjalanan dalam bentuk scrapbook yang tentu berpotensi menjadi sangat seksi dan menarik jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Jadi saya berharap situs sebesar Landscape Indonesia bisa menghasilkan karya-karya yang lebih enak dipandang dan dibaca serta lebih terkonsep dengan matang, sehingga tidak terkesan asal-asalan dalam menyusunnya. Oke, ditunggu karya berikutnya, Om Widhibek!

Cheers :)

PS:
Silahkan baca dan download tiga e-book terbitan Landscape Indonesia di bawah ini.

Curug Malela - Hunt for Little Niagara

Ujung Kulon - mencari jejak odeng

Heaven of Borneo

2 comments:

bek said...

mantap om!!
tx sudah berkenan mereview buku acak adut majalah dinding saiya :D

tunggu edisi berikutnya ya.. moga2 bisa lebih bagus dari edisi2 yang sekarang ini

purwoshop said...

Gpp om bek, sudah mantap kok, yg penting usaha dan berkarya. doakan saya utk buat juga :) OIA kakak, mau dong ini direview: http://fotokita.net/blog/2011/05/panduan-membuat-foto-essay-fotokita-award-2011/

ditunggu yah