Pages

6/27/11

Hifatlobrain on Twitter

Please follow official twitter account of Hifatlobrain!

6/26/11

Mekare



Setelah pulang dari melihat ritual Perang Pandan di Tenganan, Bali akhirnya Dwi Putri Ratnasari mengeluarkan video perjalanannya. Meski terlihat shaky di sana-sini, namun hasilnya cukup baik untuk dinikmati. Dengan memasukkan lagu latar yang bernuansa chillout, Dwi Putri membawa kita pada sebuah seni melihat Perang Pandan dari sisi yang berbeda.

Silahkan baca ulasan Dwi Putri selengkapnya tentang behind the scene di sini.

6/22/11

DuaRansel on Nomadic Travel



Beberapa waktu lalu Hifatlobrain mewawancarai DuaRansel, pasangan nomadic-traveler yang memiliki perspektif menarik tentang gaya hidup berpindah tempat yang sudah mereka lakukan selama dua tahun terakhir.

A: Awalnya gimana kamu memulai hidup sebagai nomad traveler?
Itu dari tiga tahun lalu sih, kami berdua merasa hidup kita itu untuk karir. Saya pergi ke lab jam 8 pagi, pulang sampai rumah jam 9 malam. Nggak peduli musim semi atau salju kami tetap kerja, padahal di luar suhu biasa sampai minus 20 derajat.

Pulang kerja, sampai rumah, saya biasanya mencuci, masak, ngobrol sebentar, sudah tengah malam. Padahal masih harus bikin tugas kuliah. Suami saya juga sama sibuknya, jadi akhirnya kita bikin resolusi untuk hidup sebagai backpacker dan lebih banyak meluangkan waktu bersama…

A: Hidup kalian hectic sekali ya?
Iya, dulu setiap hari saya ketemu suami hanya beberapa jam saja, hahaha.

A:Keputusan menjadi backpacker ini dibicarakan dengan keluarga?
Iya, saya bilang mama, awalnya beliau khawatir sekali, apalagi saya ini calon scientist, masak mau meninggalkan gelar kesarjanaan yang selama ini saya kejar. Tapi tentu yang paling kaget adalah professor saya di college. Beliau langsung bilang, “Is it a joke?” saat saya mengutarakan niat untuk berkeliling dunia. Padahal sebelumnya sudah berencana untuk melanjutkan ke program PhD.

_______________________________
Dina, adalah seorang wanita cerdas yang menamatkan pendidikan S1 Kimia ITB, lantas gelar master ia tempuh di Kanada, dimana ia dan suaminya tinggal. “Memang cita-citaku jadi scientist, tapi ya sudah, akhirnya saya tinggalkan karena saya lebih bahagia menjadi seorang traveler,” kata Dina. Tawaran melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi pun akhirnya ditolak oleh wanita asal Surabaya ini.

"Aku remajanya kutu buku, suka science dan suka bikin PR. Setelah masuk kuliah, pokoknya bener-bener kimia deh. Cinta laboratorium! Hahaha. Oh ya, suka dance juga. Dulu sempat menekuni dance, tapi lebih pilih kimia jadi hobi menari terbengkalai. Sampai sekarang masih suka nonton So You Think You Can Dance (reality show di Amerika) dan bahkan sebelum masa nomadic aku suka datang di pertunjukannya, itu lho, yang kalo para pemenangnya tur keliling." Kata Dina.

Ia mengaku inspirasi terbesar untuk menjadi traveler adalah dari kakaknya. "Kalau backpacking sih, perencanaannya belajar dari berbagai pengalaman orang di BootsnAll.com forum."
_______________________________

A: Lalu bagaimana kalian memulai perjalanan? Bukankah kalian punya kehidupan yang harus ditinggalkan?
Iya, jadi setelah mempersiapkan diri selama setahun, pada April 2009 kami menyetop sewa apartemen dan menjual seluruh barang yang kami miliki. Nggak semua laku sih, barang kita soalnya juga murah-murah hahaha. Tapi beberapa barang elektronik laku sekitar 400 dollar. Jadi ya lumayan.

Beberapa barang yang memorable kita simpan di storage locker. Jadi benar-benar kita jadi total hidup nomaden. Tujuan awal kami ke Barcelona, tapi kami nggak naik pesawat, karena setelah dihitung-hitung naik kapal laut jauh lebih murah.

A: Kalian ini termasuk well-prepared traveler atau tidak?
Oh sama sekali nggak! Hahaha. Kami baru menentukan itinerary saat kita sudah punya kepastian kita mau menuju negeri apa. Bahkan pertama kali di Barcelona, kami sampe di sana masih belum booking kamar atau apa pun. Akhirnya kami pergi ke downtown untuk cari restoran yang ada free wifi-nya, barulah kami searching di internet saat itu.

A: Lho kalo nggak punya rencana, gimana kalian bisa menentukan tujuan perjalanan? Memang apa sih yang kalian cari di sebuah destinasi?
Hmm kalo aku sih lebih suka sama perbedaan kultural ya. Aku ingin tahu kenapa orang Eropa begini, orang Karibia begitu, orang Maroko begini. Aku nggak memandang mereka seperti strangers yang aku kasih penilaian stereotip. Aku lebih ingin menyelami kehidupan orang lain…

Karena nggak pake perencanaan macam-macam, kami justru sering mendapat surprise di tengah jalan. Nah kejutan-kejutan kecil seperti ini sangat alami, khas di sebuah daerah. Momen-momen seperti ini sangat kami nikmati. Aku nggak suka sesuatu yang palsu, yang ada karena turis gitu…

Katakanlah di sebuah perkebunan teh di Jawa, karena dibuka untuk turis akhirnya para pemetik daunnya harus pakai kebaya yang rapi. Padahal kan aslinya nggak gitu, mana ada pemetik teh pakai kebaya, palingan kan pakai kaos oblong. Nah, sesuatu yang bersifat turistik gini saya kurang suka.

Tapi ya kami juga nggak anti banget sama tepat turistik sih. Sesekali kami sempatkan untuk mengunjungi tempat-tempat yang turistik di sebuah negara. Aku yakin daerah itu punya keunikan yang akhirnya menjadi alasan mengapa tempat itu diserbu wisatawan. Bener kan?

A: Iya sih mbak. Nah tapi mungkin nggak sih kita dari Indonesia jadi nomadic traveler di Barat? Karena aku pikir perbedaan rate mata uang yang tajam membuat kita yang dari negara berkembang ini sulit menjadi nomad di Negara maju. Kalau kamu kan memulainya dari Kanada lantas menuju negera dunia ketiga, jadi masih sangat memungkinkan lah…
Aku pikir sih bisa ya, tapi memang harus bekerja lebih berat dibanding jika memulainya dari negara maju. Dulu aku sempat merasa seperti itu saat kami mengunjungi Scandinavia, itu kan negeri mahal juga. Ya kita tetep bisa dateng sih, tapi nggak bisa lama-lama. Duitnya cepet ludes. Hahaha.

Kalo di jalan ya diusahakan cari segala sesuatu yang paling murah. Contohnya saat kita di Nikaragua, kita pengen banget lihat matahari terbit di kawah Masaya Volcano. Nah untuk bisa lihat sunrise kita harus bermalam di sana, yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Kami mendatangi para ranger dan memohon ijin perkecualian. Akhirnya setelah perdebatan seru, kami diijinkan untuk bermalam di sana, tapi kami harus membayar uang sogokan. Tapi eh, itu malah kami nego lagi, sehingga akhirnya kami bisa bermalam gratis! Berkat teman kami yang manis dan fasih berbahasa Spanyol! Hehehe.

Ya kami bener-bener hidup superirit. Pernah di Jepang kita dapat penginapan murah sekali, sangat murah untuk ukuran Jepang. Tapiii akhirnya kami baru tahu kalau kamar itu adalah kerajaan kecoa. Bahkan di kloset pun keluar kecoa. Tapi mau gimana lagi, itu yang termurah yang bisa kita dapat sih. Pernah juga sekali waktu kami tidur hanya dengan memakai sleeping sack, jadi hanya beratapkan langit gitu, yah walaupun sebenarnya itu illegal sih... Haha…

A: Sampai kapan mbak kamu mau hidup sebagai nomad?
Waduh hahaha! Nggak bisa dijawab di siniii, soalnya ada mama…

_______________________________
Malam itu, orangtua Dina, Tante Tres, ikut serta dalam obrolan kami. Di usianya yang mencapai enam dasawarsa ini, Tante Tres harus mengakui bahwa dua putrinya ditakdirkan menjadi para pejalan yang hidup jauh dari orangtua. Kakak Dina, adalah seorang diver dan saat bekerja di sebuah perusahaan migas di Jakarta. Sedangkan si Bungsu, akhirnya hidup sebagai seorang avonturir yang berkelana keliling dunia.

“Ya akhirnya saya nggak bisa maksa, itu sudah pilihan hidup mereka, kadang rasa khawatir itu masih ada, apalagi yang dikunjungi Dina kan tak jarang daerah rawan konflik. Yang bisa saya lakukan cuma doa…” kata Tante Tres yang tinggal berdua saja dengan suaminya.

Wanita sepuh ini masih terlihat tegak, beberapa tahun lalu dia masih bisa menyelam di Bunaken. “Waktu itu pas ulang tahun saya, nah instrukturnya ngajak saya menyelam sampai delapan meter, padahal kan seharusnya cuma kedalaman lima meter saja. Awalnya saya sudah curiga lho, ini kok warna lautnya sudah beda ya?” kata Tante Tres disambut tawa Dina. “Ya mama dikerjain sama dive master-nya, hehehe…”
_______________________________

A: Selama dua tahun ini gimana, menurut mbak enak nggak sih jadi nomaden?
Memang tidak semua orang bisa menerima konsep hidup seperti ini. Ya aku benar-benar menikmati ya, meskipun harus hidup di luar batasan orang pada umumnya.

Resolusiku untuk bisa punya banyak waktu untuk suami juga akhirnya tercapai, meskipun mama selalu berharap kalau saya punya anak, tapi untuk sekarang itu belum bisa kami penuhi. Kalau sudah punya bayi, sebetulnya masih bisa hidup berpindah seperti ini, tapi mungkin harus menetap lebih lama daripada hidup kami sekarang yang bisa berpindah cepat.

Semua pengalaman menjadi nomad bagi aku hingga hari ini sangat worth it.

A: Berapa lama kalian bisa menetap di sebuah daerah?
Hmm, bisa sampai tiga bulan sih.

A: Mbak kalo menurut kamu, travel writing yang bagus itu seperti apa?
Aku suka travel writing yang ada nilai refleksinya: kamu dapet apa dari sebuah daerah? Semacam self improvement dan pembelajaran bagi diri sendiri. Tentu itu akan memberikan inspirasi bagi pembaca.

Saya justru kurang suka sama penulisan catatan perjalanan yang menghakimi sesuatu dengan pandangan stereotip. Sudah pasti dalam perjalanan lintas Negara seperti ini saya dihadapkan pada banyak karakter manusia dan ragam suku bangsa. Kalau kita melihat mereka seperti seorang strangers, maka sesungguhnya begitu pula pandangan mereka terhadap kita, para pelancong yang datang ke sebuah negeri asing.

Tapi barangkali justru hal-hal seperti itu, euphoria kecil dari culture lag seperti itu yang disukai di Indonesia ya?

A: Kalau ada lima travel blog yang paling kamu sukai itu apa saja mbak?
Di Indonesia atau internasional?

A: Internasional.
Oh aku suka wanderingearl.com, theplanetd.com, overyonderlust.com, kenkaminesky.com hmm sama apa lagi ya? Kurang satu ya? Ini aja deh, goseewrite.com.

Gaya menulis mereka cukup memberikan pengaruh juga pada cara menulisku. Aku ini belum pernah bikin travelogue sebelumnya. Aku nggak jago bikin reportase seperti ini. Aku jagonya bikin jurnal ilmiah, hahaha. Makanya dua tahun terakhir ini aku perbanyak baca travel blog bagus, aku mau belajar.

Aku juga kepikiran untuk bikin buku. Tapi belum tahu juga kapan naskahku bisa selesai, lha seringkali angle tulisanku itu berubah-ubah. Aku belum fokus sama satu titik. Maunya aku fokuskan dulu angle-nya biar semua tulisan di blogku itu punya arah. Kalo amburadul dan harus bolak-balik tulis ulang, kapan selesainya.

A: Bukunya bahasa Indonesia atau Inggris?
Indonesia.

A: Ah bicara tentang Indonesia, sepertinya kamu punya penyesalan ya seperti yang kamu tulis di blog: kalian sudah singgah di banyak Negara, tapi justru belum banyak mengeksplor Indonesia…
Iya, maka dari itu, mumpung pulang kampung seperti ini rencananya saya dan Ryan mau mengunjungi beberapa destinasi di Indonesia.

_______________________________
Pria jangkung berkacamata bernama Ryan ini adalah suami Dina sejak delapan tahun yang lalu. Mereka bertemu di Jepang dan setelah menikah Ryan membawa Dina tinggal di Kanada. Malam itu setelah menghabiskan sepiring sate kerang khas Sidoarjo, Ryan antusias mendengarkan saya bercerita tentang Papua. Tentang koteka juga. “Kami memang pengen sekali dateng ke Papua, nanti aku tanya kamu ya…” kata Dina.

Sebagai seorang programmer, Ryan bisa mengerjakan berbagai macam proyek secara online. Dari sinilah perjalanan mereka bisa terus berlanjut. “Sekarang aku sedang mengerjakan sebuah proyek online dengan kakakku.” Barangkali, di dunia ini, jika ada dua hal yang paling berarti di hidup Ryan, pasti itu adalah istri cantiknya dan sambungan internet cepat. “Susah sekali cari jaringan di Honduras, jadi aku terpaksa menetap dulu di kota untuk mengakses internet, setelah proyek benar-benar usai baru kami menjelajah lagi,” kata Ryan.

Memiliki sumber penghasilan selama perjalanan seperti yang dilakukan Ryan ini memang menjadi salah satu solusi bagi para traveler yang ingin membiayai proyek perjalanan jangka panjang. Menjadi progammer seperti Ryan, menjadi freelance journalist seperti Agustinus Wibowo, atau menjadi volunteer di puncak-puncak dunia adalah beberapa pekerjaan yang banyak dipilih. Pekerjaan yang tidak membutuhkan kantor dengan tembok bata dan jajaran kubikel di tengah dunia yang semakin borderless ini.

***

Obrolan kami malam itu begitu menyenangkan. Pasangan petualang ini membagi banyak cerita dari negeri-negeri yang jauh. Tak terasa sudah hampir empat jam kami bercengkerama, dan Tante Tres tampak sudah lelah dan mulai mengantuk. Sebelum pulang, Tante Tres sempat berbisik sambil tersenyum, “Saya juga sempat tanya Dina, sampai kapan dia mau hidup sebagai backpacker? Dia bilang: seterusnya…” []

Setelah interview oleh Hifatlobrain (image taken by Tante Tres)

Silahkan ikuti perjalanan mereka pada blog DuaRansel.com

6/20/11

Trend: Travel Video


video courtesy of US Military (www.travelfilmarchive.com)

Pada bulan November 2010, saya pernah memposting sebuah pertanyaan di milis Indobackpacker (IBP). Intinya saya menanyakan: apakah diantara sekian ribu traveler Indonesia yang bergabung di milis tersebut ada yang suka membuat video perjalanan? Sayangnya thread diskusi yang saya buat tenggelam dengan cepat. Hanya ada satu orang yang mereply email saya. Dari pengalaman itu, saya jadi tahu kalo pembuatan dokumenter masih belum terlalu populer bagi traveler Indonesia. Meski begitu saya tidak luntur untuk mempromosikan media video sebagai alternatif dokumentasi perjalanan bagi para traveler.

Menurut saya, ada beberapa hal yang membuat pembuatan travel video ini kalah pamor dengan travel photography; Pertama, masalah peralatan pembuat video yang belum tentu dimiliki oleh semua pejalan di Indonesia. Ini wajar, karena pejalan masih lebih cenderung berinvestasi pada pembelian kamera. "Traveling tanpa bawa kamera itu bagai ksatria tanpa pedang," kata teman saya sok puitis.

Kedua, yang menjadi masalah serius barangkali karena post-production workflow yang lebih panjang dan ribet ketimbang foto. Biasanya kalo habis motret, set set transfer ke laptop, retouch di Photoshop, lalu diaplot deh di Flickr atau Facebook. Sedangkan video? Woho setelah mengambil banyak footage, Anda harus mengimpor gigaan file itu ke software pengolah video, lalu diedit, lalu dipotong-potong, lakukan compositing, masukin sound, lantas dirender cukup lama. Itu saja masih belum proses aplotnya yang sering bikin hati kecut, Anda tahu lah bagaimana koneksi internet rata-rata di Indonesia, wassalam. Maaakkkk! Siapa mau rempong seperti itu?

Tapi coba deh lihat video di atas yang dibuat oleh tentara Sekutu di tahun 1941. Mungkin film lawas berjudul "People of the Indies" ini bukan termasuk genre travel video, tapi film berdurasi 10 menit ini mampu mewakili semua gambaran ideal tentang mooi indie, Indonesia yang indah, dimana alam masih dalam kondisi prima dan kehidupan terasa begitu tenteram, kalo kata orang Jawa: gemah ripah loh jinawi. Melihat video ini saya jadi seperti time traveler yang kembali ke masa silam, dimana Batavia masih merupakan sebuah kota kecil dengan populasi yang belum sesak, dimana Ciliwung masih lancar mengalirkan airnya, dimana kata korupsi masih belum berjejal di telinga kita.

Tentu saja video memberikan dampak yang lebih besar dibanding foto. Karena selain visual, video juga melibatkan suara (audio) dan gerakan (motion), dua hal yang tidak mungkin ditangkap dari selembar foto biasa. Sehingga atmosfer sebuah pengalaman pun akan terekam lebih lebih sempurna jika ditampilkan dalam sebuah video. Praktisnya, medium video lebih mudah menciptakan theatre of mind ketimbang foto saja.

Syukur, dalam beberapa bulan terakhir, semakin banyak saja travel blogger lokal yang menggunakan medium video sebagai pengganti catatan perjalanan. Ada yang diolah sederhana saja, ada pula yang diedit dan ditambah efek berbagai rupa. Diantara mereka, ada beberapa yang memang menjadi favorit saya. Untuk masalah ini nanti kita bahas lain kali saja yes...

Melihat pergerakan yang cukup progresif itu, saya hanya ingin meramalkan bahwa tidak sampai dua tahun ke depan travel videography ini akan semakin populer di Indonesia. Pejalan akan semakin banyak yang bergerak untuk beralih dari medium fotografi konvensional menuju multimedia. Alasan saya cukup banyak, namun yang paling utama adalah semakin murahnya harga sebuah kamera saku yang mampu merekam video dengan kualitas hingga Full HD. Mengingat harga kamera yang selalu turun, maka semakin lama kamera jenis ini pasti makin mudah diakses oleh masyarakat luas.

Nah dari satu gadget perekam video sederhana seperti kamera saku atau Sony Bloggie hingga kamera HD profesional itulah trend pembuatan travel video di Indonesia dimulai. Hemat saya, semakin banyak video yang diunggah tentang Indonesia, maka semakin menarik pula promosi tentang Indonesia. Siapa tahu juga, video Anda suatu saat menjadi artifak berharga yang bakal disimak anak-cucu yang sudah hidup di era antar galaktika. Hahaha.

Jadi, apakah Anda sudah tertarik untuk membuat video perjalanan?

6/17/11

Dua Tiang Tujuh Layar


Bisa dibilang, sedikit sekali ada musisi Indonesia yang membuat film dokumenter. Dari jumlah yang sedikit itu tersebutlah nama seperti grup musik Kantata Takwa, Risky Summerbee and the Honeythief, Seringai, atau Jogja Hip Hop Foundation. Dari beberapa band dan musisi yang saya sebut barusan, sebagian besar film dokumenternya bercerita tentang sejarah atau proses kreatif dalam domain bermusik mereka.

Photo courtesy of TTATW Fans Page

Baru-baru ini, The Trees and the Wild (TTATW) juga mengeluarkan sebuah film dokumenter berjudul "Dua Tiang Tujuh Layar". Film ini tidak bercerita tentang cikal bakal trio ini, melainkan tentang budaya pembuatan kapal phinisi di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Teman baik saya, Dwi Putri 'Bakpaw' Ratnasari yang memberi tahu mini dokumenter ini.

Tentu saja usaha ini patut diapresiasi. Baru kali ini saya temui band di Indonesia yang membuat film tentang kehidupan masyarakat Bugis dan budaya yang melekat di darah mereka selama ratusan tahun. Dalam press release, TTATW mengatakan bahwa:

Dua Tiang Tujuh Layar is a manifesto of ideas and a concrete step from The Trees and The Wild onto many things. For the band, audio-visual works are usually poured into the form of video clips, with promotional background activities and publications of the respective bands. That definition and understanding is fully understood by the Trees and The Wild, but there are different concepts that dwell in their mind which are viewed with broad perspective's.

TTATW mencoba keluar dari patron pembuatan video klip secara klasik dan memilih menuangkan gagasan itu menjadi suatu yang baru. "Malino", salah satu judul lagu mereka dalam album "Rasuk" dipilih menjadi soundtrack yang tepat dalam merepresentasikan film ini. Malino sendiri sebetulnya adalah nama sebuah gunung yang ada di Sulawesi Selatan.

Saat melihat film ini, sebetulnya bayangan saya langsung melayang pada film "Heima" buatan musisi Islandia, Sigur Ros. Film panjang berdurasi satu setengah jam yang bercerita tentang Sigur Ros yang pulang kampung ini memiliki berbagai gambar yang menawan. Sama seperti film pendek "Dua Tiang Tujuh Layar" yang hampir semua footage di dalamnya sangat fotografis.

Dua film ini dihasilkan oleh satu tipe musisi yang sama: mereka cinta pada bangsa dan negerinya.

Dalam "Heima", Sigur Ros bercerita tentang philantropic concert keliling negeri dan menjamah tempat-tempat yang tidak populer dengan satu tujuan; hanya untuk menghibur rakyat Islandia. Sigur Ros ingin memberikan hiburan gratis buat keluarga, teman-teman, dan lingkungannya.

Sedangkan dalam "Dua Tiang Tujuh Layar", TTATW berusaha untuk mengenalkan kehidupan para pembuat kapal di desa Tana Beru yang menjalankan tradisi pembuatan kapal phinisi ini selama berabad-abad. Film dokumenter pendek ini seperti sebuah tablet yang mengandung obat anti lupa agar kita -anak muda negeri ini yang modern dan gaul- tidak lupa pada kekayaan budaya dan sejarah Nusantara.

Dari dua film ini, saya menghaturkan apresiasi yang setinggi-tingginya. Dan dua-duanya berhasil membuat saya ingin traveling dan memotret lagi.

Silahkan lihat film dokumenter pendek "Dua Tiang Tujuh Layar" di situs resmi TTATW http://www.thetreesandthewild.com/



Director: Swargaloka
DoP: Shadtoto Prasetio, Pramono Prakoso, Dimas Wisnuwardono
Sound Editing: Barlian Yoga
Producer: The Trees and the Wild


PS: Thanks Put, udah kasih tau film ini :)

6/16/11

Pandanus Fight

Pandanus fight at Tenganan Village by Dwi Putri Ratnasari

Selama beberapa hari yang lalu, Dwi Putri Ratnasari ditemani Lukman Simbah berhasil menyaksikan tradisi Mekare-kare atau perang pandan di desa adat Tenganan Pegringsingan, Bali. Mereka akan membagi pengalamannya melihat pagelaran unik ini di Hifatlobrain! Stay tune fellas!

6/12/11

Boros

"Travelling bukanlah Pemborosan..."
(Safir Senduk, financial planner)

Saya selalu mengikuti kicauan Safir Senduk tentang keuangan dan bagaimana cara merencanakannya. Meskipun saya tahu, rajin membaca timeline-nya tidak juga membuat saya menjadi seorang perencana keuangan yang baik bagi diri saya sendiri.

Sore ini saya membaca kembali kicauan Safir Senduk, dan saya menemukan pernyataan dia bahwa traveling bukanlah sebuah pemborosan. Hmm, saya tidak tahu jelas mengapa ia bisa mengatakan hal ini. Mungkin memang sebaiknya kita merubah cara pandang kita: bagaimana membuat sebauh perjalanan bukan hanya menghabiskan uang, tapi juga sebuah investasi bagi masa depan.

6/9/11

Around Braga



Full travelogue appear soon lads!

NGI Frame #9

Foto oleh Dwi Oblo

Ketika kita berbicara mengenai populasi, yang terbayang adalah jumlah penduduk yang terus bertambah. Faktanya tidak selalu seperti itu. Menurut laporan Kompas pada tahun 2010 lalu, jumlah penduduk Yogyakarta pada tahun 2010 turun 2,7% dibandingkan tahun 2000. Penurunan ini bukan saja terjadi dalam rentang waktu itu. Sejak tahun 1990, tren populasi penduduk Yogyakarta selalu menurun, meskipun Yogyakarta tetap termasuk kota yang padat—11.941 jiwa per kilometer persegi.

Salah satu penyebab turunnya populasi penduduk Yogyakarta adalah bencana: gempa pada tahun 2006 dan erupsi Merapi tahun lalu. Demikian menurut Biro Pusat Statistik Kota Yogyakarta. Bencana juga menimbulkan dampak perpindahan penduduk. Beberapa desa terdampak erupsi Merapi tidak lagi dapat ditempati sehingga penduduknya harus mengungsi.

Bagaimana nasib mereka? Bagaimana penanggulangannya? Kontributor foto NGI yang sehari-hari bertugas di Jogja memaparkan persoalan ini lewat fotografi dalam acara FRAME FOTOKITA edisi 9 yang juga merupakan rangkaian dari FOTOKITA Award 2011, sebuah kontes foto yang digelar National Geographic Indonesia dan didukung oleh Canon, yang diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat Indonesia akan jumlah populasi yang terus meningkat dan dampak-dampaknya.

Pembicara
DWI OBLO (Kontributor Foto National Geographic Indonesia)
FIRMAN FIRDAUS (Editor National Geographic Indonesia)
CANON Indonesia

Waktu dan Tempat
Kamis, 16 JUNI 2011
13.30-16.00 WIB
Auditorium Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta
Jl. Sosio Justisia Bulaksumur Yogyakarta 55281

Persyaratan Peserta
Melakukan pendaftaran online via: http://fotokita.net/frame/9#registrasi
Pendaftaran dibuka mulai tanggal 1 JUNI 2011 dan ditutup tanggal 13 JUNI 2011
Panitia berhak menutup pendaftaran lebih awal apabila kuota sudah terpenuhi
Daftar peserta akan ditampilkan di website: http://fotokita.net/frame tgl 14 JUNI 2011

Pendaftaran Gratis, Tidak Dipungut Biaya
Tempat Terbatas

Informasi Acara
National Geographic Indonesia
http://fotokita.net/frame
Email : event[at]nationalgeographic.co.id
FB: http://nationalgeographic.co.id/facebook
Twitter: @fotokitanet & @NGIndonesia

Doctor Komuz

Text and photo by Cut Rindayu Asly

Akhirnya dari Uzbekistan, kota Ferghana, saya dan grup naik bus travel yang akan mengantar kita ke perbatasan Kyrgyzstan di kota Osh. Lumayan urus izin masuk lewat perbatasan di bawah todongan senjata sejenis AK-47 dari personel militernya, bawaan diendus anjing herder pelacak, dan karena mereka ngga punya mesin X-ray jadilah satu backpack dibongkar untuk pengecekan. Tidak lupa juga pagar kawat duri seperti di film-film perang. Bagusnya lagi, dari pos perbatasan sampai keluar wilayah Kyrgyz, saya mesti jalan kaki sekitar 200 meter saja sambil menenteng backpack yang beratnya ampun. Itu karena bus yang akan jemput kita ngga boleh menunggu di wilayah imigrasi pos perbatasan, harus di luar. Dan mereka tidak bisa bahasa Inggris lho, jadi saya harus memaksimalkan bahasa tubuh, dan gerakan tangan.

Akhirnya lolos juga dari pengecekan imigrasi pos perbatasan, lega. Kami berkendara lagi ke luasnya daratan dan pegunungan hijau di luar kota Osh. Tujuan kami adalah melewati pegunungan Pamir yang puncaknya di atas 7000 meter. Sebelum mencapai gunung bersalju, saya dan grup melintasi karpet hijau dataran tinggi Kyrgyz yang hijau sekali sejauh mata memandang. Mei kemarin memang awal musim panas, di sekitar ketinggian 1500 meter, saya dan grup beristirahat di sebuah yurt yang dijadikaan rest area. Tidak disangka disana ada beberapa rombongan akademisi yang mau menyambut delegasi penting dari China. Jadilah kita menonton mereka latihan musik tradisional dengan komuz (gitar tradisional Kyrgyz).

Singkat cerita, bapak yang di foto itu adalah seorang Ph.D yang berdomisili di Bishkek, ibukota Kyrgyzstan. Tapi maaf, saya lupa namanya, karena tidak sempat saya tulis. Ternyata dia memang hobi bermain komuz dari muda. Para akademisi itu memakai pakaian tradisional lengkap dan merupakan rejeki saya untuk bisa melihat mereka menyanyikan lagu bangsa nomad yang merdu sekali. []

Supermini travelogue ini ditulis oleh Cut Rindayu Asly, seorang wanita cantik berdarah Aceh yang mengelola sebuah warung mie dan aktif di sebuah NGO lingkungan. Tak banyak yang tahu bahwa wanita mungil ini memiliki tangan titisan BB King dan Chuck Berry.

6/8/11

Irresistible


Uwoooooo hampir setengah bulan blog ini nggak diapdet! Maafkan saya teman-teman, dalam dua minggu ini memang saya harus keliling-keliling. Jadi tidak bisa mengunggah tulisan dan foto terbaru di Hifatlobrain. Padahal, stok cerita kita menumpuk, ada kontribusi dari Filipina hingga Kawah Ijen, ada pula kiriman foto dari Aceh dan banyak buku keren yang harus direview. Wooohhh maaf yaaa....

Anyway, foto di atas adalah secangkir teh Tasseo. Sebuah merek teh celup premium yang rasanya endang abis! Sumpah teh ini bikin saya kangen. Fruitty taste with nice-appealing package! Tapi harganya lumayan cyin, hahaha.

Bentuk kantung celupnya itu keren: piramida. Bahannya dari nylon, jadi meski dicelup berkali-kali bentuknya tetep piramida. Nggak seperti teh biasa yang kantungnya terbuat dari kertas atau kain, jadi setelah dicelup bentuknya jadi lepek dan warnanya kumal. Tasseo ini punya packaging yang unik.

Ya udah deh, dalam beberapa hari ini bersiaplah mabuk menerima update terbaru dari Hifatlobrain!