Pages

6/17/11

Dua Tiang Tujuh Layar


Bisa dibilang, sedikit sekali ada musisi Indonesia yang membuat film dokumenter. Dari jumlah yang sedikit itu tersebutlah nama seperti grup musik Kantata Takwa, Risky Summerbee and the Honeythief, Seringai, atau Jogja Hip Hop Foundation. Dari beberapa band dan musisi yang saya sebut barusan, sebagian besar film dokumenternya bercerita tentang sejarah atau proses kreatif dalam domain bermusik mereka.

Photo courtesy of TTATW Fans Page

Baru-baru ini, The Trees and the Wild (TTATW) juga mengeluarkan sebuah film dokumenter berjudul "Dua Tiang Tujuh Layar". Film ini tidak bercerita tentang cikal bakal trio ini, melainkan tentang budaya pembuatan kapal phinisi di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Teman baik saya, Dwi Putri 'Bakpaw' Ratnasari yang memberi tahu mini dokumenter ini.

Tentu saja usaha ini patut diapresiasi. Baru kali ini saya temui band di Indonesia yang membuat film tentang kehidupan masyarakat Bugis dan budaya yang melekat di darah mereka selama ratusan tahun. Dalam press release, TTATW mengatakan bahwa:

Dua Tiang Tujuh Layar is a manifesto of ideas and a concrete step from The Trees and The Wild onto many things. For the band, audio-visual works are usually poured into the form of video clips, with promotional background activities and publications of the respective bands. That definition and understanding is fully understood by the Trees and The Wild, but there are different concepts that dwell in their mind which are viewed with broad perspective's.

TTATW mencoba keluar dari patron pembuatan video klip secara klasik dan memilih menuangkan gagasan itu menjadi suatu yang baru. "Malino", salah satu judul lagu mereka dalam album "Rasuk" dipilih menjadi soundtrack yang tepat dalam merepresentasikan film ini. Malino sendiri sebetulnya adalah nama sebuah gunung yang ada di Sulawesi Selatan.

Saat melihat film ini, sebetulnya bayangan saya langsung melayang pada film "Heima" buatan musisi Islandia, Sigur Ros. Film panjang berdurasi satu setengah jam yang bercerita tentang Sigur Ros yang pulang kampung ini memiliki berbagai gambar yang menawan. Sama seperti film pendek "Dua Tiang Tujuh Layar" yang hampir semua footage di dalamnya sangat fotografis.

Dua film ini dihasilkan oleh satu tipe musisi yang sama: mereka cinta pada bangsa dan negerinya.

Dalam "Heima", Sigur Ros bercerita tentang philantropic concert keliling negeri dan menjamah tempat-tempat yang tidak populer dengan satu tujuan; hanya untuk menghibur rakyat Islandia. Sigur Ros ingin memberikan hiburan gratis buat keluarga, teman-teman, dan lingkungannya.

Sedangkan dalam "Dua Tiang Tujuh Layar", TTATW berusaha untuk mengenalkan kehidupan para pembuat kapal di desa Tana Beru yang menjalankan tradisi pembuatan kapal phinisi ini selama berabad-abad. Film dokumenter pendek ini seperti sebuah tablet yang mengandung obat anti lupa agar kita -anak muda negeri ini yang modern dan gaul- tidak lupa pada kekayaan budaya dan sejarah Nusantara.

Dari dua film ini, saya menghaturkan apresiasi yang setinggi-tingginya. Dan dua-duanya berhasil membuat saya ingin traveling dan memotret lagi.

Silahkan lihat film dokumenter pendek "Dua Tiang Tujuh Layar" di situs resmi TTATW http://www.thetreesandthewild.com/



Director: Swargaloka
DoP: Shadtoto Prasetio, Pramono Prakoso, Dimas Wisnuwardono
Sound Editing: Barlian Yoga
Producer: The Trees and the Wild


PS: Thanks Put, udah kasih tau film ini :)

7 comments:

Saiful Azhar said...

Bulukumba? wah jadi pengen kesini lagi..

salut kereeeen

Yunaidi Joepoet said...

Mas ayos terima kasih share-nya.

The Land of Buterfly kok gak dimuat online juga ta mas ?

winda savitri said...

Inspiratif :)

Ayos Purwoaji said...

@Bang Ipul: Berangkat baaang! :D

@Yudi: Hmm udah beberapa ali aku upload ditolak ama Youtube dan Vimeo, terlalu panjang Yud, hehehe. Nanti aku coba pendekin deh...

@Winda: Ah makasih *geer*

aRuL said...

keren, bulukumba jg salah satu tempat snorking keren :)

eh Malino tempat saya menghabiskan masa SMA :D

Arman Dhani Bustomi said...

oke kabarkan pipi bakpaw eh film ini!

Tekno a.k.a Bolang said...

waduh apik tenan pakdhe..makasih sharenya, kapan ya bisa membuat seperti itu..