Pages

6/22/11

DuaRansel on Nomadic Travel



Beberapa waktu lalu Hifatlobrain mewawancarai DuaRansel, pasangan nomadic-traveler yang memiliki perspektif menarik tentang gaya hidup berpindah tempat yang sudah mereka lakukan selama dua tahun terakhir.

A: Awalnya gimana kamu memulai hidup sebagai nomad traveler?
Itu dari tiga tahun lalu sih, kami berdua merasa hidup kita itu untuk karir. Saya pergi ke lab jam 8 pagi, pulang sampai rumah jam 9 malam. Nggak peduli musim semi atau salju kami tetap kerja, padahal di luar suhu biasa sampai minus 20 derajat.

Pulang kerja, sampai rumah, saya biasanya mencuci, masak, ngobrol sebentar, sudah tengah malam. Padahal masih harus bikin tugas kuliah. Suami saya juga sama sibuknya, jadi akhirnya kita bikin resolusi untuk hidup sebagai backpacker dan lebih banyak meluangkan waktu bersama…

A: Hidup kalian hectic sekali ya?
Iya, dulu setiap hari saya ketemu suami hanya beberapa jam saja, hahaha.

A:Keputusan menjadi backpacker ini dibicarakan dengan keluarga?
Iya, saya bilang mama, awalnya beliau khawatir sekali, apalagi saya ini calon scientist, masak mau meninggalkan gelar kesarjanaan yang selama ini saya kejar. Tapi tentu yang paling kaget adalah professor saya di college. Beliau langsung bilang, “Is it a joke?” saat saya mengutarakan niat untuk berkeliling dunia. Padahal sebelumnya sudah berencana untuk melanjutkan ke program PhD.

_______________________________
Dina, adalah seorang wanita cerdas yang menamatkan pendidikan S1 Kimia ITB, lantas gelar master ia tempuh di Kanada, dimana ia dan suaminya tinggal. “Memang cita-citaku jadi scientist, tapi ya sudah, akhirnya saya tinggalkan karena saya lebih bahagia menjadi seorang traveler,” kata Dina. Tawaran melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi pun akhirnya ditolak oleh wanita asal Surabaya ini.

"Aku remajanya kutu buku, suka science dan suka bikin PR. Setelah masuk kuliah, pokoknya bener-bener kimia deh. Cinta laboratorium! Hahaha. Oh ya, suka dance juga. Dulu sempat menekuni dance, tapi lebih pilih kimia jadi hobi menari terbengkalai. Sampai sekarang masih suka nonton So You Think You Can Dance (reality show di Amerika) dan bahkan sebelum masa nomadic aku suka datang di pertunjukannya, itu lho, yang kalo para pemenangnya tur keliling." Kata Dina.

Ia mengaku inspirasi terbesar untuk menjadi traveler adalah dari kakaknya. "Kalau backpacking sih, perencanaannya belajar dari berbagai pengalaman orang di BootsnAll.com forum."
_______________________________

A: Lalu bagaimana kalian memulai perjalanan? Bukankah kalian punya kehidupan yang harus ditinggalkan?
Iya, jadi setelah mempersiapkan diri selama setahun, pada April 2009 kami menyetop sewa apartemen dan menjual seluruh barang yang kami miliki. Nggak semua laku sih, barang kita soalnya juga murah-murah hahaha. Tapi beberapa barang elektronik laku sekitar 400 dollar. Jadi ya lumayan.

Beberapa barang yang memorable kita simpan di storage locker. Jadi benar-benar kita jadi total hidup nomaden. Tujuan awal kami ke Barcelona, tapi kami nggak naik pesawat, karena setelah dihitung-hitung naik kapal laut jauh lebih murah.

A: Kalian ini termasuk well-prepared traveler atau tidak?
Oh sama sekali nggak! Hahaha. Kami baru menentukan itinerary saat kita sudah punya kepastian kita mau menuju negeri apa. Bahkan pertama kali di Barcelona, kami sampe di sana masih belum booking kamar atau apa pun. Akhirnya kami pergi ke downtown untuk cari restoran yang ada free wifi-nya, barulah kami searching di internet saat itu.

A: Lho kalo nggak punya rencana, gimana kalian bisa menentukan tujuan perjalanan? Memang apa sih yang kalian cari di sebuah destinasi?
Hmm kalo aku sih lebih suka sama perbedaan kultural ya. Aku ingin tahu kenapa orang Eropa begini, orang Karibia begitu, orang Maroko begini. Aku nggak memandang mereka seperti strangers yang aku kasih penilaian stereotip. Aku lebih ingin menyelami kehidupan orang lain…

Karena nggak pake perencanaan macam-macam, kami justru sering mendapat surprise di tengah jalan. Nah kejutan-kejutan kecil seperti ini sangat alami, khas di sebuah daerah. Momen-momen seperti ini sangat kami nikmati. Aku nggak suka sesuatu yang palsu, yang ada karena turis gitu…

Katakanlah di sebuah perkebunan teh di Jawa, karena dibuka untuk turis akhirnya para pemetik daunnya harus pakai kebaya yang rapi. Padahal kan aslinya nggak gitu, mana ada pemetik teh pakai kebaya, palingan kan pakai kaos oblong. Nah, sesuatu yang bersifat turistik gini saya kurang suka.

Tapi ya kami juga nggak anti banget sama tepat turistik sih. Sesekali kami sempatkan untuk mengunjungi tempat-tempat yang turistik di sebuah negara. Aku yakin daerah itu punya keunikan yang akhirnya menjadi alasan mengapa tempat itu diserbu wisatawan. Bener kan?

A: Iya sih mbak. Nah tapi mungkin nggak sih kita dari Indonesia jadi nomadic traveler di Barat? Karena aku pikir perbedaan rate mata uang yang tajam membuat kita yang dari negara berkembang ini sulit menjadi nomad di Negara maju. Kalau kamu kan memulainya dari Kanada lantas menuju negera dunia ketiga, jadi masih sangat memungkinkan lah…
Aku pikir sih bisa ya, tapi memang harus bekerja lebih berat dibanding jika memulainya dari negara maju. Dulu aku sempat merasa seperti itu saat kami mengunjungi Scandinavia, itu kan negeri mahal juga. Ya kita tetep bisa dateng sih, tapi nggak bisa lama-lama. Duitnya cepet ludes. Hahaha.

Kalo di jalan ya diusahakan cari segala sesuatu yang paling murah. Contohnya saat kita di Nikaragua, kita pengen banget lihat matahari terbit di kawah Masaya Volcano. Nah untuk bisa lihat sunrise kita harus bermalam di sana, yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Kami mendatangi para ranger dan memohon ijin perkecualian. Akhirnya setelah perdebatan seru, kami diijinkan untuk bermalam di sana, tapi kami harus membayar uang sogokan. Tapi eh, itu malah kami nego lagi, sehingga akhirnya kami bisa bermalam gratis! Berkat teman kami yang manis dan fasih berbahasa Spanyol! Hehehe.

Ya kami bener-bener hidup superirit. Pernah di Jepang kita dapat penginapan murah sekali, sangat murah untuk ukuran Jepang. Tapiii akhirnya kami baru tahu kalau kamar itu adalah kerajaan kecoa. Bahkan di kloset pun keluar kecoa. Tapi mau gimana lagi, itu yang termurah yang bisa kita dapat sih. Pernah juga sekali waktu kami tidur hanya dengan memakai sleeping sack, jadi hanya beratapkan langit gitu, yah walaupun sebenarnya itu illegal sih... Haha…

A: Sampai kapan mbak kamu mau hidup sebagai nomad?
Waduh hahaha! Nggak bisa dijawab di siniii, soalnya ada mama…

_______________________________
Malam itu, orangtua Dina, Tante Tres, ikut serta dalam obrolan kami. Di usianya yang mencapai enam dasawarsa ini, Tante Tres harus mengakui bahwa dua putrinya ditakdirkan menjadi para pejalan yang hidup jauh dari orangtua. Kakak Dina, adalah seorang diver dan saat bekerja di sebuah perusahaan migas di Jakarta. Sedangkan si Bungsu, akhirnya hidup sebagai seorang avonturir yang berkelana keliling dunia.

“Ya akhirnya saya nggak bisa maksa, itu sudah pilihan hidup mereka, kadang rasa khawatir itu masih ada, apalagi yang dikunjungi Dina kan tak jarang daerah rawan konflik. Yang bisa saya lakukan cuma doa…” kata Tante Tres yang tinggal berdua saja dengan suaminya.

Wanita sepuh ini masih terlihat tegak, beberapa tahun lalu dia masih bisa menyelam di Bunaken. “Waktu itu pas ulang tahun saya, nah instrukturnya ngajak saya menyelam sampai delapan meter, padahal kan seharusnya cuma kedalaman lima meter saja. Awalnya saya sudah curiga lho, ini kok warna lautnya sudah beda ya?” kata Tante Tres disambut tawa Dina. “Ya mama dikerjain sama dive master-nya, hehehe…”
_______________________________

A: Selama dua tahun ini gimana, menurut mbak enak nggak sih jadi nomaden?
Memang tidak semua orang bisa menerima konsep hidup seperti ini. Ya aku benar-benar menikmati ya, meskipun harus hidup di luar batasan orang pada umumnya.

Resolusiku untuk bisa punya banyak waktu untuk suami juga akhirnya tercapai, meskipun mama selalu berharap kalau saya punya anak, tapi untuk sekarang itu belum bisa kami penuhi. Kalau sudah punya bayi, sebetulnya masih bisa hidup berpindah seperti ini, tapi mungkin harus menetap lebih lama daripada hidup kami sekarang yang bisa berpindah cepat.

Semua pengalaman menjadi nomad bagi aku hingga hari ini sangat worth it.

A: Berapa lama kalian bisa menetap di sebuah daerah?
Hmm, bisa sampai tiga bulan sih.

A: Mbak kalo menurut kamu, travel writing yang bagus itu seperti apa?
Aku suka travel writing yang ada nilai refleksinya: kamu dapet apa dari sebuah daerah? Semacam self improvement dan pembelajaran bagi diri sendiri. Tentu itu akan memberikan inspirasi bagi pembaca.

Saya justru kurang suka sama penulisan catatan perjalanan yang menghakimi sesuatu dengan pandangan stereotip. Sudah pasti dalam perjalanan lintas Negara seperti ini saya dihadapkan pada banyak karakter manusia dan ragam suku bangsa. Kalau kita melihat mereka seperti seorang strangers, maka sesungguhnya begitu pula pandangan mereka terhadap kita, para pelancong yang datang ke sebuah negeri asing.

Tapi barangkali justru hal-hal seperti itu, euphoria kecil dari culture lag seperti itu yang disukai di Indonesia ya?

A: Kalau ada lima travel blog yang paling kamu sukai itu apa saja mbak?
Di Indonesia atau internasional?

A: Internasional.
Oh aku suka wanderingearl.com, theplanetd.com, overyonderlust.com, kenkaminesky.com hmm sama apa lagi ya? Kurang satu ya? Ini aja deh, goseewrite.com.

Gaya menulis mereka cukup memberikan pengaruh juga pada cara menulisku. Aku ini belum pernah bikin travelogue sebelumnya. Aku nggak jago bikin reportase seperti ini. Aku jagonya bikin jurnal ilmiah, hahaha. Makanya dua tahun terakhir ini aku perbanyak baca travel blog bagus, aku mau belajar.

Aku juga kepikiran untuk bikin buku. Tapi belum tahu juga kapan naskahku bisa selesai, lha seringkali angle tulisanku itu berubah-ubah. Aku belum fokus sama satu titik. Maunya aku fokuskan dulu angle-nya biar semua tulisan di blogku itu punya arah. Kalo amburadul dan harus bolak-balik tulis ulang, kapan selesainya.

A: Bukunya bahasa Indonesia atau Inggris?
Indonesia.

A: Ah bicara tentang Indonesia, sepertinya kamu punya penyesalan ya seperti yang kamu tulis di blog: kalian sudah singgah di banyak Negara, tapi justru belum banyak mengeksplor Indonesia…
Iya, maka dari itu, mumpung pulang kampung seperti ini rencananya saya dan Ryan mau mengunjungi beberapa destinasi di Indonesia.

_______________________________
Pria jangkung berkacamata bernama Ryan ini adalah suami Dina sejak delapan tahun yang lalu. Mereka bertemu di Jepang dan setelah menikah Ryan membawa Dina tinggal di Kanada. Malam itu setelah menghabiskan sepiring sate kerang khas Sidoarjo, Ryan antusias mendengarkan saya bercerita tentang Papua. Tentang koteka juga. “Kami memang pengen sekali dateng ke Papua, nanti aku tanya kamu ya…” kata Dina.

Sebagai seorang programmer, Ryan bisa mengerjakan berbagai macam proyek secara online. Dari sinilah perjalanan mereka bisa terus berlanjut. “Sekarang aku sedang mengerjakan sebuah proyek online dengan kakakku.” Barangkali, di dunia ini, jika ada dua hal yang paling berarti di hidup Ryan, pasti itu adalah istri cantiknya dan sambungan internet cepat. “Susah sekali cari jaringan di Honduras, jadi aku terpaksa menetap dulu di kota untuk mengakses internet, setelah proyek benar-benar usai baru kami menjelajah lagi,” kata Ryan.

Memiliki sumber penghasilan selama perjalanan seperti yang dilakukan Ryan ini memang menjadi salah satu solusi bagi para traveler yang ingin membiayai proyek perjalanan jangka panjang. Menjadi progammer seperti Ryan, menjadi freelance journalist seperti Agustinus Wibowo, atau menjadi volunteer di puncak-puncak dunia adalah beberapa pekerjaan yang banyak dipilih. Pekerjaan yang tidak membutuhkan kantor dengan tembok bata dan jajaran kubikel di tengah dunia yang semakin borderless ini.

***

Obrolan kami malam itu begitu menyenangkan. Pasangan petualang ini membagi banyak cerita dari negeri-negeri yang jauh. Tak terasa sudah hampir empat jam kami bercengkerama, dan Tante Tres tampak sudah lelah dan mulai mengantuk. Sebelum pulang, Tante Tres sempat berbisik sambil tersenyum, “Saya juga sempat tanya Dina, sampai kapan dia mau hidup sebagai backpacker? Dia bilang: seterusnya…” []

Setelah interview oleh Hifatlobrain (image taken by Tante Tres)

Silahkan ikuti perjalanan mereka pada blog DuaRansel.com

12 comments:

Dina DuaRansel said...

Thank you banget Ayos, untuk interviewnya. Terlihat nervous ya, interview video pertama sih :D

Next tima kami akan modal sisir, kacamata (jadi ga keliatan kalo mata puter2 terus), dan dingklik (gue pendek bgt, haha)

Sampai ketemu hari Sabtu ini ya. Jam 6 sore, lokasinya di d'Kampoeng (Sutos) aja lagi, banyak makanan yang belum sempet kemakan di situ.

Art said...

Very inspiring, mas Ayos.
Buat mbak DIna, salam kenal yaa? ;)

winda savitri said...

You're so awesome! :)

Ayos Purwoaji said...

@ mbak Dina: Hehehe siap :)
@ Artika & Winda: Yep, semoga kalian bisa mengikuti jejak mereka :)

seniman vertex said...

wawancarane keren abis, harus banyak2 menabung dulu nih klo mo mencoba.
pengen ah kapan2 nyobain, setahun aja paling nggak, kuat nggak ya, haha.

Reni said...

Permisi, minta izin untuk berbagi artikel ini di akun Facebook saya. Makasih banyak . . .

Reni said...

Permisi, minta izin untuk membagi artikelnya di akun Facebook saya. Makasih . . .

Viera said...

kereeeen! Mauuuuu diwawancaraaaaaaaa jugaaaa \(^_^)/

Dina DuaRansel said...

Buat yang udah komen di atas, makasih banget ya :) :) Ayos, Outri, dan segenap anggota hifatlobrain, terima kasih besar juga!

Main-main ke DuaRansel ya, ditunggu lho :)

Ada acara kopdar di Sutos (d'Kampoeng) Sabtu besok (25 Jun) Pk. 6 sore. Kalau ada yang mau datang, langsung aja, the more the merrier! Let's talk travel and nomad!

umi said...

wah keren banget, bener2 menginspirasi!!!

salam kenal mbak dina..
salam kenal ayos....

Ayos Purwoaji said...

@ Umi: salam kenal mbak :)

Liburan Murah said...

Dua Ransel: my new IDOL! :)