Pages

6/9/11

Doctor Komuz

Text and photo by Cut Rindayu Asly

Akhirnya dari Uzbekistan, kota Ferghana, saya dan grup naik bus travel yang akan mengantar kita ke perbatasan Kyrgyzstan di kota Osh. Lumayan urus izin masuk lewat perbatasan di bawah todongan senjata sejenis AK-47 dari personel militernya, bawaan diendus anjing herder pelacak, dan karena mereka ngga punya mesin X-ray jadilah satu backpack dibongkar untuk pengecekan. Tidak lupa juga pagar kawat duri seperti di film-film perang. Bagusnya lagi, dari pos perbatasan sampai keluar wilayah Kyrgyz, saya mesti jalan kaki sekitar 200 meter saja sambil menenteng backpack yang beratnya ampun. Itu karena bus yang akan jemput kita ngga boleh menunggu di wilayah imigrasi pos perbatasan, harus di luar. Dan mereka tidak bisa bahasa Inggris lho, jadi saya harus memaksimalkan bahasa tubuh, dan gerakan tangan.

Akhirnya lolos juga dari pengecekan imigrasi pos perbatasan, lega. Kami berkendara lagi ke luasnya daratan dan pegunungan hijau di luar kota Osh. Tujuan kami adalah melewati pegunungan Pamir yang puncaknya di atas 7000 meter. Sebelum mencapai gunung bersalju, saya dan grup melintasi karpet hijau dataran tinggi Kyrgyz yang hijau sekali sejauh mata memandang. Mei kemarin memang awal musim panas, di sekitar ketinggian 1500 meter, saya dan grup beristirahat di sebuah yurt yang dijadikaan rest area. Tidak disangka disana ada beberapa rombongan akademisi yang mau menyambut delegasi penting dari China. Jadilah kita menonton mereka latihan musik tradisional dengan komuz (gitar tradisional Kyrgyz).

Singkat cerita, bapak yang di foto itu adalah seorang Ph.D yang berdomisili di Bishkek, ibukota Kyrgyzstan. Tapi maaf, saya lupa namanya, karena tidak sempat saya tulis. Ternyata dia memang hobi bermain komuz dari muda. Para akademisi itu memakai pakaian tradisional lengkap dan merupakan rejeki saya untuk bisa melihat mereka menyanyikan lagu bangsa nomad yang merdu sekali. []

Supermini travelogue ini ditulis oleh Cut Rindayu Asly, seorang wanita cantik berdarah Aceh yang mengelola sebuah warung mie dan aktif di sebuah NGO lingkungan. Tak banyak yang tahu bahwa wanita mungil ini memiliki tangan titisan BB King dan Chuck Berry.

2 comments:

Dwi Putri Ratnasari said...

uh, mbak, kamu keren sekali udah ke negeri -stan2 ;)

Cut said...

Iya pengalaman besar bisa lihat kehidupan di sepanjang jalur sutra, seru! Trims sudah membaca yah dan juga untuk Ayos :D