Pages

6/20/11

Trend: Travel Video


video courtesy of US Military (www.travelfilmarchive.com)

Pada bulan November 2010, saya pernah memposting sebuah pertanyaan di milis Indobackpacker (IBP). Intinya saya menanyakan: apakah diantara sekian ribu traveler Indonesia yang bergabung di milis tersebut ada yang suka membuat video perjalanan? Sayangnya thread diskusi yang saya buat tenggelam dengan cepat. Hanya ada satu orang yang mereply email saya. Dari pengalaman itu, saya jadi tahu kalo pembuatan dokumenter masih belum terlalu populer bagi traveler Indonesia. Meski begitu saya tidak luntur untuk mempromosikan media video sebagai alternatif dokumentasi perjalanan bagi para traveler.

Menurut saya, ada beberapa hal yang membuat pembuatan travel video ini kalah pamor dengan travel photography; Pertama, masalah peralatan pembuat video yang belum tentu dimiliki oleh semua pejalan di Indonesia. Ini wajar, karena pejalan masih lebih cenderung berinvestasi pada pembelian kamera. "Traveling tanpa bawa kamera itu bagai ksatria tanpa pedang," kata teman saya sok puitis.

Kedua, yang menjadi masalah serius barangkali karena post-production workflow yang lebih panjang dan ribet ketimbang foto. Biasanya kalo habis motret, set set transfer ke laptop, retouch di Photoshop, lalu diaplot deh di Flickr atau Facebook. Sedangkan video? Woho setelah mengambil banyak footage, Anda harus mengimpor gigaan file itu ke software pengolah video, lalu diedit, lalu dipotong-potong, lakukan compositing, masukin sound, lantas dirender cukup lama. Itu saja masih belum proses aplotnya yang sering bikin hati kecut, Anda tahu lah bagaimana koneksi internet rata-rata di Indonesia, wassalam. Maaakkkk! Siapa mau rempong seperti itu?

Tapi coba deh lihat video di atas yang dibuat oleh tentara Sekutu di tahun 1941. Mungkin film lawas berjudul "People of the Indies" ini bukan termasuk genre travel video, tapi film berdurasi 10 menit ini mampu mewakili semua gambaran ideal tentang mooi indie, Indonesia yang indah, dimana alam masih dalam kondisi prima dan kehidupan terasa begitu tenteram, kalo kata orang Jawa: gemah ripah loh jinawi. Melihat video ini saya jadi seperti time traveler yang kembali ke masa silam, dimana Batavia masih merupakan sebuah kota kecil dengan populasi yang belum sesak, dimana Ciliwung masih lancar mengalirkan airnya, dimana kata korupsi masih belum berjejal di telinga kita.

Tentu saja video memberikan dampak yang lebih besar dibanding foto. Karena selain visual, video juga melibatkan suara (audio) dan gerakan (motion), dua hal yang tidak mungkin ditangkap dari selembar foto biasa. Sehingga atmosfer sebuah pengalaman pun akan terekam lebih lebih sempurna jika ditampilkan dalam sebuah video. Praktisnya, medium video lebih mudah menciptakan theatre of mind ketimbang foto saja.

Syukur, dalam beberapa bulan terakhir, semakin banyak saja travel blogger lokal yang menggunakan medium video sebagai pengganti catatan perjalanan. Ada yang diolah sederhana saja, ada pula yang diedit dan ditambah efek berbagai rupa. Diantara mereka, ada beberapa yang memang menjadi favorit saya. Untuk masalah ini nanti kita bahas lain kali saja yes...

Melihat pergerakan yang cukup progresif itu, saya hanya ingin meramalkan bahwa tidak sampai dua tahun ke depan travel videography ini akan semakin populer di Indonesia. Pejalan akan semakin banyak yang bergerak untuk beralih dari medium fotografi konvensional menuju multimedia. Alasan saya cukup banyak, namun yang paling utama adalah semakin murahnya harga sebuah kamera saku yang mampu merekam video dengan kualitas hingga Full HD. Mengingat harga kamera yang selalu turun, maka semakin lama kamera jenis ini pasti makin mudah diakses oleh masyarakat luas.

Nah dari satu gadget perekam video sederhana seperti kamera saku atau Sony Bloggie hingga kamera HD profesional itulah trend pembuatan travel video di Indonesia dimulai. Hemat saya, semakin banyak video yang diunggah tentang Indonesia, maka semakin menarik pula promosi tentang Indonesia. Siapa tahu juga, video Anda suatu saat menjadi artifak berharga yang bakal disimak anak-cucu yang sudah hidup di era antar galaktika. Hahaha.

Jadi, apakah Anda sudah tertarik untuk membuat video perjalanan?

9 comments:

seniman vertex said...

di setiap perjalanan saya pasti bikin video dokumenter, sementara masih ngendon di hardisk sih XD.
walaupun videonya kadang seadanya jg + bbrp campur footages foto.

lagian mode video rata2 cepat menghabiskan batre camera.
kecuali kalo emang pake camcoder sekalian, yg dari awalnya sudah diset memiliki durability yg cukup untuk menghandle video.

tren dslr video skrng sudah lumayan, tp bbrp vendor camera masih membatasi kemampuan videonya misal durasi rekam panjang max 10 menit *ntah lupa saya apa karena peraturan perdagangan di US atau apalah* 'cmiiw'

semisal lagi 5dmarkII kalo dipake ngerekam sampe 5 menitan panasnya ampun dijeey... bahkan isunya post production studio di Jkt rata2 pake metode 'beli-pakai-jual' setiap kali dapat kerjaan Iklan atau video klip.

tp yang jelas saat ini dengan semakin kayanya fitur2 video di kamera poket maupun dslr, tinggal tunggu waktu saja travel video jd standart umum bukan trend lagi :)

Ayos Purwoaji said...

Itu dia mas Jeri, memangs etiap gadget ada kelebihan dan kekurangan. Kalo pake camcorder baterai awet, tapi harus bawa banyak gadget. Kalo sekalian sama kamera lebih ringkas.

Ya saat travel video sudah menjadi sangat umum, seharusnya saat itu sudah ditemukan cara lain yang lebih 'ngeri' untuk merekam sebuah perjalanan :p Hologram? Hehehe

widhibek said...

saya salah satu yang keracunan bikin trailer2an gara2 om giri prasetyo nih hahaha

beberapa hari ini jadi bongkar2 file2 lama yang tersebar di beberapa harddisk.

tapi kendala memang dengan koneksi internet mobile yang masih kurang stabil seperti ini lebih banyak file2 video yang ngendon di harddisk..

upload 3 mb aja musti berpuluh2 menit ahhahahaa....

lembaranpung said...

Gara-gara HFLB saya jadi kepingin punya video perjalanan saya sendiri. Cuman sampai saat ini masih kepentok sama kartu memory dengan giga terbatas. Hehe.

Ayos Purwoaji said...

@ mas Widhi: Ya begitulah perjuangan seorang video blogger, tapi kalo karyanya udah online tuh mendadak seneng banget :p Hehehe. Lanjutkan!

Ayos Purwoaji said...

@ mas Pung: Jangan bersedih kawan, jalan terbaik adalah pinjam memory card temen :p

dan sapar said...

aku pernah mbahas travel video ini sama teman jalanku, sisi, pas di ubud gara2 pas sarapan liat bule bikin reportase make handycam.

kayaknya klo pgn nyoba aq perlu belajar banyak utk ngolah videonya.

Tekno a.k.a Bolang said...

saya sedang berusaha membikinnya, terinspirasi dari sampeyan dan om Giri, Terimakasih atas virusnya, mari kita sebarkan tentang keindahan Bumi pertiwi ini lewat Travel documenter. eh tapi Ajarin dong buatnya..

evvn said...

mas..saya punya banyaak vidio.tapi males ngedit.trus piye jal?