Pages

7/30/11

Jember Fashion Carnival 2011


Ini adalah sebuah video tentang perhelatan fashion akbar ala Rio yang diadakan di Jember setiap tahun. Selama satu hari itu, energi menjadi berlipat kali lebih terasa di Jember, setiap orang turun ke jalan, berpanas-panasan untuk melihat setiap penampil yang berbaju meriah. Baju yang didesain dan dibuat sendiri selama berminggu-minggu dan hanya dipakai sehari itu saja.

Video yang berdurasi hampir lima menit ini memang cukup panjang. Putri beralasan: "So, here's the video that i've made. Sorry kepanjangan. Saya lagi happy pas bikin, jadi keterusan gitu..."

Di dalamnya ada beberapa still photo buatan Andrew Gromico dan Armand Dhani Bustomi, duet maut dari Majalah Tagalboto. []

Semarang: On Duty

Ki-Ka: Dwi Putri, Lukki, Giri, Mas Tekno
Photographs courtessy by Tekno Bolang

Seharian ini, seorang kru Hifatlobrain, Dwi Putri Ratnasari, menghadiri Festival Bee Kun di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang. Putri memanglah seorang festival hunter yang gigih, Ia tetap datang ke Semarang meski baru beberapa hari yang lalu ia menghadiri Jember Fashion Carnival. Semoga kekuatan Sam Poo Kong bisa merasuk dalam diri Putri agar tetap kuat menghadiri berbagai festival di Indonesia yang jumlahnya naudzubillah banyaknya.

Di festival ini Putri bertemu dengan Mas Tekno, seorang travel blogger ciamik asal Tangerang dan Giri Prasetyo, travel videographer yang sedap itu. Giri datang bersama Lukki, majikannya, hahaha. Dalam foto, Putri mengenakan topeng ala xìqǔ, opera tradisional Cina yang memiliki lukisan wajah khas. Ada sekitar 4000 topeng dengan 272 corak yang dikenakan pada Festival Bee Kun yang pertama di dunia ini. Topeng-topeng ini mewakili ribuan tentara Bee-Kun yang dikenal sebagai penjaga kuda Cheng Ho.

Semoga Putri dan Giri bisa membawa oleh-oleh berupa travel video yang meriah.

The Trawangan Tips

Pemandangan sepanjang garis timur Gili Trawangan.
Photos by Radit taken with Samsung Galaxy Mini

Overall, Gili Trawangan enak sekali untuk dikunjungi, apalagi untuk melakukan ritual getaway dari kehidupan urban yang sesak. Suasana pulau ini begitu tentram, meski kalo malam hingar-bingar di beberapa spot. Ada beberapa poin yang perlu dicermati kalo mau pergi ke Gili Trawangan:

1. Menempuh tiga jenis perjalanan yg berbeda (udara-darat-laut) yang harus ditempuh berkesinambungan untuk menuju pulau ini. Agak exhausting untuk orang tua, orang yang gampang mabuk dan anak kecil.

2. Air! Dimanapaun kamu menginap pasti mandi air asin. Kalo nggak suka mandi air asin jangan pergi ke Trawangan, hahaha.

3. Di Trawangan nggak ada kendaraan bermotor. Buat yang gampang capek ya sewalah sepeda angin atau bendi lokal bernama Cidomo. Tapi menurut saya sih enakan juga jalan, toh pulaunya kecil. Cuma butuh dua jam saja untuk mengkhatamkan Trawangan.

4. Bukan Bali KW. Lombok bukan Bali. Penduduk mayoritas adalah suku Sasak yg muslim, tapi Hindu Bali juga ada. Kehidupan (sosial, fasilitas, budaya, dll) di Lombok juga jauh berbeda dengan Bali. Jadi jangan menaruh ekspektasi yang sama.

5. Bukan tempat belanja. Nggak banyak fasilitas shopping di Trawangan (atau bahkan ga ada!). Jadi ya jangan harap menemukan tempat blanja ini itu (suvenir, makanan, dll) di Trawangan.

6. Bawa duit yang banyak karena expense pasti banyak: Transport udara-darat-laut, ongkos nginap, ongkos makan, ongkos wahana (snorkling, banana boat, dll). Tapi jangan kuatir, walaupun terpencil tapi ada gerai ATM bank besar kok di sana.

Sekian dan selamat menikmati Trawangan!

_________________________________________









Radit, seorang illustrator handal dan pecinta Bjork. Nama aslinya panjang: Rahadityo Mahindro Bhawono. Koleksi musik dan filmnya patut dibajak dengan beberapa hardisk eksternal sekaligus. Besar dan tinggal di Surabaya membuat Radit suka mengumpulkan remah arsip sejarah kota ini. Konon ia pemarah, tapi pacarnya selalu cantik. Heran deh.

Follow him @RaditAndrogyny

_________________________________________

Wanderlust


Selama bulan Juni ini ada satu lagu yang highly rotated di playlist saya. Lagu berjudul "Wanderlust" milik Bjork ini memang tidak mudah dipahami. Seperti lagu Bjork yang lain, komposisinya selalu ganjil namun selalu membuat ketagihan. Berbagai bunyi-bunyi aneh pun kerap muncul di telinga, bahkan sejak awal. Suara burung-burung laut, mesin berat, dok kayu yang keropos, ombak kecil, bel pelabuhan, dan sirine kapal saling bersahutan membuat imaji saya melayang pada sebuah pelabuhan yang penuh dengan feri dan bau kecing.

Wanderlust
/ˈwɒn.də.lʌst/ sendiri berarti: "the wish to travel far away and to many different places" Oh my, saya memang sedang ingin pergi menjelajah tempat-tempat menarik di penjuru kolong langit. Dan lagu ini semacam pengantar yang tepat untuk perasaan saya.

"I feel at home whenever // The unknown surrounds me..."

Saya memang kangen dengan perasaan itu. Perasaan menjadi debu alam raya di tengah-tengah sebuah tempat yang tidak saya kenali. Lantas dengan muka penuh senyum mereka mengundang saya untuk bermalam di rumah, makan makanan yang sama, makan dari piring yang sama, tidur di bawah atap yang sama.

Perasaan wanderlust ini juga mungkin yang dirasakan oleh Agustinus Wibowo dengan pengelanaannya. Menjadi bukan siapa-siapa di tanah yang asing. Tidak menjadi apa-apa. Lantas menjadi spon kering yang menyerap saripati hidup.

"Itu yang membedakan wartawan bagus dengan "wartawan Google", Yos..." kata Mas Farid Gaban beberapa waktu lalu. Perasaan wanderlust ini yang mengajak wartawan beneran untuk keluar dari kubikelnya, menjelajahi domain dan destinasi baru karena rasa ingin tahu. Tidak seperti "wartawan Google" yang hanya berada di balik keyboard untuk menulis fakta yang tidak pernah diketahuinya secara benar. "Pekerjaan pertama seorang wartawan adalah pekerjaan kaki, baru kemudian pekerjaan tangan, tulis-menulis …” kata Sindhunata.

Selain lagunya yang bagus, saya juga suka dengan videonya yang ciamik. Bjork memang tidak pernah biasa membuat video. Termasuk di lagu "Wanderlust" ini. Ada kolaborasi yang cantik antara ilustrasi, efek 3D, dan seni bluescreen di dalamnya. Ceritanya sendiri menurut saya sangat dipengaruhi oleh mitos pagan Icelandic yang kental. Itu sangat kentara pada sosok dewa dan pakaian Bjork.

Dalam video itu juga ada kesan campur tangan Tuhan dalam sebuah perjalanan. Bagaimana Tuhan mampu mengubah destinasi dan destiny kita dalam sekejap. Saya selalu percaya, ada banyak kebetulan yang terjadi dalam perjalanan. Kisah-kisah coincidental seperti ini hanya Tuhan yang bisa atur. Dan saya selalu percaya: God always save the traveler! []

Via Pacet

Text and photos by Ayos Purwoaji

Judul diatas tampak begitu aneh bukan? Itu memang judulnya Via Pacet, tidak kurang tidak lebih. Jadi ini merupakan pengalaman baru saya mencoba rute Malang - Surabaya melewati Batu - Cangar - Pacet - Krian. Jalur ini sepi dan bebas macet, tidak seperti jalur Pandaan yang mau nggak mau harus lewat Lumpur Lapindo yang gersang dan penuh debu itu.

Melewati Kota Batu sangat menyenangkan, ada banyak pemandangan yang bakal membuat kita berhenti sesekali dan mengambil kamera untuk memotret. Barisan bukit dan ladang-ladang apel menjadi teman sepanjang perjalanan. Ada pula jembatan besi yang melintas ngarai raya yang memiliki air terjun mini. Hawa sejuk dengan konsisten membelai badan yang akan mengigil kedinginan jika bersepeda tanpa jaket. Sesekali truk modifikasi akan lewat membawa beban berkilo-kilo wortel, kentang, dan hasil pertanian lain. Di atas tumpukan sayur itu, duduk para petani yang membalut tubuh dengan baju berlapis-lapis yang menjaga nafas mereka tetap hangat.

Mampirlah ke Cangar, ada sebuah pemandian air panas yang selalu ramai oleh pengunjung. Ada empat kolam, mewakili empat tingkatan panas: Lumayan panas, agak lumayan panas, hampir nggak panas, dan hambar. Kolam paling hambar ini buat anak-anak kecil yang bergembira dengan lingkaran pelampung bebek di pinggang mereka. Panasnya: sama sekali tak panas. Memang di Cangar tidak ada kolam yang benar-benar panas. Tidak ada tantangan yang patut dibanggakan di Cangar.

Mampirlah juga di Pacet, sebuah kota kecil yang berada di balik punggung dua gunung. Masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Mojokerto. Pacet juga punya pemandian air panas yang penah nahas pada tahun 2002, batu-batu besar ambrol mengubur pemandian ini. 31 orang tewas, 14 diantaranya hilang.

Saya mencoba pentol bakar di Pacet. Ini semacam snack lokal berupa bulatan-bulatan kecil yang terbuat dari tepung kanji lantas ditusuk dan dibakar seperti sate. Bumbunya berupa sambal kacang. Makan sepuluh tusuk pun tak akan terasa kenyang. Penjualnya masih muda, lebih muda dari saya. Memakai setelan kaos dan jeans dan bertopi hitam. Di ujung topinya ada bordiran berlambang "M" berwarna lime-green yang serupa cakaran macan. Itu adalah lambang minuman berenergi asal luar negeri yang memiliki motto "A lifestyle in a can"; Monster Energy.

Sambil menunggu sate pentol saya gosong, saya melihat beberapa pemuda Pacet mengenakan topi berlambang Monster Energy yang berlalu lalang dengan motor bebek. Saya pun bertanya pada adik penjual pentol bakar,"Dik, pemuda sini banyak yang pake topi lambang "M" ya?"

Adik penjual pentol menjawab:"Woh iya mas, ini memang produk asli Pacet! Itu konveksinya ada di ujung jalan..."

Sepuluh tusuk pentol bakar dihargai 5000 perak. Minumnya, kami membeli sebotol Air Ketan, sebuah minuman fermentasi tape ketan hitam yang rasanya semriwing. Mungkin semacam tuak lokal dengan kadar alkohol yang superringan. Membuat badan terasa hangat.

Badan kami terus hangat bahkan sampai setelah meninggalkan Pacet. Padahal setelah Pacet, hawa gunung hilang sudah. Dan di Krian, seluruh petak tanah sudah berganti menjadi pabrik. []

Peta rute Via Pacet, klik untuk memperbesar.
Map by Google.

7/18/11

Semarang

Photo by Ayos Purwoaji

Sebuah parit di depan terminal Semarang yang sangat tidak mbois itu. Diambil pada dini hari, satu jam sebelum matahari terbit.

7/17/11

Share It Everyday

Photos by Vega Probo

Hifatlobrain diundang oleh National Geographic Indonesia untuk menyampaikan sebuah presentasi tentang travel blogging. Acara yang bertempat di Pacific Place ini juga menghadirkan mbak Vega Probo (NG Traveler) dan Ary Hartanto (arsitek, moderator Forum NG). Acaranya lumayan seru karena hadirin yang datang terdiri dari berbagai level umur, mulai ibu-ibu sampai pemuda ababil. Hehehehe.

Serunya, akhirnya bisa bertatap muka dengan mbak Loly Fitri, mas Tekno Bolang, Idham Rahmanarto, Dani Dahniar, Idznie, dan beberapa temen lain. Sedaplah pokoknya.

Maka, sebagaimana sebelum-sebelumnya, akan saya share materi yang kemarin dibawakan Hifatlobrain. Silahkan diunduh.

Share It Everyday

7/12/11

Cerita Pejalan

"Pejalan yang baik selalu bercerita dari mata kaki, dan dia memberikan definisi tentang tempat yang disinggahi dengan sembrono..."
(Islahuddin Hilal, 2011)

Seorang teman baik cum editor handal yang tinggal di Jogja, Islah, mengatakan hal tersebut pada sebuah sesi wicara santai di sebuah kedai kopi. Kata-kata tersebut adalah hasil kontemplasinya menyikapi catatan perjalanan terkenal berjudul "Istanbul" yang ditulis oleh Orhan Pamuk, sastrawan dunia penerima Nobel.

"Buku ini harus kamu baca, Yos! Isinya dahsyat, tentang bagaimana catatan para pejalan mampu merubah atmosfer sebuah kota. Istanbul menjadi kusam karena definisi yang diberikan para pejalan masa lalu..." kata Islah.

"Lalu mengapa musti mendefinisikan sebuah kota dengan sembrono, Mas?" tanya saya.

"Iya, karena tidak ada definisi yang presisi dari sebuah perjalanan. Bukankah para pejalan itu hanya numpang singgah saja di sebuah kota? Tentu dia tidak akan khatam memaknai sebuah kota dalam perjalanan sesingkat itu..." kata Islah.

Deg.

The Tears of Chernobyl

Chernobyl photographs project by Robert Knoth

Kemarin, saya menyempatkan diri ke Sangkring Art Space setelah berkunjung dari Padepokan Tari Bagong Kussudiardja di Bantul. Kebetulan hari itu di Sangkring ada pameran foto tentang petaka nuklir di Chernobyl milik fotografer Robert Knoth.

Pameran berjudul "Sertifikat no. 000358/" ini memajang puluhan foto hitam putih yang diambil Knoth sejak akhir 1990-an, ia mendokumentasikan kehidupan orang-orang biasa yang terpapar kelalaian luar biasa. Melalui karyanya, kita dihadapkan tidak hanya pada segala penyakit yang harus ditanggung tiap orang, tapi juga keputusasaan yang mereka hadapi berkaitan dengan masa depan, serta disintegrasi keluarga dan masyarakat yang memilukan.

Saya melihat ada usaha yang luar biasa dari Robert untuk metani satu persatu korban Chernobyl. Dengan hormat ia mengabadikan rasa pilu itu menjadi sebuah gambar yang indah sekaligus takzim. Saya tidak melihat banyak adegan bombastis di dalam foto-foto Knoth -kecuali beberapa fragmen dalam seri foto Anna Pesenko. Yang saya lihat justru keheningan yang luar biasa dari rangkaian foto ini. Nestapa, duka, dan segala cacat tubuh ini menjadi saksi bisu bagaimana perang dan percobaan energi yang salah bisa menjadi bencana yang begitu panjang dan memilukan.

Barangkali benar kata Chairil Anwar; nasib adalah kesunyian masing-masing. Dalam hening itu juga masyarakat yang tinggal di bawah bayang-bayang radiasi nuklir mencoba untuk terus bertahan hidup. Di dalam mata bola generasi muda yang cacat, kita masih bisa melihat semangat hidup yang luar biasa. Seperti kisah Anna Pesenko, yang dengan khusus dibuatkan sebuah seri foto oleh Knoth.

Anna Pesenko (21) menjadi salah satu korban Chernobyl meski pada saat tragedi itu terjadi pada tahun 1986, ia belum lahir. Sejak kecil, Anna mengidap tumor otak dan harus menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas tempat tidur. Sama seperti tujuh juta anak korban Chernobyl lainnya, namanya berganti dengan angka. No. 000358 adalah nama Anna dalam arsip pemerintah.

Knoth, dengan intim mengambil gambar Anna sejak tahun 2005. Saat itu wanita muda ini masih berumur 15 tahun, dan menderita karena tumor yang menggerogoti otaknya. Fragmen-fragmen kecil hidup Anna terekam jelas dalam foto-foto yang diambil Knoth selama enam tahun lamanya. Tapi tidak semua bicara tentang kesakitan, justru setengahnya Knoth bercerita tentang kisah senang Anna mendatangi prom nite atau menghadiri wisuda sekolah. Ada harapan hidup yang luar biasa dalam diri Anna, dari situ kita perlu belajar banyak.


Gudabayerdinsk, Rusia (2000)
Ilis Gareyev (13) begitu lemah sehingga ia harus beristirahat setiap kali pulang sekolah, sama seperti anak-anak lain di desanya. Ia sangat pendek untuk anak seusianya, dan sistem ketahanan tubuhnya rapuh. Di sekolah ia lambat belajar karena sulit berkonsentrasi dan menghapal.

Gomel, Belarus (2010)
Dalam beberapa tahun terakhir, kekuatan Anna telah pulih sebagian. Dengan bantuan guru-gurunya, dia bahkan bisa lulus ujian dengan sukses. Tahun 2011, kondisi Anna tampak stabil meski ia masih sangat lemah dan harus banyak berbaring. Dia senang mendengarkan musik pop Rusia dan bermimpi untuk menjadi seorang DJ suatu hari nanti.

Veznova, Belarus (2005)
Natasha Popova (12) dan Vladim Kuleshov (8). Natasha lahir dengan mikrosefali, kepala yang terlalu kecil. Vadim mengidap penyakit tulang, juga memiliki keterbelakangan mental.

Narodichi, Ukraina (2005)
Minggu siang di Narodichi, sebuah desa kecil yang terletak hanya beberapa kilometer dari Zona Tercemar yang tertutup (Zona-1). Daerah ini terletak di Zona-2, yang artinya tidak ada yang boleh bermukin di sini, mereka hanya bisa pergi. Tanah di desa ini, serta di sekitarnya, telah tercemar. Pemindahan penduduk sulit dilakukan; kebanyakan dari mereka tidak punya uang untuk itu. Mereka hanya menerima 40 sen dolar dari pemerintah tiap bulan untuk membeli makanan bersih.

Semipalatinsk, Kazakhstan (1999)
Pertumbuhan Ainagul (6) berhenti ketika umurnya tiga tahun. Ayahnya berasal dari Desa Znameka, dekat lokasi ujicoba Polygon. Kedua orangtua Ainagul malu akan kondisi putrinya, sehingga mereka mengeluarkannya dari sekolah.

PS: Makasih buat mas Islahuddin Hilal yang telah menemani.

7/8/11

Let's Picnik!

Shutter-happy monkey turns photographer by David Slater (via Guardian)

Saya baru mencoba sebuah perangkat pengolah gambar bernama Picnik. Ini bukan barang baru, saya mengenal Picnik sejak setahun lalu, tapi interfacenya masih nggak asyik. Nah kemarin saat saya meng-install-nya menjadi sebuah aplikasi (app) di Google Chrome, ternyata sudah banyak perubahan besar (dalam hal interface dan juga fitur) di dalam Picnik. Ada banyak kemudahan dan efek keren yang ditawarkan membuat online photo editor ini menjadi begitu mudah dicintai.

Bagi pejalan seperti saya, program pengolah foto online seperti Picnik ini sangat penting. Seringkali saya harus pergi ke suatu tempat tanpa membawa laptop karena berat, padahal ada beberapa foto yang harus segera saya kirim atau upload. Tentu saja foto-foto itu tidak mungkin saya kirim dalam file aseli yang berukuran besar. Musti saya edit dan resize dulu kan? Masalahnya, tidak di setiap warnet di daerah memasang program Photoshop di komputernya. Maka di sinilah peran program pengolah gambar online menjadi sangat penting. Karena kita tak perlu meng-install-nya. Cukup masuk ke web, unggah foto, edit foto, lalu download foto yang sudah jadi. Selesai.

Ini adalah hasil foto yang saya edit melalui Picnik, di bawahnya ada screenshoot work tool yang ada di Picnik.

Hasil retouch dengan menggunakan efek lomo di Picnik.

Worktool yang ada di Picnik

Sebetulnya selain Picnik ada banyak pengolah foto online lainnya yang lumayan. Contohnya adalah http://pixlr.com/ atau http://editor.pho.to/, tapi menurut saya tidak se-catchy Picnik. Jadi yaaa secara pribadi saya memilih Picnik yang unyu itu, karena hasilnya tak kalah dengan olah digital di Photoshop.

Tapi kalo memang pengen hasil yang advance seperti Photoshop sedangkan Anda males bawa laptop, maka silahkan pakai Photosop Portable yang ukurannya mini dan bisa diinstall di flashdisk. Ini adalah solusi yang canggih, meskipun saya sering lupa bawa flashdisk.

Dulu saya pernah hidup selama enam bulan dengan Photoshop Portable karena malas menggunakan Photoshop aseli. Dengan portable apps ini saya mengedit ratusan foto dan baik-baik saja. Sayang, setelah lama digunakan, kadang sering hang. Mungkin program semacam itu memiliki banyak bug yang membuat kinerjanya tidak seasoi Photosop aseli.

Masih varian di Photoshop, saya suka sekali menggunakan Photoshop for Android yang tampilan mukanya mengadopsi teknologi touchscreen. Saya meng-install versi pertama di android saya, dengan perangkat mini saya bisa mengedit foto dan membaginya melalui Twitter.

Tampilan muka Photoshop for Android (via Mobilecrunch)

Photoshop for Android ini sangat taktis, hanya dengan menyeret jari di atas layar saya bisa mengatur brightness, contrast, saturation, dan fitur dasar lainnya seperti yang ada di Photoshop aseli. Dan karena sudah menjadi satu dengan gadget yang saya bawa, maka saya memberikan nilai lebih untuk sifatnya yang sangat mobile dan instan ini. Saya tak perlu membawa flashdisk dan mencari warnet untuk mengolah gambar seadanya dan menyebarnya di timeline atau blog. []

7/2/11

The Rise of Expedition

Saya memperhatikan ada sebuah tren baru yang muncul dalam dunia travel di Indonesia saat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, makin banyak saja orang yang melakukan travel-on-mission atau dalam bahasa kerennya ekspedisi.

Sebetulnya ini bukan barang baru. Don Hasman pada tahun 1970-an sudah melakukan ekspedisi di pedalaman Kalimantan dalam rangka napak tilas peneliti Belanda, Anton Willem Nieuwenhuis di Pegunungan Muller. Wanadri bekerja sama dengan angkatan laut juga membuat ekspedisi pendataan pulau-pulau terluar di Indonesia yang dinamakan Ekspedisi Garis Depan Nusantara. Mahitala Unpar baru-baru ini berhasil menyelesaikan ekspedisi Seven Summit.

Hanya saja yang patut dicermati adalah; saat ini mulai bermunculan ekspedisi bersepeda motor keliling negeri. Saya tidak tahu siapa yang memulai, tapi sejauh pengamatan Hifatlobrain, Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa yang dilakoni oleh Farid Gaban dan Ahmad Yunus adalah yang yang pertama.

Anehnya, ekspedisi touring semacam ini kebanyakan beranggotakan dua orang. Saya tidak tahu apa hubungan berbagai ekspedisi ini dengan film The Motorcycle Diaries atau seri dokumenter BBC "Long Way Down" yang dibintangi oleh Ewan McGregor dan Charley Broorman. Mungkin memang perjalanan panjang bermotor itu lebih pas dua orang, sama seperti perjalanan saya dengan Nuran Wibisono. Jika terlalu banyak, bising. Jika sendiri, mati bosan.

Jadi, barangkali, berdua adalah format touring favorit untuk jangka waktu yang tidak sebentar.

Tentu saja perkembangan ini sangat menarik untuk diikuti. Karena, seperti yang saya bilang, sebuah ekspedisi itu adalah travel-on-mission, jadi pasti ada hasil dan riset yang dibuat selama perjalanan. Tentu saja ini adalah hal yang sangat berharga. "Banyak orang melakoni traveling, Yos, tapi sangat sedikit yang menulis..." kata Farid Gaban dalam sebuah obrolan.

Seperti ekspedisi Zamrud Khatulistiwa yang dilakukan Farid Gaban selama 10 bulan, dari situ dia menghasilkan 10 buku tentang Indonesia dan sebuah film dokumenter tentang perjalanannya. Canggih bukan? Maka menurut saya, keberhasilan sebuah ekspedisi bukan lagi tentang jarak atau destinasi, tapi lebih kepada output dari ekspedisi tersebut.

Namun perkembangan teknologi informasi hari ini sudah sangat membantu. Hampir setiap ekspedisi pasti memiliki website, fanspage di Facebook, atau bahkan Twitter untuk membagi hasil dari perjalanan tersebut. Dengan bantuan social media pula para audien bisa ikut berkomentar atau memberikan dorongan bagi anggota ekspedisi.

Maka berikut ini adalah tiga buah ekspedisi bersepeda motor di Indonesia yang masuk dalam database Hifatlobrain Travel Institute.

1. Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa

Ahmad Yunus dan Farid Gaban



Wartawan Farid Gaban dan Ahmad Yunus keliling Indonesia selama delapan bulan bersepeda motor, mengunjungi, mendokumentasikan dan mempublikasikan lewat produk multimedia kehidupan di 80 pulau pada 50 gugus kepulauan Nusantara yang tersebar di empat penjuru, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote.

Mereka bersepeda motor menyusuri pesisir pulau-pulau besar Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Perjalanan ini adalah kombinasi antara petualangan di alam dan kesenangan menikmati keindahan yang sederhana; perjalanan jurnalistik karena mereka berdua wartawan; serta pembelajaran tentang hidup di laut dan pulau-pulau yang tak mungkin diperoleh dari buku, perpustakaan atau bangku kuliah.

Dari situ Farid dan Yunus merekam secara multimedia alam serta manusia kepulauan Nusantara: seni-budaya, ekonomi-sosial, lingkungan.

Output ekspedisi dalam bentuk fetature/foto untuk koran dan majalah, buku, risalah riset, buku-foto (coffee-table format), video dokumenter, pameran foto, termasuk hasil jepretan bawah air di beberapa lokasi selam, sketsa watercolor.


Website:
http://zamrud-khatulistiwa.or.id/

2. Ekspedisi Ring Of Fire Adventure

Tim RoF Adventure



Bapak anak, Youk Tanzil dan Giovani Tanzil, melakukan perjalanan melintas Nusantara untuk membuat sebuah film dokumenter yang memperlihatkan keindahan, keajaiban, dan realitas di Indonesia.

Ekspedisi ini dilakukan dengan menggunakan sepeda motor agar memudahkan mereka untuk mengeksplorasi berbagai destinasi yang belum populer sehingga dapat menyibak gambaran sesungguhnya tentang Indonesia. Mereka masuk kedalam hutan, melintas sawah, pantai, dan pedesaan dalam rangka melebur bersama masyarakat lokal.

Misi mereka dalam ekspedisi ini adalah meningkatkan kesadaran pada realitas sosial di Indonesia dan memberikan akses kepada masyarakat untuk melakukan sesuatu bagi Indonesia.

Ekspedisi ini dipecah ke dalam lima fase. Tahap pertama mereka berdua akan memulai dari Kupang dan melanjutkan perjalanan selama 45 hari ke arah barat menuju Jakarta, melintas sembilan provinsi sepanjang 6000 kilometer.

Website: http://ringoffireadventure.com/

3. Ekspedisi Indonesia Exploride

Wulung Damardoto dan Aditya Birawa



Mimpi keliling Indonesia itu akhirnya terwujud. Bikers Wulung Damardoto dan fotografer Aditya Birawa kini mulai menikmati indahnya kota-kota di Tanah Air dengan bendera Indonesia Exploride.

Bagi Ungki (bikers) dan Ditto (fotografer), ini merupakan langkah awal mewujudkan mimpi mereka tahun 1998 menjelajahi bumi nusantara selama 184 hari dengan menempuh jarak 19.100 kilometer. Didukung Djarum Apresiasi Budaya, Ungki dan Ditto baru menjalani sebagian kecil rute besar menelusuri provinsi dari Sumatera, Kalimantan, Indonesia Timur dan Nusa Tenggara.

Melalui Indonesia Exploride ini, Ungki dan Ditto sudah memulai langkahnya mewujudkan mimpinya mempromosikan Indonesia. Hasil perjalanan ini nantinya akan ditayangkan di stasiun televisi swasta. "Ini (Indonesia Exploride) bukan acara bikers. Ini murni upaya untuk mempromosikan Indonesia. Obsesi saya mempromosikan Indonesia melalui bikers. Masak kita kalah dengan Nigeria. Indonesia punya segalanya, ada hutan, gunung, gurun ada Bromo. Bikers asing ke Indonesia kok tidak ada yang mengelola? Ini potensi besar lho," katanya bersemangat.

Usai Indonesia Exploride, impian Ungki berikutnya adalah membuat program wisata bagi pengguna motor besar untuk menjelajahi Sumatera, Kalimantan, dan Indonesia Timur.

Website: http://wd-integrated.com/indonesiaexploride/

***
Perkembangan ini sangat menggembirakan. Semakin banyak orang melakukan ekspedisi, tentu semakin banyak output berupa data dan dokumentasi yang berharga. Semakin banyak ekspedisi maka semakin banyak pula racun yang disebar pada anak-anak muda untuk keliling negeri. Jadi, diantara pembaca apakah ada yang ingin melakukan petualangan serupa?