Pages

7/12/11

Cerita Pejalan

"Pejalan yang baik selalu bercerita dari mata kaki, dan dia memberikan definisi tentang tempat yang disinggahi dengan sembrono..."
(Islahuddin Hilal, 2011)

Seorang teman baik cum editor handal yang tinggal di Jogja, Islah, mengatakan hal tersebut pada sebuah sesi wicara santai di sebuah kedai kopi. Kata-kata tersebut adalah hasil kontemplasinya menyikapi catatan perjalanan terkenal berjudul "Istanbul" yang ditulis oleh Orhan Pamuk, sastrawan dunia penerima Nobel.

"Buku ini harus kamu baca, Yos! Isinya dahsyat, tentang bagaimana catatan para pejalan mampu merubah atmosfer sebuah kota. Istanbul menjadi kusam karena definisi yang diberikan para pejalan masa lalu..." kata Islah.

"Lalu mengapa musti mendefinisikan sebuah kota dengan sembrono, Mas?" tanya saya.

"Iya, karena tidak ada definisi yang presisi dari sebuah perjalanan. Bukankah para pejalan itu hanya numpang singgah saja di sebuah kota? Tentu dia tidak akan khatam memaknai sebuah kota dalam perjalanan sesingkat itu..." kata Islah.

Deg.

2 comments:

Dwi Putri Ratnasari said...

Ribet ngomongi catatan perjalanan ya... begini dosa, begitu dosa...

Tekno a.k.a Bolang said...

setuju dengan sembrono nya he he