Pages

7/8/11

Let's Picnik!

Shutter-happy monkey turns photographer by David Slater (via Guardian)

Saya baru mencoba sebuah perangkat pengolah gambar bernama Picnik. Ini bukan barang baru, saya mengenal Picnik sejak setahun lalu, tapi interfacenya masih nggak asyik. Nah kemarin saat saya meng-install-nya menjadi sebuah aplikasi (app) di Google Chrome, ternyata sudah banyak perubahan besar (dalam hal interface dan juga fitur) di dalam Picnik. Ada banyak kemudahan dan efek keren yang ditawarkan membuat online photo editor ini menjadi begitu mudah dicintai.

Bagi pejalan seperti saya, program pengolah foto online seperti Picnik ini sangat penting. Seringkali saya harus pergi ke suatu tempat tanpa membawa laptop karena berat, padahal ada beberapa foto yang harus segera saya kirim atau upload. Tentu saja foto-foto itu tidak mungkin saya kirim dalam file aseli yang berukuran besar. Musti saya edit dan resize dulu kan? Masalahnya, tidak di setiap warnet di daerah memasang program Photoshop di komputernya. Maka di sinilah peran program pengolah gambar online menjadi sangat penting. Karena kita tak perlu meng-install-nya. Cukup masuk ke web, unggah foto, edit foto, lalu download foto yang sudah jadi. Selesai.

Ini adalah hasil foto yang saya edit melalui Picnik, di bawahnya ada screenshoot work tool yang ada di Picnik.

Hasil retouch dengan menggunakan efek lomo di Picnik.

Worktool yang ada di Picnik

Sebetulnya selain Picnik ada banyak pengolah foto online lainnya yang lumayan. Contohnya adalah http://pixlr.com/ atau http://editor.pho.to/, tapi menurut saya tidak se-catchy Picnik. Jadi yaaa secara pribadi saya memilih Picnik yang unyu itu, karena hasilnya tak kalah dengan olah digital di Photoshop.

Tapi kalo memang pengen hasil yang advance seperti Photoshop sedangkan Anda males bawa laptop, maka silahkan pakai Photosop Portable yang ukurannya mini dan bisa diinstall di flashdisk. Ini adalah solusi yang canggih, meskipun saya sering lupa bawa flashdisk.

Dulu saya pernah hidup selama enam bulan dengan Photoshop Portable karena malas menggunakan Photoshop aseli. Dengan portable apps ini saya mengedit ratusan foto dan baik-baik saja. Sayang, setelah lama digunakan, kadang sering hang. Mungkin program semacam itu memiliki banyak bug yang membuat kinerjanya tidak seasoi Photosop aseli.

Masih varian di Photoshop, saya suka sekali menggunakan Photoshop for Android yang tampilan mukanya mengadopsi teknologi touchscreen. Saya meng-install versi pertama di android saya, dengan perangkat mini saya bisa mengedit foto dan membaginya melalui Twitter.

Tampilan muka Photoshop for Android (via Mobilecrunch)

Photoshop for Android ini sangat taktis, hanya dengan menyeret jari di atas layar saya bisa mengatur brightness, contrast, saturation, dan fitur dasar lainnya seperti yang ada di Photoshop aseli. Dan karena sudah menjadi satu dengan gadget yang saya bawa, maka saya memberikan nilai lebih untuk sifatnya yang sangat mobile dan instan ini. Saya tak perlu membawa flashdisk dan mencari warnet untuk mengolah gambar seadanya dan menyebarnya di timeline atau blog. []

2 comments:

Philardi ogi said...

wow, nais inpo...
terima kasih..

Alfonsus D. said...

wah, saya juga baru coba kmaren,
kebetulan lagi coba Google+, waktu aplod foto untuk profpic udah ada pilihan edit pake Picnik.

banyak efek yang unik-unik, tapi loading picniknya lama, atau mungkin karena internet saya yang lemot ya. :hammers

Nice info overall :D