Pages

7/12/11

The Tears of Chernobyl

Chernobyl photographs project by Robert Knoth

Kemarin, saya menyempatkan diri ke Sangkring Art Space setelah berkunjung dari Padepokan Tari Bagong Kussudiardja di Bantul. Kebetulan hari itu di Sangkring ada pameran foto tentang petaka nuklir di Chernobyl milik fotografer Robert Knoth.

Pameran berjudul "Sertifikat no. 000358/" ini memajang puluhan foto hitam putih yang diambil Knoth sejak akhir 1990-an, ia mendokumentasikan kehidupan orang-orang biasa yang terpapar kelalaian luar biasa. Melalui karyanya, kita dihadapkan tidak hanya pada segala penyakit yang harus ditanggung tiap orang, tapi juga keputusasaan yang mereka hadapi berkaitan dengan masa depan, serta disintegrasi keluarga dan masyarakat yang memilukan.

Saya melihat ada usaha yang luar biasa dari Robert untuk metani satu persatu korban Chernobyl. Dengan hormat ia mengabadikan rasa pilu itu menjadi sebuah gambar yang indah sekaligus takzim. Saya tidak melihat banyak adegan bombastis di dalam foto-foto Knoth -kecuali beberapa fragmen dalam seri foto Anna Pesenko. Yang saya lihat justru keheningan yang luar biasa dari rangkaian foto ini. Nestapa, duka, dan segala cacat tubuh ini menjadi saksi bisu bagaimana perang dan percobaan energi yang salah bisa menjadi bencana yang begitu panjang dan memilukan.

Barangkali benar kata Chairil Anwar; nasib adalah kesunyian masing-masing. Dalam hening itu juga masyarakat yang tinggal di bawah bayang-bayang radiasi nuklir mencoba untuk terus bertahan hidup. Di dalam mata bola generasi muda yang cacat, kita masih bisa melihat semangat hidup yang luar biasa. Seperti kisah Anna Pesenko, yang dengan khusus dibuatkan sebuah seri foto oleh Knoth.

Anna Pesenko (21) menjadi salah satu korban Chernobyl meski pada saat tragedi itu terjadi pada tahun 1986, ia belum lahir. Sejak kecil, Anna mengidap tumor otak dan harus menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas tempat tidur. Sama seperti tujuh juta anak korban Chernobyl lainnya, namanya berganti dengan angka. No. 000358 adalah nama Anna dalam arsip pemerintah.

Knoth, dengan intim mengambil gambar Anna sejak tahun 2005. Saat itu wanita muda ini masih berumur 15 tahun, dan menderita karena tumor yang menggerogoti otaknya. Fragmen-fragmen kecil hidup Anna terekam jelas dalam foto-foto yang diambil Knoth selama enam tahun lamanya. Tapi tidak semua bicara tentang kesakitan, justru setengahnya Knoth bercerita tentang kisah senang Anna mendatangi prom nite atau menghadiri wisuda sekolah. Ada harapan hidup yang luar biasa dalam diri Anna, dari situ kita perlu belajar banyak.


Gudabayerdinsk, Rusia (2000)
Ilis Gareyev (13) begitu lemah sehingga ia harus beristirahat setiap kali pulang sekolah, sama seperti anak-anak lain di desanya. Ia sangat pendek untuk anak seusianya, dan sistem ketahanan tubuhnya rapuh. Di sekolah ia lambat belajar karena sulit berkonsentrasi dan menghapal.

Gomel, Belarus (2010)
Dalam beberapa tahun terakhir, kekuatan Anna telah pulih sebagian. Dengan bantuan guru-gurunya, dia bahkan bisa lulus ujian dengan sukses. Tahun 2011, kondisi Anna tampak stabil meski ia masih sangat lemah dan harus banyak berbaring. Dia senang mendengarkan musik pop Rusia dan bermimpi untuk menjadi seorang DJ suatu hari nanti.

Veznova, Belarus (2005)
Natasha Popova (12) dan Vladim Kuleshov (8). Natasha lahir dengan mikrosefali, kepala yang terlalu kecil. Vadim mengidap penyakit tulang, juga memiliki keterbelakangan mental.

Narodichi, Ukraina (2005)
Minggu siang di Narodichi, sebuah desa kecil yang terletak hanya beberapa kilometer dari Zona Tercemar yang tertutup (Zona-1). Daerah ini terletak di Zona-2, yang artinya tidak ada yang boleh bermukin di sini, mereka hanya bisa pergi. Tanah di desa ini, serta di sekitarnya, telah tercemar. Pemindahan penduduk sulit dilakukan; kebanyakan dari mereka tidak punya uang untuk itu. Mereka hanya menerima 40 sen dolar dari pemerintah tiap bulan untuk membeli makanan bersih.

Semipalatinsk, Kazakhstan (1999)
Pertumbuhan Ainagul (6) berhenti ketika umurnya tiga tahun. Ayahnya berasal dari Desa Znameka, dekat lokasi ujicoba Polygon. Kedua orangtua Ainagul malu akan kondisi putrinya, sehingga mereka mengeluarkannya dari sekolah.

PS: Makasih buat mas Islahuddin Hilal yang telah menemani.

1 comment:

degreat said...

wow... edan tenan ya efek radiasi, ada yg gk bisa tumbuh segala. koyok pasien Saarne Institute ae..

ksimpulan gw sejauh ini blom ada yg berhasil memiliki kekuatan gaip berkat radiasi nuklir. dgn ini saya nyatakan kebenaran pilem x-men, hero, sinchan dan seluruh pilem2 mutant lainnya adalah FAKE.