Pages

7/30/11

Via Pacet

Text and photos by Ayos Purwoaji

Judul diatas tampak begitu aneh bukan? Itu memang judulnya Via Pacet, tidak kurang tidak lebih. Jadi ini merupakan pengalaman baru saya mencoba rute Malang - Surabaya melewati Batu - Cangar - Pacet - Krian. Jalur ini sepi dan bebas macet, tidak seperti jalur Pandaan yang mau nggak mau harus lewat Lumpur Lapindo yang gersang dan penuh debu itu.

Melewati Kota Batu sangat menyenangkan, ada banyak pemandangan yang bakal membuat kita berhenti sesekali dan mengambil kamera untuk memotret. Barisan bukit dan ladang-ladang apel menjadi teman sepanjang perjalanan. Ada pula jembatan besi yang melintas ngarai raya yang memiliki air terjun mini. Hawa sejuk dengan konsisten membelai badan yang akan mengigil kedinginan jika bersepeda tanpa jaket. Sesekali truk modifikasi akan lewat membawa beban berkilo-kilo wortel, kentang, dan hasil pertanian lain. Di atas tumpukan sayur itu, duduk para petani yang membalut tubuh dengan baju berlapis-lapis yang menjaga nafas mereka tetap hangat.

Mampirlah ke Cangar, ada sebuah pemandian air panas yang selalu ramai oleh pengunjung. Ada empat kolam, mewakili empat tingkatan panas: Lumayan panas, agak lumayan panas, hampir nggak panas, dan hambar. Kolam paling hambar ini buat anak-anak kecil yang bergembira dengan lingkaran pelampung bebek di pinggang mereka. Panasnya: sama sekali tak panas. Memang di Cangar tidak ada kolam yang benar-benar panas. Tidak ada tantangan yang patut dibanggakan di Cangar.

Mampirlah juga di Pacet, sebuah kota kecil yang berada di balik punggung dua gunung. Masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Mojokerto. Pacet juga punya pemandian air panas yang penah nahas pada tahun 2002, batu-batu besar ambrol mengubur pemandian ini. 31 orang tewas, 14 diantaranya hilang.

Saya mencoba pentol bakar di Pacet. Ini semacam snack lokal berupa bulatan-bulatan kecil yang terbuat dari tepung kanji lantas ditusuk dan dibakar seperti sate. Bumbunya berupa sambal kacang. Makan sepuluh tusuk pun tak akan terasa kenyang. Penjualnya masih muda, lebih muda dari saya. Memakai setelan kaos dan jeans dan bertopi hitam. Di ujung topinya ada bordiran berlambang "M" berwarna lime-green yang serupa cakaran macan. Itu adalah lambang minuman berenergi asal luar negeri yang memiliki motto "A lifestyle in a can"; Monster Energy.

Sambil menunggu sate pentol saya gosong, saya melihat beberapa pemuda Pacet mengenakan topi berlambang Monster Energy yang berlalu lalang dengan motor bebek. Saya pun bertanya pada adik penjual pentol bakar,"Dik, pemuda sini banyak yang pake topi lambang "M" ya?"

Adik penjual pentol menjawab:"Woh iya mas, ini memang produk asli Pacet! Itu konveksinya ada di ujung jalan..."

Sepuluh tusuk pentol bakar dihargai 5000 perak. Minumnya, kami membeli sebotol Air Ketan, sebuah minuman fermentasi tape ketan hitam yang rasanya semriwing. Mungkin semacam tuak lokal dengan kadar alkohol yang superringan. Membuat badan terasa hangat.

Badan kami terus hangat bahkan sampai setelah meninggalkan Pacet. Padahal setelah Pacet, hawa gunung hilang sudah. Dan di Krian, seluruh petak tanah sudah berganti menjadi pabrik. []

Peta rute Via Pacet, klik untuk memperbesar.
Map by Google.

3 comments:

Anonymous said...

klo di liat dari peta, spertinya klo dari malang ke sby via pacet makin jaoh y. jalurnya rodok nge'sirkel, tp pmandangan sip tenan utk ukuran sby-malang

Mita said...

Matur nuwun buat inspirasinya :)

galih s putro said...

hohoho...akhirnya dirimu lewat jalur ini juga Yos...ketmeu Coban Kembar gak..?? hehehe
ajiiibbb bener deh jalur ini...