Pages

8/27/11

Dangkal


Membaca buku traveling ke negeri manaaa gitu dengan andalan: ada teman mengantar, inap gratisan, atau ada tetangga dan saudara yang dituju, lama-lama bikin eneg. Referensinya jadi dangkal, jadi kisahnya seperti sorangan wae, tidak bisa dijadikan acuan. Hati-hati dengan buku "pergi-kemana-gitu-hanya-sekian-rupiah", andalannya ya ada tumpangan gratis...
(Zanni Marjana, 2011, dalam sebuah status Facebook)

Apakah Anda memiliki kegelisahan yang sama? Kami di Hifatlobrain, sudah lama merasa gundah dengan adanya tren buku perjalanan yang sesat ini. Buku mana saja yang sesat? Tidak perlu kami perjelas. Silahkan pergi ke toko buku dan temukan belasan judul buku bertema travel budget yang membuat Anda menyesal, sesaat setelah membuka segelnya di rumah.

Buku-buku ini menawarkan utopia: dengan sedikit uang, Anda bisa jalan-jalan ke luar negeri sampai mblenger. Memang tidak ada yang salah, banyak backpacker yang membuktikan teori ini. Apalagi sekarang situs jejaring sosial untuk traveler juga semakin marak, dari situ banyak biaya esensial yang bisa ditekan oleh para peselancar-sofa (couchsurfer).

Masalahnya, itu menjadi semacam tindakan ceroboh jika variabel penting seperti biaya penginapan tidak dimasukkan dalam prakiraan pengeluaran perjalanan. Mau mengandalkan tawaran inap gratisan? Oh come on! Saat Anda mulai berjalan, maka akan ada banyak hal tak terduga yang terjadi; penerbangan delay, cuaca buruk, dompet hilang, bagasi yang tertukar, host inap yang sedang berduka atau apa pun lah. Jadi jangan sekalipun Anda menggantungkan diri seratus persen pada layanan inap gratisan, seperti yang dianjurkan oleh buku-buku sesat ini.

Jika memang dapat tempat bermalam gratis dari penduduk lokal, ya alhamdulillah. Kalau tidak, ya Anda harus tetap mengusahakan penginapan sendiri bukan? Bagaimana jadinya jika Anda tidak menyiapkan budget khusus untuk bermalam?

Selain variabel biaya inap yang dipangkas -digantikan dengan tawaran bermalam gratis yang bisa ditemukan melalui jejaring sosial traveler- saya mencermati, para penulis buku tidak pernah memasukkan biaya tak terduga. Padahal ini semacam jaminan sederhana, jika terjadi sesuatu yang cilaka atau melemahnya kondisi tubuh lantas jatuh sakit selama perjalanan. Itu tidak pernah dipikirkan oleh para penulis buku bergenre "sekian-juta-keliling-semesta".

Barangkali, yang ada dalam pikiran mereka hanyalah kredo; bujet minim, semakin minim semakin best seller. Maka yang terjadi kemudian adalah penyesatan massa. Eneg rasanya melihat kedangkalan ini menjadi tren. Perasaan eneg juga menyerang Zanni Marjana, seorang pegawai swasta yang tinggal di Surabaya dan aktif di milis Indobackpacker. Sebuah perasaan yang sepertinya menyergap banyak pejalan di negeri ini yang merindukan buku perjalanan yang bermutu. []

PS:
Quotation dari Zanni Marjana, diubah seperlunya agar lebih mudah dipahami tanpa merubah konten di dalamnya.

8/22/11

Tattoo People

"Dari pemutaran yang ada di dua kota sebelumnya (Jakarta & Bandung), di Surabaya ini yang paling rame..." kata Durga setelah acara pemutaran dan diskusi Mentawai Tattoo Revival berakhir. Acara screening yang digagas Hifatlobrain Travel Institute dan C2O Library ini memang menyedot banyak pengunjung yang terdiri dari berbagai latar belakang. Sekitar 100 orang memadati halaman belakang perpustakaan sejak pukul lima sore.

Salah satunya adalah Iman Kurniadi, seorang movie addict yang tinggal di Surabaya. Ia datang bersama kawannya. Ada pula Zani Marjana, seorang penggiat di milis Indobackpacker yang datang dengan membawa sumbangan takjil berupa cake yang lezat. Suwun om! Hehehe.

Sebelum berbuka memang ada semacam tausiyah singkat dari kyai Rahung yang menceritakan latar belakang pembuatan film dokumenter Merajah Mentawai ini. "Waktu itu saya nggak ada rencana apa-apa, nggak ada script juga. Saya hanya ingin mengabadikan kegiatan Durga di Mentawai, karena menurut saya idenya sangat luar biasa," kata Rahung.

Rahung Nasution

Aman Durga Sipatiti

Hatib Abdul Kadir Olong

Sony Martien

Dipta Wahyu Pratomo

Sejak akhir dasawarsa 90, Durga meninggalkan Jogja untuk mendalami kehidupan sebagai seorang disk jockey dan underground artist di Berlin. Seni merajah tubuh bukan hal asing bagi Durga, ia sudah berkenalan dengan mesin dan tinta sejak menjadi mahasiswa ISI dan "terlibat" dengan komunitas punk generasi awal di Jogja. Pada 2005, dengan semangat petualangannya, Durga kembali meninggalkan Indonesia menuju Los Angeles, di kota ini Durga mendapatkan inspirasi dari Sua Sulu Ape di Black Wave Studio Tattoo untuk belajar kembali tentang tato tradisi Nusantara. Durga mengamati, sebagai maestro tato tribal, Sua Sulu Ape sering mengunjungi Borneo, Samoa dan Tahiti untuk mendalami tato tradisi yang kini populer kembali.

Berbekal pengetahuan yang minim tentang tato Mentawai, Durga mengajak Rahung untuk bergabung. Catatan antropologis seorang peneliti Belanda, Reimar Schefold, dijadikan acuan awal bagi ekspedisi ini. Bantuan datang kemudian dari Universitas Andalas di mana salah satu mahasiswa jurusan Antropologi ada yang berasal dari Mentawai. Mahasiswa inilah yang menjadi penunjuk jalan utama bagi perjalanan Durga dan Rahung.

Durga menjelaskan bahwa budaya tato Mentawai, salah satu budaya rajah paling tua di dunia, sangat terakit erat dengan sistem kepercayaan suku Mentawai, Arat Sabulungan. "Jadi setiap tato memiliki arti dan proses inisiasinya sendiri. Ia menjadi tanda yang disepakati secara umum, menunjukkan status dan personalitas pemakainya," kata Durga.

Sayang, hari ini tato Mentawai tidak lagi banyak ditemui. "Kita sulit menemukannya di Pagai, namun masih cukup banyak di Sipora..." kata Durga. Terma cukup banyak ini sendiri tidak benar-benar menggambarkan jumlah yang membanggakan, tato di Sipora pun hanya bisa ditemui pada orang-orang tua dan sikerei (dukun Mentawai) yang kulitnya sudah penuh keriput. "Anak muda Mentawai sudah malu dan menganggap budaya tato itu ketinggalan zaman, primitif" kata Durga. Pola pikir itu terbentuk dari sistem pendidikan modern yang masuk seiring dengan datangnya gelombang misionaris dan lembaga bernama negara.

Tato Mentawai juga mengalamai perluasan fungsi, sebuah desain rajah sangat efektif sebagai penanda daerah. "Dahulu, sebelum ada batas berupa bangunan fisik, desain rajah menjadi penanda penduduk dari sebuah daerah di Mentawai. Jadi untuk mengetahui itu orang Pagai, Sipora, Matotonan atau Sikuddei, bisa dilihat dari corak rajah yang ada di tubuhnya..." kata Rahung.

Diskusi tentang tato Mentawai menjadi semakin menyenangkan karena ada sudut pandang yang beragam. Salah satunya adalah Hatib Abdul Kadir Olong, seorang antropolog cum dosen di Universitas Brawijaya, yang bercerita tentang relasi kuasa dan represi atas budaya tato di Indonesia pada tahun 1983. "Pada tahun itu harga minyak dunia anjlok, sehingga pemerintah menggalakkan wisata untuk mendongkrak devisa. Dari situ dimulai operasi 'petrus' (penembak misterius) yang membunuh siapa saja yang bertato dan dianggap bromocorah. Agar wisatawan asing tidak takut berkunjung ke Indonesia..." kata Hatib yang pernah menulis buku berjudul 'Tato' terbitan LKiS tahun 2006 lalu.


Semakin malam diskusi menjadi semakin menyenangkan dan semakin liar. Audien yang datang telat pun mulai hadir menyesaki pelataran belakang perpustakaan C2O yang kecil dan tidak bisa melar itu. Ada yang setia berdiri, ada pula yang berbagi pantat. Dalam diskusi budaya yang gayeng seperti ini suasana menjadi mendadak terasa begitu hangat.

Diskusi sempat terasa gerah saat agama mulai masuk dalam pembahasan; karena umur tato itu lebih tua dari agama, bukankah sebaiknya rajah tubuh dihalalkan saja? Ada yang membawa dalil Quran dan ayat Leviticus. Tapi munculnya statemen seorang peserta terasa menghangatkan,"Jika kita membuat senang orang lain, Tuhan akan memberi ganjaran pahala. Maka jika saya punya tato keren dan membuat orang lain berdecak senang, saya percaya Tuhan pun akan memberi saya pahala yang setimpal..." kata-kata ini ditimpali dengan tepuk tangan yang riuh dari seluruh penonton yang hadir. Tampaknya kita semua sepakat atas statemen ini. Hehehe.

Perspektif lain tentang budaya rajah modern ala Sony Martien, ketua Surabaya Tattoo Artist Community (STAC), juga turut memperkaya wawasan. "Desain tato modern itu bersifat sangat personal, hanya pemakainya yang tahu makna dan motifasi di baliknya. Tidak seperti rajah tradisional yang bersifat komunal dan, seringkali, sakral," kata Sony.

Pembicara lain, Dipta Wahyu Pratomo, seorang wartawan Deteksi Jawa Pos, yang menyelesaikan studi tentang tato wanita juga mengungkap sudut pandang tentang tato dan feminisme. "Dulu tato wanita itu jarang sekali yang diekspose, tapi hari ini wanita semakin bangga jika tatonya bisa dilihat oleh orang lain..." kata Tom, panggilan akrabnya.

Diskusi budaya ini kami akhiri pada pukul sembilan malam. Performa Lukman Simbah, seorang staff Hifatlobrain yang malam itu didapuk menjadi moderator juga sangat ciamik. Dengan gaya yang kasual tur nggatheli ala Suroboyoan, ia sering melemparkan joke yang mengundang tawa. Lukman Simbah berhasil mengantarkan diskusi budaya yang berpotensi membosankan ini menjadi sebuah acara yang meninggalkan kesan. Najwa Shihab dan Tukul Arwana sebaiknya lebih berhati-hati dengan potensi pria 'berwajah Rambo berhati Rinto' ini.

ki-ka: Lukman Simbah, Kathleen Azali,
teman Hatib, Rahung, Hatib it self, Durga


Hifatlobrain menghaturkan terimakasih pada para peserta yang datang dan para pembicara yang bersedia meluangkan waktunya. Rahung tetap datang di tengah jadwalnya yang padat sebagai Capres independen 2014 bersanding dengan Luna Maya. Durga hadir tepat waktu, meskipun sehari sebelumnya dia masih berada di Mentawai. Bung Hatib, yang rela berkendara dua jam dari Malang. Mas Sony yang membawa pasukan masberto (masyarakat bertato) Surabaya. Dan, Tom yang membawa teman SBO TV-nya. Juga buat kawan-kawan C2O yang menyiapkan segalanya, terlebih buat Kathleen Azali, kepala sekolah C2O, yang mendesain booklet cantik sebagai pengantar diskusi. Mari kita tos untuk masa depan rajah Mentawai! Tato nusa, tato bangsa!

Silahkan unduh booklet PDF, klik pada gambar:

Untuk mengunduh podcast public lecture, silahkan klik di sini.

8/16/11

Mentawai Tattoo Revival


Pemutaran & diskusi video dokumenter "Mentawai Tattoo Revival"

Gratis. Berlaku untuk umum.

Narasumber:

* Durga Sipatiti, seniman tato
* Rahung Nasution, videomaker
* Hatib Abdul Kadir Olong, dosen antropologi Univ. Brawijaya, penulis buku Tato (LKiS, 2006)
* Tom, antropolog, wartawan
* Sony, seniman tato, Irezumi Shadow, Surabaya Tattoo Artists Community

Sabtu, 20 Agustus 2011
pk. 17.00-21.00 (disediakan takjil)
Perpustakaan C2O, Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya

SINOPSIS
Sejak bulan Februari 2009, Aman Durga Sipatiti (seorang seniman tato yg berbasis di Jakarta) melakukan beberapa kali kunjungan ke Matotonan dan Sakuddei, pedalaman Siberut Selatan, Mentawai. Kunjungan ini bertujuan melakukan pendokumentasian titi atau tato Mentawai yang kini nyaris “punah” dan hanya tersisa di pulau Siberut.

Selain mendokumentasikan dan mencatat ulang desain-desain yang ada, Durga juga melakukan kolaborasi workshop dengan Sipatiti (ahli tato Mentawai) dan melanjutkan kembali tato mereka yang belum selesai.

Teteu Bali menceritakan ketika sanak keluarganya ditangkap polisi pamong praja dan dibawa ke Padang kerena mereka masih mempraktekkan tato dan kepercayaan leluhur mereka Arat Sabulungan.

Di dalam video dokumenter ini, Aman Lusin Kerei Sangaimang (seorang Sikerei, tetua adat) bertutur kepada Durga dan Berthoes tentang Arat Sabulungan sebagai satu sistem pengetahuan, nilai dan aturan hidup yang dipegang kuat yang diwariskan oleh leluhur suku Mentawai. Mereka meyakini adanya dunia roh-roh dan jiwa. Setiap benda yang ada, hidup atau mati mempunyai jiwa dan roh seperti manusia. Mereka harus diperlakukan seperti manusia. Karena itu orang-orang tidak boleh menebang pohon sembarangan, tanpa izin panguasa hutan (Taikaleleu) serta kesediaan dari roh dan jiwa dari kayu itu sendiri. Untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan dengan dunia roh-roh, manusia dan alam suku Mentawai mempersembahkan berbagai sesaji dan melakukan berbagai ritual.

Dari interaksinya langsung dengan penduduk di pedalaman pulau Siberut, Durga mencoba mencari tahu arti penting tato bagi masyarakat adat Mentawai.
------------------------------------------------------
Produser: Mentawai Tattoo Revival Project
penulis-sutradara-kamerame​n-editor: Rahung Nasution
Tim produksi: Herrybertus Sikaraja, Lucy Setiawan, Liki, Adi Mulyana
Narator: Aman Durga Sipatiti
Penterjemah mentawai: Esmat Wandra Silaingee
Lokasi film: Matotonan-Mongan Tepu-Sakuddei-Sagulubbek di Pulau Siberut-Kepulauan Mentawai-Indonesia – tahun 2010
Durasi: 30 minutes

©2010 Mentawai Tattoo Revival Project & JAVIN (Jaringan Videomaker Independen)
---------------------------------------------------------------------------------------
Acara ini diselenggarakan oleh:

* Hifatlobrain Travel Institute
* C2O
* Kotak Hitam
* Durga Tattoo

Didukung oleh:

* Irezumi Shadow
* Tattoo Heroes
* Surabaya Tattoo Artists Community

Info: (031) 77525216
c2o.library@yahoo.com

Mentawai on Screen

Oleh: Ayos Purwoaji

“I enjoy doing things like this because I am a storyteller, plain and simple, not a traditional 'documentary' filmmaker…”
(Werner Herzog, Herzog on Herzog, 2002)

Sejak melihat film dokumenter “The Grizzly Man” (2005), saya memutuskan untuk menjadi salah satu penggemar karya-karya sutradara Jerman, Werner Herzog. Kecintaan saya pada Herzog menguat setelah melihat film dokumenter sederhana berjudul “Wodaabe: Herdsmen of the Sun” (1989) dan “Ten Thousand Years Older” (2002). Film-film Herzog berhasil membawa saya pada realitas budaya di sudut belahan bumi lain dengan sangat menarik, dan tampak begitu dekat.

Tapi saya yakin membuat film dokumenter itu tidak semudah kelihatannya. Merekam kehidupan suku-suku terasing di belahan bumi paling dalam tentu saja membutuhkan usaha yang tidak sedikit. Menempuh perjalanan yang sulit, kondisi tubuh yang lungkrah, atau serangan penyakit hutan yang seringkali mematikan membuat tidak banyak orang yang menceburkan diri menjadi pembuat film dokumenter. Maka tidak heran jika kemudian Herzog mengatakan bahwa seorang dokumentarian itu mustilah,”berjiwa pemberontak dan sedikit gila…”

Barangkali Rahung dan Durga masuk dalam kategori ‘orang gila’ versi Herzog ini.

Film “Mentawai Tattoo Revival” memang bukan satu-satunya film tentang Mentawai. Sebelumnya saya sudah melihat film surfing documentary “21 Days Later: The Mentawai” garapan Mr 8 Productions dan film “The Mentawai” karya Cale Glendening.

Aman Durga Sipatiti (kiri) dan Rahung Nasution (nomor dua dari kiri)

Meski sama-sama bagus dengan angle yang berbeda, namun saya perlu memberikan notasi lebih untuk film karya Rahung dan Durga, karena ini adalah sebuah dokumenter lokal tentang Mentawai yang digarap dengan serius. Melalui narasi yang mengalir dari mulut Aman Durga Sipatiti, saya jadi tahu makna beberapa motif tato Mentawai yang sudah berumur ribuan tahun. Dalam film ini, Durga membawa semangat antropologis yang merunut ragam desain tato Mentawai dalam sebuah katalog visual.

Meski tak seindah visual dalam film “The Mentawai”, namun ada sebuah keintiman yang saya dapatkan dalam film “Mentawai Tattoo Revival”. Durga tanpa canggung membaur dan hidup selama berhari-hari dengan para penduduk Mentawai. Makan dari piring yang sama dan minum dari gelas yang sama.

Bentuk keintiman lain adalah banyaknya frame yang memperlihatkan bagaimana Durga bergaul dengan penduduk lokal. Hal tersebut tidak banyak ditemui pada film dokumenter antropologis yang lebih banyak mengambil jarak. Salah satu fragmen yang saya suka adalah ketika Durga terkena alergi ulat sagu dan Bai Alangi Kuneu, istri seorang sikerei, membaluri seluruh tubuh Durga dengan obat tradisional. Memberikan kesan tidak ada jarak antara pembuat film dan Suku Mentawai yang jadi obyeknya.

Durga sedang merajah tubuh Bai Alangi Kuneu

Dalam perjalanan ini, Durga juga membawa misi penting untuk mentato orang Mentawai yang belum khatam dirajah. Sebagai seorang sipatiti (seorang pembuat tato), Durga datang membawa sejumput harapan di tengah degradasi budaya yang dialami anak muda Mentawai hari ini. Kedatangan Durga membawa pesan yang jelas: jangan sampai tradisi ini lenyap dimakan jargon modernisme dan nasionalisme. Keprihatinan ini memang tidak bisa dibendung lagi, dalam bukunya yang berjudul “Tato”, Hatib Abdul Kadir Olong menulis bahwa seni rajah hanya bisa ditemukan pada dukun dan generasi tua Mentawai saja. Lebih jauh, Hatib meramalkan bahwa tato Mentawai diperkirakan punah tidak lama lagi.

Monolog Durga tentang represi pemerintah lama pada agama Arat Sabulungan juga menjadi bagian yang menarik untuk dikaji. Saya jadi ingat ucapak Bajak Lala, salah satu sikerei (dukun) dalam film “The Mentawai”: ”Hello people from around the entire world, come to the islands of Mentawai quickly, right now the Mentawai are still alive. I'm still alive. But when I die, you will not see my culture any more…”

***
Penting kiranya bagi kita semua untuk melihat film ini, baik itu sebagai sebuah karya antropologis atau dokumentasi perjalanan. Saya masih ingat bagaimana Durga menyusuri sungai dengan perahu motor tempel, membelah hutan-hutan untuk mencapai desa Matotonan. Dalam skena lain, Durga juga bercerita tentang bagaimana beratnya perjalanan menuju desa Sakuddei yang harus ia tempuh dengan berjalan kaki selama dua hari.

Dalam hal ini, Hifatlobrain sebagai sebuah travel institute juga memiliki misi untuk mendorong para pejalan mengabadikan kisahnya tidak hanya melalui foto dan tulisan saja, tapi juga menggunakan medium baru berupa video. Di masa depan, video menjadi bagian tak terelakkan dari evolusi internet yang semakin adaptif pada konten multimedia. Jurnalis cum videografer terkemuka, Dan Chung, mengatakan bahwa, ”Video is the new currency of the internet.”

Dalam beberapa hal, video memang memiliki kelebihan yang tidak bisa ditampilkan dalam sebuah foto, yaitu: gerakan dan suara. Dua aspek ini kiranya yang membuat medium video bisa “lebih” bercerita dibanding medium still photo. Namun masih sedikit sekali travel documentary yang dibuat oleh pejalan lokal. Sebagian besar dokumenter tentang budaya dan destinasi di Indonesia justru dibuat oleh jurnalis dan filmmaker asing. Sebut saja film seri dokumenter dengan judul “Ring of Fire: An Indonesian Odyssey” (1972) besutan Lorne dan Lawrence Blair yang menjadi arsip berharga tentang pengelanaan duo traveler keliling Indonesia selama sepuluh tahun.

Saya pribadi berharap akan lebih banyak film dokumenter menarik yang dihasilkan oleh petualang lokal, lebih banyak pula dokumentasi tentang kekayaan budaya Indonesia. Dengan begitu cepatnya perkembangan teknologi kamera digital, saya yakin dalam waktu yang tidak lama akan muncul the next Rahung Nasution atau the next Farid Gaban, yang menenteng kamera HD (high definition) sambil berkelana mengeksplorasi Nusantara. []

8/9/11

The Valleys

The Valleys by Ayos Purwoaji

Saya memotret dua lembah ini pada sebuah perjalanan singkat saat mengitari Gunung Watangan dan Gunung Batok melalui jalur Ngadas. Saya dan Ruli melewati sebuah jalan setapak yang berkelok-kelok diatas punggung perbukitan. Ini adalah sebuah perjalanan singkat yang sangat mengesankan.[]

8/7/11

Monocle Travel Guide

Saya percaya ide itu seperti oksigen, ada di mana-mana dan bila dihirup dalam-dalam akan terasa menyegarkan. Dalam beberapa hari ini, ide saya berloncatan dengan liar di dalam batok kepala. Berjumpalitan seperti pemain sirkus berpakaian penuh glitter warna-warni dan membawa kembang api di tangannya. Ini semua berkat kawan-kawan di sekeliling yang suka memantik ide saya dengan positif. Jadi ide beranak ide, lantas berbuah dan berkecambah seperti fraktal. Oh terimakasih kawan-kawan!

Salah satunya adalah Andriew Budiman, seorang kurator kapiran aseli Surabaya, yang menunjukkan saya sebuah booklet tipis berjudul Taiwan: Monocle Travel Guide. Saya baru tahu kalo majalah asyik sekelas Monocle juga membuat travel guide. Dari kovernya saja saya langsung jatuh cinta. Isinya mudah ditebak, banyak ilustrasi menarik khas Monocle yang berkeliaran di dalamnya. Uwohoooo! Seandainya Hifatlobrain bikin travel guide, maka booklet milik Monocle-lah yang saya jadikan role model.

Booklet Taiwan ini adalah Monocle Travel Guide Series No. 1. Jadi bukan tidak mungkin akan muncul yang kedua ketiga dan seterusnya. Ehm, sebetulnya yang kedua sudah terbit bulan ini sih, temanya tentang Spanyol.

Selama ini tentu saja travel guide bible seperti Lonely Planet, Frommers, Eyewitness atau Rough Guide lebih kita kenal. Saya mengelompokkan nama-nama di atas sebagai old school travel guide yang hanya membahas travel essential seperti where, what, a must, do's, dont's, dan entry lain yang sudah umum. Memang harus diakui, untuk traveler biasa konten seperti ini sangat membantu di saat darurat. Tapi jujur saja, kita tidak mendapatkan insight lain yang lebih hype.

Sebagai jajaran new style of travel guide, Monocle dengan cerdas memasukkan semua entry tersebut dipadu dengan insight lain yang oke punya. Seperti tren musik terbaru di Taiwan, tren fashion lokal, pertumbuhan eco-tourism atau gerakan seni yang sedang ngetren. Tapi semua entry itu tidak lantas membuat tebal booklet menjadi bengkak. Redaksi mengatur data-data itu dalam infografis yang padat sehingga tetap bisa hadir tipis, dan tetap manis karena dicetak di atas fancy paper yang full color.

Monocle, tanpa tedeng aling-aling juga mengatakan jelek jika sebuah tempat itu memang jelek. Beberapa destinasi yang dijadikan feature juga agak janggal tanpa mengurangi kadar keasyikannya. Seperti pembuatan saxophone di pesisir barat Taiwan.

Kebetulan beberapa saat yang lalu National Geographic Traveler Indonesia juga membuat sebuah edisi khusus tentang Ekpedisi Ilha Formosa (Taiwan). Jika Monocle menuliskannya dengan ringkas dan mencakup seluruh aspek paling gres dan yummy, maka National Geographic Traveler membahasnya panjang-panjang namun minim esensi. Hehehe no offense.

Ilustrasi yang menghiasi Monocle Travel Guide ini memang bukan yang pertama saya lihat. Sebelumnya saya juga kagum dengan catatan perjalanan Norman MacDonald berjudul Blessed by Two Ocean yang masuk dalam jurnal Saudi Aramco World edisi bulan Juni lalu. Artikel ini sempat menjadi bahan diskusi singkat saya dengan Ajeng, pemilik The BackpackerNotes yang memang pandai menggambar itu. Tapi tentu saja yang paling unik dari artikel Norman adalah seluruh artikelnya ditulis manual dengan tangan! Sangat personal dan menarik.

Kedepan, Hifatlobrain akan mendorong para traveler untuk menuangkan catatan perjalanannya tidak saja pada media tulisan dan foto saja, namun juga berkembang ke ranah dokumentasi lain seperti sketsa, ilustrasi, podcast, ebook, atau video. Karena saya percaya setiap medium membawa pesan dan keunikannya masing-masing. []

Getaway! Edisi Agustus 2011

It’s a melting pot, for people around the world. It’s a Mecca, for hippies.

Ada banyak majalah travel baru yang bermunculan di toko buku, salah satunya adalah Getaway! Magazine. Kebetulan saya kenal chief editornya karena dia adalah mantan editor saya dulu di Majalah TravelXpose. Getaway! ini cukup unik, dia menyasar pasar baru penggemar traveling, yaitu anak baru gede yang membutuhkan informasi dan tampilan visual yang catchy.

Format majalahnya juga kecil, pocketable lah, meski nggak muat juga kalo ditaruh saku celana, hahaha. Bicara format majalah travel di Indonesia juga bervariasi lho. Majalah travel dengan format paling besar menurut saya adalah Majalah Liburan. Sedangkan paling kecil, sampai hari ini, ya Getaway! ini.

Tata letaknya catchy abis. Menurut saya inilah majalah GoGirl, Kawanku, atau Gadis versi travel. Warna-warnanya cerah. Memang pantas buat anak muda sih.

Saat diminta menulis, saya agak keder. Ini semacam tantangan baru bagi saya untuk menulis di majalah remaja. Saya butuh sebuah teknik penulisan baru yang terasa youngster dan bisa diterima di level mereka. Maka saya menulis musik saja, saya pikir banyak anak muda yang suka musik. Dari situ semua bermula, dan saya perlu mengucapkan terimakasih secara khusus pada Andrew Gromico yang menyumbangkan stok foto band Bali kesukaan saya, Dialog Dini Hari, sebagai elemen visual pelengkap artikel.

Pada edisi yang sama, tulisan lain tentang Padang dibuat oleh Lukman Simbah, salah satu kru Hifatlobrain juga. Alhamdulillah, ini berkah Ramadhan yang semanis kolak. []

Sang Petualang



Video rekaman tayangan Kick Andy yang menampilkan beberapa petualang luar biasa dari Indonesia: Rob "Rama" Rambini, Vebri "Ebbie" Adrian, dan Agustinus "Agus Weng" Wibowo. Berisi wawancara yang sangat menarik dan inspiratif. Hifatlobrain mengunggahnya untuk Anda!

Durasi videonya cukup panjang, hampir satu jam. Jadi sebaiknya Anda download saja ketimbang dilihat streaming :)

Selamat menikmati.