Pages

8/27/11

Dangkal


Membaca buku traveling ke negeri manaaa gitu dengan andalan: ada teman mengantar, inap gratisan, atau ada tetangga dan saudara yang dituju, lama-lama bikin eneg. Referensinya jadi dangkal, jadi kisahnya seperti sorangan wae, tidak bisa dijadikan acuan. Hati-hati dengan buku "pergi-kemana-gitu-hanya-sekian-rupiah", andalannya ya ada tumpangan gratis...
(Zanni Marjana, 2011, dalam sebuah status Facebook)

Apakah Anda memiliki kegelisahan yang sama? Kami di Hifatlobrain, sudah lama merasa gundah dengan adanya tren buku perjalanan yang sesat ini. Buku mana saja yang sesat? Tidak perlu kami perjelas. Silahkan pergi ke toko buku dan temukan belasan judul buku bertema travel budget yang membuat Anda menyesal, sesaat setelah membuka segelnya di rumah.

Buku-buku ini menawarkan utopia: dengan sedikit uang, Anda bisa jalan-jalan ke luar negeri sampai mblenger. Memang tidak ada yang salah, banyak backpacker yang membuktikan teori ini. Apalagi sekarang situs jejaring sosial untuk traveler juga semakin marak, dari situ banyak biaya esensial yang bisa ditekan oleh para peselancar-sofa (couchsurfer).

Masalahnya, itu menjadi semacam tindakan ceroboh jika variabel penting seperti biaya penginapan tidak dimasukkan dalam prakiraan pengeluaran perjalanan. Mau mengandalkan tawaran inap gratisan? Oh come on! Saat Anda mulai berjalan, maka akan ada banyak hal tak terduga yang terjadi; penerbangan delay, cuaca buruk, dompet hilang, bagasi yang tertukar, host inap yang sedang berduka atau apa pun lah. Jadi jangan sekalipun Anda menggantungkan diri seratus persen pada layanan inap gratisan, seperti yang dianjurkan oleh buku-buku sesat ini.

Jika memang dapat tempat bermalam gratis dari penduduk lokal, ya alhamdulillah. Kalau tidak, ya Anda harus tetap mengusahakan penginapan sendiri bukan? Bagaimana jadinya jika Anda tidak menyiapkan budget khusus untuk bermalam?

Selain variabel biaya inap yang dipangkas -digantikan dengan tawaran bermalam gratis yang bisa ditemukan melalui jejaring sosial traveler- saya mencermati, para penulis buku tidak pernah memasukkan biaya tak terduga. Padahal ini semacam jaminan sederhana, jika terjadi sesuatu yang cilaka atau melemahnya kondisi tubuh lantas jatuh sakit selama perjalanan. Itu tidak pernah dipikirkan oleh para penulis buku bergenre "sekian-juta-keliling-semesta".

Barangkali, yang ada dalam pikiran mereka hanyalah kredo; bujet minim, semakin minim semakin best seller. Maka yang terjadi kemudian adalah penyesatan massa. Eneg rasanya melihat kedangkalan ini menjadi tren. Perasaan eneg juga menyerang Zanni Marjana, seorang pegawai swasta yang tinggal di Surabaya dan aktif di milis Indobackpacker. Sebuah perasaan yang sepertinya menyergap banyak pejalan di negeri ini yang merindukan buku perjalanan yang bermutu. []

PS:
Quotation dari Zanni Marjana, diubah seperlunya agar lebih mudah dipahami tanpa merubah konten di dalamnya.

56 comments:

Anonymous said...

Plakk..!!
*tampaaran keras utk para pnulis buku 'sesat' dan kbetulan saya salah sekian korbannya :">

Anonymous said...

Plakk..!!
*tampaaran keras utk para pnulis buku 'sesat' dan kbetulan saya salah sekian korbannya :">

hadi said...

menurut HFLB, konten seperti apa sehingga travel book itu gak disebut "dangkal"?

thank's

Ayos Purwoaji said...

@ Hadi: Konten yang berwawasan dan inspiratif. Insightful. Sayangnya, buku travel jenis ini di Indonesia kurang laku, Dhi :)

Anonymous said...

Waahhh benerr banged kebanyakan ga memasukan biaya lain-lain yg itu sangat penting bgd apa lagi jalan2 ke negri lain banyak kemungkinan yg tak terduga terjadi :) sempat tertipu dengan salah satu buku yg akan saya gunakan sbg referensi menjelajah negri gajah putih.

Anonymous said...

Sepakat :) sempet kuciwa dg salah satu buku yg saya gunakan sbg referensi saat hendak menjelajah negri gajah putih :)

Wana said...

tapi tapi tapi emang kadang2 perlu loh buku kayak itu, tapi hanya dan hanya untuk jadi bahan pertimbangan awal sebelum keberangkatan aja, apalagi untuk backpaker yang bahkan nyari buku murah di gramet. Untuk on the spot, mending eksplor sendiri, lebih maknyos.

kalo yang lebih insightful, lebih keren desainnya, dan lebih maknyus potonya, macam coffeetable-book kan udah ada marketnya sendiri, market yang mempunyai taste *yeah

Dwi Putri Ratnasari said...

Tapi seperti yang udah kita bahas di warung Tante Tolly di Bromo, buku2 kaya gini uda cukup berhasil bikin banyak orang memutuskan untuk traveling toh? Yo, aku rasa tetep harus diapresiasi walopun lama-kelamaan jadi trend yang bikin eneg..

Penerbit juga pasti maunya yang laris2 aja, Yos.. Namanya juga dagang buku, mana mau rugi. Dan lah kok ya ternyata buku2 kaya gini yang MASIH aja jadi best seller. Aku sempet kaget ketika beberapa minggu lalu, ketemu temen kuliah, yang ngoleksi buku2 kaya gini hahaaa...

Yo sekarang gimana caranya HFLBTI bikin doktrin agar orang2 ga semakin tersesat aja :)

Cheers,
-pyut-

bek said...

gak ada yang sempurna kok..
buku2 insightfull pun buat beberapa kalangan tertentu juga dirasa dangkal, jauh di angan2 :D

so kapan HFLB bikin buku yg bagus lagi nih ?

Tekno aka Bolang said...

waduh saya pernah klilingan sumbar dengan modal seadanya, gembel modal nekad, jangan pernah di tiru ya he he, Setuju juga seh ikutan eneg, dan alhamdulillah gak pernah tertarik baca buku-buku gituan.

semurah apapun biaya penginapan tetep harus di anggarkan, dene nanti dapet tumpangan gratisan ato ngegeletak di mesjid sudah terasa nyaman ya itu budget bisa dipake buat ngeluyur ke tempat lain he he..

Ayos Purwoaji said...

@ Wana & Putri: Betul, di sisi lain kita harus berterima kasih pada buku-buku ini karena membuat banyak orang tergerak menjadi pejalan. Tapi menurut aku tetep harus ada peningkatan kualitas untuk penerbitan buku travel di Indonesia...

@ Mas Bek: Hehe bener mas, nggak ada yang sempurna. Tapi kita masih bisa mengusahakan yang lebih baik tentu... Menunggu buku LI aja deh mas, yang lebih tua duluan :p

Philardi ogi said...

betul mas Ayos, saya juga merasa pembahasan tempat yang didatangi tidak terlalu dalam,dan lebih mementingkan kuantitas tempat ang dikunjungi.malah lebih lengkap googling. mungkin biar lebih menjual dengan Rp-sekian-bisa-kesana-kemari mengunjungi-itu-ini daripada mengekspor lebih jauh satu destinasi.

Herajeng Gustiayu said...

Tapi tujuannya bagus kok, orang2 jadi terkompori buat jalan-jalan karena traveling jadi terlihat (lumayan) terjangkau. Biasanya buku kaya gitu bagusnya buat cari-cari referensi perkiraan biaya. Confession: Kadang2 aku suka baca juga, tapi baca di tokonya aja, ga dibeli, hahaha..

Btw Yooosss, kapan nih kita kolaborasi bikin buku travel yang keren?? Aku masih suka ngiler klo liat buku2 travel keren ber-ilustrasi itu, kita bisa bikin ky gitu jg ga ya?? Hehehe..

Cheers,
Ajeng

Ayos Purwoaji said...

@ Kang Tekno: "semurah apapun biaya penginapan tetep harus di anggarkan, dene nanti dapet tumpangan gratisan ato ngegeletak di mesjid sudah terasa nyaman ya itu budget bisa dipake buat ngeluyur ke tempat lain he he.." > Tul mas! Setubuh! Hehehe

Ayos Purwoaji said...

@ mas Ogi: Ya saat ini kuantitas lebih bernilai ketimbang kualitas mas...

@ mbak Ajeng: Yuklah cyin :-*

Islah said...

Tamparan yang keras juga untuk mereka telah yang membaca buku2/kisah perjalanan yang berwawasan dan inspiratif, namun tidak juga beranjak untuk segera memulai dan mencobanya. Dan ternyata buku2 yang dianggap "sesat" itu ternyata sudah mampu meyakinkan banyak orang hanya dengan sebuah tuntunan yang ajaib, bahwa tiap langkah dalam perjalanan itu bisa diminimalis dengan harga yang super minim.

Islah said...

Tamparan juga untuk mereka yang telah dan lelah membaca buku2 perjalanan yang dianggap bermutu, namun tidak segera untuk melakukan perjalanan dan tidak menuliskan/mengabarkan kesannya.

Ayos, mungkin tuntunan yang paling logis dari buku yang dianggap "dangkal" itu mampu merupiahkan harga tiap langkahnya dengan harga yang super minim dan itu menarik bagi banyak orang.

Wahyu Eko Prasetyo said...

catatan menggugah.hehehee

mumun said...

bos, bukannya insightnya buat dialami sendiri oleh travelernya?

Ayos Purwoaji said...

@ Kak Mumun: Kalo sudah naik level jadi penulis buku, sepertinya insight itu bukan lagi milik sendiri mbak. Harus dibagi dan menjadi value bagi buku itu sendiri. Itu membuat kita -sebagai pembaca- tak menyesal mengeluarkan rupiah bukan?

Anonymous said...

mungkin cara melakukan perjalanan yang diterangkan di dalam buku itu, yang kata mas "dangkal" itu... memang bukan untuk orang2 seperti mas. Jelas, karena tidak semua orang punya mental untuk numpang, untuk ber hitchike, untuk tidur di airport.

So, jangan pernah membeli buku-buku semacam itu, membaca gratispun sangat diharamkan.

Rijal Fahmi M said...

sebenarnya gak jelek juga si buku - buku semacam itu, cuman saya juga gak pernah beli hehehehe,, lha wong semuanya udah bisa di cari di internet, klo menurut saya buku seperti tulisan trinity lebih menarik (Naked Traveler Trilogi), meski gak tau kita perlu budget berapa, atao abis duit berapa, tetep aja setelah baca bikin ngiler untuk mendatangi langsung tempatnya, cuman bukunya trinity kurang dalam hal visualisasi gambar, trus masalah how much? how to get there? dan tetek bengeknya, tinggal tanya perpustakaan sejuta umat om google :), tanya arah sama om GPS atau penduduk lokal tempat tujuan,, niscaya perjalanan akan penuh dengan kejutan CMIIW ^^

Whatever I'm Backpacker said...

yaelah ribet amat sih~ toh sesat sesat tapi di beli juga kan #hufft

Whatever I'm Backpacker said...

ini yang nulis pernah keluar negeri juga ga? apa cuma nge-judge doang dari pandangan orang lain? #hufft

yudasmoro said...

wow.. pemikiran yang berani & agresif. Like It!

Lay Mhaniez said...

Wah.ga setuju bgt ama lu,gan..gw pnh pake buku yg lu blg sesat itu dan nyatanya sukses mempraktekkannya..bahkan budgt lbh dikit lg wpun pake nginep krn gw pake tawar menawar..naah lo ndiri blg kl lu ga pnh beli buku itu,gmn lu tau kl buku itu sesat?

Lay Mhaniez said...

Pertanyaannya simple.lu pnh beli buku itu dan pnh praktekkin ga?kl ga pnh,ya knp menulis spt ini?sy pnh beli dan mengikuti ref dr buku tsb dan nyatanya bener kok pas dipraktekin di lapangan. Biasanya buku yg pake kata 'sekian rupiah bs ke negeri..' ada jg kok budget penginapannya..sebaiknya search dl sblm nulis apalg anda penulis buku hebat katanya.makasih. Salam damai ya anf happy travelling

AstRiDhO said...

Buat yang nggak pernah keluar negeri, pengen banget ke luar negeri tapi ngga ada cukup dana, ngga jago bahasa inggris jd hasil browsing terbatas, ga pny budget untuk beli travel guide bagus (yg mayoritas impor), buku ini membuka wawasan kalo ada cara2 hemat buat jalan2. Tipe yang kaya gini buaanyaakk, jadi target audiencenya jelas.

Tapi buat aku pribadi, ngga mungkin banget menerapkan isi buku itu, apalagi sampai ngikutin itinerarynya. Cuma orang itu sendiri yang tau perjalanan seperti apa yang ingin dilaluinya ;)

Anonymous said...

Kok pada meributkan hal yang beginian sih??
Kalo mau beli ya beli aja, kalo mau baca ya baca aja..
Rasanya penulis buku-buku itu tidak pernah menyuruh kalian pada beli ato baca kan??
Bener kalo semuanya bisa di-gugling, dan buku-buku itu cuma sekedar panduan saja..
Mengenai penginepan gratis dan apalah menurut kalian semua, saya rasa hanya karena kedangkalan pola pikir penulis catatan ini saja, saya berani bertaruh kalo anda belum pernah mencobanya, kalopun sudah pasti mereka adalah sodara, come on..itu pilihan masing-masing.
Biaya tidak terduga jelas ada, dan itu balik lagi kepada keperluan masing-masing.
Serba salah ya jadi penulis travel gitu, kalo ada buku yang ada rincian biayanya dibilang "dangkal" dan menyesatkan, kalo gak ada rincian biayanya dibilang kurang informatif, inget guys, sedikit banyak mereka sudah membantu buat dunia traveler kita, apakah kalian mampu membuat yang lebih bagus?? Buktikan lah, gak usah ngomong doang..;)

Anonymous said...

Makanya jangan pake buku2an...JADILAH PEJALAN MANDIRI....!!!!!!

Jadi Jangan meyalahkan buku2 itu, klo mw ngetrip buatlah rencana anda sendiri, murah atau mahal budget yg dikeluarkan kan tergantung anda 10rb bisa mahal buat org lain tapi mungkin menurut anda murah...

OK ???

Nuran Wibisono said...

Whatever said "ini yang nulis pernah keluar negeri juga ga? apa cuma nge-judge doang dari pandangan orang lain? #hufft"

bentar bentar. Hubungannya sama pernah ke luar negeri atau belum ini apaan? Kalo komen itu mbok dipikir dulu, jangan asal njeplak. ckk ckk ckk.

Anonymous said...

Hehe kenapa buku orang disalahkan? Klo gak suka gak usah baca aja.Banyak pilihan gaya travelling sesuai kemampuan budget dan finansial masing-masing orang.

Anonymous said...

Pasti belum pernah pergi jalan2... ;)

Anonymous said...

Hei, hei, daripada kamu "eneg-eneg" begitu, lebih baik kamu bikin buku tandingan versi kamu sendiri yang menawarkan tips-tips baru yang mungkin lebih bermanfaat untuk para traveler dan bisa dijadikan sebagai referensi tambahan. Gak usah kesel/eneg/BT sama buku orang, toh mereka juga nyantai aja, traveling yang mereka lakukan (yang menurut kamu gak pantas) sudah lama terwujud, dan mereka pun dapat royalti karena penjualan buku itu. Buat doung kreasi dan inovasi yang bagus daripada nyela-nyela buku orang, nulis itu kan gak gampang, sedangkan mereka sifatnya hanya sharing... tau gak kamu, tanpa backpacker2 yg kerajinan jalan2 gratisan sampe ke pelosok itu, gak bakal ada panduan traveling selengkap LONELY PLANET, yang membahas berbagai tempat indah di tiap negara serta tips & trik bepergian kesana. Tujuan ada buku mengenai travel murah kan, hanya menyampaikan, bahwa dengan budget minimal, kita juga bisa jalan-jalan, jadi gak usah sewot kalo ada yang bisa dapet penginapan gratisan, karena memang kondisinya begitu. Kalo kamu punya tips dan referensi traveling yang lebih baik, tulislah yang baik dan benar, jangan suka menghina-dina buku orang. Saya sendiri gak pernah anti sama backpacker irit, walaupun saya pun menyukai travel mewah dengan pesawat first class dan menginap di hotel bintang lima, disertai asuransi perjalanan yang memadai, semua itu kan ada plus dan minusnya. Nah silahkan buat tulisan tandingannya.

Wana D said...

ikutan diskusi kok akunnya anonimus :D

Anonymous said...

huahaha sebenernya males ngikutin debat ginian, tp konteks yg ingin dibangun disini sepertinya soal bikin buku budget travel bolehlah. tp ya kasih wawasan lain untuk kemungkinan2 yang terjadi... tapi kalo cuma nampilin itung2an rupiah yang dikeluarkan ya emang dangkal menurutku.

kalo konsepnya panduan tp berdasarkan pengalaman pribadi ya nulis pengalaman perjalanan saja ga pake embel2 ngitung rupiah. jadikan rupiah sebagai bonus saja, ya mungkin yampeinnya kebetulan di tempat situ gratis makannya nginepnya etc...

kalo ada penulis kebakaran jenggot dengan kritik pedas macem gini ya mending ga usah nulis... :))

Sari Musdar said...

Saya penulis buku 'Panduan Hemat Keliling Amsterdam Brussel Paris Luxemburg & Trier', terus terang tdk berniat menyesatkan, kalau baca halaman belakang, ada rincian harga dari semua biaya yg sy keluarkan, termasuk tiket dll. Dan perlu diketahui dan dimaklumi sebagian besar org Indonesia sgtlah malas mencari informasi, sy pikir tujuan 'mulia' dari penulis & penerbit adalah menyajikan informasi 'jadi' (bkn raw material) ke para calon traveler spy tk perlu repot mencari info kesana ke mari dan google. Trus terang sy bukan anggota CS dan bukan aliran menumpang, krn sy suka kebebasan, sy suka menikmati 'me time' utk benar2 menikmati perjalanan sy dan mengamati org2, krn saya juga penulis novel (kalo boleh jujur sih menulis buku panduan hanyalah batu loncatan utk 'punya nama' di dunia penulisan Indonesia, buktinya Jakarta Post menulis sy (dan 2 penulis lain) sbg Fun Fearless Femaile Traveler, krn tujuan akhir sy adalah menjadi penulis novel. Dan sekalipun buku sy laris, itu sama sekali tidak seberapa dari gaji sy di kantor, apalagi gaji dunia tambang, Sy cuma senang bisa membantu teman2 yg ingin ke eropa tp dana terbatas dan ngga berani nekat, buktinya banyak pembaca buku sy yg akhirnya mendarat di kota2 yg sy sebutkan :-) yah org mau bilang apa, yg penting sy bahagia, niat sy menjadi penulis kesampean, niat sy menolong org tersalurkan

Alid Abdul said...

kok gue malah berpikir yg DANGKAL yg nulis artikel ini deh.

yah tiap orang bebas berpendapat :)

propaganjen said...

Saya waktu itu hendak mencoba jalan-jalan ke Pulau Roti bermodalkan panduan dari buku gambar, eh nyasar. Ga jadi deh jalan-jalannya.

Sari Musdar said...

Saya penulis buku 'Panduan Hemat Keliling Amsterdam Brussel Paris Luxemburg & Trier', terus terang tdk berniat menyesatkan, kalau baca halaman belakang, ada rincian harga dari semua biaya yg sy keluarkan, termasuk tiket dll. Dan perlu diketahui dan dimaklumi sebagian besar org Indonesia sgtlah malas mencari informasi, sy pikir tujuan 'mulia' dari penulis & penerbit adalah menyajikan informasi 'jadi' (bkn raw material) ke para calon traveler spy tk perlu repot mencari info kesana ke mari dan google. Trus terang sy bukan anggota CS dan bukan aliran menumpang, krn sy suka kebebasan, sy suka menikmati 'me time' utk benar2 menikmati perjalanan sy dan mengamati org2, krn saya juga penulis novel (kalo boleh jujur sih menulis buku panduan hanyalah batu loncatan utk 'punya nama' di dunia penulisan Indonesia, buktinya Jakarta Post menulis sy (dan 2 penulis lain) sbg Fun Fearless Femaile Traveler, krn tujuan akhir sy adalah menjadi penulis novel. Dan sekalipun buku sy laris, itu sama sekali tidak seberapa dari gaji sy di kantor, apalagi gaji dunia tambang, Sy cuma senang bisa membantu teman2 yg ingin ke eropa tp dana terbatas dan ngga berani nekat, buktinya banyak pembaca buku sy yg akhirnya mendarat di kota2 yg sy sebutkan :-) yah org mau bilang apa, yg penting sy bahagia, niat sy menjadi penulis kesampean, niat sy menolong org tersalurkan

aji satria putra said...

kalau anda emang traveler beneran, apakah iya traveling tu harus text book ngikutin buku? kalo gak mau repot tinggal pake tour selese..
penjelasan anda TIDAK RELEVAN. contoh, kalo anda beli buku yang tentang Thailand Malaysia Singapore taun 2001, pasti akan banyak detail harga yang berubah karena itu buku taun 2009. woy, hidup di dunia mana sih anda, Indonesia aja tiap taun inflasi, negara lain jelas iya donk. harga2 naik itu biasa! kalo mempermasalahkan harga2 udah naik & gak sama di buku, brarti anda yang hidup di gua dan tidak melihat realita yang ada!!
kalau emang anda udah pernah backpackeran, teori di buku akan berbeda dengan kenyataan. petunjuk emang dari buku, tapi pelaksanaan akan bergantung pada KEMAMPUAN dan KEFASIHAN anda dalam me manage diri. kalo anda bikin tulisan bersifat NGEJUDGE gini, brarti saya boleh donk kalo NGEJUDGE anda juga DANGKAL? bahkan saya bisa aja NGEJUDGE anda gak menikmati jalan2 karena cuma ngitung doank.

Anonymous said...

baca juga deh __> biar imbang...


https://www.facebook.com/notes/sony-kusumasondjaja/buku-panduan-perjalanan-2-jutaan-sesatkah/10150867560117932

nicamperenique said...

baru2 ini saya mengandalkan sekali satu buku untuk menemani perjalanan saya ke satu tempat, dan pada akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa, BUKU BOLEH JADI PANDUAN, tetapi tentu harus disesuaikan dengan pola gerak kita sendiri.

Jadi buat saya, seminim apapun biaya yang ditulis si penulis, ya sah2 saja, toh dia menulis sesuai apa yang dia alami sendiri.

Subhanallah gantengnya said...

Terus saya juga pernah mau pergi ke larantuka pake buku Yassin, eh nyasarnya malah ke tahlilan orang meninggal. Gagal lagi deh jalan-jalannya.

Subhanallah gantengnya said...

Terus saya juga pernah mau pergi ke larantuka pake buku Yassin, eh nyasarnya malah ke tahlilan orang meninggal. Gagal lagi deh jalan-jalannya.

Arip Pudin Hidayat (Bermimpi Keliling Dunia) said...

segmentasi pasarnya berbeda kali, ini buat jajaran kaya saya yang pengen liat luarnegri dengan biaya murah, pesaing itu jangan dibunuh tapi dijadikan semangat untuk berinovasi. mungkin untuk pensegmentingan di serahkan ke manajer pemasaran bukunya, bagaiman bikin buku unik dan laris kaya buku yang isinya untuk orang kaya saya. wkwkwkwkwkwk

Tekno Bolang said...

Ha ha ha ternyata Rame juga dsini, Oh ya kebetulan saya juga Gak terlalu setuju dengan judul buku Sekian rupiah keliling indonesia, Eropa, ato akherat " Upsss keceplosan ha ha. Esensi dari sebuah perjalanan adalah proses perjalanan nya itu sendiri. Semua item yang adal di dalam di sebuah perjalanan harusnya di masukin ke dalam list pengeluaran kita, eh jika nantinya di lapangan dapat tumpangan gratisan ya itu sebuah berkah dan budget yang ada bisa untuk lebih eksplores susatu yang baru didaerah tujuan kita atau sekedar ikut membantu ekonomi kerakyatan disana dengen membeli produk kerajinan setempat.

oh ya yang pada nanya tentang buku yang bagus buat dibaca, coba deh buka kitab suci kluyuran saya dengen judul keren nya "BALADA SI ROY" karangan mbahnya tukang Ngeluyur di Indonesia om GolaGong. DIjamin OK banget bos dan itu layak jadi teman jalan maupun inspirasi jalan anda semua.

Jika boleh mengutip celotehannya kakak Uyan yang UNyu

"saya menganggap intisari perjalanan adalah get lost. Ketika kita mengalami rasa berdesir karena "hilang" di dunia yang sama sekali asing bagi kita, itulah yang tidak bisa dibeli dengan uang. Saat kita tidak tahu mau kemana, kala itulah kita dituntut untuk berinteraksi dengan orang lokal. Mengobrol hangat di warung kopi sembari bertanya ini itu. Atau berjalan mengikuti intuisi"

So jadikan sebuah perjalanan menjadi pelajaran paling berharga buat hidup kita.

Anonymous said...

jalan-jalan kalo tujuannya cuma pengen ke tempat wisata, trus foto2, pamer ke teman2 biar dapet titel blablabla traveller, bisa banget dengan berbekal buku 'sekian-juta-nyampe-mana'

Tapi untuk kami2 ini yang suka datang ke tempat asing, berinteraksi dengan penduduknya (syukur2 dapat tempat nginep), itu yang disebut perjalanan.

jalan-jalan dan perjalanan itu beda banget kastanya. yang satu, cuma asal lewat aja. yang satu, meleburkan diri di tempat tujuannya, mempelajari kebudayaannya, (berusaha) memahami pola pikir masyarakatnya.

jadi nggak usah otot2an lah soal udah travelling kek, udah dapet stempel visa berapa biji kek...jalan2 dan perjalanan itu beda kastanya.

oiya, saya belum pernah travelling. terlalu singkat. saya lebih suka merantau.

Salam kabur dari rumah!

Reny Suci said...

jalan-jalan kalo tujuannya cuma pengen ke tempat wisata, trus foto2, pamer ke teman2 biar dapet titel blablabla traveller, bisa banget dengan berbekal buku 'sekian-juta-nyampe-mana'

Tapi untuk kami2 ini yang suka datang ke tempat asing, berinteraksi dengan penduduknya (syukur2 dapat tempat nginep), itu yang disebut perjalanan.

jalan-jalan dan perjalanan itu beda banget kastanya. yang satu, cuma asal lewat aja. yang satu, meleburkan diri di tempat tujuannya, mempelajari kebudayaannya, (berusaha) memahami pola pikir masyarakatnya.

jadi nggak usah otot2an lah soal udah travelling kek, udah dapet stempel visa berapa biji kek...jalan2 dan perjalanan itu beda kastanya.

oiya, saya belum pernah travelling. terlalu singkat. saya lebih suka merantau.

Salam kabur dari rumah!

Anggafirdy said...

menurut saya buku semacam itu bisa dijadiin salah satu sumber "daftar pustaka" dari perjalanan yang akan kita lakukan, tp tetep harus cerdas memilah informasi di dalamnya.

Sari Musdar said...

menulis harusnya membuat tambah teman (banyak pembaca dari banyak daerah) bukannya menebarkan kebencian, kesombongan, apalagi menjelek2kan penulis atau tulisan lain. Semangat menghormati dan menghargai perbedaan genre tulisan, krn tulisan itu buah dari otak, otak yg diberikan Tuhan, kalau merendahkan karya org lain sama aja merendahkan karya Tuhan. Iya apa iya? :-))

Sari Musdar, HRD yg pernah bekerja di Tembagapura, pernah tinggal di Tembagapura, Bandung, Paris & Melbourne. Penulis 'Panduan Hemat Keliling Amsterdam, Brussels, Paris, Luxemburg & Trier", "Cinderella in Paris", "TraveLove", penyumbang tulisan anak2 muda utk kompilasi NGO di Malaysia. Alhamdulillah tulisan sy dibilang dangkal, masih belajar, dan jadi penulis karena keberuntungan ada beberapa editor penerbit yg tertarik, alhamdulillah jadi banyak teman seIndonesia

Sari Musdar said...

Alhamdulillah ya sesuatu banget karena tulisan saya yg menurut Mas ayos dangkal bisa masuk bbrp media padahal kenal reporternya juga ngga, termasuk ini yg ditulis di The Jakarta Post : http://m.thejakartapost.com/news/2012/04/22/fun-fearless-female-travelers.html saran saya sih Mas Ayos, rezeki itu sudah diatur Tuhan, ndak perlu black campaign, gimana cara kita berusaha menjemput, ga usah repot menanggapi negatif 'keberhasilan' orang, lebih baik kita saling berusaha membuat karya yg terbaik, kalau ada karya yg kurang baik bicarakan ke orangnya langsung. Ah gitu aja kok refot. Mirip twitter gitu loh, klo suka 'follow', kalau ga suka 'unfollow'. Prinsip hidup saya nih 'I better shut my mouth up, if icant say something nice' peace ya semoga tulisan anda makin sukses

Cassandra said...

somehow saya setuju dengan blog ini......sempet ngenes jg pas keliling toko buku di jkt dan menemukan puluhan buku travel dengan iming2 judul yang sangat bombastis, setelah beberapa saya beli dan baca, aduuhh plis deh info nya minim sangat !! Buku2 yg sangat2 tidak recommended untuk dibeli......

Sari Musdar said...

Reny darling, sama! Saya juga lebih suka tinggal lama di suatu tempat, mengenal budaya dan bahasa. Saya pernah tinggal di Tembagapura (Papua) hampir 2 thn - yg ini sih untuk kerja di tambang emas di papua, membuat sy lebih toleransi dan menghargai orang dengan latar budaya berbeda, apalagi dgn orang2 dari 7 suku asli di situ, suku Amungme, dhani, damal dll, pernah tinggal di Paris (utk kursus bhs perancis), 4.5 tahun di Bandung untuk kuliah, 6 bulan di Melbourne untuk kursus. Saya jalan2 atau merantau atau melakukan perjalanan juga ga berharap dpt label bla bla bla traveler, alhamdulillah jika reporter Jakarta post atau majalah lain yg baca blog sy / buku saya tertarik untuk mewawancara saya. Cobalah melakukan perjalananatau apa pun istilahnya, karena perjalanan membuat org tidak narrow minded. Seperti penjelasan Ludovic Hubbler di blog saya http://sarimusdar.blogspot.com oh iya btw saya setuju, saya juga ga suka pamer berapa banyak negara yg saya kunjungi apalagi pamer foto narsis di Facebook, saya lebih suka foto2 lanskap, kebetulan sedang belajar. Terakhir, traveling ga harus ke luar negeri kok, banyak daerah di Indonesia yg amat dahsyat! Apalagi di papua.

IqbalSamarinda said...

Saya adalah penikmat jalan2 keluar negeri semuanya dengan di atur oleh travel agent. Sudah puluhan negara saya datangi, tapi saya juga tertarik pengen jalan2 versi
"Backpacker". Jadi saya adalah pembeli setia " Jalan2 ke....dengan...juta ". Salut buat Trinity, Ariy, Claudia Harahap, dkk. Ditunggu lho terbitan terbarunya...

dofont said...

Adehhhh sesame penulis kok ece ece nan, apa iya udah ad patokan tulisan itu baik ato buruk?tiap orgkan mesti gaya penulisannya beda n tujuannya. Buku2 yg kakak sekalian anggap sesat itu justru malah pilihan tepat buat referensi akomodasi yg ad disono sono itu. Disitu lengkap dng alamat hotel n nomer telp, serta perkiraan tarif angkutannya da rute jalur2 tiap angkutannya. Lebih lengkap to, tapi tempat2 yg dituju hanya diulas ringkas dan semenarik mungkin. Utk urusan tempatkan tergantung minat travelernya to, yg jelas kemana kita akan menginap dan naik apa kesana itu yg penting, soal biaya ya sperti dijelaskan tadi diatas sono, kita sebagai pembaca jg harus pintar ga mungkin biaya akan sama dengan apa yg penulisnya lakukan kerna beda waktu....
Udah deh jng sok ngejudge org lain, istigfar aj dng apa yg tlah kita ucapkan....
Salam