Pages

8/16/11

Mentawai on Screen

Oleh: Ayos Purwoaji

“I enjoy doing things like this because I am a storyteller, plain and simple, not a traditional 'documentary' filmmaker…”
(Werner Herzog, Herzog on Herzog, 2002)

Sejak melihat film dokumenter “The Grizzly Man” (2005), saya memutuskan untuk menjadi salah satu penggemar karya-karya sutradara Jerman, Werner Herzog. Kecintaan saya pada Herzog menguat setelah melihat film dokumenter sederhana berjudul “Wodaabe: Herdsmen of the Sun” (1989) dan “Ten Thousand Years Older” (2002). Film-film Herzog berhasil membawa saya pada realitas budaya di sudut belahan bumi lain dengan sangat menarik, dan tampak begitu dekat.

Tapi saya yakin membuat film dokumenter itu tidak semudah kelihatannya. Merekam kehidupan suku-suku terasing di belahan bumi paling dalam tentu saja membutuhkan usaha yang tidak sedikit. Menempuh perjalanan yang sulit, kondisi tubuh yang lungkrah, atau serangan penyakit hutan yang seringkali mematikan membuat tidak banyak orang yang menceburkan diri menjadi pembuat film dokumenter. Maka tidak heran jika kemudian Herzog mengatakan bahwa seorang dokumentarian itu mustilah,”berjiwa pemberontak dan sedikit gila…”

Barangkali Rahung dan Durga masuk dalam kategori ‘orang gila’ versi Herzog ini.

Film “Mentawai Tattoo Revival” memang bukan satu-satunya film tentang Mentawai. Sebelumnya saya sudah melihat film surfing documentary “21 Days Later: The Mentawai” garapan Mr 8 Productions dan film “The Mentawai” karya Cale Glendening.

Aman Durga Sipatiti (kiri) dan Rahung Nasution (nomor dua dari kiri)

Meski sama-sama bagus dengan angle yang berbeda, namun saya perlu memberikan notasi lebih untuk film karya Rahung dan Durga, karena ini adalah sebuah dokumenter lokal tentang Mentawai yang digarap dengan serius. Melalui narasi yang mengalir dari mulut Aman Durga Sipatiti, saya jadi tahu makna beberapa motif tato Mentawai yang sudah berumur ribuan tahun. Dalam film ini, Durga membawa semangat antropologis yang merunut ragam desain tato Mentawai dalam sebuah katalog visual.

Meski tak seindah visual dalam film “The Mentawai”, namun ada sebuah keintiman yang saya dapatkan dalam film “Mentawai Tattoo Revival”. Durga tanpa canggung membaur dan hidup selama berhari-hari dengan para penduduk Mentawai. Makan dari piring yang sama dan minum dari gelas yang sama.

Bentuk keintiman lain adalah banyaknya frame yang memperlihatkan bagaimana Durga bergaul dengan penduduk lokal. Hal tersebut tidak banyak ditemui pada film dokumenter antropologis yang lebih banyak mengambil jarak. Salah satu fragmen yang saya suka adalah ketika Durga terkena alergi ulat sagu dan Bai Alangi Kuneu, istri seorang sikerei, membaluri seluruh tubuh Durga dengan obat tradisional. Memberikan kesan tidak ada jarak antara pembuat film dan Suku Mentawai yang jadi obyeknya.

Durga sedang merajah tubuh Bai Alangi Kuneu

Dalam perjalanan ini, Durga juga membawa misi penting untuk mentato orang Mentawai yang belum khatam dirajah. Sebagai seorang sipatiti (seorang pembuat tato), Durga datang membawa sejumput harapan di tengah degradasi budaya yang dialami anak muda Mentawai hari ini. Kedatangan Durga membawa pesan yang jelas: jangan sampai tradisi ini lenyap dimakan jargon modernisme dan nasionalisme. Keprihatinan ini memang tidak bisa dibendung lagi, dalam bukunya yang berjudul “Tato”, Hatib Abdul Kadir Olong menulis bahwa seni rajah hanya bisa ditemukan pada dukun dan generasi tua Mentawai saja. Lebih jauh, Hatib meramalkan bahwa tato Mentawai diperkirakan punah tidak lama lagi.

Monolog Durga tentang represi pemerintah lama pada agama Arat Sabulungan juga menjadi bagian yang menarik untuk dikaji. Saya jadi ingat ucapak Bajak Lala, salah satu sikerei (dukun) dalam film “The Mentawai”: ”Hello people from around the entire world, come to the islands of Mentawai quickly, right now the Mentawai are still alive. I'm still alive. But when I die, you will not see my culture any more…”

***
Penting kiranya bagi kita semua untuk melihat film ini, baik itu sebagai sebuah karya antropologis atau dokumentasi perjalanan. Saya masih ingat bagaimana Durga menyusuri sungai dengan perahu motor tempel, membelah hutan-hutan untuk mencapai desa Matotonan. Dalam skena lain, Durga juga bercerita tentang bagaimana beratnya perjalanan menuju desa Sakuddei yang harus ia tempuh dengan berjalan kaki selama dua hari.

Dalam hal ini, Hifatlobrain sebagai sebuah travel institute juga memiliki misi untuk mendorong para pejalan mengabadikan kisahnya tidak hanya melalui foto dan tulisan saja, tapi juga menggunakan medium baru berupa video. Di masa depan, video menjadi bagian tak terelakkan dari evolusi internet yang semakin adaptif pada konten multimedia. Jurnalis cum videografer terkemuka, Dan Chung, mengatakan bahwa, ”Video is the new currency of the internet.”

Dalam beberapa hal, video memang memiliki kelebihan yang tidak bisa ditampilkan dalam sebuah foto, yaitu: gerakan dan suara. Dua aspek ini kiranya yang membuat medium video bisa “lebih” bercerita dibanding medium still photo. Namun masih sedikit sekali travel documentary yang dibuat oleh pejalan lokal. Sebagian besar dokumenter tentang budaya dan destinasi di Indonesia justru dibuat oleh jurnalis dan filmmaker asing. Sebut saja film seri dokumenter dengan judul “Ring of Fire: An Indonesian Odyssey” (1972) besutan Lorne dan Lawrence Blair yang menjadi arsip berharga tentang pengelanaan duo traveler keliling Indonesia selama sepuluh tahun.

Saya pribadi berharap akan lebih banyak film dokumenter menarik yang dihasilkan oleh petualang lokal, lebih banyak pula dokumentasi tentang kekayaan budaya Indonesia. Dengan begitu cepatnya perkembangan teknologi kamera digital, saya yakin dalam waktu yang tidak lama akan muncul the next Rahung Nasution atau the next Farid Gaban, yang menenteng kamera HD (high definition) sambil berkelana mengeksplorasi Nusantara. []

3 comments:

baghendra said...

amin... makasih infonya tentang film2 bagus mbah...

Anonymous said...

Bukan alergi karena ulat sagu atau Tamra dalam bahasa Mentawai, tetapi saya alergi udang yg besar dan Lobster. Di kuali itu, Bai Alangi memasak babi, ulat sagu, ayam, telur dan udang. Semuanya dicampur. Jadi ya otomatis saya kena alergi karena udang.
Lucu memang... Untung bawa obat anti alergi juga.. :-)
Thanks,
Durga

Ayos Purwoaji said...

Terimakasih atas koreksiannya mas Durga. Plis ajak kami kalo ke mentawai lagi :)