Pages

9/28/11

FresH Surabaya: Go Traveling

Poster acara FresH Surabaya, klik untuk memperbesar.

Waktu:
Jumat, 30 September 2011
Pukul 18.30-21.00

Tempat: 
C2O Library Surabaya
Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya 60264
(Jalan kecil seberang konjen Amerika)

Pembicara:
Ayos Purwoaji ( Hifatlobrain.Net )
Ayos akan menceritakan pengalamannya travelling ke beberapa tempat di Indonesia. Apa asyiknya travelling dan apa pentingnya mendokumentasikan travelling. Lalu, bagaimana pula mendokumentasi travelling yang baik, melalui foto, tulisan, maupun video.

Paulina Mayasari ( Jejak Petjinan )
Maya akan menjelaskan motifasinya menggagas Jejak Petjinan. Jejak Petjinan adalah upaya mengenal, memelihara, peninggalan budaya China di Indonesia dengan mengunjungi situs-situs pecinan. Apa asyik dan menariknya?

Andy Kristono ( LiburanMurah.Info )*
Andy akan memberikan tips-tips traveling yang murah. Menjelaskan tentang apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum travelling. Serta bagaimana menikmati traveling.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Ada makanan kecil untuk peserta.

Kontak
Email: freshsby@gmail.com atau freshsby@yahoo.com
Twitter: http://twitter.com/freshsby atau hastag #FreShSby
Facebook: http://facebook.com/freshsby
Website: http://freshsurabaya.com

Kontak Personal
P. 0856 297 1955
Twitter: http://twitter.com/imammtq

9/25/11

Get Close

"Forget the long lens, Bru.
Things only look good up close..."

(Kevin Carter, The Bang Bang Club, 2010)

Tiga hari yang lalu saya menonton film asyik; The Bang Bang Club. Ceritanya tentang empat sekawan fotografer perang yang bertugas di Afrika Selatan selama perjuangan politik apharteid berlangsung, sekitar tahun 1990-1994. Film ini berdasarkan kisah nyata dan mencoba membuat replika keadaan carut marut yang menghiasi hidup keempat fotojurnalis ini.

Satu hal yang paling saya ingat dari film ini adalah nasihat Kevin Carter kepada fotografer muda Greg Marinovich saat meliput sebuah kekacauan di sebuah sudut kota. Saat itu Greg datang dengan sebuah lensa tele dan pulang tanpa mendapatkan hasil yang berarti. Kevin lantas memberikan masukan berharga seperti yang saya kutip di atas.

Nasihat yang sama sebetulnya juga datang dari Robert Capa yang dimunculkan dalam intro film War Photographer: "If your pictures aren't good enough, you're not close enough..."

Dua nasihat ini bermakna sama. Untuk mendapatkan foto human interest yang bagus kita memang harus mendekat. Artinya tidak saja mendekatkan diri secara jarak (dengan menggunakan lensa bukan tele) tetapi juga mendekatkan diri secara psikologis.

Saya sudah membuktikan rumus sederhana ini. Sangat jarang saya menggunakan lensa tele saat traveling dan sebelum memotret penduduk lokal saya usahakan untuk ngobrol dan berkenalan dahulu. Ini yang disebut bang Yudi Febrianda sebagai "The Coffeeshop Theory", ajak bicara, ngopi-ngopi dulu baru jepret. Jika tidak, biasanya saya gagal untuk menangkap emosi mereka. []

5 Hari 5 Negara

Sudah dua kali Lucy menyuruh saya proofreading naskah bukunya. Sudah dua kali pula Lucy meminta saya menuliskan semacam sambutan pendek di bukunya. Pun ini kali kedua Lucy mengirimi saya bukunya dalam keadaan sudah tercetak cantik. Dalam dua kesempatan itu juga Lucy selalu tanya pada saya: "Ayos, kapan kamu bikin buku sendiri?"

Saya bilang saya belum pede nulis buku. Ada rasa sungkan imajiner kepada pakdhe Paul Theroux, paklik Lawrence Blair, atau kangmas Agus Weng yang membuat saya menahan hasrat untuk bikin buku beneran. Saya beraninya bikin ebook yang disebar gratis. Kalo buku, hmm tampaknya saya belum mampu.

Ketidakmampuan ini bermakna literer. Saya belum punya cukup tabungan travelogue, saya merasa tidak punya kapabilitas yang memadai, dan saya belum punya semangat untuk istiqomah menyusun sebuah buku.

Ini pekerjaan yang rumit, ada banyak sekali workflow yang harus dipenuhi sebelum naskah siap dicetak. Membuat pembabakan, melakukan riset, menulis berlembar-lembar, mengedit, menulis lagi, mengedit lagi, dan sebagainya sampai mendapatkan penerbit yang baik hati. Hal ini tentu saja membutuhkan endurance, daya tahan semangat dan tenaga ekstra tinggi. Saya belum mampu melakukan semua itu.

Harus saya akui kehebatan Lucy. Dia ini pegawai kantoran tapi produktif nulis buku. Travel books-nya aja udah tiga biji. Saya bingung bagaimana dia mengatur jadwal hidupnya. Lebih bingung lagi jika Anda sudah baca bukunya, sangat detail dan subtil sekali. Lucy mampu mengingat dengan baik tidak hanya destinasi yang dia kunjungi, tapi juga sampai nama orang, suasana, dan percakapan yang dilakukan! Wedyan. Minum apa sih kamu mbak?

Mengenai perjalanannya yang "5 Hari 5 Negara" saya yakin itu adalah konsekuensi dari profesinya sebagai orang kantoran, karena yang ideal sebetulnya adalah 5 hari 1 provinsi saja, hahaha. Tapi selain itu saya menaruh curiga bahwa Lucy melakukan perjalanan ini dengan membawa semangat Jules Verne yang pernah menulis buku "Around the World in 80 Days", sehingga ia harus memangkas waktu di sebuah daerah untuk mengejar destinasi selanjutnya.

Meskipun ini bukan bentuk perjalanan yang ideal dan terkesan 'numpang mandi' saja, tapi sebetulnya tetap harus dilakukan oleh seorang Lucy demi menyiasati hidup di Jakarta yang patetik. "Saya keburu sadar saat rekan yang lainnya mengingatkan bahwa sepuluh tahun dari sekarang, kamu akan lebih menyesali apa pun yang nggak kamu lakukan daripada apa yang kamu lakukan..." tulis Lucy.

Dengan waktu libur yang pendek dan seringkali sulit mendapatkan cuti, tentu lima hari adalah waktu yang berharga bagi Lucy. Sebuah waktu istimewa yang harus dimanfaatkan dengan sangat efektif, seefektif Lucy dalam mengatur keuangan perusahaan.

Tapi sedikit kritik saya buat buku Lucy yang baru; sebagai penulis yang sudah membuat tiga buku, Lucy tampaknya masih setia dengan gaya penulisan yang linear. Mungkin nanti di buku selanjutnya Lucy bisa memberikan surprise dengan gaya penulisan baru tanpa harus kehilangan identitas ke-Lucy-annya.

Selamat Lucy atas terbitnya buku barumu, ditunggu buku selanjutnya :)

9/24/11

Sedekah Bumi Kampung Kungfu


Bagaimana caranya menjalin berbagai macam perbedaan menjadi sebuah kebersamaan yang harmonis dalam kurun waktu yang tidak sebentar? Sebaiknya pertanyaan ini disampaikan kepada seluruh penghuni Kampung Kungfu di Kapasan Dalam, Surabaya. Dinamai demikian karena menurut sejarah yang panjang, kampung ini adalah pusat jagoan-jagoan kungfu di masa Belanda. Meski sebagian besar dihuni oleh orang Tionghoa, tapi banyak juga penduduknya yang beretnis Jawa dan Madura.

Nah di kampung ini berdiri sebuah klenteng Kong Hu Cu satu-satunya di Indonesia, Boen Bio, dan setiap tahun saat kelahiran Nabi Kongzi dirayakan penduduk kampung pun ikut bersuka ria dengan menggelar acara wayang dan selamatan ala Jawa sekaligus mengundang ustadz. Hebatnya, acara hybrid antara budaya Tionghoa, Jawa dan Madura ini bisa bertahan hingga 115 tahun!

Malam kemarin acara perayaan kelahiran Nabi Kongzi kembali dirayakan di Kampung Kungfu, saya ikutan bersama beberapa teman. Dalangnya adalah Tee Boen Liong, atau sering juga dipanggil Ki Sabdo Sutejo, seorang dalang keturunan Tionghoa. Saya suka gayanya yang unik saat membawakan goro-goro (bagian humor dalam pakem pewayangan) dengan membawa tokoh wayang ciptaannya yang berdada montok dan dipanggil Malinda. Hahaha. []

Top List To-Do in Dieng

Apakah Anda sudah pernah mengunjungi Dieng Plateau di Wonosobo, Jawa Tengah? Jika belum maka Hifatlobrain akan membagikan beberapa top list to-do yang bisa Anda lakukan di sana. Seperti halnya supermarket, Dieng menyediakan banyak tempat yang bisa didatangi. Kawasan ini terletak di atas awan dan hampir setiap saat diselimuti kabut, membuat kabur batas antara mitos dan kenyataan. Belum lagi pilihan kuliner yang siap menyambut Anda dengan rasanya yang khas. Maka ini lah lima daftar esensial yang bisa Anda lakukan di Dieng!

1. Melihat Sunrise

Sekitar pukul setengah lima pagi Anda harus sudah bangun dan bersiap. Lantas dantangilah pangkalan ojek lokal atau meminjam motor malam sebelumnya. Tancap gas motor Anda menuju desa Sembungan, desa tertinggi di Jawa. Sampai di kaki Bukit Sikunir, silahkan bergabung dengan banyak turis lain yang trekking untuk melihat sunrise.

Pemandangan di sepanjang jalur trekking di Bukit Sikunir itu indah. Kita bisa lihat sistem terasering unik yang dikembangkan oleh warga Dieng. Bentuknya melingkar seperti caping. Saya rasa pada zaman dahulu alien lah yang mengajarkan para petani Dieng bagaimana cara bercocok tanam.

Konon, kata teman saya, ada dua jenis sunrise di Dieng, golden sunrise dan silver sunrise. Saya nggak paham apa bedanya. Tapi yang pasti memang sunrise di Bukin Sikunir ini lumayan keren, bahkan jika beruntung dan kabut tidak terlalu tebal, Anda bisa melihat empat gunung berjajar dalam satu barisan. Tentu saja momen ini menjadi buruan para penggemar fotografi.

Bagi penggemar camping, Anda bisa juga mendirikan tenda di puncak Bukit Sikunir.

2. Menapaki Sejarah

Bagi para pecinta sejarah, tentu saja Dieng adalah tempat yang tepat untuk bertertirah. Dieng membangun peradabannya sejak tahun 8 Masehi, buktinya berupa formasi candi-candi yang tersebar di seluruh plateau. Namun diantara banyak candi tersebut, Candi Arjuna adalah yang paling tua. Arsiteturnya sederhana, tanpa banyak detail relief yang menghias dindingnya. Namun dibalik kesederhanaan ini tidak dapat dimungkiri bahwa candi-candi mungil di Dieng adalah cikal bakal dari candi-candi besar di Jawa.

Silahkan datang juga ke Museum Kailasa. Di dalamnya terdapat banyak arca dan berbagai jenis artefak peninggalan masyarakat Dieng masa lampau. Sebagai sebuah wilayah yang mandiri, ternyata Dieng juga mengembangkan sistem kesenian sendiri yang terasa begitu unik, terlepas dari budaya dominan Kraton Jawa pada umumnya.

Di museum keren ini juga Anda bisa menyaksikan sebuah video dokumenter singkat tentang seluk beluk Dieng, bahkan dari masa pembentukan prasejarahnya.

3. Menyapa alam

Kondisi geologis Dieng yang unik menciptakan berbagai jenis destinasi alam yang tidak patut dilewatkan. Ada banyak kawah dan telaga yang tersebar di seluruh plateau. Tapi dua yang wajib Anda kunjungi adalah Telaga Warna dan Kawah Sikidang. Tanpa berkunjung ke dua destinasi ini maka wisata Anda ke Dieng akan terasa sangat hampa.

Telaga Warna terletak tidak jauh dari pusat desa Dieng. Anda bisa jalan kaki untuk menuju telaga berwarna hijau tosca ini. Syahdan, kepekatan dan warna air di telaga warna ini bergantung pada posisi matahari. Tapi entahlah, sepertinya didatangi kapanpun telaga ini juga tetap indah. Ada banyak posisi yang bisa dipilih untuk menikmati Telaga Warna, namun sepertinya the best view adalah di pucak bukit Sikendang. Dari atas bukit ini Anda bisa melihat Telaga Warna yang dilindungi oleh Bukit Sikunir di sebelah selatan.

Kawah Sikidang menawarkan pesona yang lain lagi. Ini adalah kawah aktif yang masih mengeluarkan asap belerang. Sebagai bukti bahwa di bawah tanah Dieng masih tersisa aktifitas vulkanis yang belum berhenti. Sebelum menuju kawah ada sebuah pasar tradisional yang menjajakan souvenir khas Dieng.

Selain dia destinasi wajib di atas sebetulnya masih banyak wisata alam lainnya di Dieng. Silahkan tanya pada penduduk lokal yang lebih mengerti letak dan potensi bagus-tidaknya.

4. Mencicipi makanan khas

Nah! Ini yang haram untuk dilewatkan selagi berada di Dieng; mencoba makanan khas! Bayangkan Anda sudah menempuh jarak jauh hanya untuk makan nasi campur atau nasi goreng lagi? Oh shame on you, bru! Maka biar tidak malu, cobalah minuman hangat Purwaceng yang bikin greng! Ini adalah tumbuhan endemik Dieng yang diolah masyarakat Dieng sebagai minuman kebangsaan. Rasanya hangat seperti jahe, khasiatnya dahsyat seperti ginseng. Minuman ini sangat cocok sebagai teman untuk mengusir hawa malam Dieng yang kurang ajar. Apalagi ditambah kudapan berupa kentang goreng dengan irisan yang besar-besar, itu adalah paduan yang pas untuk makan sore.

Dengan mengonsumsi dua hal itu berarti Anda turut membantu kehidupan petani Dieng juga.

Purwaceng saat ini juga dijual dalam bentu bubuk dengan packaging modern. Sehingga bisa juga dibawa pulang sebagai buah tangan. Bahkan jenisnya pun menjadi lebih bervariasi: purwaceng untuk pria, purwaceng untuk wanita, purwaceng telor, purwaceng susu, purwaceng for the dummies...

Sedangkan makanan yang menjadi kebanggaan Dieng adalah manisan carica. Saya yakin buah ini masih satu famili dengan pepaya. Bentuk pohonnya mirip, bentuk buahnya mirip, rasanya juga hampir sama. Bedanya buah carica ini lebih kecil ketimbang pepaya. Rasa manisan buah carica sangat segar! Cocok dimakan buat pejalan yang lelah sehabis trekking atau ibu muda yang sedang hamil.

5. Meet the locals!

Alam yang indah, sejarah yang panjang, dan makanan dengan citarasa khas semua itu dimiliki Dieng. Tapi rasa-rasanya tidak lengkap tanpa hadirnya mitos anak bajang yang sudah menjadi kepercayaan selama ribuan tahun. Anak bajang adalah anak lokal berambut gimbal. Jika Anda percaya bahwa dreadlock style itu berasal dari Bob Marley, maka harus secepatnya direvisi. Anak bajang bahkan sudah gimbal (dreadlock) sejak balita! Konon rambut gimbal ini muncul setelah ditandai panas badan yang tinggi pada anak-anak Dieng saat berumur 2 tahun. Setiap tahunnya ada acara ruwatan yang digelar untuk mencukur anak-anak berambut gimbal ini.

Selain itu mengajak ngobrol atau bercanda dengan penduduk lokal akan memberikan satu perspektif baru pada perjalanan Anda. Melebur dengan masyarakat sekitar dan merasakan keramahan khas Dieng niscaya akan membuat Anda selalu kangen untuk kembali. []

9/22/11

World Cities

Dapet dari Tumblr seorang teman. Bagus juga ya bikin GIF ginian :3

9/20/11

Pray for Balai Pemuda

Foto oleh Karika Fani
Hanya terpisah beberapa meter,
petaka lebih memilih Balai Pemuda daripada gedung DPRD Surabaya.
RIP Simpangsche Societeit, 1907 - 2011.

(Rahadityo Mahindro Bhawono, 2011)
Saya kaget mendengar kabar bahwa gedung Balai Pemuda (De Simpangsche Societeit) terbakar sore hari ini. Waduh, padahal gedung itu bentuknya seksi sekali, sangat art deco. Saya punya kenangan khusus karena dulu di Balai Pemuda saya sering lihat pameran dan pacaran. Hampir tiap minggu selalu ada acara di gedung cagar budaya ini, konser, pameran, teater, bazar, senam pagi atau apapun lah.

Balai Pemuda punya caranya sendiri untuk mengumpulkan warga kota. Kalau jaman dahulu gedung ini sering dipakai untuk pesta dan berdansa para noni dan tuan Belanda, maka hari ini Balai Pemuda menjadi semacam tempat kreatif bagi para seniman Surabaya.

Semoga pemerintah Surabaya bisa memulihkan kondisi Balai Pemuda dengan cepat. Biarkan bangunan tua di tengah kota tetap berdiri sebagai pengingat generasi muda tentang sejarah yang sudah lewat.


Sketsa karya seniman legendaris Surabaya, Liem Keng,
yang menjadi kover tulisan di Hifatlobrain pada tahun 2008.
Silahkan klik pada gambar untuk membaca artikel karya Winda Savitri.

Fungsi gedung De Simpangsche Societeit pada zamannya sebagai tempat pesta
dan gaul para noni dan tuan Belanda. Gambar diambil dari buku

"Memoirs of an Indo Woman: Twentieth-Century Life in the
East Indies and Abroad"
oleh Marguerite Schenzkhuizen (1993)

9/19/11

The Winding Road



"Traveler itu ngejar 'journey',
bukan cuma 'destinations'..."
(Bhagavad Sambadha, 2011)


Sebagai seorang pejalan, apakah Anda pernah ditanya; sudah pergi kemana aja? Itu adalah jenis pertanyaan generik yang biasa ditanyakan pada orang yang suka traveling. Seakan-akan jumlah destinasi menjadi tolok ukur paling mudah untuk menentukan apakah seseorang itu benar-benar traveler atau bukan.

Tapi tentu saja tidak semua traveler berpikiran demikian. Ada beberapa orang yang lebih suka menikmati perjalanan ketimbang destinasi itu sendiri. Contoh paling mudah adalah para biker yang sedang touring. Bagi mereka, bisa jadi kebersamaan dalam perjalanan, suara deru motor, bau asap knalpot, atau debu jalanan itu jauh lebih eksotik ketimbang hamparan pantai berpasir putih.

Proses perjalanan itulah yang disebut journey. Itu yang menempa pribadi para petualang sehingga mampu melihat kehidupan dengan cakrawala yang lebih membumi. Sebuah perjalanan juga senantiasa mengingatkan para petualang bahwa dunia itu luas dan manusia itu kecil. Maka jika sudah seperti ini, jumlah desinasi menjadi tidak begitu berarti.

Saya membuat video The Winding Road ini sebagai sebuah simbol, bahwa perjalanan itu kadang lebih seru ketimbang tujuan itu sendiri. Dan saya menikmati setiap perjalanan yang saya lakukan, lengkap dengan kerikil dan sandungan yang terjadi di jalan.

Bromo Horses

Bromo Horses series by Idham Rahmanarto


Idham Rahmanarto
, seorang fotografer lulusan Galeri Fotojurnalistik Antara, menyumbangkan serangkaian karya foto tentang kuda-kuda di Bromo. Karyanya sederhana namun cukup menarik, diambil dengan sebuah kamera plastik tua Olympus XA-2 yang setia menemani kemana pun Idham pergi traveling. Sebetulnya Idham juga memiliki sebuah DSLR canggih, namun sepertinya ia merasa lebih enjoy dan playful dengan kamera mainannya itu.

Pria penggemar Radiohead ini adalah titisan dari Oscar Motuloh. Bagaimana tidak? Coba saja lihat foto-fotonya yang hitam putih dengan komposisi penuh arti itu. Bagi saya ini adalah sebuah travel photography yang sedikit advance. Ada gabungan rumit antara jurnalisme dan semiotika di dalamnya. Membuat siapa pun yang melihat akan mendadak pusing atau menjadi galau, lantas segera mencari sebotol Baygon cair untuk diminum...

Ini adalah kali kedua Idham pergi ke Bromo, ia datang khusus untuk melihat ritual Kasodo dan turut bergabung meramaikan tim produksi dari Hifatlobrain saat menggarap Homeland. Gery Baskoro, teman seangkatannya di Binus diajaknya juga. Mereka berdua menjadi pasangan traveling yang serasi, bagaikan duo tikus putih Pinky and The Brain yang ingin menguasai dunia.

Maka silahkan nikmati rangkaian foto menarik dari Idham ini, dengan sebotol Baygon cair tentu saja! Hehehe.

PS: Follow Idham on his Twitter

9/13/11

Top 5 Traveling Movies by Iman Kurniadi

1. Diarios de Motocicleta (The Motorcycle Diaries, 2004)

“Let the world change you
and you can change the world”


Film The Motorcycle Diaries bercerita dua pemuda penunggang motor tua La Pederosa (Sang Perkasa) dan menempuh jarak lebih dari 12.000 km, dari Buenos Aries ke sepanjang wilayah Amerika Selatan. Pengendara motor tersebut adalah dua calon dokter muda Ernesto Guevara dan Alberto Granado. Kelak Ernersto lebih kita kenal dengan sebutan Che Guevara, seorang revolusioner Marxis di Argentina dan gerilyawan Kuba yang paling diingat.

The Motorcycle Diaries adalah sebuah film berdasar kisah nyata yang ditulis oleh Ernesto. Film ini lebih kurang merupakan sebuah biografi singkat tentang masa muda Che Guevara ketika berusia 23 tahun. Ia dan sahabatnya bersepeda motor menyusuri Amerika Selatan dan mengalami banyak sekali peritiwa yang akan mempengaruhi pandangannya dalam melihat hidup. Klimaksnya terjadi pada saat persinggahan Ernesto di Peru dan bekerja sebagai volunteer di pengasingan bagi penderita lepra. Melalui film ini penonton diajak untuk menyelami kejadian-kejadian yang membentuk karakter seorang Che Guevara. Dan, kemudian, tagline film ini pun menemukan konteksnya; "Biarkan dunia mengubahmu lebih dulu sebelum kelak kamu bisa mengubah dunia..."

Itu artinya banyak inspirasi dan pelajaran berharga yang dapat diambil dari film The Motorcycle Diaries. Penulis berpendapat dalam film yang diambil dari kisah nyata ini mengajarkan kepada para traveler untuk satu, pantang menyerah. Banyak sekali rintangan yang dialami Alberto dan Ernesto selama perjalanan, mulai ban bocor, tabrakan, jatuh beberapa kali, hingga mendorong sepeda motor yang mogok ditengah-tengah jalan dengan salju yang lebat. Hebatnya, mereka tetap teguh melanjutkan perjalanan, dengan atau tanpa motor.

Dua, Man Search for Meaning, ini adalah judul buku yang ditulis Viktor Frankl mengenai filsafat eksistensialisme. Artinya seorang pejalan tidak hanya memiliki destinasi turistik semata, lebih dari itu pencarian jati diri dan pemaknaan kehidupan itulah 'destinasi' yang sesungguhnya. Mungkin meaning yang ditemukan oleh Ernesto selama pengembaraannya itulah yang membuat dia berubah.

2. The Great Voyage (La Grand Voyage, 2004)

Father: The ocean water evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate, they become fresh. That’s why it’s better to go on your pilgrimage, on foot than on horseback, and better on horseback than by a car, and better by car than by boat, and better by boat than by plane.

Film ini menceritakan kisah seorang anak bernama bernama Reda, yang terpaksa mengantarkan ayahnya pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dengan menggunakan mobil. Dalam perjalanan panjang melintas berbagai negara itulah mereka berdua mengalami peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Seperti bertemu dengan wanita misterius, penipu dan pencuri, terkubur di badai salju, bertemu sekelompok peziarah yang juga naik haji menggunakan mobil, hingga membeli kambing untuk bekal perjalanan. Selama perjalanan mereka jarang tidur di hotel. Begitu pula dengan bagaimana mereka makan sehari-hari. Mereka lebih sering tidur di dalam mobil dan memasak di pinggir jalan selama perjalanan.

The Great Voyage menceritakan hubungan dan konflik antara ayah dan anak yang sangat menarik untuk ditonton. Seorang anak yang sangat kesal karena melakukan perjalanan yang bukan kehendaknya, di sisi lain seorang ayah yang memiliki keyakinan bahwa perjalanan spiritual sebaiknya dilakukan dengan cara yang lebih keras, semacam ujian untuk teguhnya iman.

What if
, melakukan sebuah perjalanan, melakukan aktivitas traveling dan aktivitas-aktivitas lain yang melekat, bukan karena keinginan kita? Itulah yang dirasakan Reda. Perjalanan mengantarkan ayahnya ke Mekkah bukan keinginannya. Sang ayah juga keras kepala, dia naik haji tidak mau menggunakan pesawat yang mungkin lebih hemat dan cepat. Kebanyakan orang melakukan traveling karena kehendak pribadi. Bagaimana caranya, aktivitas apa yang akan dilakukan, maupun tujuannya sesuai dengan kehendak itu.

Dalam film ini, bagaimana jika traveling yang kita lakukan bukan kehendak kita? melainkan kehendak orang lain. Barangkali tanpa hal-hal menyenangkan yang akan kita alami selama traveling kita akan merasa mudah bosan, marah, kesal, atau malah mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan?

Hal lainnya, adalah sebuah pilihan, how to get there. Seorang traveler pasti akan memilih asas “the fastest and the cheapest” untuk mencapai sebuah destinasi. Nah film ini memberikan opsi sebaliknya: “Bila ada cara yang lebih sulit, kenapa harus pakai cara yang lebih mudah?”. Untuk menjalankan hal ini tak lain adalah butuh determinasi diri yang kuat, mengapa kita memilih cara yang sulit menuju destisasi tertentu. Mempersulit diri sendiri? Absolutely! Tapi mungkin ada kenikmatan saat sampai tempat tujuan akan berkali lipat besarnya dibandingkan cara yang lebih mudah. Hal itu ditunjukkan dari wajah sang ayah ketika tiba di Mekkah.

Film ini juga memberikan deskripsi yang cukup jelas bagaimana kondisi traveling jarak jauh melintas banyak negara dengan menggunakan kendaraan roda empat: dimana kita beristirahat, bagaimana mengecek kondisi mobil, dan yang terpenting adalah, safety driving, Guys...


3. The Way (2010)

Jika La Grand Voyage menceritakan konflik anak-ayah yang melakukan perjalanan menuju Mekkah lewat jalur darat, maka The Way bercerita tentang seorang ayah yang melanjutkan perjalanan anaknya yang belum tuntas.

Film ini dimulai dari kisah sedih karena sang anak meninggal dunia di tengah perjalanan yang disebut sebagai “El camino de Santiago" atau The Way of St. James. Sebuah jalur penziarahan terkenal yang sudah dilakukan oleh umat Kristiani selama ribuan tahun. The Way of St. James sendiri memiliki beberapa rute, di film ini disebutkan starting point di Prancis, tetapi dari semua rute perjalanan berakhir tujuan yang sama yaitu Cathedral of Santiago de Compostela di Galicia (Spanyol Selatan).

Ciri khas dari perjalanan ini adalah (1) semua peziarah (pilgrim) melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, hingga berminggu-minggu. (2) Selama perjalanan di sepanjang rute terdapat rambu khusus, biasanya bertanda scallop atau kerang. (3) Di sepanjang rute juga tersedia banyak penginapan murah khusus untuk para peziarah. (4) Peziarah berasal dari berbagai negara. (5) Pada tahun kabisat atau tahun suci, peziarah akan sangat meningkat jumlahnya. Dan (6) sepanjang rute, tersedia pos-pos yang akan memberikan tanda atau cap khusus di “paspor” para peziarah, sebagai tanda bahwa dia telah melakukan perjalanan “El camino de Santiago" dari awal hingga akhir tanpa mengambil jalan pintas.

Tom Avery, sang ayah yang juga dokter mata ini terpanggil untuk melakukan perjalanan “El camino de Santiago" dengan misi menyelesaikan perjalanan anaknya. Ini adalah sebuah perjalanan suci umat Katolik, semacam perjalanan spiritual yang mengharukan ketika dilakoni. Selama perjalanan sang ayah juga menaburkan abu anaknya dengan cara mencicil. Ia menaburkannya sedikit demi sedikit dengan maksud anaknya turut merasakan sebuah perjalanan yang tak bisa diselesaikannya itu, bahkan hingga ajal menjemput.

Dalam perjalanannya ini Tom bertemu dengan teman seperjalanan dari berbagai negara dengan sifat, perilaku, dan karakter yang sama sekali berbeda. Mereka adalah Joost dari Belanda, Jack dari Irlandia, dan Sarah dari Prancis. Kelompok kecil ini saling membantu dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hingga usai.

Beberapa inspirasi bisa kita temui di film ini. Pertama, traveler are not a martian, maksudnya traveler bukanlah makhluk asing seperti makhluk mars. Menjadi seorang traveler berarti memilih takdir untuk bertemu dengan orang-orang baru dan rela untuk berbagi rasa, seperti yang dialami oleh Tom, Joost, Sarah, dan Jack. Bahkan Tom juga bersahabat dengan kaum Gypsi yang sebelumnya mencoba mencuri ranselnya.

Kedua, impulsive but not selfish traveling. Hal inilah yang dilakukan oleh Tom, dia mengambil keputusan secara tiba-tiba (impulsive) untuk melakukan perjalanan “El camino de Santiago" dan memutuskan untuk melakukannya sendirian, akan tetapi selama perjalanan bertemu dengan sahabat-sahabat baru.

Ketiga, ada pertanyaan yang sulit di jawab oleh kelompok itu ketika mencapai tujuan terakhir, “Apakah motivasi perjalanan anda?”, dan mereka kebingungan dan tidak yakin saat menjawab. So travelers, why you do the traveling?

4. The Way Back (2010)

Their escape was just the beginning, adalah tagline film The Way Back. Film ini bercerita tentang sekelompok orang yang melakukan perjalanan sejauh 4000 mil atau lebih dari 7200 km dari Siberia hingga India.

Film ini diambil dari kisah nyata seorang pelarian dari penjara Gulag bernama Januzs dan beberapa rekannya. Mereka kabur untuk mencari kebebasan. Dengan perbekalan seadanya dan kemampuan navigasi yang sangat minim, mereka mencoba keluar dari negara-negara komunis dan Nazi.

Jalur panjang yang mereka tempuh tentu tidak mudah. Mereka harus menembus badai salju yang sangat dingin, menjadi santapan nyamuk hutan, mencuri untuk mendapatkan makanan, melintasi gurun Gobi yang bikin frustasi, melangkahi pegunungan Himalaya, kedinginan, kepanasan, dehidrasi, terserang penyakit, hingga beberapa orang dalam rombongan itu mati satu persatu karena tidak kuat.

Penulis berpendapat The Way Back tidak dapat dikatan sebagai sekelompok orang yang melakukan traveling, karena latar belakang mereka melakukan perjalalan itu adalah sebagai seorang pelarian. Akan tetapi dalam film ini terdapat cara-cara sederhana, unik, dan kreatif tentang bagaimana mereka bertahan dengan persiapan yang mendekati sama sekali tidak ada. Seperti bagaimana menentukan arah dengan melihat matahari dan bayangan kita, membuat sabun untuk mandi, berburu, mencari sumber air, memasak dengan batu, meminimalkan dehidrasi, membuat baju dari kulit hewan, mengobati luka, hingga menghibur diri saat kebosanan. Cara-cara tesebut merupakan esensi bertahan di alam lepas, lebih tepat distilahkan “how to survive to make a journey that will make you dying or dead”.

5. In To The Wild (2007)

Into The Wild bukan film yang asing bagi para traveler. Nilai-nilai yang dibawa dalam film ini wajib dipelajari bagi siapa saja yang mengambil jalan hidup sebagai seorang petualang.

Seperti halnya The Way Back yang menceritakan Janusz dan The Motorcycle Diaries yang menceritakan Ernesto, Into The Wild bercerita tentang kehidupan seorang pemuda bernama Chris McCandless yang meninggalkan kehidupan, ambisi, dan masa depannya sebagai seorang lelaki mandiri yang lepas dari bayang-bayang orang tuanya.

Adengan menarik ketika dia menyumbangkan tabungannya sebanyak $24.000 kepada yayasan sosial, meninggalkan mobil kuning, dan membakar sisa uang yang dia miliki termasuk dokumen-dokumen pribadi miliknya. Kemudian dia melakukan aktivitas hitchhiking dan mengganti namanya menjadi Alexander Supertamp. Selama berpetualang dengan identitas barunya, Alexander Supertramp melakukan banyak hal yang belum pernah dia coba, misalnya mengarungi sungai Colorado dengan kayak, menyebrangi negara Mexico tanpa ijin resmi, bergaul dengan kaum hippies, membantu di ladang gandum, tinggal bersama pengrajin kulit, dan bertahan hidup di sebuah “magic bus, an abandoned bus”.

Inti dari film ini sebetulnya banyak sekali, termasuk di dalamnya nilai: search and gather ideal self identities, persist and persistence, keep our mind wide open, enjoy little-simply things and do the biggest one, family does matter, and happiness can be real if it shared.

Selain itu, penulis mendapatkan beberapa inspirasi yang dapat diambil dalam film ini. Pertama, travel documentary. Proses mendokumentasikan perjalanan akan menjadi hal yang sangat berharga untuk dilakukan. Hal ini akan sangat bermanfaat bagi para traveler selanjutnya yang akan melakukan perjalanan yang sama. Banyak traveler yang sudah melakukan hal tersebut, menulis di blog, media televisi seperti Discovery dan NG Channel, majalah-majalah, atau buku harian pribadi.

Nah, yang dilakukan Alexander Supertramp dia melakukan dua cara pendokumentasian. Pertama adalah menulis buku harian yang penuh dengan ungkapan sentimentil dan indah. Kedua, adalah dengan menorehkannya pada sebuah sabuk. Alexander supertramp “membuat relief” perjalanannya di sebuah ikat pinggang saat dia tinggal bersama pengrajin kulit. Cara kedua ini sangat unik.

Inspirasi lainnya adalah mengenai tujuan dari perjalalan kita. Apakah kita penganut ajaran “No one realizes how beautiful it is to travel until he comes home" ala Lin Yutang atau “Vini vidi vici” ala Julius Caesar? Apakah kita melakukan sebuah perjalanan untuk menguatkan pengertian bahwa sangat berharganya arti rumah? Atau kita melakukan perjalanan untuk menaklukkan godaan pulang demi melakukan perjalanan ke destinasi berikutnya sebagai pencapaian baru?

***
Sesungguhnya banyak film yang bertemakan perjalanan yang ingin saya bahas. Tetapi kelima daftar di atas adalah film-film yang bisa memberikan sensasi lebih ketika ditonton. Selain lima yang terbaik di atas, saya merekomendasikan film-film perjalanan lain yang bisa disimak sebagai peseperti: Eat Pray Love, The Beach, Darjeeling Limited, Seven Years in Tibet, Lost In Translation, Up in The Air, The Bucket List, Babel, The Holiday, Vicky Cristina Bacerlona, Before Sunrise, Letter To Juliet, Borat, The Art Of Travel, dll.

Have an awesome day
dan selamat menonton!


________________________________________________
Kontributor








Iman Kurniadi, pria subur setengah sableng ini memang seorang movie freak. Syahdan, banyak perempuan cantik yang patah hati karena Iman lebih memilih film dan traveling ketimbang asmara. Saat berhadapan dengan sinema, otaknya bekerja setajam golok Machette yang enggan melewatkan detail sekecil apapun. Kecintaanya pada film menggerakkan Iman untuk mengelola akun tumblr CinematicOrgasm yang superkece.

________________________________________________

Bangka by Andre Kris


Andre Kris berkenan membagikan tiga foto Pantai Tanjung Layar hasil kunjungannya ke Bangka beberapa saat lalu. Di pantai yang berhias tumpukan batu granit raksasa ini Andre mengatakan bahwa kerinduannya akan pesona alam terpenuhi. Selain itu, kinjungan ke Bangka selama tiga hari itu ia sempatkan untuk mampir ke Pantai Pasir Padi dan sebuah perkampungan tua Tionghoa di Kecamatan Belinyu. Sebagian besar penduduk kampung pecinan ini memiliki usaha tradisional kerupuk Bangka.

Silahkan hubungi pria penyuka fotografi kelahiran Jakarta ini di akun Twitternya: @andre_jpg

9/10/11

Kuta on the Wheels



Video, foto, dan teks oleh Lukman Simbah


Aku percaya, tempat yang sama jika didatangi pada waktu dan kondisi yang berbeda akan menghasilkan pengalaman yang otentik pula.

Apa yang akan kamu bayangkan ketika tiba-tiba mendapat undangan untuk datang ke suatu acara di Bali pada saat peak season? Yang ada di kepalaku pasti jalanan macet, polusi, susah dapat penginapan, dan beberapa bayangan buruk lainnya. Ini bukan guyonan. Sudah beberapa kali aku datang ke Bali di waktu kunjungan wisatawan memuncak. Dan berbagai mimpi buruk yang yang aku sebut sebelumnya betul-betul menjadi kenyataan.

Tahun 2009, di saat hari lebaran ke dua, aku sudah tiba di sekitar Jalan Poppies. Bagai seorang gembel homeless aku memasuki setiap losmen untuk menanyakan apakah tersedia kamar kosong. Setelah tiga jam berkeliling, aku sama sekali tidak bisa menemukan losmen dengan kasur empuk untuk merebahkan badan. Merasa jengkel, akhirnya aku langsung mengambil keputusan untuk memacu motor menuju Padang Bai, 52 kilometer di timur Kuta. Voila! Ternyata sepi sekali sodara-sodara, sangat kontras dengan hingar bingar Kuta.

Kesempatan kedua, sepertinya aku tidak belajar dari pengalaman. Beberapa hari menjelang tahun baru 2011 aku pun kembali menginjakkan kaki di Kuta. Peristiwa yang sama terjadi, dan petualanganku mencari losmen di Kuta saat tahun baru -yang bisa kamu bayangkan ramainya seperti panci penuh cendol- membuatku terdampar di kota Karangasem, 77 kilometer jauhnya dari Kuta. Malam itu, sambil terbaring dengan tubuh superlelah, Megan Fox datang ke alam mimpiku dan berkata, “Don’t trip over the same stone, Handsome…

Well, pengalaman seperti itu masih menghantui. Namun chief editor Hifatlobrain, yang nyambi menjadi tukang ojek kuda di Bromo itu bersikeras memintaku untuk datang, “Cuk, ini acara yang berbeda dari yang lain, dan kalo peak season pastinya kamu bakal banyak menemui sugar babes!” kata dia.

Selaku bawahan yang selalu harus siaga dengan penugasan, dan sedikit dikompori dengan bayangan gadis-gadis pantai yang aduhai, akhirnya berangkatlah aku dengan hati gembira.

***
Acara bersepeda di Bali kali ini merupakan kampanye lingkungan yang dikemas dalam acara customer gathering dan wisata. Sebagai sebuah destinasi populer, tentu saja pantai Kuta menjadi jujugan banyak orang. Nah, sayangnya dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya jumlah wisatawan dibarengi dengan penggunaan kendaraan bermotor yang tidak terkontrol. Hal tersebut akhirnya menjadi salah satu isu negatif yang menurunkan pesona Kuta. Pantai ini pun menjadi penuh sesak dengan barisan panjang sepeda motor dan mobil. Bahkan pada setiap sore dan petang sering terjadi macet panjang. Tentu saja ini memberikan nilai minus pada Kuta sebagai salah satu destinasi dunia kelas wahid.

Kampanye bersepeda keliling Kuta yang aku lakukan ini menawarkan alternatif baru untuk menikmati pantai tanpa polusi. Bayangkan Kuta seperti Gili Trawangan yang bebas dari asap dan deru kendaraan. Suasana pun menjadi jauh lebih tenang dan keasyikan kita melihat sunset pun tak akan terdistorsi dengan hadirnya bebunyi klakson yang sama sekali tidak merdu.

Acara bersepeda ini juga membuat aku bisa menikmati Kuta dengan cara yang lebih utuh. Dulu memang aku lebih suka berkeliling Kuta dengan motor sewaan seharga 50.000 rupiah. Namun ketika naik motor, aku jadi tidak bisa memperhatikan toko, café, dan resto di sepanjang jalan yang dilewati. Nah, dengan gowes ini aku bisa lebih perhatian dengan tempat-tempat itu. Aku jadi bisa mengamati setiap detailnya. Menikmati arsitektur sebuah bangunan sembari memacu sepeda perlahan sepertinya cukup membuat banyak ide berloncatan dari dalam kepala. Poping up!

Mungkin perasaan kreatif ini juga pengaruh dari rasa rileks yang timbul karena kaki terus bergerak memompa darah segar ke sekujur tubuh. Apalagi kesegarannya menjadi dobel saat angin pantai membelai wajahku dengan lembut.

Map by GoogleMaps

Rute gowes kami dimulai dari Kuta Bex, kemudian menyusuri Legian, Seminyak dan berakhir di Pura Petitenget. Secara garis besar rute ini dimulai dari jalan raya yang dihimpit oleh riuhnya kendaraan, kemudian bergerak semakin ke utara, memasuki pedestrian yang sisi kanannya adalah deretan restoran, hotel dan café, dan di sisi kirinya adalah pemandangan orang orang berjemur dan bermain surfing. Setelah melewati pedestrian itu, kami melintasi deretan galeri dan butik di bilangan Seminyak. Desain interior modern bergaya minimalis menjadi ciri utama bagi banyak bangunan di kawasan Seminyak.

Maka saat hari sudah menjelang senja, kami memasuki kawasan pantai Petitenget. Saat kami tiba, di sepanjang pantai sudah banyak orang menikmati matahari tenggelam sambil melakukan berbagai aktifitas. Ada yang berjalan dengan anjing peliharaannya menyusuri pantai, ada yang bermain sepak bola, ada yang berlatih pencak silat, bahkan ada pula yang hanya duduk duduk-duduk saja. Di balik sinar matahari yang sudah semakin oranye, orang-orang itu seolah olah menemukan dunia kesenangannya sendiri-sendiri. Dan aku juga menemukan duniaku sendiri, yaitu sebuah pengalaman baru dengan bersepeda melintas Kuta hingga Petitenget.

NB:
Thanks to HSBC - Air Asia yang sudah mengundang Hifatlobrain.

9/7/11

Youk Tanzil with His Expedition

Youk Tanzil and Winda Savitri (associate editor Hifatlobrain)



Tepat pada tanggal 17 Agustus yang lalu, Winda Savitri dan Bondan Wahyutomo dari Hifatlobrain diundang oleh mas Andry Berlianto, salah satu kru dari Ring of Fire Expedition (RoF) untuk melakukan wawancara dengan Youk Tanzil, sang project leader. Sebelumnya kami sudah pernah menuliskan secara singkat profil ekspedisi keliling Indonesia yang melibatkan banyak tenaga ini. Sekarang, kami bisa mengoreknya lebih dalam lagi dari sudut pandang seorang Youk Tanzil.

Cuaca cerah membantu hati kami tetap gembira saat mendatangi rumah Youk Tanzil di bilangan Ragunan, Jakarta Selatan. Sampai di lokasi pukul dua siang, lebih cepat dari yang dijadwalkan, kami pun dipersilahkan masuk ke kediaman sekaligus kantor pribadi Pak Youk, begitu beliau biasa disebut.

Setelah terlibat sedikit pembicaraan dengan mas Andry, barulah kami dipertemukan dengan Pak Youk. Kami memulai pembicaraan sembari menyimak presentasi beliau yang telah direkam dalam sebuah video berformat blue ray. Kepingan cakram digital tersebut berisi rangkuman perjalanan di Stage-1, yang meliputi NTT, NTB, Bali, dan Jawa. Isinya kebanyakan berupa ucapan terima kasih kepada para sponsor dan sedikit cuplikan salah satu episode RoF yang akan diputar untuk umum. Saya melihat tim ini melintas wilayah Fatumnasi hingga mendaki Gunung Rinjani, menarik sekali. Setelah melihat video tersebut, barulah saya mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara.

W: Siapa sebenarnya seorang Youk Tanzil? Profil singkat lebih tepatnya.
Y: Saya? I’m just an ordinary man, seperti orang-orang lainnya. Saya hobi bersepeda. Dulu sempat menjadi seorang pembalap motor dan di tahun 90’an saya juga pernah keliling Indonesia menggunakan kapal laut. Saya suka kapal.

W: Jadi, awal mulanya Ring of Fire ini dari mana? Saya dengar Bapak pernah membuat sebuah proyek musikal dengan Adi M.S. dan dari sana ide berkeliling Indonesia itu muncul?
Y: Saya memang pernah membuat CD musik berjudul "Symphony Negeriku" bersama Adi M.S. Di dalamnya berisi kumpulan lagu-lagu Nasional Indonesia, yang sampai sekarang masih sering digunakan oleh stasiun televisi dan radio. Tapi lantas saya berpikir; Kenapa hanya lagu? Kenapa tidak video? Dari sana terlintas juga sebuah gagasan bahwa saya ingin mewariskan rasa cinta saya kepada bangsa dan negara ini ke putra dan putri saya. Nah wong anak saya saja ditanyain Jombang aja nggak tau letaknya di mana, hahaha.

Yasudahlah, akhirnya saya bikin video kecil-kecilan untuk anak-anak saya, mulai latihan menggunakan handycam biasa, mencoba naik KRX 150, belajar masak, bikin tenda, dan lama-lama saya merasa tidak bisa melakukannya sendirian. Akhirnya saya menyewa jasa seorang camera-man dan pelan-pelan membentuk sebuah proyek yang dinamakan Ring of Fire.

W: Adakah sosok atau pembuat film dokumenter yang menginspirasi Pak Youk?
Y: Saya itu suka tipe-tipe manusia seperti Sir Richard Branson. Hmm, how do you called it? Dia itu berasal dari jalanan, lalu belajar mengenai kehidupan dan bisnis benar-benar dari pengalaman. Dan dia juga melakukan banyak hal yang belum pernah dilakukan orang lain.

Nah, kalau film dokumenter, saya juga suka. Salah satu yang menginspirasi adalah serial dokumenter "Long Way Round" dan "Long Way Down" karya Ewan McGregor dan Charley Boorman. Dari situ lantas terpikir,“Wah, aku musti bikin video seperti mereka!”

W: Kembali ke topik RoF, kenapa rute perjalanannya di mulai dari Kupang dan dibagi dalam beberapa stage?
Y: Kami perlu mengedit video. Setiap hari, selama perjalanan RoF, kami selalu mencicil mengedit video. Total kurang lebih ada 3 terabyte file video yang kami kumpulkan selama melintasi Stage-1. Itu adalah jumlah yang banyak sekali. Sehingga kami selalu menempatkan finish point-nya di Jakarta untuk mengedit ribuan footage tadi. Dan tidak mungkin dilakukan proses editing jika melakukan perjalanan non-stop dari Sabang sampai Merauke, misalnya. Itu sangat tidak efisien. Menyulitkan.

W: Hmm, lantas berapa lama waktu yang dihabiskan di setiap lokasi?
Y: Kami selalu melakukan riset disetiap stage-nya, contoh, untuk Stage-1 sejauh 6000 kilometer ini, riset yang kami buat setebal ratusan halaman. Sehingga untuk berapa lamanya kami menetap di satu lokasi tidak dapat dipastikan secara gamblang, karena kami sangat dibatasi oleh jadwal penyebrangan antar pulau.

Kami harus sangat efisien dalam penggunaan waktu, apalagi mengingat biaya produksi yang tidak murah. Jadi sebagai pelajaran, untuk Stage-2 nanti kami merencanakan penggunaan mobil RoF hanya sampai di Manado, selebihnya menggunakan motor, karena memudahkan ekspedisi jalur air. Sebagai navigasi, kami dibantu juga dengan software GPS yaitu Garmin Zumo 660, that build to guide bikers. But never ever depend on GPS, you need a map! Di samping itu tentu saja guidance terbaik adalah dari warga setempat.

W: Pendapat Anda mengenai ekspeditor-ekspeditor muda yang sedang marak saat ini?
Y: Kalau bisa muncul seribu orang lagi! Kami sendiri disamping ingin memperkenalkan Indonesia, bukan mempromosikan lho ya, kami ingin membangun sebuah industri adventuring. Yang sudah kami rintis adalah pembuatan payne, aluminum side box for your motorcycle. And it will be available online.

W: Akhirnya jadi berkembang ke banyak hal ya? Lalu apakah sempat ada perasaan bosan atau jenuh dalam melakoni perjalanan ini?
Y: Selama di jalan kami sangat enjoy, menikmati detail kekayaan alam Nusantara yang dilalui. Kecuali sebelum Bandung – Megamendung, waduh, polusi dan macet! Kami tidak pernah berpikir perjalanan ini sebagai tamasya belaka. That was work!

W: Sempat kangen rumah?
Y: Nggak. Karena, kami sadar tidak banyak orang yang bisa melakukan hal seperti ini. I’m fine.

Gini lho, kami itu bukan riding, yang hanya berjalan dari satu poin ke poin lainnya. Bukan juga touring yang jalan-jalan, relax, meskipun sama-sama punya tujuan seperti ekspedisi. Bedanya, touring itu lebih bebas. Kalau ekspedisi, punya target tertentu dimana Anda harus mengisi suatu pekerjaan.

W: Jadi nanti output RoF yang bisa dinikmati masyarakat bentuknya apa?
Y: Kami membuat video dokumenter berseri. Dimana, kami juga ingin menembus pasar internasional. Dari Stage-1 saja kami sudah mendapatkan tawaran dari orang Hollywood untuk membuat extended version berupa "Total Ring of Fire" sampai Chile. Nah, masalahnya bisa apa nggak memenuhi permintaan mereka, gue nggak tau!

Kemungkinan sekitar September-lah, tunggu saja, film dokumenter kami akan diputar di sebuah stasiun televisi swasta.

W: Kalo pemilihan soundtrack-nya gimana Pak? Apakah ada yang spesial?
Y: Majority Dwiki Dharmawan support. Seperti single Lamalera, Benggong-banggong, dan Ie. Lagu-lagu Dwiki itu asik banget! Seperti penggalan lirik dari lagu Benggong-banggong dari Flores yang masuk dalam album "World Peace Orchestra" ini misalnya, saya terjemahkan ke bahasa Indonesia; “Se-pohon sudah setinggi itu / berarti kamu sudah cukup untuk pergi dari kampung ini // Pergilah merantau / dan nanti saat kembali bangunlah kampungmu”

Nantinya kami juga berencana untuk membuat proyek original soundtrack untuk film dokumenter ini. Saya sendiri bergerak di lagu-lagu tradisi modern sebenarnya sudah lama, jadi tidak ingin membuat sesuatu yang tanggung-tanggung. Mungkin ini salah satu yang membedakan kami dengan ekspedisi yang lain. []

Editor's Tips For Travel Writer

Travel writing mandala

Sore kemarin (6/9) akun resmi National Geographic Traveler Indonesia membuat sebuah kuliah twitter singkat tentang panduan menulis perjalanan (travel writing). Cukup ciamik, karena yang memberikan materi adalah trio editor yang ada di majalah ini, yaitu Vega Probo, Manggalani Ukirsari, dan Teguh Wicaksono.

Tapi memang begitulah kelemahan kultwit, informasinya menjadi terpotong-potong dan jika tidak segera diarsipkan dengan baik, maka materi berharga ini akan lenyap ditelan kicauan lain yang lebih baru. Tertumpuk menjadi sampah digital yang mudah dilupakan.

Maka, Hifatlobrain membantu mengarsipkannya untuk Anda. Meski materinya sedikit, tapi tidak ada salahnya untuk disimpan dan dibaca ulang. Apalagi buat teman-teman yang memang serius ingin menekuni dunia penulisan perjalanan yang memang masih sedikit sekali pelakunya di Indonesia.

Berikut beberapa tips dari para editor National Geographic Traveler Indonesia:

1. Saat berada di sebuah destinasi, cobalah untuk berinteraksi dan melebur dengan masyarakat lokal, menjadi bagian dari mereka.

2. Riset itu penting. Mantapkan pengetahuan dasar dengan membaca banyak literatur tambahan dan wawancara ahli di bidang yang bersangkutan.

3. Perluas sudut pandang penulisan, sebuah destinasi tidak melulu harus dilihat dr kacamata pendatang atau wisatawan.

4. Kita harus bisa "jatuh cinta" pada destinasi yang akan kita tulis, dengan cara itu inspirasi menulis akan mengalir tanpa henti.

5. Kemampuan mendeskripsikan sesuatu itu amat penting di dalam menuliskan artikel perjalanan. Jadi maksimalkan semua indera yang Anda punya.

6. Artikel perjalanan tidak melulu hanya memaparkan how to get there & how much money. Bagi saya "konteks" cerita yang dikemas jauh lebih penting.

7. Pada akhirnya, sebuah artikel perjalanan harus mengandung unsur; persuasi, edukasi, narasi, dan instruksi. Namun tetap harus diracik dengan gaya bahasa yang menarik.

Para editor itu juga memuat sebuah gambar diagram travel writing. Sekilas dibaca, kita mungkin bisa meraba maksudnya. Sayang, kultwit itu berhenti sebelum para editor menjelaskan lebih lanjut makna diagram yang berwujud seperti simbol Mandala Kalachakra itu.

Ya, sebaiknya kita mengira-ngira dulu saja, sebelum NGT membuat workshop penulisan perjalanan dengan materi yang lebih yahud. []

9/1/11

Homeland



"Menurut saya, video Homeland karya Hifatlobrain ini semacam bara yang bisa membakar para traveler yang sudah merasa mentok karya kreatifnya..."
(Purwo Subagiyo, digital strategist National Geographic Indonesia)

Homeland adalah sebuah bentuk eksekusi ide yang lahir dari segelintir pelaku travel documentary di Surabaya. Dibuat dalam konsep matang dan proses produksi yang menyenangkan di Bromo, kawasan kampung Ampel dan c2o Library.

Ini adalah sebuah karya sederhana yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Karena Homeland adalah gambaran terdekat bagi kami sendiri, dan mereka yang kerap melakukan perjalanan, meninggalkan berbagai kenyamanan sebuah rumah, demi mengenal orang-orang baru sembari belajar serta merasakan keragaman dunia.

Maka tidak ada alasan bagi kami, untuk tidak mengamini perkataan Lin Yutang, seorang penulis dari China yang berujar, "No one realizes how beautiful it is to travel until he comes home and rests his head on his old, familiar pillow."

So, selamat menikmati Homeland, travelers :)

Homeland; a Note Behind


“Pulang juga sebuah perjalanan…”
(Fajar Subchan, 2011)

Bermula dari celetukan mas Jeri Kusuma, pembaca setia Hifatlobrain, yang mengusulkan pembuatan video singkat untuk menyambut Lebaran. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, pembaca Hifatlobrain memang tidak banyak, tapi meski sedikit semuanya militan bung! Salah satunya ya mas Jeri ini. Tentu saja ide ini tidak kami sia-siakan, setelah berdiskusi dengan Dwi Putri, sang honorable contributor Hifatlobrain, akhirnya dicapai kata sepakat untuk mengeksekusi gagasan keren ini.

Kami pun menggandeng Giri Prasetyo, sang pendekar visual yang reputasinya sudah malang melintang di jagad Vimeo, dan Lukki Sumarjo, seorang penulis naskah yang memiliki ide beruntun seperti mercon Cina. Beruntung duo jenius ini bersedia diajak untuk proyek suka-suka Hifatlobrain. Mereka pun dengan mudah menggandeng seorang pasukan tambahan, Samuel Respati, sang komposer sableng yang menyukai gaya bohemian. Kami berenam pun mulai bertemu secara intens, dari kafe ke kafe, dari satu tempat nongkrong ke tempat nongkrong lainnya.

Tim kecil kami berpikir cepat dan hanya butuh seminggu sebelum semuanya siap diberangkatkan ke Bromo, lokasi pengambilan gambar utama. Di Desa Cemorolawang, kami menyewa sebuah rumah dua lantai untuk akomodasi kru dan penggembira. Tapi memang benar kata orang Jawa; ono rego, ono rupo. Penginapan rumah yang kami tempati memang murah, tapi juga lumayan jauh dari lokasi syuting.

Selain itu, melakukan pengambilan gambar di gunung bukanlah perkara mudah. Hari pertama kami harus melakukan aklimatisasi dulu, sebelum tubuh kami benar-benar siap menghadapi hawa Bromo yang cadas: malam yang beku dan siang yang panas. Iklim yang ekstrim ini tentu saja menjadi cobaan paling berat karena kami sedang menjalankan puasa Ramadhan. Waktu sehari juga kami gunakan untuk survey lokasi dan menunggu slidercam sederhana yang dibuat Oot di Surabaya.

Setelah survey, kami menemukan sebuah tempat yang indah untuk syuting. Lokasinya berupa hutan cemara meranggas yang lapisan humusnya hilang, digantikan dengan karpet abu vulkanis. Secara serampangan Idham Rahmanarto, fotografer lulusan Antara yang turut serta menjadi penggembira dalam produksi, menyebut tempat ini sebagai “Norwegian Wood” seperti judul novel terkenal karya Haruki Murakami.

Esoknya, kami melakukan syuting di “Norwegian Wood” sejak pukul lima pagi karena tuntutan scene matahari terbit. Selama syuting kami melakukan banyak improvisasi; menangkap flare matahari, membuat atmosfer penuh debu, hingga menjungkirbalikkan kamera demi menghasilkan gambar spektakuler. Kami semua memang masih belajar bikin video yang ciamik.

Karena masih pagi dan hawa belum terasa panas benar, maka syuting di “Norwegian Wood” terasa begitu menyenangkan. Tidak seperti syuting di Lautan Pasir pada siang harinya yang membara seperti neraka. Kami harus berjibaku dengan badai pasir yang membuat pandangan menjadi kabur. Sialnya, benda mikroskopik itu juga tak kalah ganas untuk mencoba menyusupi mata, hidung dan lensa kamera. Edan. Mata saya perih dibuatnya. Tiupan angin beliung yang menerbangkan berton-ton abu vulkanis membuat pemandangan layaknya selembar foto infra red. Abu-abu. Untung saja bencana ini hanya berlangsung selama empat jam saja, kalau tidak, bisa batal pengambilan gambar sore itu.

Setelah siang hari dibutakan oleh badai pasir, malamnya Bromo menunjukkan kehebatannya yang lain; kabut supertebal yang membuat jarak pandang hanya sejauh satu meter saja. Menghalangi jalan kami untuk menuju Pura Poten yang berada di kaki Bromo. Rombonggan Lukki dan Putri sempat tersesat di balik kabut tebal itu. Untungnya, balok-balok beton itu menuntun mereka untuk kembali ke jalan yang benar menuju Pura Poten.

Selain kesulitan-kesulitan yang terjadi di lokasi, kami juga harus menghadapi kesulitan standar dalam mengedit sebuah film: menyortir berpuluh giga file video, menggubahnya dalam sebuah komposisi ciamik, membuat music scoring yang pas, dan mengetesnya. Setidaknya kami membuat lima buah video dummy yang tidak lolos dari screening pratayang. Kami bekerja sangat cepat, edit sana-edit sini, tambal sana-tambal sini, untuk memenuhi tenggat Hari Raya yang tanggalnya sibuk diperdebatkan pemerintah.

Tapi kami percaya, kesulitan-kesulitan itu hanyalah harga yang harus kami bayar sebelum video ini akhirnya meledak.

Dan ternyata benar, hanya dalam dua hari video kami ditonton lebih dari sepuluh ribu orang! What a huge number of viewers! Gilak, bahkan imaji kami yang paling liar sekalipun belum sempat membayangkan fenomena ini. Harus kami akui, ulah mas Jeri yang membuat thread khusus di Kaskus adalah ide jitu yang memancing banyak tanggapan positif. Hanya kurang dari dua jam thread ini berhasil masuk seleksi admin untuk dijadikan Hot Thread! Maka video kami pun nangkring di halaman pertama Kaskus, forum online terbesar di Indonesia. Selebihnya mudah ditebak, video kami diputar hampir setiap detiknya. Thanks agan-agan Kaskuser sekalian!
Hot Thread di Kaskus

Vimeo Discover List

Update: per tanggal 17 September, Homeland menjadi
featured video di Youtube.


Tingginya jumlah penonton juga membuat video kami masuk dalam jajaran Vimeo Discover List. Itu semacam daftar eksklusif yang dibuat oleh staff Vimeo bagi karya istimewa yang paling banyak ditonton atau paling banyak disukai pengguna Vimeo di seluruh dunia. Whoa! Sependek pengetahuan saya, belum pernah ada video buatan orang Indonesia tentang Indonesia yang masuk dalam daftar bergengsi ini. Dan itu semua itu dicapai dalam waktu dua hari saja. Rawkz!

***

Video ini sebetulnya merupakan pengingat bagi kami semua yang gemar traveling untuk selalu ingat rumah. “Kamu jalan kemana pun, baru bisa disebut traveling ketika kamu pulang ke rumah…” kata Lukki sang penulis naskah. Tema ini memang sengaja kami ambil agar video ini menemukan konteksnya: mudik lebaran. Dalam tradisi mudik, orang pulang ke rumah dengan membawa segenggam cerita dan pencapaian yang menarik untuk dikisahkan. Pulang tidak saja menjadi perayaan, tapi lebih dari itu adalah sebuah inisiasi yang harus dilewati oleh para petualang sebelum perjalanannya dianggap berhasil. Sesederhana itu idenya.

Bagi saya pribadi ini adalah sebuah big bang, letusan besar yang ada di Hifatlobrain. Dulu Hifatlobrain sempat membuat big bang dengan meluncurkan ebook petualangan yang berjudul “Alone Longway from Home”, yang akhirnya diikuti oleh tren munculnya berbagai ebook dan emagz bertema traveling di Indonesia. Semoga big bang kedua kami berupa video “Homeland” ini juga mampu memantik para pejalan lokal untuk bersama-sama membuat travel documentary, sebuah genre yang ditetas dan sedang giat dikampanyekan oleh Hifatlobrain Travel Institute.

Kami berharap Hifatlobrain bisa menjadi muara kreatif bagi para traveler yang ingin mengabadikan perjalanannya dengan berbagai media. Itulah yang sedang kami usahakan; mendorong para pejalan untuk giat membuat dokumentasi tentang indahnya Indonesia.

Saya harus memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada rekan-rekan yang membantu produksi ini. Meski bekerja dalam skala mini, tapi orang-orang di dalam kru ini saya akui hebat, semua melakukan tugas multiguna: Lukki (scripwriter & director), Giri (director of photography, cameramen, editor), Putri (art director & behind the scene), Jeri (production assistant & behind the scene), dan Tomi (actor & music composer). Gilak ya, bekerja sama dengan orang-orang multitalenta itu rasanya luar biasa bung!

Saya juga tak lupa pada Bondan Wahyutomo (web coordinator Hifatlobrain) yang sudah merubah total tampilan muka blog ini agar full video. Juga buat teman-teman lain yang meramaikan rumah sewaan dan Kedai Makan Tante Toli di Bromo: Djunedz, Shaendy, Menok, Oot, Hilal, Idham, Gerry, Dhani, dan Nody. Pada Mas Arik TangLeBun kami ucapkan rasa terimakasih atas support alatnya yang sangat membantu kami memproduksi gambar indah. Kami juga berterimakasih kepada Mbak Yuli dan c2o Library yang berhasil kami acak-acak untuk mendapatkan scene rumah.

Doakan saja ke depan Hifatlobrain mampu membuat video yang lebih inspiratif lagi dan menggandeng berbagai talenta baru di jagad traveling Nusantara. Proficiat! []

Silahkan lihat video behind the scene.