Pages

9/25/11

5 Hari 5 Negara

Sudah dua kali Lucy menyuruh saya proofreading naskah bukunya. Sudah dua kali pula Lucy meminta saya menuliskan semacam sambutan pendek di bukunya. Pun ini kali kedua Lucy mengirimi saya bukunya dalam keadaan sudah tercetak cantik. Dalam dua kesempatan itu juga Lucy selalu tanya pada saya: "Ayos, kapan kamu bikin buku sendiri?"

Saya bilang saya belum pede nulis buku. Ada rasa sungkan imajiner kepada pakdhe Paul Theroux, paklik Lawrence Blair, atau kangmas Agus Weng yang membuat saya menahan hasrat untuk bikin buku beneran. Saya beraninya bikin ebook yang disebar gratis. Kalo buku, hmm tampaknya saya belum mampu.

Ketidakmampuan ini bermakna literer. Saya belum punya cukup tabungan travelogue, saya merasa tidak punya kapabilitas yang memadai, dan saya belum punya semangat untuk istiqomah menyusun sebuah buku.

Ini pekerjaan yang rumit, ada banyak sekali workflow yang harus dipenuhi sebelum naskah siap dicetak. Membuat pembabakan, melakukan riset, menulis berlembar-lembar, mengedit, menulis lagi, mengedit lagi, dan sebagainya sampai mendapatkan penerbit yang baik hati. Hal ini tentu saja membutuhkan endurance, daya tahan semangat dan tenaga ekstra tinggi. Saya belum mampu melakukan semua itu.

Harus saya akui kehebatan Lucy. Dia ini pegawai kantoran tapi produktif nulis buku. Travel books-nya aja udah tiga biji. Saya bingung bagaimana dia mengatur jadwal hidupnya. Lebih bingung lagi jika Anda sudah baca bukunya, sangat detail dan subtil sekali. Lucy mampu mengingat dengan baik tidak hanya destinasi yang dia kunjungi, tapi juga sampai nama orang, suasana, dan percakapan yang dilakukan! Wedyan. Minum apa sih kamu mbak?

Mengenai perjalanannya yang "5 Hari 5 Negara" saya yakin itu adalah konsekuensi dari profesinya sebagai orang kantoran, karena yang ideal sebetulnya adalah 5 hari 1 provinsi saja, hahaha. Tapi selain itu saya menaruh curiga bahwa Lucy melakukan perjalanan ini dengan membawa semangat Jules Verne yang pernah menulis buku "Around the World in 80 Days", sehingga ia harus memangkas waktu di sebuah daerah untuk mengejar destinasi selanjutnya.

Meskipun ini bukan bentuk perjalanan yang ideal dan terkesan 'numpang mandi' saja, tapi sebetulnya tetap harus dilakukan oleh seorang Lucy demi menyiasati hidup di Jakarta yang patetik. "Saya keburu sadar saat rekan yang lainnya mengingatkan bahwa sepuluh tahun dari sekarang, kamu akan lebih menyesali apa pun yang nggak kamu lakukan daripada apa yang kamu lakukan..." tulis Lucy.

Dengan waktu libur yang pendek dan seringkali sulit mendapatkan cuti, tentu lima hari adalah waktu yang berharga bagi Lucy. Sebuah waktu istimewa yang harus dimanfaatkan dengan sangat efektif, seefektif Lucy dalam mengatur keuangan perusahaan.

Tapi sedikit kritik saya buat buku Lucy yang baru; sebagai penulis yang sudah membuat tiga buku, Lucy tampaknya masih setia dengan gaya penulisan yang linear. Mungkin nanti di buku selanjutnya Lucy bisa memberikan surprise dengan gaya penulisan baru tanpa harus kehilangan identitas ke-Lucy-annya.

Selamat Lucy atas terbitnya buku barumu, ditunggu buku selanjutnya :)

2 comments:

Fier said...

wuihhh, 5 hari 5 negara? mantap beneerrr,,,saya smp skrng baru bisa 10 hari 3 negara..wkwkwkwkwk,,,

nih bukunya udah rilis tak?

salamkenal!

Ayos Purwoaji said...

@Fier: Wih serius 10 negara 3 hari?