Pages

9/7/11

Editor's Tips For Travel Writer

Travel writing mandala

Sore kemarin (6/9) akun resmi National Geographic Traveler Indonesia membuat sebuah kuliah twitter singkat tentang panduan menulis perjalanan (travel writing). Cukup ciamik, karena yang memberikan materi adalah trio editor yang ada di majalah ini, yaitu Vega Probo, Manggalani Ukirsari, dan Teguh Wicaksono.

Tapi memang begitulah kelemahan kultwit, informasinya menjadi terpotong-potong dan jika tidak segera diarsipkan dengan baik, maka materi berharga ini akan lenyap ditelan kicauan lain yang lebih baru. Tertumpuk menjadi sampah digital yang mudah dilupakan.

Maka, Hifatlobrain membantu mengarsipkannya untuk Anda. Meski materinya sedikit, tapi tidak ada salahnya untuk disimpan dan dibaca ulang. Apalagi buat teman-teman yang memang serius ingin menekuni dunia penulisan perjalanan yang memang masih sedikit sekali pelakunya di Indonesia.

Berikut beberapa tips dari para editor National Geographic Traveler Indonesia:

1. Saat berada di sebuah destinasi, cobalah untuk berinteraksi dan melebur dengan masyarakat lokal, menjadi bagian dari mereka.

2. Riset itu penting. Mantapkan pengetahuan dasar dengan membaca banyak literatur tambahan dan wawancara ahli di bidang yang bersangkutan.

3. Perluas sudut pandang penulisan, sebuah destinasi tidak melulu harus dilihat dr kacamata pendatang atau wisatawan.

4. Kita harus bisa "jatuh cinta" pada destinasi yang akan kita tulis, dengan cara itu inspirasi menulis akan mengalir tanpa henti.

5. Kemampuan mendeskripsikan sesuatu itu amat penting di dalam menuliskan artikel perjalanan. Jadi maksimalkan semua indera yang Anda punya.

6. Artikel perjalanan tidak melulu hanya memaparkan how to get there & how much money. Bagi saya "konteks" cerita yang dikemas jauh lebih penting.

7. Pada akhirnya, sebuah artikel perjalanan harus mengandung unsur; persuasi, edukasi, narasi, dan instruksi. Namun tetap harus diracik dengan gaya bahasa yang menarik.

Para editor itu juga memuat sebuah gambar diagram travel writing. Sekilas dibaca, kita mungkin bisa meraba maksudnya. Sayang, kultwit itu berhenti sebelum para editor menjelaskan lebih lanjut makna diagram yang berwujud seperti simbol Mandala Kalachakra itu.

Ya, sebaiknya kita mengira-ngira dulu saja, sebelum NGT membuat workshop penulisan perjalanan dengan materi yang lebih yahud. []

8 comments:

Anonymous said...

Nice.. Kalau NGT membuat workshop penulisan perjalanan, saya mau ikut. Sementara ikut workshop yang lain deh. Here's the link, just in case ada yang tertarik. =)

http://www.ubudwritersfestival.com/stream/workshops

bek said...

kamsia sudah merangkumnya untuk dibaca lebih detail masbro

teguh wicaksono said...

Terima kasih Hifatlobrain sudah mau merangkum tweet-tweet dari @NGTravelerID. :)

Sedikit revisi, editor NGT berjumlah 4 orang, saya, Ukirsari Manggalani, Vega Probo dan Christiantiowati. Mbak Chris belum memiliki akun twitter, sehingga tidak join #editotips kemarin. Jadi kami bukan trio.

Terima kasih banyak :)
.teguhwicaksono.

Philardi ogi said...

Apakah diaram itu maksudnya seperti diagram XY ya?jadi kalo tulisan Travel Book berarti lebih descriptive dan evokative, sebaliknya kalo Jurnal lebih narative dan instruvtive?

wah jadi ga sabar deh, nungguin seminarnya NGT mengenai travel writing,ditunggu loh mas teguh :)

Tekno aka Bolang said...

Wah masukan yang berguna sekali...mbok aku diajari tho pakde cara nulis yang baik dan benar...lebih seneng lagi klo diajak jalan2 sekalian praktek :)

nonadita said...

Mbok ditambah tips2 menulisnya biar aku bisa jadi travel writer yg dahsyat kayak Mas Ayos Purwoaji...

Gol A Gong said...

Good. Menambah wawasan saya kultwitnya. Salam kenal. (www.mytravelwriter.com)

Ayos Purwoaji said...

Salam kenal juga mas Gol A Gong :)