Pages

9/1/11

Homeland; a Note Behind


“Pulang juga sebuah perjalanan…”
(Fajar Subchan, 2011)

Bermula dari celetukan mas Jeri Kusuma, pembaca setia Hifatlobrain, yang mengusulkan pembuatan video singkat untuk menyambut Lebaran. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, pembaca Hifatlobrain memang tidak banyak, tapi meski sedikit semuanya militan bung! Salah satunya ya mas Jeri ini. Tentu saja ide ini tidak kami sia-siakan, setelah berdiskusi dengan Dwi Putri, sang honorable contributor Hifatlobrain, akhirnya dicapai kata sepakat untuk mengeksekusi gagasan keren ini.

Kami pun menggandeng Giri Prasetyo, sang pendekar visual yang reputasinya sudah malang melintang di jagad Vimeo, dan Lukki Sumarjo, seorang penulis naskah yang memiliki ide beruntun seperti mercon Cina. Beruntung duo jenius ini bersedia diajak untuk proyek suka-suka Hifatlobrain. Mereka pun dengan mudah menggandeng seorang pasukan tambahan, Samuel Respati, sang komposer sableng yang menyukai gaya bohemian. Kami berenam pun mulai bertemu secara intens, dari kafe ke kafe, dari satu tempat nongkrong ke tempat nongkrong lainnya.

Tim kecil kami berpikir cepat dan hanya butuh seminggu sebelum semuanya siap diberangkatkan ke Bromo, lokasi pengambilan gambar utama. Di Desa Cemorolawang, kami menyewa sebuah rumah dua lantai untuk akomodasi kru dan penggembira. Tapi memang benar kata orang Jawa; ono rego, ono rupo. Penginapan rumah yang kami tempati memang murah, tapi juga lumayan jauh dari lokasi syuting.

Selain itu, melakukan pengambilan gambar di gunung bukanlah perkara mudah. Hari pertama kami harus melakukan aklimatisasi dulu, sebelum tubuh kami benar-benar siap menghadapi hawa Bromo yang cadas: malam yang beku dan siang yang panas. Iklim yang ekstrim ini tentu saja menjadi cobaan paling berat karena kami sedang menjalankan puasa Ramadhan. Waktu sehari juga kami gunakan untuk survey lokasi dan menunggu slidercam sederhana yang dibuat Oot di Surabaya.

Setelah survey, kami menemukan sebuah tempat yang indah untuk syuting. Lokasinya berupa hutan cemara meranggas yang lapisan humusnya hilang, digantikan dengan karpet abu vulkanis. Secara serampangan Idham Rahmanarto, fotografer lulusan Antara yang turut serta menjadi penggembira dalam produksi, menyebut tempat ini sebagai “Norwegian Wood” seperti judul novel terkenal karya Haruki Murakami.

Esoknya, kami melakukan syuting di “Norwegian Wood” sejak pukul lima pagi karena tuntutan scene matahari terbit. Selama syuting kami melakukan banyak improvisasi; menangkap flare matahari, membuat atmosfer penuh debu, hingga menjungkirbalikkan kamera demi menghasilkan gambar spektakuler. Kami semua memang masih belajar bikin video yang ciamik.

Karena masih pagi dan hawa belum terasa panas benar, maka syuting di “Norwegian Wood” terasa begitu menyenangkan. Tidak seperti syuting di Lautan Pasir pada siang harinya yang membara seperti neraka. Kami harus berjibaku dengan badai pasir yang membuat pandangan menjadi kabur. Sialnya, benda mikroskopik itu juga tak kalah ganas untuk mencoba menyusupi mata, hidung dan lensa kamera. Edan. Mata saya perih dibuatnya. Tiupan angin beliung yang menerbangkan berton-ton abu vulkanis membuat pemandangan layaknya selembar foto infra red. Abu-abu. Untung saja bencana ini hanya berlangsung selama empat jam saja, kalau tidak, bisa batal pengambilan gambar sore itu.

Setelah siang hari dibutakan oleh badai pasir, malamnya Bromo menunjukkan kehebatannya yang lain; kabut supertebal yang membuat jarak pandang hanya sejauh satu meter saja. Menghalangi jalan kami untuk menuju Pura Poten yang berada di kaki Bromo. Rombonggan Lukki dan Putri sempat tersesat di balik kabut tebal itu. Untungnya, balok-balok beton itu menuntun mereka untuk kembali ke jalan yang benar menuju Pura Poten.

Selain kesulitan-kesulitan yang terjadi di lokasi, kami juga harus menghadapi kesulitan standar dalam mengedit sebuah film: menyortir berpuluh giga file video, menggubahnya dalam sebuah komposisi ciamik, membuat music scoring yang pas, dan mengetesnya. Setidaknya kami membuat lima buah video dummy yang tidak lolos dari screening pratayang. Kami bekerja sangat cepat, edit sana-edit sini, tambal sana-tambal sini, untuk memenuhi tenggat Hari Raya yang tanggalnya sibuk diperdebatkan pemerintah.

Tapi kami percaya, kesulitan-kesulitan itu hanyalah harga yang harus kami bayar sebelum video ini akhirnya meledak.

Dan ternyata benar, hanya dalam dua hari video kami ditonton lebih dari sepuluh ribu orang! What a huge number of viewers! Gilak, bahkan imaji kami yang paling liar sekalipun belum sempat membayangkan fenomena ini. Harus kami akui, ulah mas Jeri yang membuat thread khusus di Kaskus adalah ide jitu yang memancing banyak tanggapan positif. Hanya kurang dari dua jam thread ini berhasil masuk seleksi admin untuk dijadikan Hot Thread! Maka video kami pun nangkring di halaman pertama Kaskus, forum online terbesar di Indonesia. Selebihnya mudah ditebak, video kami diputar hampir setiap detiknya. Thanks agan-agan Kaskuser sekalian!
Hot Thread di Kaskus

Vimeo Discover List

Update: per tanggal 17 September, Homeland menjadi
featured video di Youtube.


Tingginya jumlah penonton juga membuat video kami masuk dalam jajaran Vimeo Discover List. Itu semacam daftar eksklusif yang dibuat oleh staff Vimeo bagi karya istimewa yang paling banyak ditonton atau paling banyak disukai pengguna Vimeo di seluruh dunia. Whoa! Sependek pengetahuan saya, belum pernah ada video buatan orang Indonesia tentang Indonesia yang masuk dalam daftar bergengsi ini. Dan itu semua itu dicapai dalam waktu dua hari saja. Rawkz!

***

Video ini sebetulnya merupakan pengingat bagi kami semua yang gemar traveling untuk selalu ingat rumah. “Kamu jalan kemana pun, baru bisa disebut traveling ketika kamu pulang ke rumah…” kata Lukki sang penulis naskah. Tema ini memang sengaja kami ambil agar video ini menemukan konteksnya: mudik lebaran. Dalam tradisi mudik, orang pulang ke rumah dengan membawa segenggam cerita dan pencapaian yang menarik untuk dikisahkan. Pulang tidak saja menjadi perayaan, tapi lebih dari itu adalah sebuah inisiasi yang harus dilewati oleh para petualang sebelum perjalanannya dianggap berhasil. Sesederhana itu idenya.

Bagi saya pribadi ini adalah sebuah big bang, letusan besar yang ada di Hifatlobrain. Dulu Hifatlobrain sempat membuat big bang dengan meluncurkan ebook petualangan yang berjudul “Alone Longway from Home”, yang akhirnya diikuti oleh tren munculnya berbagai ebook dan emagz bertema traveling di Indonesia. Semoga big bang kedua kami berupa video “Homeland” ini juga mampu memantik para pejalan lokal untuk bersama-sama membuat travel documentary, sebuah genre yang ditetas dan sedang giat dikampanyekan oleh Hifatlobrain Travel Institute.

Kami berharap Hifatlobrain bisa menjadi muara kreatif bagi para traveler yang ingin mengabadikan perjalanannya dengan berbagai media. Itulah yang sedang kami usahakan; mendorong para pejalan untuk giat membuat dokumentasi tentang indahnya Indonesia.

Saya harus memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada rekan-rekan yang membantu produksi ini. Meski bekerja dalam skala mini, tapi orang-orang di dalam kru ini saya akui hebat, semua melakukan tugas multiguna: Lukki (scripwriter & director), Giri (director of photography, cameramen, editor), Putri (art director & behind the scene), Jeri (production assistant & behind the scene), dan Tomi (actor & music composer). Gilak ya, bekerja sama dengan orang-orang multitalenta itu rasanya luar biasa bung!

Saya juga tak lupa pada Bondan Wahyutomo (web coordinator Hifatlobrain) yang sudah merubah total tampilan muka blog ini agar full video. Juga buat teman-teman lain yang meramaikan rumah sewaan dan Kedai Makan Tante Toli di Bromo: Djunedz, Shaendy, Menok, Oot, Hilal, Idham, Gerry, Dhani, dan Nody. Pada Mas Arik TangLeBun kami ucapkan rasa terimakasih atas support alatnya yang sangat membantu kami memproduksi gambar indah. Kami juga berterimakasih kepada Mbak Yuli dan c2o Library yang berhasil kami acak-acak untuk mendapatkan scene rumah.

Doakan saja ke depan Hifatlobrain mampu membuat video yang lebih inspiratif lagi dan menggandeng berbagai talenta baru di jagad traveling Nusantara. Proficiat! []

Silahkan lihat video behind the scene.

16 comments:

Dwi Putri Ratnasari said...

*alah kok saya jadi speechless gini si*

:')

Tekno aka Bolang said...

hai hai...keren rekkkk *rak ketung komen ku tentang Homeland, ben next project di ajak, rak ketang dadi penggembira aka Pompom boy* wkwkwk..sukses selalu buat semuanyaaaa

winda savitri said...

BRAVO HFLB :)

fajjar_nuggraha said...

keren gan...salute te..

Herajeng Gustiayu said...

Manteeeeb... *Ah makin bangga saya sama kalian. :)

bek said...

hadeehhhh..
karya nya sederhana tapi bisa membius sukma...
jadi pengen ikutan belajar di hifatlobrain institute euy

iman kurniadi said...

pas putri berbicara sering melihat ke kiri atas, pas ayos berbicara sering melihat ke kanan bawah, artinya.... :p just kidding. Your job is awesome guys.. berharap bisa juga bergabung *crossfinger :)

jeri kusumaa said...

Sungguh pengalaman yang menyenangkan ketika proses produksi pilem ini. Apresiasi penonton yang diluar dugaan tingginya adalah bonus tersendiri dan juga berkah lebaran.

Diluar semua itu, pilem ini adalah sesuatu banget :p

Giri Prasetyo said...

ayo bikin lagi, keliling indonesia!

Anonymous said...

Alhamdulillah yah,sesuatu banget!

TDB said...

idenya sadis,,
pengambilan gambar dan seting tempatnya indonesia banget,,
super manstabbbbbbbbbbbb
salam olahragaaaaaaa

TDB said...

sadiss ni vidiooooo
idenya sederhana dan berlian
josssssssssss
salam olahragaaaaaaaaa

Idhm said...

baru sempat lihat BTS setelah sekian lama mencari wi-fi biar koneksi pas-pas-an haha keren sekali! ah, ingin rasanya di kesempatan yang lain ikut serta lagi. *hormat**

Putra said...

Bagus sekali mas :)
Really so inspired

bu konjen said...

terharuuuwwwwwww.....saluuteeeeee!!!

Yulianus Liteni said...

wow... gw baru nonton videonya
BIG WOW!!!
BIG BIG BIG WOW!!!
Speechless gw nontonnya.
Good job!