Pages

9/10/11

Kuta on the Wheels



Video, foto, dan teks oleh Lukman Simbah


Aku percaya, tempat yang sama jika didatangi pada waktu dan kondisi yang berbeda akan menghasilkan pengalaman yang otentik pula.

Apa yang akan kamu bayangkan ketika tiba-tiba mendapat undangan untuk datang ke suatu acara di Bali pada saat peak season? Yang ada di kepalaku pasti jalanan macet, polusi, susah dapat penginapan, dan beberapa bayangan buruk lainnya. Ini bukan guyonan. Sudah beberapa kali aku datang ke Bali di waktu kunjungan wisatawan memuncak. Dan berbagai mimpi buruk yang yang aku sebut sebelumnya betul-betul menjadi kenyataan.

Tahun 2009, di saat hari lebaran ke dua, aku sudah tiba di sekitar Jalan Poppies. Bagai seorang gembel homeless aku memasuki setiap losmen untuk menanyakan apakah tersedia kamar kosong. Setelah tiga jam berkeliling, aku sama sekali tidak bisa menemukan losmen dengan kasur empuk untuk merebahkan badan. Merasa jengkel, akhirnya aku langsung mengambil keputusan untuk memacu motor menuju Padang Bai, 52 kilometer di timur Kuta. Voila! Ternyata sepi sekali sodara-sodara, sangat kontras dengan hingar bingar Kuta.

Kesempatan kedua, sepertinya aku tidak belajar dari pengalaman. Beberapa hari menjelang tahun baru 2011 aku pun kembali menginjakkan kaki di Kuta. Peristiwa yang sama terjadi, dan petualanganku mencari losmen di Kuta saat tahun baru -yang bisa kamu bayangkan ramainya seperti panci penuh cendol- membuatku terdampar di kota Karangasem, 77 kilometer jauhnya dari Kuta. Malam itu, sambil terbaring dengan tubuh superlelah, Megan Fox datang ke alam mimpiku dan berkata, “Don’t trip over the same stone, Handsome…

Well, pengalaman seperti itu masih menghantui. Namun chief editor Hifatlobrain, yang nyambi menjadi tukang ojek kuda di Bromo itu bersikeras memintaku untuk datang, “Cuk, ini acara yang berbeda dari yang lain, dan kalo peak season pastinya kamu bakal banyak menemui sugar babes!” kata dia.

Selaku bawahan yang selalu harus siaga dengan penugasan, dan sedikit dikompori dengan bayangan gadis-gadis pantai yang aduhai, akhirnya berangkatlah aku dengan hati gembira.

***
Acara bersepeda di Bali kali ini merupakan kampanye lingkungan yang dikemas dalam acara customer gathering dan wisata. Sebagai sebuah destinasi populer, tentu saja pantai Kuta menjadi jujugan banyak orang. Nah, sayangnya dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya jumlah wisatawan dibarengi dengan penggunaan kendaraan bermotor yang tidak terkontrol. Hal tersebut akhirnya menjadi salah satu isu negatif yang menurunkan pesona Kuta. Pantai ini pun menjadi penuh sesak dengan barisan panjang sepeda motor dan mobil. Bahkan pada setiap sore dan petang sering terjadi macet panjang. Tentu saja ini memberikan nilai minus pada Kuta sebagai salah satu destinasi dunia kelas wahid.

Kampanye bersepeda keliling Kuta yang aku lakukan ini menawarkan alternatif baru untuk menikmati pantai tanpa polusi. Bayangkan Kuta seperti Gili Trawangan yang bebas dari asap dan deru kendaraan. Suasana pun menjadi jauh lebih tenang dan keasyikan kita melihat sunset pun tak akan terdistorsi dengan hadirnya bebunyi klakson yang sama sekali tidak merdu.

Acara bersepeda ini juga membuat aku bisa menikmati Kuta dengan cara yang lebih utuh. Dulu memang aku lebih suka berkeliling Kuta dengan motor sewaan seharga 50.000 rupiah. Namun ketika naik motor, aku jadi tidak bisa memperhatikan toko, café, dan resto di sepanjang jalan yang dilewati. Nah, dengan gowes ini aku bisa lebih perhatian dengan tempat-tempat itu. Aku jadi bisa mengamati setiap detailnya. Menikmati arsitektur sebuah bangunan sembari memacu sepeda perlahan sepertinya cukup membuat banyak ide berloncatan dari dalam kepala. Poping up!

Mungkin perasaan kreatif ini juga pengaruh dari rasa rileks yang timbul karena kaki terus bergerak memompa darah segar ke sekujur tubuh. Apalagi kesegarannya menjadi dobel saat angin pantai membelai wajahku dengan lembut.

Map by GoogleMaps

Rute gowes kami dimulai dari Kuta Bex, kemudian menyusuri Legian, Seminyak dan berakhir di Pura Petitenget. Secara garis besar rute ini dimulai dari jalan raya yang dihimpit oleh riuhnya kendaraan, kemudian bergerak semakin ke utara, memasuki pedestrian yang sisi kanannya adalah deretan restoran, hotel dan café, dan di sisi kirinya adalah pemandangan orang orang berjemur dan bermain surfing. Setelah melewati pedestrian itu, kami melintasi deretan galeri dan butik di bilangan Seminyak. Desain interior modern bergaya minimalis menjadi ciri utama bagi banyak bangunan di kawasan Seminyak.

Maka saat hari sudah menjelang senja, kami memasuki kawasan pantai Petitenget. Saat kami tiba, di sepanjang pantai sudah banyak orang menikmati matahari tenggelam sambil melakukan berbagai aktifitas. Ada yang berjalan dengan anjing peliharaannya menyusuri pantai, ada yang bermain sepak bola, ada yang berlatih pencak silat, bahkan ada pula yang hanya duduk duduk-duduk saja. Di balik sinar matahari yang sudah semakin oranye, orang-orang itu seolah olah menemukan dunia kesenangannya sendiri-sendiri. Dan aku juga menemukan duniaku sendiri, yaitu sebuah pengalaman baru dengan bersepeda melintas Kuta hingga Petitenget.

NB:
Thanks to HSBC - Air Asia yang sudah mengundang Hifatlobrain.

1 comment:

Ojek Online Bali said...

skrg udh ada ojek online di bali.siap ngtr sampai ke hotel bro.coba lihat di OJEK ONLINE BALI.