Pages

9/13/11

Top 5 Traveling Movies by Iman Kurniadi

1. Diarios de Motocicleta (The Motorcycle Diaries, 2004)

“Let the world change you
and you can change the world”


Film The Motorcycle Diaries bercerita dua pemuda penunggang motor tua La Pederosa (Sang Perkasa) dan menempuh jarak lebih dari 12.000 km, dari Buenos Aries ke sepanjang wilayah Amerika Selatan. Pengendara motor tersebut adalah dua calon dokter muda Ernesto Guevara dan Alberto Granado. Kelak Ernersto lebih kita kenal dengan sebutan Che Guevara, seorang revolusioner Marxis di Argentina dan gerilyawan Kuba yang paling diingat.

The Motorcycle Diaries adalah sebuah film berdasar kisah nyata yang ditulis oleh Ernesto. Film ini lebih kurang merupakan sebuah biografi singkat tentang masa muda Che Guevara ketika berusia 23 tahun. Ia dan sahabatnya bersepeda motor menyusuri Amerika Selatan dan mengalami banyak sekali peritiwa yang akan mempengaruhi pandangannya dalam melihat hidup. Klimaksnya terjadi pada saat persinggahan Ernesto di Peru dan bekerja sebagai volunteer di pengasingan bagi penderita lepra. Melalui film ini penonton diajak untuk menyelami kejadian-kejadian yang membentuk karakter seorang Che Guevara. Dan, kemudian, tagline film ini pun menemukan konteksnya; "Biarkan dunia mengubahmu lebih dulu sebelum kelak kamu bisa mengubah dunia..."

Itu artinya banyak inspirasi dan pelajaran berharga yang dapat diambil dari film The Motorcycle Diaries. Penulis berpendapat dalam film yang diambil dari kisah nyata ini mengajarkan kepada para traveler untuk satu, pantang menyerah. Banyak sekali rintangan yang dialami Alberto dan Ernesto selama perjalanan, mulai ban bocor, tabrakan, jatuh beberapa kali, hingga mendorong sepeda motor yang mogok ditengah-tengah jalan dengan salju yang lebat. Hebatnya, mereka tetap teguh melanjutkan perjalanan, dengan atau tanpa motor.

Dua, Man Search for Meaning, ini adalah judul buku yang ditulis Viktor Frankl mengenai filsafat eksistensialisme. Artinya seorang pejalan tidak hanya memiliki destinasi turistik semata, lebih dari itu pencarian jati diri dan pemaknaan kehidupan itulah 'destinasi' yang sesungguhnya. Mungkin meaning yang ditemukan oleh Ernesto selama pengembaraannya itulah yang membuat dia berubah.

2. The Great Voyage (La Grand Voyage, 2004)

Father: The ocean water evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate, they become fresh. That’s why it’s better to go on your pilgrimage, on foot than on horseback, and better on horseback than by a car, and better by car than by boat, and better by boat than by plane.

Film ini menceritakan kisah seorang anak bernama bernama Reda, yang terpaksa mengantarkan ayahnya pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dengan menggunakan mobil. Dalam perjalanan panjang melintas berbagai negara itulah mereka berdua mengalami peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Seperti bertemu dengan wanita misterius, penipu dan pencuri, terkubur di badai salju, bertemu sekelompok peziarah yang juga naik haji menggunakan mobil, hingga membeli kambing untuk bekal perjalanan. Selama perjalanan mereka jarang tidur di hotel. Begitu pula dengan bagaimana mereka makan sehari-hari. Mereka lebih sering tidur di dalam mobil dan memasak di pinggir jalan selama perjalanan.

The Great Voyage menceritakan hubungan dan konflik antara ayah dan anak yang sangat menarik untuk ditonton. Seorang anak yang sangat kesal karena melakukan perjalanan yang bukan kehendaknya, di sisi lain seorang ayah yang memiliki keyakinan bahwa perjalanan spiritual sebaiknya dilakukan dengan cara yang lebih keras, semacam ujian untuk teguhnya iman.

What if
, melakukan sebuah perjalanan, melakukan aktivitas traveling dan aktivitas-aktivitas lain yang melekat, bukan karena keinginan kita? Itulah yang dirasakan Reda. Perjalanan mengantarkan ayahnya ke Mekkah bukan keinginannya. Sang ayah juga keras kepala, dia naik haji tidak mau menggunakan pesawat yang mungkin lebih hemat dan cepat. Kebanyakan orang melakukan traveling karena kehendak pribadi. Bagaimana caranya, aktivitas apa yang akan dilakukan, maupun tujuannya sesuai dengan kehendak itu.

Dalam film ini, bagaimana jika traveling yang kita lakukan bukan kehendak kita? melainkan kehendak orang lain. Barangkali tanpa hal-hal menyenangkan yang akan kita alami selama traveling kita akan merasa mudah bosan, marah, kesal, atau malah mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan?

Hal lainnya, adalah sebuah pilihan, how to get there. Seorang traveler pasti akan memilih asas “the fastest and the cheapest” untuk mencapai sebuah destinasi. Nah film ini memberikan opsi sebaliknya: “Bila ada cara yang lebih sulit, kenapa harus pakai cara yang lebih mudah?”. Untuk menjalankan hal ini tak lain adalah butuh determinasi diri yang kuat, mengapa kita memilih cara yang sulit menuju destisasi tertentu. Mempersulit diri sendiri? Absolutely! Tapi mungkin ada kenikmatan saat sampai tempat tujuan akan berkali lipat besarnya dibandingkan cara yang lebih mudah. Hal itu ditunjukkan dari wajah sang ayah ketika tiba di Mekkah.

Film ini juga memberikan deskripsi yang cukup jelas bagaimana kondisi traveling jarak jauh melintas banyak negara dengan menggunakan kendaraan roda empat: dimana kita beristirahat, bagaimana mengecek kondisi mobil, dan yang terpenting adalah, safety driving, Guys...


3. The Way (2010)

Jika La Grand Voyage menceritakan konflik anak-ayah yang melakukan perjalanan menuju Mekkah lewat jalur darat, maka The Way bercerita tentang seorang ayah yang melanjutkan perjalanan anaknya yang belum tuntas.

Film ini dimulai dari kisah sedih karena sang anak meninggal dunia di tengah perjalanan yang disebut sebagai “El camino de Santiago" atau The Way of St. James. Sebuah jalur penziarahan terkenal yang sudah dilakukan oleh umat Kristiani selama ribuan tahun. The Way of St. James sendiri memiliki beberapa rute, di film ini disebutkan starting point di Prancis, tetapi dari semua rute perjalanan berakhir tujuan yang sama yaitu Cathedral of Santiago de Compostela di Galicia (Spanyol Selatan).

Ciri khas dari perjalanan ini adalah (1) semua peziarah (pilgrim) melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, hingga berminggu-minggu. (2) Selama perjalanan di sepanjang rute terdapat rambu khusus, biasanya bertanda scallop atau kerang. (3) Di sepanjang rute juga tersedia banyak penginapan murah khusus untuk para peziarah. (4) Peziarah berasal dari berbagai negara. (5) Pada tahun kabisat atau tahun suci, peziarah akan sangat meningkat jumlahnya. Dan (6) sepanjang rute, tersedia pos-pos yang akan memberikan tanda atau cap khusus di “paspor” para peziarah, sebagai tanda bahwa dia telah melakukan perjalanan “El camino de Santiago" dari awal hingga akhir tanpa mengambil jalan pintas.

Tom Avery, sang ayah yang juga dokter mata ini terpanggil untuk melakukan perjalanan “El camino de Santiago" dengan misi menyelesaikan perjalanan anaknya. Ini adalah sebuah perjalanan suci umat Katolik, semacam perjalanan spiritual yang mengharukan ketika dilakoni. Selama perjalanan sang ayah juga menaburkan abu anaknya dengan cara mencicil. Ia menaburkannya sedikit demi sedikit dengan maksud anaknya turut merasakan sebuah perjalanan yang tak bisa diselesaikannya itu, bahkan hingga ajal menjemput.

Dalam perjalanannya ini Tom bertemu dengan teman seperjalanan dari berbagai negara dengan sifat, perilaku, dan karakter yang sama sekali berbeda. Mereka adalah Joost dari Belanda, Jack dari Irlandia, dan Sarah dari Prancis. Kelompok kecil ini saling membantu dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hingga usai.

Beberapa inspirasi bisa kita temui di film ini. Pertama, traveler are not a martian, maksudnya traveler bukanlah makhluk asing seperti makhluk mars. Menjadi seorang traveler berarti memilih takdir untuk bertemu dengan orang-orang baru dan rela untuk berbagi rasa, seperti yang dialami oleh Tom, Joost, Sarah, dan Jack. Bahkan Tom juga bersahabat dengan kaum Gypsi yang sebelumnya mencoba mencuri ranselnya.

Kedua, impulsive but not selfish traveling. Hal inilah yang dilakukan oleh Tom, dia mengambil keputusan secara tiba-tiba (impulsive) untuk melakukan perjalanan “El camino de Santiago" dan memutuskan untuk melakukannya sendirian, akan tetapi selama perjalanan bertemu dengan sahabat-sahabat baru.

Ketiga, ada pertanyaan yang sulit di jawab oleh kelompok itu ketika mencapai tujuan terakhir, “Apakah motivasi perjalanan anda?”, dan mereka kebingungan dan tidak yakin saat menjawab. So travelers, why you do the traveling?

4. The Way Back (2010)

Their escape was just the beginning, adalah tagline film The Way Back. Film ini bercerita tentang sekelompok orang yang melakukan perjalanan sejauh 4000 mil atau lebih dari 7200 km dari Siberia hingga India.

Film ini diambil dari kisah nyata seorang pelarian dari penjara Gulag bernama Januzs dan beberapa rekannya. Mereka kabur untuk mencari kebebasan. Dengan perbekalan seadanya dan kemampuan navigasi yang sangat minim, mereka mencoba keluar dari negara-negara komunis dan Nazi.

Jalur panjang yang mereka tempuh tentu tidak mudah. Mereka harus menembus badai salju yang sangat dingin, menjadi santapan nyamuk hutan, mencuri untuk mendapatkan makanan, melintasi gurun Gobi yang bikin frustasi, melangkahi pegunungan Himalaya, kedinginan, kepanasan, dehidrasi, terserang penyakit, hingga beberapa orang dalam rombongan itu mati satu persatu karena tidak kuat.

Penulis berpendapat The Way Back tidak dapat dikatan sebagai sekelompok orang yang melakukan traveling, karena latar belakang mereka melakukan perjalalan itu adalah sebagai seorang pelarian. Akan tetapi dalam film ini terdapat cara-cara sederhana, unik, dan kreatif tentang bagaimana mereka bertahan dengan persiapan yang mendekati sama sekali tidak ada. Seperti bagaimana menentukan arah dengan melihat matahari dan bayangan kita, membuat sabun untuk mandi, berburu, mencari sumber air, memasak dengan batu, meminimalkan dehidrasi, membuat baju dari kulit hewan, mengobati luka, hingga menghibur diri saat kebosanan. Cara-cara tesebut merupakan esensi bertahan di alam lepas, lebih tepat distilahkan “how to survive to make a journey that will make you dying or dead”.

5. In To The Wild (2007)

Into The Wild bukan film yang asing bagi para traveler. Nilai-nilai yang dibawa dalam film ini wajib dipelajari bagi siapa saja yang mengambil jalan hidup sebagai seorang petualang.

Seperti halnya The Way Back yang menceritakan Janusz dan The Motorcycle Diaries yang menceritakan Ernesto, Into The Wild bercerita tentang kehidupan seorang pemuda bernama Chris McCandless yang meninggalkan kehidupan, ambisi, dan masa depannya sebagai seorang lelaki mandiri yang lepas dari bayang-bayang orang tuanya.

Adengan menarik ketika dia menyumbangkan tabungannya sebanyak $24.000 kepada yayasan sosial, meninggalkan mobil kuning, dan membakar sisa uang yang dia miliki termasuk dokumen-dokumen pribadi miliknya. Kemudian dia melakukan aktivitas hitchhiking dan mengganti namanya menjadi Alexander Supertamp. Selama berpetualang dengan identitas barunya, Alexander Supertramp melakukan banyak hal yang belum pernah dia coba, misalnya mengarungi sungai Colorado dengan kayak, menyebrangi negara Mexico tanpa ijin resmi, bergaul dengan kaum hippies, membantu di ladang gandum, tinggal bersama pengrajin kulit, dan bertahan hidup di sebuah “magic bus, an abandoned bus”.

Inti dari film ini sebetulnya banyak sekali, termasuk di dalamnya nilai: search and gather ideal self identities, persist and persistence, keep our mind wide open, enjoy little-simply things and do the biggest one, family does matter, and happiness can be real if it shared.

Selain itu, penulis mendapatkan beberapa inspirasi yang dapat diambil dalam film ini. Pertama, travel documentary. Proses mendokumentasikan perjalanan akan menjadi hal yang sangat berharga untuk dilakukan. Hal ini akan sangat bermanfaat bagi para traveler selanjutnya yang akan melakukan perjalanan yang sama. Banyak traveler yang sudah melakukan hal tersebut, menulis di blog, media televisi seperti Discovery dan NG Channel, majalah-majalah, atau buku harian pribadi.

Nah, yang dilakukan Alexander Supertramp dia melakukan dua cara pendokumentasian. Pertama adalah menulis buku harian yang penuh dengan ungkapan sentimentil dan indah. Kedua, adalah dengan menorehkannya pada sebuah sabuk. Alexander supertramp “membuat relief” perjalanannya di sebuah ikat pinggang saat dia tinggal bersama pengrajin kulit. Cara kedua ini sangat unik.

Inspirasi lainnya adalah mengenai tujuan dari perjalalan kita. Apakah kita penganut ajaran “No one realizes how beautiful it is to travel until he comes home" ala Lin Yutang atau “Vini vidi vici” ala Julius Caesar? Apakah kita melakukan sebuah perjalanan untuk menguatkan pengertian bahwa sangat berharganya arti rumah? Atau kita melakukan perjalanan untuk menaklukkan godaan pulang demi melakukan perjalanan ke destinasi berikutnya sebagai pencapaian baru?

***
Sesungguhnya banyak film yang bertemakan perjalanan yang ingin saya bahas. Tetapi kelima daftar di atas adalah film-film yang bisa memberikan sensasi lebih ketika ditonton. Selain lima yang terbaik di atas, saya merekomendasikan film-film perjalanan lain yang bisa disimak sebagai peseperti: Eat Pray Love, The Beach, Darjeeling Limited, Seven Years in Tibet, Lost In Translation, Up in The Air, The Bucket List, Babel, The Holiday, Vicky Cristina Bacerlona, Before Sunrise, Letter To Juliet, Borat, The Art Of Travel, dll.

Have an awesome day
dan selamat menonton!


________________________________________________
Kontributor








Iman Kurniadi, pria subur setengah sableng ini memang seorang movie freak. Syahdan, banyak perempuan cantik yang patah hati karena Iman lebih memilih film dan traveling ketimbang asmara. Saat berhadapan dengan sinema, otaknya bekerja setajam golok Machette yang enggan melewatkan detail sekecil apapun. Kecintaanya pada film menggerakkan Iman untuk mengelola akun tumblr CinematicOrgasm yang superkece.

________________________________________________

3 comments:

Wana said...

niche share, jadi pingin nonton yang nomer dua..

sabilablabla said...

yang udah ditonton cuma nomor 2 & 5. '127 hours, ga masuk yaa?? hehe.. travellingnya dikit si emang

titiw said...

Wah wah.. Tulisan kakak Iman emang ciamik. Dari semua film yang aku udah tonton baru Into The Wild. Yang lain dibookmark! :D