Pages

9/7/11

Youk Tanzil with His Expedition

Youk Tanzil and Winda Savitri (associate editor Hifatlobrain)



Tepat pada tanggal 17 Agustus yang lalu, Winda Savitri dan Bondan Wahyutomo dari Hifatlobrain diundang oleh mas Andry Berlianto, salah satu kru dari Ring of Fire Expedition (RoF) untuk melakukan wawancara dengan Youk Tanzil, sang project leader. Sebelumnya kami sudah pernah menuliskan secara singkat profil ekspedisi keliling Indonesia yang melibatkan banyak tenaga ini. Sekarang, kami bisa mengoreknya lebih dalam lagi dari sudut pandang seorang Youk Tanzil.

Cuaca cerah membantu hati kami tetap gembira saat mendatangi rumah Youk Tanzil di bilangan Ragunan, Jakarta Selatan. Sampai di lokasi pukul dua siang, lebih cepat dari yang dijadwalkan, kami pun dipersilahkan masuk ke kediaman sekaligus kantor pribadi Pak Youk, begitu beliau biasa disebut.

Setelah terlibat sedikit pembicaraan dengan mas Andry, barulah kami dipertemukan dengan Pak Youk. Kami memulai pembicaraan sembari menyimak presentasi beliau yang telah direkam dalam sebuah video berformat blue ray. Kepingan cakram digital tersebut berisi rangkuman perjalanan di Stage-1, yang meliputi NTT, NTB, Bali, dan Jawa. Isinya kebanyakan berupa ucapan terima kasih kepada para sponsor dan sedikit cuplikan salah satu episode RoF yang akan diputar untuk umum. Saya melihat tim ini melintas wilayah Fatumnasi hingga mendaki Gunung Rinjani, menarik sekali. Setelah melihat video tersebut, barulah saya mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara.

W: Siapa sebenarnya seorang Youk Tanzil? Profil singkat lebih tepatnya.
Y: Saya? I’m just an ordinary man, seperti orang-orang lainnya. Saya hobi bersepeda. Dulu sempat menjadi seorang pembalap motor dan di tahun 90’an saya juga pernah keliling Indonesia menggunakan kapal laut. Saya suka kapal.

W: Jadi, awal mulanya Ring of Fire ini dari mana? Saya dengar Bapak pernah membuat sebuah proyek musikal dengan Adi M.S. dan dari sana ide berkeliling Indonesia itu muncul?
Y: Saya memang pernah membuat CD musik berjudul "Symphony Negeriku" bersama Adi M.S. Di dalamnya berisi kumpulan lagu-lagu Nasional Indonesia, yang sampai sekarang masih sering digunakan oleh stasiun televisi dan radio. Tapi lantas saya berpikir; Kenapa hanya lagu? Kenapa tidak video? Dari sana terlintas juga sebuah gagasan bahwa saya ingin mewariskan rasa cinta saya kepada bangsa dan negara ini ke putra dan putri saya. Nah wong anak saya saja ditanyain Jombang aja nggak tau letaknya di mana, hahaha.

Yasudahlah, akhirnya saya bikin video kecil-kecilan untuk anak-anak saya, mulai latihan menggunakan handycam biasa, mencoba naik KRX 150, belajar masak, bikin tenda, dan lama-lama saya merasa tidak bisa melakukannya sendirian. Akhirnya saya menyewa jasa seorang camera-man dan pelan-pelan membentuk sebuah proyek yang dinamakan Ring of Fire.

W: Adakah sosok atau pembuat film dokumenter yang menginspirasi Pak Youk?
Y: Saya itu suka tipe-tipe manusia seperti Sir Richard Branson. Hmm, how do you called it? Dia itu berasal dari jalanan, lalu belajar mengenai kehidupan dan bisnis benar-benar dari pengalaman. Dan dia juga melakukan banyak hal yang belum pernah dilakukan orang lain.

Nah, kalau film dokumenter, saya juga suka. Salah satu yang menginspirasi adalah serial dokumenter "Long Way Round" dan "Long Way Down" karya Ewan McGregor dan Charley Boorman. Dari situ lantas terpikir,“Wah, aku musti bikin video seperti mereka!”

W: Kembali ke topik RoF, kenapa rute perjalanannya di mulai dari Kupang dan dibagi dalam beberapa stage?
Y: Kami perlu mengedit video. Setiap hari, selama perjalanan RoF, kami selalu mencicil mengedit video. Total kurang lebih ada 3 terabyte file video yang kami kumpulkan selama melintasi Stage-1. Itu adalah jumlah yang banyak sekali. Sehingga kami selalu menempatkan finish point-nya di Jakarta untuk mengedit ribuan footage tadi. Dan tidak mungkin dilakukan proses editing jika melakukan perjalanan non-stop dari Sabang sampai Merauke, misalnya. Itu sangat tidak efisien. Menyulitkan.

W: Hmm, lantas berapa lama waktu yang dihabiskan di setiap lokasi?
Y: Kami selalu melakukan riset disetiap stage-nya, contoh, untuk Stage-1 sejauh 6000 kilometer ini, riset yang kami buat setebal ratusan halaman. Sehingga untuk berapa lamanya kami menetap di satu lokasi tidak dapat dipastikan secara gamblang, karena kami sangat dibatasi oleh jadwal penyebrangan antar pulau.

Kami harus sangat efisien dalam penggunaan waktu, apalagi mengingat biaya produksi yang tidak murah. Jadi sebagai pelajaran, untuk Stage-2 nanti kami merencanakan penggunaan mobil RoF hanya sampai di Manado, selebihnya menggunakan motor, karena memudahkan ekspedisi jalur air. Sebagai navigasi, kami dibantu juga dengan software GPS yaitu Garmin Zumo 660, that build to guide bikers. But never ever depend on GPS, you need a map! Di samping itu tentu saja guidance terbaik adalah dari warga setempat.

W: Pendapat Anda mengenai ekspeditor-ekspeditor muda yang sedang marak saat ini?
Y: Kalau bisa muncul seribu orang lagi! Kami sendiri disamping ingin memperkenalkan Indonesia, bukan mempromosikan lho ya, kami ingin membangun sebuah industri adventuring. Yang sudah kami rintis adalah pembuatan payne, aluminum side box for your motorcycle. And it will be available online.

W: Akhirnya jadi berkembang ke banyak hal ya? Lalu apakah sempat ada perasaan bosan atau jenuh dalam melakoni perjalanan ini?
Y: Selama di jalan kami sangat enjoy, menikmati detail kekayaan alam Nusantara yang dilalui. Kecuali sebelum Bandung – Megamendung, waduh, polusi dan macet! Kami tidak pernah berpikir perjalanan ini sebagai tamasya belaka. That was work!

W: Sempat kangen rumah?
Y: Nggak. Karena, kami sadar tidak banyak orang yang bisa melakukan hal seperti ini. I’m fine.

Gini lho, kami itu bukan riding, yang hanya berjalan dari satu poin ke poin lainnya. Bukan juga touring yang jalan-jalan, relax, meskipun sama-sama punya tujuan seperti ekspedisi. Bedanya, touring itu lebih bebas. Kalau ekspedisi, punya target tertentu dimana Anda harus mengisi suatu pekerjaan.

W: Jadi nanti output RoF yang bisa dinikmati masyarakat bentuknya apa?
Y: Kami membuat video dokumenter berseri. Dimana, kami juga ingin menembus pasar internasional. Dari Stage-1 saja kami sudah mendapatkan tawaran dari orang Hollywood untuk membuat extended version berupa "Total Ring of Fire" sampai Chile. Nah, masalahnya bisa apa nggak memenuhi permintaan mereka, gue nggak tau!

Kemungkinan sekitar September-lah, tunggu saja, film dokumenter kami akan diputar di sebuah stasiun televisi swasta.

W: Kalo pemilihan soundtrack-nya gimana Pak? Apakah ada yang spesial?
Y: Majority Dwiki Dharmawan support. Seperti single Lamalera, Benggong-banggong, dan Ie. Lagu-lagu Dwiki itu asik banget! Seperti penggalan lirik dari lagu Benggong-banggong dari Flores yang masuk dalam album "World Peace Orchestra" ini misalnya, saya terjemahkan ke bahasa Indonesia; “Se-pohon sudah setinggi itu / berarti kamu sudah cukup untuk pergi dari kampung ini // Pergilah merantau / dan nanti saat kembali bangunlah kampungmu”

Nantinya kami juga berencana untuk membuat proyek original soundtrack untuk film dokumenter ini. Saya sendiri bergerak di lagu-lagu tradisi modern sebenarnya sudah lama, jadi tidak ingin membuat sesuatu yang tanggung-tanggung. Mungkin ini salah satu yang membedakan kami dengan ekspedisi yang lain. []

3 comments:

jeri kusumaa said...

renyah sekali Q&A-nya...
bapak ini kalo sampe sukses bikin doc. global Ring of Fire, maka saya nobatkan menjadi the lord of the rings XD

winda savitri said...

Nice person :). I'm stunning.

crown lanta koh lanta said...

That looks like an exciting trip. It is just fun to go to these exotic places and mingle with the natives. The things that you will learn from this experience is priceless.