Pages

11/24/11

Kamoro Life


Setahun yang lalu saya mengunjungi Kekwa, sebuah kampung Suku Kamoro di selatan Mimika. Sepanjang pesisir selatan ini adalah daerah penuh rawa, dimana bakau, kerang, dan kepiting hidup dengan rukun sentausa. Di tempat inilah Suku Kamoro hidup. 

Suku Kamoro ini mirip dengan Suku Asmat, mereka adalah pemahat ulung. Saya pernah melihat Mbiko, patung setan berukuran setinggi 60 centimeter yang sangat mirip dengan corak ukiran kaum Melanesian. Suku Kamoro juga membuat tiang-tiang leluhur yang sangat indah dan khas. Biasanya dipajang di sebuah rumah adat yang digunakan dalam prosesi Karapao, inisiasi dewasa yang harus dilalui oleh setiap anak kecil Suku Kamoro. 

Saya mengagumi suku pesisir ini. Saya makan Tambelo, cacing bakau, kesukaan mereka. Saya juga merasakan Kole-kole, perahu tradisional Kamoro yang sederhana. 

Saya tahu banyak tentang Suku Kamoro dari buku "Introducing Papua" karangan Kal Muller, seorang etnolog yang telah meneliti suku ini sejak lama. Nah, selama beberapa hari kedepan CCCL Surabaya akan mengadakan Pameran Budaya Suku Kamoro. Mereka mendatangkan Kal Muller lengkap dengan para pematung Kamoro yang tersohor itu. Maka bila ada waktu sempatkanlah datang kawan! 

Di bawah ini adalah beberapa foto saya tentang Suku Kamoro yang diambil setahun lalu saat traveling ke daerah pesisir selatan Mimika. 

Kole-kole perahu tradisional Suku Kamoro yang 
digunakan sebagai alat transportasi sejak ribuan tahun 
lalu saat migrasi pertama dari seberang Pasifik.

Kampung Kekwa, tempat tinggal Suku Kamoro yang letaknya 
dekat dari pelabuhan Pomako, Mimika.

Mbitoro, patung sakral leluhur Kamoro yang diletakkan di depan 
rumah adat yang berfungsi sebagai tempat pelaksanaan 
Karapao, upacara inisiasi kedewasaan.

11/18/11

Bali & Beyond Edisi November 2011

Mbak Intan, editor B&B, memberikan saya sebuah kesempatan untuk menulis tentang dataran tinggi Dieng di majalahnya. Akhirnya, saya menuju Dieng untuk kedua kalinya. Sebelumnya saya memang pernah menulis tentang Dieng di majalah lain, namun saya lebih suka untuk melakukan liputan baru dan mencari sudut penulisan yang lain. Dalam kunjungan kedua ini saya juga bisa menjelajah Dieng lebih lengkap dari kunjungan pertama, meskipun masih ada beberapa obyek wisata lain dalam komplek Dieng yang belum sempat saya kunjungi. Menurut hemat saya, komplek dataran tinggi yang terletak di Wonosobo ini memiliki banyak sekali destinasi yang patut dikunjungi. Saya juga merasa lebih puas dengan foto-foto yang saya dapatkan dalam penugasan kali ini.

Untuk membaca artikel saya dalam versi lengkap, silahkan klik link berikut: http://t.co/gWCJ7A76