Pages

12/6/11

Timika Experience


Teks: Ni Luh Pratidina
Foto: Ayos Purwoaji
Peta: Istimewa

________________________________________________
Kontributor










Ni Luh Pratidina adalah seorang wanita ahli perkapalan yang menyukai traveling dan musik cadas. Memiliki ketertarikan besar pada budaya dan pria ganteng sayang mertua. Meski ia seorang keturunan Bali, namun Ni Luh tinggal di Surabaya.
________________________________________________

Selasa, 14 Desember 2010 aku dan tim peneliti memulai perjalanan ke pulau paling timur di Indonesia. Pulau besar yang begitu dikenal dengan burung Cenderawasih atau mungkin malah tambang emasnya yang belum habis dikeruk. Perjalanan ini ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan yang mendanai penelitian kami di Papua. Sehingga kami juga harus menggunakan penerbangan khusus yang disediakan oleh perusahaan. Belakangan akhirnya aku tahu bahwa untuk mengikuti penerbangan khusus itu kami harus menjalani pemeriksaan yang lebay dan bertele-tele.

Tujuan kami adalah kota Timika, untuk sampai kesana, pesawat harus transit di Makassar. Perbedaan waktu disini lebih cepat 1 jam dari Surabaya. Penerbangan menuju Timika ditempuh kurang lebih 2,5 jam. Saat itu matahari sudah sangat terik, hutan belantara hijau yang tidak bercelah seperti brokoli berjajar terbentang luas, dihiasi sungai-sungai besar menyambut prosesi mendarat di bandara Mozes Kilangin. Aku masih sangat lelah dan mengantuk, jam di tangan masih menunjukkan angka 5:03, sepertinya aku dilanda jetlag.

Pusat kota Timika, yang merupakan ibukota kabupaten Mimika termasuk cukup ramai oleh "orang rambut lurus" (sebutan penduduk lokal untuk para pendatang) yang sebagian besar terdiri dari BBM (Buton, Bugis, Makassar), sisanya adalah taipan dari Jawa dan etnis tionghoa. Perbandingan pendatang dengan pribumi sekitar 6:4. Umumnya para pendatang ini membuka usaha seperti toko, salon, penginapan, warung makan, hingga penyedia jasa taksi atau ojek. Sementara penduduk pribumi di Timika biasanya pergi ke kota untuk jual beli di pasar, beribadah, mengantar anak ke sekolah, berobat, kerja, atau sekedar mengunjungi keluarga.

Sebagian besar penduduk lokal bertempat tinggal di pesisir sungai atau di lembah pegunungan. Terdapat dua suku besar yang tersebar di kabupaten Mimika, yaitu suku Kamoro dan suku Amungme. Suku Kamoro banyak ditemui di sepanjang pesisir Agats – Jita (bagian selatan Timika). Sementara suku Amungme banyak ditemui di sebelah selatan pegunungan Sudirman.
Suku-suku lainnya yang tinggal di area kabupaten Mimika diantaranya adalah suku Asmat, Sempan, Nafaripi, Fak Fak dan Ayamaru. Penduduk lokal tersebut biasanya hidup sebagai nelayan, petani, menokok sagu, berburu, mengumpulkan kayu bakar, atau bekerja di pelabuhan.

Perbincanganku dengan seorang antropolog yang masuk dalam tim peneliti kami tentang kebudayaan lokal masyarakat Kamoro dan Amungme, menurutku sangat menarik untuk diulas. Suku Kamoro dan Amungme memiliki kekayaan budaya leluhur yang masih terjaga hingga saat ini, diantaranya prinsip hidup yang disebut Ndaita yaitu:
1. Imi-imi yaitu rasa memiliki dan perasaan senasib
2. Kaukapaiti yaitu suatu tanggung jawab pihak laki-laki kepada keluarga istri
3. Nawarepoka yaitu memberi imbalan, masyarakat menganggap bahwa tidak ada yang gratis
4. We-Iwaoto yaitu rasa sayang, terutama kepada pihak yang mengalami kesulitan
5. Taparuisme yaitu perasaan ego terhadap golongan

Kaukapaiti juga biasa diartikan sebagai budaya malu, yaitu malu jika tidak menjalankan tanggung jawab atau malu jika melakukan perbuatan tidak baik.

Selain itu masyarakat lokal juga mengenal Sasi yang berarti suatu larangan untuk mengambil tumbuhan tertentu selama jangka waku tertentu. Sehingga masyarakat lokal sangat menjaga kelestarian hutannya. Hal tersebut terkait dengan “Mitos Keharmonisan” yang dipercaya oleh masyarakat Amungme, yaitu menjaga keharmonisan antara sesama manusia, Tuhan, dan alam seisinya. Mirip sekali dengan ajaran Tri Hita Karana dalam ajaran Hindu Bali.

Kearifan lokal tersebut nampak sekali pada berbagai macam kesenian mereka; seperti seni ukir, lagu-lagu, dan tarian. Sayangnya aku belum berkesempatan untuk melihat langsung bagaimana kehidupan penduduk lokal di pedalaman.

Ketertarikanku akan budaya lokal sungguh tinggi, aku mengagumi seni ukir suku Kamoro yang terdapat di hotel tempat aku bermalam. Tiang leluhur Kamoro, disebut juga Biro, merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Kamoro. Tiang ini wujud penghormatan kepada arwah leluhur pada saat upacara Karapao, ritus inisiasi yang berkaitan dengan pendewasaan anak laki-laki. Ukiran tersebut berfungsi agar leluhur memberikan perlindungan kepada masyarakat di kampung tersebut.
Siang hari tanggal 17 Desember 2010, seharusnya aku dan tim peneliti dijadwalkan pulang ke Surabaya. Namun penerbangan kami tertunda karena masalah teknis pesawat. Di Papua, jadwal penerbangan yang kacau merupakan hal biasa. Akses transportasi darat dan jaringan telekomunikasi masih tergolong susah. Sehingga tidak ada pilihan selain menunggu.

Pada saat yang sama, kebetulan ada acara peresmian sebuah koperasi yang dihadiri oleh Bupati Mimika. Para penari Kamoro yang didatangkan langsung dari kampung Paumako memadati area parkir hotel lengkap dengan pakaian adatnya.

Tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, para pria sudah mengenakan celana pendek dengan dilapisi rumbai-rumbai jerami sebagai pengganti koteka. Tidak jauh berbeda dengan yang dikenakan penari wanita, mereka juga telah menutupi bagian dada dengan kutang modern. Para penari membawa dayung yang menggambarkan kehidupan mereka sebagai nelayan yang sangat bergantung pada sungai dan laut, baik sebagai transportasi juga kebutuhan pangan keluarga.

Para penari pria yang sedari tadi bersembunyi di balik semak-semak melempari kapur disertai sejenis tumbuhan air kearah mobil yang dinaiki pejabat daerah. Namun ini hanyalah skenario penyambutan tanpa bermaksud membuat kericuhan. Para penari yang sudah berbaris rapi mulai bernyanyi dan menari yang gerakannya seperti orang mendayung perahu. Seketika bapak Bupati turun dari mobil dan berjalan memasuki tempat peresmian. Acara ini banyak mengundang perhatian penghuni hotel dan juga masyarakat sekitar yang mayoritas adalah pendatang.

 
Dari perjalanan singkatku di Papua, aku senang sekali berkesempatan bertemu (hanya beberapa jam saja) dengan penduduk asli Kamoro, berharap aku bisa bertemu dengan suku lain di tanah Papua yang sangat kaya akan budaya.

3 comments:

winda savitri said...

Good job Nil! :D.

deackdicky said...

wah, asik bgt ya..

ambil perkapalan, penelitian nya budaya?? multitalenta yaa...sip sip

momonway said...

wahh...travel writer memang menyenangkan, mengabadikan jelajah perjalanan hidup kita yang penuh makna.good