Pages

12/29/12

Bloom

Foto oleh Swiss Winasis

Pada penghujung tahun, kita beramai-ramai membuat resolusi, sebagai panduan untuk menjalani hidup setahun yang akan datang. Di akhir tahun, segala resolusi biasanya diteropong kembali dalam sebuah retrospeksi. Ada target yang meleset, ada yang bahkan melebihi mimpi. Gagal menggending anak pak Camat eh tahu-tahunya dijodohkan dengan tetangga sebelah yang seorang model Victoria Secret. Wah! Kadang memang hidup itu punya alur yang misterius kawan.

Di awal tahun 2012, Hifatlobrain juga punya berbagai rencana. Ada yang tercapai, ada juga yang tidak. Tapi lumayan alhamdulillah kami masih bisa berkarya. Upaya mengubah tampilan situs supaya lebih terlihat canggih ternyata harus tertunda begitu lama. Akhirnya wajah Hifatlobrain yang masih begini-begini saja. Tidak berubah sejak zaman pleistocene. Tapi sesegera mungkin di awal tahun nanti kami bakal facelift. Karena kami percaya perwajahan yang segar membawa semangat dan hoki yang lebih besar. Seperti remaja yang baru keluar dari spa. Amien. 

Setahun belakangan, kami akui jarang sekali mengupdate blog. Konten Hifatlobrain turun sebanyak limapuluh persen dibanding dua tahun sebelumnya. Kami juga bingung kenapa. Tapi lagi-lagi syukur alhamdulillah karena ada beberapa kontributor yang mempercayakan karyanya untuk terbit di Hifatlobrain dan para pembaca yang masih setia untuk mampir. Hatur nuhun sadayana. Berkat kalian blog ini masih setia mengudara pada tahun keenam pada Januari tahun depan. 

Enam tahun ngeblog bukanlah prestasi luar biasa. Itu semua terjadi berkat ramalan suku Maya yang meleset. Sebab kalau ternyata jitu, maka Hifatlobrain hanya berumur lima tahun. 

Selama setahun terakhir kami memang lebih fokus bikin video perjalanan. Tidak kurang dari delapan video kami buat pada 2012. Ada yang kerja komisi, ada juga yang suka-suka. Itu berarti hampir setiap dua bulan kami bikin video. Tahun depan semoga bisa membuat lebih banyak dan lebih bermutu. 

Di sisi lain, kami senang karena lanskap video perjalanan sedang tumbuh subur di Indonesia. Banyak videografer muda yang muncul dengan karya yang mengejutkan. Kami berharap keadaan ini masih terus berkembang di tahun-tahun yang akan datang. 

Pada awal tahun 2013 kami tidak sempat lagi membuat resolusi karena beberapa agenda sudah menghadang di depan mata. Pada pertengahan Januari, kami kembali mengadakan program Traveler in Residence dengan mengajak Rendy Hendrawan, seorang arsitek muda sebagai peserta. Pada minggu terakhir bulan Februari kami juga akan mengadakan sebuah kelas penulisan perjalanan yang diinisiasi oleh mbak Ary Amhir, penulis buku Negeri Pala. Pelatihan ini akan membahas travel writing bergaya naratif. Siapa saja yang berminat silakan ikut. Pengumuman lebih lanjut baru kami sebar pada awal tahun. 

Oke itu saja sedikit retrospeksi dari kami. Selamat tahun baru! Keep love. []

12/19/12

Kalender Libur 2013

Click to enlarge! 

Setiap penghujung tahun, kami selalu memposting jadwal libur untuk setahun ke depan. Ini semua dilakukan demi menjaga semangat Lobrainers sekalian agar tetap istiqomah dalam berjalan-jalan. Siapkan jadwal setahun ke depan guna mengantisipasi ranjau-ranjau harpitnas agar liburan makin lega.

Simpan kalender liburan 2013 ini baik-baik. Tetapkan sebagai wallpaper PC, unggah di Evernote, masukkan dalam ponsel pintar, atau segera sinkronkan dengan Google Calendar! 

Almanak ini dibuat oleh rekan Catperku, yang juga sudah memiliki jadwal liburan setahun ke depan. Terimakasih bung! Dan jangan lupa selalu mendokumentasikan perjalanan kalian, karena cerita adalah oleh-oleh paling murah yang bisa dibawa pulang setelah berpetualang :) 

12/18/12

Eiger Flagship Store


[Bukan Advertorial]

Baru-baru ini kami menyambangi gerai Eiger terbaru di Jalan Sumatera, Bandung. Arsitekturnya unik dan sangat maskulin. Nuansa kayu mendominasi flagship store ini.  Mulai dari pintu, tangga, hingga parkit lantainya berbahan kayu. Menimbulkan kesan natural.

Di dalamnya tidak saja dipajang barang dagangan Eiger, tapi juga beberapa memorabilia petualangan yang unik. Seperti sepeda angin legendaris milik Bambang "Paimo" Hertadi Mas yang sudah keliling dunia dan baju pendakian khusus yang dipakai oleh tim 7 Summit. Kedua benda itu dipajang di sudut terdepan. Di sebelahnya ada satu rak besar yang menunjukkan evolusi produk Eiger sejak tahun 1998. Menarik!

Di lantai dua terdapat kafe Khatulistiwa yang cukup oke dengan furniture berlapis cushion batik. Menu "Tahu Jeletot" yang pedas juga terasa enak dimakan saat hujan. 

Bagi yang sedang berkunjung ke Bandung, barangkali Eiger Flagship Store bisa menjadi alternatif wisata belanja yang asik.[] 

12/14/12

Lukki Rawk

Foto oleh Audit Yulardi

Kami mengucapkan selamat untuk Lukki! Karena masuk dalam 50 Youth Woman Netizen versi majalah Marketeers. Lukki dianggap pantas masuk ke dalam jajaran prestis ini karena Homeland yang ia sutradarai setahun yang lalu. You get what you deserve, Kik...

Seorang kawan pernah bilang, Homeland itu bisa dikerjakan oleh dua orang saja. Satu kameramen, satu music composer. Beres. Pandangan tersebut barangkali ada benarnya, tapi tampak betul bahwa ia kurang paham etos kerja kolaboratif. Homeland ada, juga karena Luki sebagai seorang sutradara. Tanpa imajinasinya, mustahil karya ini pernah ada. Saya masih ingat, saat curah pendapat kali kedua di Warung Cirkel, Lukki datang dengan dua ide cerita. Satu tentang traveler pria ke gunung Bromo. Satu lagi kisah pelancong wanita naik kereta. 

Karena Homeland adalah karya suka-suka dan didanai patungan, membuat dua produksi sekaligus terasa berat di kantong. Akhirnya kami fokus menggarap cerita yang pertama. Sedangkan embrio cerita tentang pelancong wanita tidak terbuang percuma, ide tersebut berkembang menjadi Vaastu.

Lukki bisa dianggap ibu dari dua karya tersebut.

Congratulation Lukki! We love you.

12/9/12

Backpacking 101


Satu per satu, sahabat Hifatlobrain menulis buku. Diawali mbak Ary Amhir, lalu mas Yudasmoro, dan belakangan mbak Herajeng Gustiayu. Syukur alhamdulillah tidak ada satu pun dari mereka yang menulis dalam genre "sekian juta keliling semesta", jadi kami bisa menulis resensinya di blog ini dengan hati lapang. Hehehe.

Buku, adalah kunci ampuh yang mampu memantik seseorang untuk pergi berkelana. Gegara keranjingan Ulysses, Sigit Susanto menziarahi James Joyce di Dublin. Begitu juga Ambar Briastuti ngebet mengunjungi Inggris karena masa kecilnya gemar membaca kisah Lima Sekawan. Dan untuk para traveler yang besar di tahun 1980-an sebagian mengaku tidak bisa lepas dari pengaruh Balada Si Roy.

Lantas bagaimana para calon pejalan yang besar di era 2000-an? Barangkali pengaruh mereka adalah berbagai milis perjalanan, buku-buku travelogue Trinity, atau kolom Jalansutra yang diasuh Bondan Winarno. Berbagai pengaruh ini akan melahirkan pejalan yang stereotipikal, sesuai dengan titizaman yang selalu berubah.

Bila pada zaman Si Roy, petualang yang keren itu bersifat rebel, menggunakan jeans belel, dan setia mendengarkan rock n roll. Maka bisa jadi pandangan seperti itu tidak lagi payu hari ini. Traveler di era aquarian sudah pasti lebih wangi dan rajin mandi. Setia pada buku panduan perjalanan dan musik post-rock (boleh juga mendengarkan Vampire Weekend atau Deadmau5). Dan satu lagi yang paling utama: tidak pernah lupa pamit orang tua.

"Mam, kayaknya tahun ini aku bakal lebih sering jalan-jalan deh. Insya Allah akhir tahun ini mau ke Thailand. Boleh yaa. Hehe..."

"Boleh aja," jawab Ibu saya singkat sambil tersenyum, matanya masih tak lepas dari majalah yang sedang dibacanya.

Selang beberapa minggu kemudian,

...

"Mam, rencana jalan-jalannya udah fixed yaa... Jadi nanti rencananya aku ke Singapura, malaysia, Vietnam, sama Thailand..."

Hening sesaat...

"Lho? Udah beli tiket, toh?" tanya Ibu saya seketika tersadar dan terkejut, pandangannya beralih dari Kiky ke arah saya.

(hal. 37-38)

Ini adalah pelajaran mahapenting yang saya catat dari buku "Backpacking 101" karya Herajeng Gustiayu. Bahwa bagaimanapun pejalan masih butuh rumah dan orang tua untuk pulang. Bayangkan bila saya berpelesir tidak pamit, lantas ibu bapak tak lagi menganggap saya anak. Alangkah cilaka! Dan perkara pamit orang tua ini dibahas begitu serius dalam tiga halaman di buku Ajeng. Kredonya berjudul Menenangkan Orang Terdekat yang "Ditinggalkan" di Rumah, terdiri dari sepuluh pasal yang sangat taktis. Mulai dari soft warning hingga emotional farewell yang menguras perasaan.

Tapi itu baru satu bagian. Bab lain yang paling saya sukai adalah kiat melakukan perjalanan seorang diri (solo traveling) yang di dalamnya terdapat satu trik baru yang saya pelajari, yaitu seni mencuri dengar atau yang disebut Ajeng sebagai "The Fine Art of Eavesdropping". Wohoho. Ini baru seru! Curi dengar adalah cara lama bagi para wartawan dan detektif untuk mengulik informasi tertutup. Namun merupakan trik baru bagi para pejalan untuk mempelajari esensi sebuah daerah tanpa harus tertipu brosur wisata dan ramah tamah pemandu perjalanan. Tapi masalahnya; bagaimana jika saya pergi ke Ulan Bator dan tidak mengerti bahasa Mongolia? Apakah trik eavesdropping ini masih berlaku?

Pada bagian lain, di awal buku, Ajeng sempat menyinggung masalah klasik tentang label pejalan. Ia menyadari bahwa hari ini pelabelan begitu marak dilakukan. Tidak ada yang mau disebut turis, semua maunya disebut traveler atau backpacker biar terlihat gahar. Hari ini tampaknya kata 'turis' mengalami peyorasi -penurunan makna- yang begitu akut. Turis berkonotasi dengan pejalan yang dangkal dan tidak mandiri. Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu. Apalagi jika Anda membaca buku "Jalansutra"-nya Bondan Winarno.

Salah kaprah pelabelan seperti ini membuat kita mudah tersesat dalam kejumawaan sesaat. Tidak selamanya backpacking itu murah. Ada kok travel operator yang mencatut nama 'backpack' tapi harga paketnya selangit. Dimana akhirnya pelabelan itu hanya baju yang bersifat fana. Bisa diganti dan dilapisi apa saja. "The anti-tourist only delude himself. We are all tourist now, and there is no escape," kata Paul Fussell.

JJ Rizal, seorang resi di Komunitas Bambu, juga pernah mengungkap dalam sebuah sesi wedhangan asik dengan Hifatlobrain bahwa,"Ruh pejalan di Indonesia hari ini masih dipengaruhi oleh pandangan kolonial, yang melihat Indonesia sebagai sebuah eksotika. Semangat leisure-nya belum berubah selama satu abad..."

Maka saya akan menyitir satu paragraf menarik yang ditulis Ajeng:

"Daripada sibuk mengotak-kotakkan diri dalam sebuah label identitas dan mendebatkan mana gaya perjalanan yang terbaik, lebih baik kita sibuk memikirkan apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kualitas traveling kita sendiri."
(hal. 10)

Wah top! Terdengar sangat filosofis ya. Padahal tidak semua isinya berat, dan buku Ajeng ini merupakan panduan umum bagi anak muda yang ingin segera memanggul ransel dan mengunjungi tempat-tempat asik di muka bumi. Ajeng berkomunikasi dalam bahasa yang populer dengan gaya storytelling yang sangat Backpacker Notes, khas Ajeng. Bersemangat, komikal, akrab, kadang malu-maluin, dan penuh dengan tanda seru, yeay!

Tanda seru dalam buku ini memang banyak sekali. Seakan-akan Ajeng ingin bilang bahwa melakukan perjalanan itu lebih seru daripada main online game. Optimisme itu terasa hingga perwajahan dan ilustrasi di dalam bukunya. Kover buku Backpacking 101 berwarna kuning jeruk, lengkap dengan ilustrasi ceria buatan Nita Darsono, salah satu ilustrator kawakan Surabaya. Ilustrasi Nita dapat ditemui di sepanjang pembuka bab buku ini. Sebuah kolaborasi yang cantik! Dan pilihan Ajeng untuk mengajak Nita memang tepat, membuat mood buku ini terasa solid.

Saya pribadi senang karena Ajeng tak lupa menyisipkan pesan kepada pembacanya untuk senantiasa mendokumentasikan perjalanan dalam berbagai media. Mulai dari yang konvensional berupa foto dan tulisan, hingga dokumentasi berupa video dan ilustrasi. Sama seperti Ajeng, kami percaya bahwa semakin marak bentuk dokumentasi perjalanan, maka semakin berwarna dunia traveling di Indonesia.

***

Saya membayangkan, bagaimana para traveler Indonesia sepuluh tahun lagi? Mereka-mereka yang pernah besar di dasawarsa kedua milenium ketiga. Mereka yang sudah mengakses ponsel pintar sejak SMA dan menggemari serial Modern Family atau Breaking Bad. Barangkali sebagian dari mereka terpengaruh oleh buku Backpacking 101 ini. Mengamalkan apa yang ditulis Ajeng untuk menjadi pelancong cerdik dan akhirnya kecanduan.


Tak lupa saat mengirim bukunya, Ajeng menitipkan sebuah sun signature untuk kru Hifatlobrain yang menurut Ajeng unyu-unyu. Ahiak![] 

12/8/12

Negeri Pala


Oleh: Ayos Purwoaji

Apa saya sudah pernah mengenalkan Ary Amhir kepada kalian semua, wahai sidang pembaca Hifatlobrain yang terhormat? Jika belum, maka saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Ary Amhir adalah salah satu penulis perjalanan lokal favorit saya. Hidupnya cukup bohemian. Untuk menulis bukunya yang pertama tentang TKI ilegal ia rela menjadi buruh wanita di Malaysia selama empat tahun. Sebelumnya ia bekerja sebagai programmer di Dili sana. Pada suatu masa, Ary pun sempat bergonta-ganti profesi sebagai wartawan di beberapa media Ibukota. Padahal wanita ini adalah sarjana Teknik Nuklir UGM.

Barangkali Ary memahami bahwa pengembaraan tidak hanya sebatas garis batas destinasi. Lebih dari itu, ia mengembara dalam hidup. Berganti-ganti profesi dan gaya hidup bagai sebuah pelancongan saja.

Ia memiliki modal otak cemerlang sebagai seorang ilmuan, ia juga memiliki kesempatan masuk dalam lingkaran sosialita saat bekerja pada majalah wanita kelas A. Tapi Ary tetaplah Amhir, ia memiliki kehidupannya sendiri sebagai seorang pengembara.

"Duit di kantong ada sepuluh ribu atau sejuta yang aku beli tetap sama; nasi pecel lele lima ribuan," katanya suatu saat.

"Haha kuwi cirine uwong sing wis mencapai tahap makrifat, mbak."

"Weleh, yen aku ki nglenthu, nothing..."

Di antara tujuh milyar manusia di bumi, kita memang bukan siapa-siapa mbak. Dan menjadi nothing itu memang laku seorang pengembara."Traveling is about losing your ego," kata Agustinus Wibowo. Dengan menjadi nothing, kita baru siap untuk menjadi pejalan yang mau menerima sari pati hidup dari mana saja.

Semangat menjadi nothing inilah yang menguar dalam buku terbaru Ary Amhir, "Negeri Pala". Sebuah travelogue yang menceritakan pengalamannya berkeliling Kepulauan Banda selama dua bulan.

Pada dasarnya, Ary memang seorang pejalan yang selow. Setahun sebelumnya, ia menerbitkan buku yang menceritakan kisahnya melintas Sumatera selama sebulan. Sedangkan baru-baru ini ia menggelar perjalanan ke beberapa negara Asia Tenggara selama dua bulan. Dan saat ini sedang mengatur strategi untuk melakukan traveling dalam jangka waktu yang lebih lama.

Dengan waktu observasi yang longgar, pantas bila Ary berkesempatan untuk menyelami sebuah kisah lebih dalam. Ini yang membuat saya jatuh cinta pada laporan-laporan perjalanan yang dibuat Ary. Sementara penulis perjalanan lain (dan termasuk saya) masih silap dan berkutat pada deskripsi sebuah destinasi, Ary justru menulis kisah tentang manusia dan masalahnya yang selalu bergolak.

Buku "Negeri Pala" justru menjadi kaya dengan adanya narasi-narasi kecil tentang kehidupan manusia di Kepulauan Banda. Mengamini kata-kata pakdhe Paul Theroux; When something human is recorded, good travel writing happens.

Kisah tentang rumah bu guru Netty yang layak disinggahi, pak guru Ali yang bercita-cita tinggi, Mama Jawa yang mahir membuat manisan pala, kecanggihan nenek Simani dalam mengobati pasien sekali tiup, hingga Pongki yang masih menyimpan duka kerusuhan agama belasan tahun lalu ditulis Ary dengan baik dalam gaya yang sedikit nyastra.

"...Kapal hendak berangkat, peluit panjang dibunyikan. Manisan pala kutelan pelan-pelan. Menembus kerongkongan, menuju lambung. Merangsang enzim pencernaan, menebar rasa ringan. Seringan seringai Mama Jawa tadi." (hal. 110)

Serangkaian kalimat di atas adalah salah satu favorit saya. Terasa puitis tanpa perlu menjadi berlebihan. Nyastra namun tetap faktual. Bagaimana ia bisa menemukan frasa seringan seringai itu?

Entah kesurupan apa, Ary memang sedang keluar dari zona nyamannya. Pada buku "30 Hari Keliling Sumatra" masih jelas gaya feature-jurnalistik yang selalu ia pakai. Tapi untuk buku terbaru ini ia lebih luwes untuk menembus sekat genre. Ary meramu berbagai diksi dan gaya seenaknya sendiri. Menjadikan "Negeri Pala" sebuah buku perjalanan yang bersifat hibrida. Sependek pengetahuan kami, belum ada yang mengupayakan hal serupa. Dan kelak akan kami catat sebagai sebuah milestone baru dalam penerbitan buku perjalanan di Indonesia. Maknyus. 

Hal itu tampak jelas di bab paling belakang dimana Ary memasukkan enam cerpen sebagai penutup. "Bagian terakhir itu mix antara imajinasi dan fakta. Meski sering dikira fakta oleh pembaca," kata Ary. Dengan semangat fiksi, Ary lebih bebas menghidupkan masa lalu dan memberi ruang bagi hantu-hantu untuk menemani perjalanannya. Bagi saya sendiri, ini merupakan rangkaian dessert -makanan penutup- yang lembut tapi mengandung daya kejut!

Meskipun akhirnya harus dimaklumi, gaya sastrawi yang kali ini ia pakai ternyata tidak juga memperlembut keberpihakan Ary terhadap isu marjinal. Ary masih tetap gahar saat mengolah berbagai persoalan sosial yang ia temui di jalan. Tentang pembagian untung pala antara perusahaan daerah dan petani, sentimen agama yang masih tersisa, penjualan bangunan-bangunan bersejarah, atau kondisi transportasi antar pulau kecil yang jauh dari perhatian pemerintah, semua itu ia tulis lengkap dengan aspirasi masyarakat lokal yang kerap dipinggirkan.

Rupanya Ary masih memiliki sepasang mata jurnalis yang awas setiap kali melihat masalah. Sama seperti insting wartawan infotainment yang getap melihat prahara rumah tangga selebriti. Hehehe.

***

Dilihat dari sudut manapun, saya menilai buku "Negeri Pala" jauh lebih inovatif tinimbang "30 Hari Keliling Sumatera". Ukurannya jauh lebih kompak, memapras tiga puluh persen dimensi buku Sumatra. Mudah dibawa dan membuat  mata pembaca tak lekas lelah untuk menyusuri alinea demi alinea. "Negeri Pala" juga hadir efisien karena tak menyediakan gimmick yang berlebihan.


Tapi yang paling menonjol sebetulnya adalah cara pembabakan buku yang menjauhi gaya linier. Ary membagi "Negeri Pala" dalam lima bab menurut tema tulisannya. Membuat saya bebas membuka halaman mana saja tanpa harus mengikuti perjalanan Ary secara sekuensial dari A-Z. Dibaca urut enak, diacak pun tetap sedap.

Tapi dari sekian banyak pujian, saya harus menyelipkan catatan buat Ary. Yang pertama, meski saya cukup terkesan dengan gaya bahasanya yang aduhai, tapi lantas mendadak ilfil begitu melihat tulisan berjudul "Surga Itu Bernama Neilaka". Menggunakan kata 'surga' sebagai judul, sebenarnya sudah lama kami hindari. Ini adalah klise penulisan perjalanan yang tak dapat diampuni! Saya jadi bertanya dalam hati; apakah seorang Ary Amhir kekurangan diksi di tengah jalan? Atau hanya kealpaan yang tak pernah sempat dikoreksi?

Masih berkutat pada judul. Bila diperhatikan, maka terjadi pengecilan besar-besaran untuk desain judul artikel di dua buku perjalanan Ary. Dalam "Negeri Pala" huruf judul disulap sedemikian rupa hingga (nyaris) sulit dibaca. Seharusnya Ary memberikan ukuran dan jenis huruf yang lebih lega.

Dua catatan ini memang sungguh remeh. Dibandingkan kerja keras Ary merampungkan buku Negeri Pala secara single fighter. Saya salut dengan usahanya yang sangat independen dalam menerbitkan buku. Ia menulis, mengedit, melayout, dan mengusahakan perwajahan secara mandiri. Bahkan ia memilih jalur PoD (print on demand) dan distribusi bawah tanah daripada harus berlutut di hadapan penerbit besar.

Ary membuktikan bahwa buku yang dicetak berdikari juga bisa bermutu tinggi. Meski tanpa balutan kover glossy dan paper book yang harganya bikin gigit jari.

Di blognya, walau Ary mati-matian membela diri bahwa "buku ini tak saya maksudkan sebagai panduan wisata", tapi tetap saja menggoda orang untuk pergi ke Banda. Jadi, saya merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang ingin berziarah ke tanah Pala, atau bagi siapa saja yang haus akan buku perjalanan yang bagus dan segar dan maknyus dan muasuk dan ngeri.[]


NB: 
Saya nggak tahu Ary mencetak buku ini berapa eksemplar. Tapi sila layangkan pemesanan di blognya: http://othervisions.wordpress.com

11/29/12

Short Trip to Komodo



Beberapa waktu yang lalu, Werdha, rekan kami di Hifatlobrain, melakukan trip singkat ke Taman Nasional Komodo. Perjalanan selama tiga hari yang disupport oleh Gonla ini didokumentasikan dalam sebuah video bergaya unik. Sebuah video ultra-cepat yang disusun dari ribuan foto perjalanan. "A travel video with fresh treatment, far from mellow and dragging," kata duo Indohoy yang semlohay itu. 

Video perjalanan ini memang singkat, hanya berdurasi kurang dari dua menit. Tapi itu sudah merangkum perasaan meluap-luap yang dirasakan Werdha dalam perjalanannya bertemu Komodo. Ia menyusun videonya dari 2000 foto sekuensial yang diproyeksikan secara kilat. Singkat, padat, dan ringan seperti twitter. 

Musiknya sendiri cukup fresh. Sebuah komposisi berjudul Prototype of Ecosystem yang dibuat oleh BMSKTI, sebuah grup musik elektronik beraliran dubstep asal Surabaya. Sungguh bahagia mendapatkan support musik dari mereka. Dan ke depan, kami berencana untuk melakukan kolaborasi kreatif lagi bersama BMSKTI. So enjoy our latest Hifatlobrain video! []

The First Descent


Teks oleh: Anita Petra dan Diana Suciawati

Beruntung. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kepindahanku ke Bali. Beberapa bulan lalu setelah menyelesaikan S2, aku langsung melamar kerja. Begitu diterima,  ternyata aku ditempatkan di kantor cabang Bali. Yeah! Walaupun tidak libur di hari Sabtu, namun ini merupakan suatu refreshment setelah lama tinggal di kota yang besar yang bingar.

Keberuntungan ini tentu tidak boleh disia-siakan. Aku bertekad untuk mencoba semua hal yang hampir mustahil dilakukan di kota besar semacam Jakarta. Aku ingin mencoba berbagai hal, termasuk belajar bermain surfing, menjelajah pantai-pantai indah di Bali, dan melakukan diving.

Sudah sejak lama aku ingin mencoba diving tapi belum juga kesampaian. Beruntung aku punya teman yang membuka dive center di Bali: Turtur Dive. Mereka adalah anak-anak muda yang sejak dulu memupuk passion di bidang diving. Mereka semua pindah ke Bali dari Jawa dan Sumatra, hanya karena satu tujuan, yaitu supaya bisa lebih sering diving.

Awalnya sedikit sulit untuk mengatur jadwal karena aku bekerja hingga Sabtu sore. Tapi itu tidak jadi penghalang. Teman-temanku memiliki jadwal yang fleksibel untuk disesuaikan dengan jadwal orang kantoran macam aku. Singkatnya, akhirnya disepakati tanggal 16 September 2012 yang lalu, untuk pertama kalinya aku merasakan yang namanya diving. Wohooo!

Sejak pagi, salah seorang dari tim mereka sudah menunggu di depan kos untuk menjemputku. Setelah memakan waktu kurang lebih 3 jam di perjalanan, akhirnya kami sampai di Tulamben, daerah Karangasem. Pantai ini, bila dilihat dari permukan, biasa-biasa saja. Namun menurut mereka, di dalam lautnya terdapat banyak sekali karang, ikan, bahkan ada bangkai kapal yang menjadi favorit para penyelam! Airnya yang tenang dan jernih pun membuat Tulamben patut diselami bagi pemula seperti aku.

Apakah ini benar? Mari kita lihat.

Pertama tiba, kami langsung diberikan pengarahan oleh instruktur mengenai fungsi peralatan menyelam, bagaimana cara memakainya, hingga teknik dasar diving, seperti: pentingnya teknik equalizing agar telinga kita tidak sakit ketika terkena tekanan di dalam laut. Diajari pula cara berenang yang benar, hingga bagaimana cara bernafas menggunakan regulator. Segala pengarahan dan persiapan memakai alat memakan waktu sekitar 45 menit.

Setelah itu, kami langsung memakai peralatan dan didampingi untuk praktek di laut! Gila, itu yang namanya tanki beratnya minta ampun. Salut deh sama cewek-cewek yang badannya kecil tapi kuat mengangkat tanki seberat karung beras ini.

Sesampainya di laut, aku sempat kekurangan pemberat sehingga tidak bisa turun dengan mudah. Namun setelah ditambah pemberat lagi, kami pun akhirnya bisa turun dan menyelam.

Ternyata, semua bukan bohong. Di dalam laut itu, pemandangannya indah banget... Aku sampai terkesima dengan ikan-ikan yang seumur-umur belum pernah aku lihat. Saking excitednya, aku sempat ditegur instruktur karena mau pegang-pegang semua yang ada di dalam laut. Ternyata, dari berbagai jenis tumbuhan dan hewan di laut, di antaranya bisa memberikan berbagai efek negatif pada manusia, mulai dari rasa gatal hingga yang mematikan. Selain itu, mereka juga bisa stress, bahkan tidak jarang dapat merusak ekosistem sendiri. Maka dari itu, kita sebaiknya tidak menyentuh apapun selama diving.


Setelah lebih dari setengah jam kami di bawah, kami lalu naik ke darat untuk makan siang dan beristirahat. Setelah kurang lebih satu jam, kami bersiap-siap untuk dive kedua. Kali ini, kami mau melihat bangkai kapal USAT Liberty yang karam di sini dan menjadi objek diving yang terkenal di Tulamben ini.

Pada dive kedua ini, masker yang kupakai kemasukan air. Walaupun sudah diberi pengarahan sebelumnya mengenai cara mengeluarkan air dari dalam masker, tapi ketika praktek tetap saja aku panik. Gawat. Rasanya aku ingin cepat-cepat naik ke permukaan. Tapi instruktur buru-buru menahan agar aku tidak naik terlalu cepat karena berbahaya. Tubuh butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan tekanan air laut, salah teknik sedikit saja jantung bisa pecah. Itulah mengapa kita tidak boleh naik terlalu cepat ke permukaan.

Setiba di permukaan, aku diberi wejangan agar jangan mudah panik saat diving. Rasa kalut membuat kita tidak dapat berpikir jernih, bahkan untuk melakukan hal yang paling sederhana sekalipun. Maka setelah diberi contoh lagi, akhirnya aku bisa melakukannya dengan baik! Horee.. Sekarang, kami turun lagi untuk melihat bangkai kapal tersebut.

Tidak terasa, dive kedua pun selesai dan diving kali ini benar-benar menimbulkan kesan yang menyenangkan. Aku juga sedang berpikir untuk mengambil sertifikasi diving, yang menjadi motivasiku untuk menabung saat ini.

Diving bersama teman-teman Turtur Dive sangat menyenangkan. Pelayanannya memang oke banget dan fun. Kami bahkan langsung dikirimi foto-foto dokumentasi bawah laut kami ketika diving. Aku jadi tidak sabar menunggu sesi menyelam berikutnya!

11/22/12

Pekan Kreatif 2012

Foto oleh Kathleen Azali / c2o Library

Wah lama tak sua, apa kabar Lobrainers? 

Seminggu ini kami sibuk mempersiapkan pameran di Jakarta dalam acara Pekan Produk Kreatif Indonesia. Awalnya, kami sendiri kaget bin terkejut saat mendapat undangan untuk ikut pameran.  Masalahnya adalah, apa yang harus kami pamerkan? Hahaha. 

Pada pameran yang diadakan pada tanggal 21 - 25 November 2012 ini kami akan menampilkan beberapa video dan ebook yang sudah pernah kami buat. Bebas dikopi oleh para pengunjung yang berminat. Meskipun sebetulnya karya-karya kami sebagian besar bisa didonlot di internet. Kami juga menyiapkan sederet brosur yang berisi perkenalan singkat tentang Hifatlobrain. 

Dalam stan selebar 3x3 meter ini kami berbagi ruang dengan teman seperjuangan dari Surabaya, c2o Library. Mereka menampilkan satu direktori industri kreatif di Surabaya yang masih jauh dari lengkap. "Karena tidak bisa memboyong semua entitas kreatif Surabaya ke Jakarta dan menempatkannya dalam satu tenda, akhirnya pakai mediasi foto. Yah daripada nggak ada..." kata Kat, komandan c2o Library. Beberapa foto yang dicetak Kat di Benhil menampilkan kegiatan penggila jalan Manic Street Walker, komunitas makanan alternatif Mantasa, dan kolektif seniman wanita BRAngerous. 

Bagi kalian Lobrainers di sekitar Jakarta yang memiliki waktu dan kepribadian yang selo, silahkan datang ke booth sederhana kami. Sokur-sokur bisa ketemu dengan punggawa-punggawa Hifatlobrain yang sedang bertugas. Permintaan foto bareng kami buka sejak pagi hingga sore. Selewat sore, muka kami sudah mulai berminyak. Jadi kadar gantengnya menurun. Mohon maklum. Ihikk.      

10/18/12

In The Making of Surya

Foto dokumentasi Tim Epic Java

Kemarin Hifatlobrain bertemu dengan tim di balik Epic Java, sebuah film perjalanan bergenre non-naratif yang digarap dengan pendekatan fotografis yang kental. Febian, inisiator video ini datang bersama Deni, Galih, dan Edo. Kami menemui mereka di Plaza Tunjungan sambil menyeruput teh tarik. Tim Epic Java melakoni trip di Jawa Timur selama empat hari, mengunjungi Kawah Ijen, Savana Raya Baluran, dan Pantai Papuma. "Alamnya Jawa Timur memang rock n roll!" kata Deni, sang music composer dalam proyek Epic Java, "Di Ijen dingin banget, di Baluran panasnya minta ampun..."

Dalam proses pengambilan footage, tidak semua berjalan mulus. Mereka harus menghadapi kabut tebal saat mengambil gambar di Papuma dan sulitnya bertemu hewan di Baluran. "Kami cuma ketemu monyet, padahal tengah malam ambil footage di Pos Bekol bikin kami bergidik karena denger suara-suara aneh hewan..." kata Deni.

Sedangkan di Ijen sendiri mereka harus rela diterpa angin gunung saat mengambil gambar kawah di malam hari. Meski mengaku hampir mati beku di puncak gunung, tapi tim Epic Java merasa gembira karena mendapatkan gambar milyaran bintang dalam footage timelapse mereka. "Bintangnya udah kayak ketombe, banyak banget! Hahaha," kata Deni.


Proyek Epic Java sendiri dimulai oleh Febian sejak akhir 2011 dan diperkirakan baru selesai pada pertengahan tahun 2013. Sebuah proyek panjang yang membutuhkan ketekunan dan kerja keras yang persisten. Ia dan timnya harus berkeliling menelusuri tempat-tempat paling fotografis di Jawa dan menyusunnya dalam sebuah film (yang direncanakan) berdurasi 20 menit. Semacam film-film buatan Ron Fricke atau Tom Lowe. "Aku sendiri begitu terinspirasi Timescapes-nya Tom Lowe, sedangkan Ron Fricke sendiri saya baru tau setelah banyak yang bilang kalo Epic Java serupa dengan Baraka," kata Febian.

Lantas bagaimana kalian bisa setia mengerjakan proyek jangka lama? "Kami melihat proyek ini sebagai sebuah momen refreshing sih," kata Galih, screenwriter yang memberikan ruh konsep pada Epic Java. Sebagai seorang pekerja, Galih mengaku bahwa proses pengambilan gambar Epic Java yang membawanya ke tempat-tempat baru adalah sebuah pelepasan dari beban kerja sehari-hari. "Jujur saja kami begitu menikmati prosesnya. Mengerjakan proyek jangka panjang membuat kami bertemu dengan orang-orang baru juga, itu sangat menarik!" kata Galih yang juga bercerita tentang sebuah keluarga di Desa Sumberbendo, Probolinggo yang menjamu mereka. "Dari situ kami baru tahu rasanya nasi jagung, hehehe," kata Galih.

Menikmati proses adalah sebuah ekstase yang umum dirasakan oleh orang yang memiliki passion di bidang tertentu. Mencintai apa yang dilakukan sehingga menghargai setiap detil proses yang terjadi. Passion dalam bidang yang sama juga yang menyatukan para jejaka Bandung ini untuk membuat sebuah karya besar. Meskipun mereka tahu harus berkorban banyak untuk melakoninya. "Semoga kamera saya nggak rusak sebelum proyek ini selesai," kata Febian. Ia memang sedikit mengkhawatirkan kamera DSLR-nya yang diperkosa untuk membuat ribuan foto setiap kali syuting. Seandainya kameranya bisa mengadu, mungkin sudah lapor ke Komnas HAM sejak lama karena penganiayaan tim Epic Java.


Tapi memang Tuhan tidak tidur, kawan. Kerja keras untuk membuat Epic Java ini mendapatkan apresiasi yang besar dari masyarakat. Sebagian memberi dukungan moral, sebagian lagi mendukung secara finansial melalui sistem pendanaan-massa (crowd-funding) yang diadakan oleh situs wujudkan[dot]com. "Alhamdulillah bisa terealisasi, awalnya kami mematok 10 juta, tapi malah tembus 15 juta," kata Febian bangga. Sistem crowd-funding memang barang baru di Indonesia. Di Amerika sendiri sudah ada Kickstarter yang sudah mendanai ribuan proyek independen, sedangkan di Indonesia sistem ini belum teruji efektifitasnya. Tembusnya pendanaan Epic Java membuktikan bahwa sistem ini ternyata bisa dijalankan. Masyakat pun bisa ikut aktif dalam mendukung proyek-proyek berbasis kreatif yang banyak dilakukan oleh anak muda.

"Jadi nanti credit title Epic Java bakal lebih dari sepuluh menit! Hahaha," kata Febian yang mengaku berterimakasih pada banyak orang yang mendukung pembuatan film ini. 

Dukungan lain dari masyarakat yang terkait dengan Epic Java adalah ide. Febian sendiri mengaku bahwa konsep Epic Java sudah banyak berubah sejak pertama kali muncul di benaknya. Seperti halnya lanskap bumi yang senantiasa berubah akibat gerusan air dan tiupan angin. "Akhirnya konsepnya berkembang seiring proses yang mengalir. Organik," kata Febian. Sama organiknya dengan bongkar pasang tim Epic Java. "Sedih juga ditinggal mas Arie (produser) untuk studi ke Jepang," kata Febian. Di sisi lain energi tambahan datang dari teman-teman yang masuk belakangan.

Secara umum skenario Epic Java memiliki tema berdasarkan garis geografis. Jawa bagian timur bertema Surya, Jawa bagian tengah bertema Sakral, dan Jawa bagian barat bertema Priangan. Ini adalah konsep yang digodok Febian bersama Arie sejak awal. 

Tapi sebentar, ada yang aneh? Yep betul! Kenapa nggak semua temanya berawal dari huruf "S"? Barangkali "Priangan" bisa diganti "Sorak" misalnya, mewakili hati yang senang karena melihat mojang priangan yang geulis dan aduhai. Atau mewakili kehidupan Bandung-Jakarta yang kelap-kelip semarak, banyak gigs, dan tempat nongkrong. Hehehe.

Sebelum pulang, Hifatlobrain memberikan sebuah pertanyaan yang epic kepada tim Epic Java; manakah yang lebih epic antara Jupe dan Depe?

Tak disangka mereka serentak menjawab Jupe! WTF. "Aku pernah makan paha Jupe," kata Febian yang memang suka nongkrong di warung Jupe Fried Chicken (JFC) di Ciumbuleuit, Bandung.

Hifatlobrain tentu saja banyak belajar dari tim Epic Java. Kami belajar bagaimana caranya menjadi pelari marathon yang mampu mencapai garis finis dan tidak lekas lunglai di tengah-tengah perlombaan. Terimakasih!

Postcard from Tokyo

Foto oleh Farchan Noor Rachman

Sebagai seorang nayapraja pajak, sehari-hari Farchan pasti pusing berurusan dengan laporan pajak dan undang-undang yang jumlahnya naudzubillah. Untuk itu ia menabung mimpi dan duit untuk plesir ke Jepang, sebuah tanah impian bagi para penggemar manga dan Maria Ozawa. Dan inilah laporan visual dari Farchan, tepat sesaat setelah turun dari pesawat. Fresh from the oven. "Ini foto Tokyo hari pertama... Spesial buat Hifatobrain..." begitu tulis Farchan dalam emailnya. 

Sembari menunggu travelogue lengkapnya bolehlah kita melihat-lihat Tokyo dari sudut pandang lensa Farchan. Arigatou gozaimasu!

10/10/12

East Java Signature


Ehemm, barangkali ada yang belum lihat video terbaru yang kami aplot di Vimeo. Ini dia East Java Signature, video kedua hasil kerja sama Hifatlobrain dengan Wego Indonesia setelah Vaastu. Video ini bercerita tentang impresi seseorang yang lahir dan tumbuh dewasa di Jawa Timur, tentang kemegahan gunung gunungnya, bau laut yang dibawa angin, embun pagi yang menggantung di ujung daun, dan segala keramahan penduduknya. Sebuah kenikmatan yang kelak ingin ia wariskan pada generasi selanjutnya.

Produksi East Java Signature dilakukan pada beberapa lokasi di Jawa Timur seperti Pacitan, Jember, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dengan sedikit sentuhan folksong dari daerah Banyuwangi. Thanks for watching! :)

Travel Writer by Yudasmoro




"For travel writers, traveling is a business not a vacation"

(Yudasmoro, 2012)

Dunia penulisan perjalanan makin hari tampaknya makin bergairah saja. Setelah terbit buku karya Gol A Gong, sekarang muncul buku serupa (dengan judul yang sama) yang ditulis oleh Yudasmoro. Seorang pewarta perjalanan yang karyanya banyak menghiasi majalah Garuda Inflight dan JalanJalan. Yudasmoro sendiri adalah sahabat dekat kami, para pengurus Hifatlobrain. Pada pertengahan tahun ini, kami sempat membuat workshop penulisan perjalanan dan menerbitkan ebook tentang travel writing yang merupakan intisari dari materi workshopnya.

Sejak tahun 2009 saya menjadi pembaca setia karya-karya Yudasmoro, dan sudah menunggu lama penerbitan buku ini. Tampaknya dulu Yudasmoro harus bergetih-getih untuk menawarkan konsep bukunya ke beberapa penerbit. Bukunya memang unik, mengandung sentilan-sentilan tajam buat para penulis perjalanan atau yang sedang tekun mempelajarinya. Barangkali ini yang membuat draft buku Yudasmoro banyak ditolak penerbit yang ingin main aman. 

Terpujilah penerbit Metagraf (lini penerbitan kreatif milik Tiga Serangkai, Solo) yang akhirnya mencetak buku Yudasmoro. Saya melihat keseriusan Metagraf ini hingga taraf yang paling krusial; kualitas penyuntingan, desain perwajahan dan layout buku yang ciamik. Saya menaruh penghargaan besar bagi Metagraf yang mau bersusah payah mengusahakan buku ini terlihat indah, dan tidak berakhir seperti diktat menulis pada umumnya. Membosankan. 

Sebagai seorang pemuja visual, tentu saja saya menilai buku pertama kali dari sampulnya.  Itu tidak mungkin dihindari. Dan buku Travel Writer milik Yudasmoro ini membuat saya jatuh cinta sejak dari kulitnya. 

Sampulnya terlihat eye catching; seorang pria berkacamata bertopi fedora duduk bersila di Stasiun Gambir. Wajahnya tenang seperti seorang praktisi Zen yang abai dari hiruk pikuk dunia yang bergerak cepat. 

"Yang motret gue tuh, soalnya pihak penerbit minta foto sebagai bahan kover," ujar Novani Nugrahani, partner setia Yudasmoro. 

Secara umum sampul buku ini mengandung warna kuning dan biru yang mewakili panas dan dingin. Seimbang. Penggunaan judul dengan jenis huruf sejenis Helvetica Neue dan elemen visual berupa lingkaran memberikan kesan tegas, bulat dan tidak ragu-ragu. Semoga Yudasmoro memiliki keteguhan yang serupa untuk melakoni jalan sunyi sebagai seorang freelance travel writer.

Tapi kerenyahan visual seperti itu saja tidak cukup. Perwajahan hanya memenuhi prasyarat belaka. Seperti seorang calon menantu, ganteng saja tidak cukup tapi juga harus ada bibit-bebet-bobot yang oke. Syarat utama sebuah buku tentu saja mengandung konten yang juga tak kalah impresif.

Membaca halaman demi halaman dari buku Yudasmoro mengingatkan pada buku "Andai Saya Wartawan Tempo" yang dahulu menjadi kitab suci saya saat belajar menulis feature. Isinya padat dan jelas. Straight to the point! Ini adalah buku yang ringkas untuk memulai pelajaran sebagai penulis perjalanan lepas. 

Terlepas dari kepraktisannya, melalui buku ini Yudasmoro memberikan perspektif paling realistis dalam menjalani profesi sebagai seorang penulis perjalanan. Pada beberapa titik bahkan Yudasmoro mengetengahkan pemikiran radikal yang tidak banyak dielaborasi; yaitu penulis perjalanan sebagai seorang pengusaha yang mandiri. Pandangan ini tentu saja menghancurkan pemikiran tentang profesi travel writer yang dilakoni sebagai pekerjaan sampingan. Setengah-setengah. Weekday sebagai pekerja kantoran dan weekend sebagai travel writer.



"Layaknya pengusaha, travel writer juga harus memiliki visi dan misi dalam bidangnya. Target yang jelas, ide, kemampuan menyusun jadwal, dan kedisiplinan mengejar target adalah beberapa kunci yang wajib dimiliki (seorang travel writer -pen.)." (hal. 16)

Di bagian lain, Yudasmoro secara blak-blakan menyoal honor yang dibayarkan oleh media kepada para penulis perjalanan. Padahal bagi sebagian orang tema ini berpotensi menjadi conversation killer dan hanya layak diperbincangkan dalam kasak-kusuk rahasia antar sesama kontributor lepas. 



"Nah, jujur deh. Sekarang ini masih ada beberapa media di Indonesia yang kurang menghargai posisi kontributor. Honor yang tidak kunjung dibayar, (jumlah) honor yang tidak layak, atau bahkan sama sekali tidak diberi reward apa pun meski sudah dijanjikan…" (hal. 11)

Itu yang saya suka dari buku Yudasmoro. Ia tidak menawarkan euforia dan harapan utopis, justru menjadi sebuah cermin besar tempat kita bertanya pada diri sendiri: apa betul saya ingin jadi penulis perjalanan sungguhan

Dalam hal ini Yudasmoro tidak hanya jago berargumen, ia membuktikan pemikirannya ini dengan kinerja yang presisten dan disiplin ketat selama bertahun-tahun. Sedikit banyak saya tahu itu. Menjadi travel writer baginya bukan lagi sekedar bersenang-senang dapat uang, tapi adalah profesi yang harus diperjuangkan dan dilakoni sepenuh hati. 

Tapi itu tidak lantas membuat buku Travel Writer menjadi berat wacana dan membuat kening pembaca semakin berkerut. Yudasmoro membawakan materinya dengan bahasa yang segar. Sehari-hari. Apalagi di tengah bagian Yudasmoro memberikan kuliah tentang foto perjalanan yang cukup menyegarkan karena disertai contoh-contoh  berwarna. 

Bagi saya, hadirnya buku ini membawa penanda baru dalam studi tentang penulisan perjalanan di Indonesia. Meskipun masih sebatas buku "how to", namun semoga pijakan dasar ini akan menggiring pembaca pada pemikiran selanjutnya: bagaimana perkembangan travel writing di Indonesia? Apa batas tipis antara penulisan perjalanan dengan jurnalisme? Bagaimanakah bentuk penulisan perjalanan yang bertanggung jawab? 

Studi semacam itulah yang kami harap akan berkembang di masa yang akan datang. Bukan hanya memperbanyak penerbitan buku-buku bergenre budget travel yang cheesy, tapi juga membangun iklim travel writing yang lebih baik di Indonesia. 

Semoga buku ini menjadi penyemangat bagi Yudasmoro untuk selalu berbagi ilmu dan pengalaman. Proficiat


PS: 
Terimakasih atas special mention yang diberikan oleh Yudasmoro terhadap Hifatlobrain di muka buku ini. Membuat kami terharu dan bikin tumpeng tujuh hari tujuh malam. Ihikk.   

9/24/12

Matah Ati Return


Teks dan foto: Lelaki Budiman

Malam itu (8/9) langit Solo sedikit mendung. Ratusan orang memenuhi lapangan Pamedan, Mangkunegaran, tempat digelarnya pertunjukan Matah Ati. Panggung raksasa, yang sengaja dibuat miring, dengan latar replika Gedung Kavaleri berangka tahun 1874 menimbulkan rasa penasaran tersendiri.

Ada rasa damai dalam hati saya berada di tengah antusiasme penonton yang memadati lapangan Pamedan. Saya amati wajah ratusan penonton di depan panggung yang sebagian besar warga Solo, mereka nampak begitu tenang. Tak sedikitpun terlihat sisa kecemasan. Padahal beberapa waktu sebelumnya kota Solo Hadiningrat sempat diguncang isu lama; terorisme.

Tak sedikit pemberitaan media yang mengaitkan kota seni budaya ini dengan terorisme. Kegelisahan itu dirasakan betul oleh Atilah Soeryadjaya selaku penggagas pertunjukan Matah Ati. Maka setelah sebelumnya Matah Ati sukses dipentaskan di Jakarta dan Singapura, Atilah membawanya pulang ke asal muasal cerita, Solo.

Sekitar pukul 20.30, lewat dari waktu yang dijadwalkan, pertunjukan pun dimulai. Arak-arakan puluhan orang dalam balutan busana tradisional Jawa membelah penonton yang duduk lesehan di depan panggung. Di antara mereka ada yang membawa berbagai macam sesaji dan persembahan. Tak ketinggalan beberapa gadis berkemben yang membawa dupa. Aroma sakral pun meruap di udara malam.

Selesai prosesi pembuka, seorang kerabat dari Puri Mangkunegaran memberikan sambutan singkat. Kelar pidato sambutan, gamelan pun ditabuh mengantarkan adegan pembuka.

Adegan pertama mempertunjukkan seorang perempuan yang menari. Adegan ini  mengenalkan tokoh utama cerita bernama Rubiyah. Ia adalah seorang penari dari dusun Matah, yang memiliki angan-angan untuk menjadi seorang ningrat. Selanjutnya penonton pun dibuat larut dalam adegan demi adegan kisah Matah Ati.

Terdiri dari delapan babak, pertunjukan Matah Ati mengacu pada Langendriyan (Opera Jawa) yang diciptakan oleh Mangkoenagoro IV dari Puri Mangkunegaran, Surakarta. Mengangkat cerita tentang kesetiaan dan perjuangan seorang perempuan bernama Rubiyah, seorang gadis dari desa Matah. Di balik kelembutannya sebagai seorang penari, Rubiyah memimpin barisan prajurit perempuan untuk berperang melawan penjajah.

Melibatkan ratusan penari, Matah Ati memberi pengalaman visual tak terlupakan. Sebuah pertunjukan kolosal luar ruang yang begitu memanjakan mata. Hal ini tak lepas dari tata busana, koreografi serta tata cahaya yang luar biasa. Ketiganya berpadu sedemikian apik dalam membangun dan menjaga keseluruhan cerita. Penonton seperti terhipnotis, berdecak kagum sepanjang pertunjukan.


Secara visual, pertunjukan ini jelas berhasil. Jay Subiakto, selaku penata artistik, membuat pertunjukan ini benar-benar memanjakan mata penonton. Simak bagaimana adegan pernikahan Raden Mas Sahid dengan Rubiyah. Dari depan panggung, berjalan beriringan dua tandu raksasa yang mengusung sang “pengantin“. Puluhan orang berpakaian Jawa mengiringnya. Tentu saja lengkap dengan berbagai uba rampe pernikahan ala kraton. Penonton yang duduk lesehan seperti menyaksikan sebuah kirab pernikahan yang melintas di tengah kota.

Kemegahan dan kemewahan visual dalam keseluruhan pertunjukan tak lepas dari riset yang dilakukan selama dua tahun lebih. Riset tersebut meliputi pemilihan cerita, bentuk tarian, aransemen musik hingga detail kostum yang dikenakan para penari.

Sayang sekali pengalaman visual tersebut tak dibarengi dengan pemahaman yang cukup. Saya sebagai penonton sempat tersesat di tengah alur cerita. Saya kira tak sedikit dari penonton yang mengalami kebingungan seperti saya, dan kasak-kusuk bertanya tentang alur cerita pada penonton lain di sampingnya. Tanpa dialog dan narasi yang jelas, perpindahan adegan demi adegan berlalu begitu saja. Penonton, khususnya saya, hanya merasa disuguhi pertunjukan musik dan tari dalam balutan simbol yang kolosal.

Atau mungkin saya yang berharap terlalu banyak? Karena memang pertunjukan Matah Ati adalah sebuah pertunjukan tari, bukan sebuah pertunjukan teater. Sebagaimana ditulis dalam buku program, bahwa pertunjukan yang melibatkan tiga koreografer ini memang lebih mengutamakan detil visual.

Beruntung sebelum pertunjukan dimulai saya sempat membeli buku program seharga Rp 50.000,-. Setidaknya setelah membaca buku tersebut memudahkan saya untuk memahami keseluruhan alur cerita dalam delapan babak pertunjukan.

Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali, saya pikir ungkapan itu tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami. Pemahaman terhadap keseluruhan cerita justru saya dapatkan setelah pertunjukan selesai karena buku tersebut baru bisa saya baca sesampainya di penginapan.[]

______________________________________________
Kontributor











Namanya sungguh inosens dan membuat guru tak kuasa menghukum; Lelaki Budiman. Seorang dosen dan penikmat teh. Waktu luangnya diisi dengan pergi ke stasiun, kemudian membeli tiket kereta tujuan mana saja dan berangkat saat itu juga. Sungguh selo. Beberapa saat lalu, pria yang tinggal di Jogja ini meluncurkan sebuah antologi puisi berjudul "Percakapan Diam-Diam". 

Temui pria ini di akun twitternya: @lelakibudiman.
______________________________________________

9/23/12

Bali Memories

 Foto oleh Dwi Putri Ratnasari

Boleh saja pelukis Walter Spies mengaku jatuh cinta dengan Bali. Di atas kanvas, Spies mengabadikan harmoni alam Bali dalam lukisan bergaya mooi indie. Begitu juga novelis Elizabeth Gilbert yang menangkap kemistri ajaib persingahannya di Ubud dalam Eat Pray Love. Pulau Dewata memang mudah memikat siapa saja. Termasuk kita-kita ini, petualang kapiran yang hidup di era Instagram dan Foursquare. Dengan dua aplikasi social media itu para pejalan memproklamirkan eksistensinya. Semacam konsep "i-was-here" dalam format yang lebih hari ini.

Saat berada di sebuah destinasi, maka check in di Foursquare dan mengunggah foto lewat Instagram menjadi pilihan karena sifatnya yang paling cepat dan aktual. Real time.

Di sisi lain, selembar foto konvensional masih jadi medium "i-was-here" yang nggak ada matinya. Foto bareng keluarga di Tanah Lot, bersama teman sekelas di muka Garuda Wisnu Kencana, atau seorang diri saat snorkeling di Tulamben adalah dokumentasi berharga puluhan tahun kemudian. Nah pendokumentasian perjalanan lewat foto inilah yang akan kami kaji. Foto dokumentasi di sebuah tempat wisata nggak perlu indah banget dan menunggu golden hour. Cahaya matahari yang cukup, mode shutter kamera pada "P", senyum lebar, dan jepret! Jadilah sebuah foto dokumentasi yang sederhana, namun mahal kenangannya.

Seringkali sebuah tempat dipilih menjadi latar belakang akibat sebuah alasan. Karena indah, terlihat aneh, ikut-ikutan atau semata-mata keinginan subyektif dari sang pelancong yang digerakkan oleh pemikiran bawah sadar. Alasan-alasan inilah yang menarik untuk diselami. Karena, berbagai alasan itulah yang lambat laun akan mengendap jadi kenangan. "Oh dulu saya berfoto di tempat ini karena..." dan cerita pun mengalir.

Kami mengundang Lobrainers sekalian untuk berpartisipasi dalam proyek sederhana kami untuk mengumpulkan foto dokumentasi perjalanan (bukan foto perjalanan / travel photography) tentang Bali. Boleh diambil tahun ini, atau dua puluh tahun yang lalu. Boleh foto keluarga, foto bareng pacar, boleh juga kok foto sendiri (ya kami memahami banyak Lobrainers yang jomblo ngenes...). Underwater atau up in the sky juga bebas. Yang pasti haruslah foto di sebuah destinasi di Bali.

Contoh foto dokumentasi yang akan kami terima. 
Foto oleh Lukman Simbah.

Silahkan kirim ke alamat hifatlobrain[at]gmail.com. Resolusinya yang sedang-sedang saja, pokoknya wajah dan bodi kelihatan jelas. Karena kalo berubah jadi pixel nanti kau dikira kriminil.

Kami tunggu pastisipasi kalian!

Salam,
Hifatlobrain

9/18/12

Indohoy x Hifatlobrain



Sebuah video yang dibuat oleh duo Indohoy sebagai catatan perjalanan mereka di Surabaya pada bulan Juni yang lalu. 


9/2/12

Hifatlobrain on Suave

click to enlarge

Nama Hifatlobrain secara misterius muncul di majalah Suave edisi terbaru yang bertema traveling. Baru sadar setelah anak-anak c2o Library memberi tahu artikel ini. Terimakasih untuk mbak @badutromantis yang sudah menuliskan review singkat tentang blog kece kami :)

8/20/12

8/13/12

Homeland Pilgrimage

Ki-Ka: Arman Dhani, Wana Senthong, Nuran m0V3oN, Adi Setiawan, 
Putri Bakpo, Djuneds, Kinchung, Ifan, Lukki Galau, 
Ticco, Oot, dan Idhm Rhmnrt.

Kasodo setahun yang lalu, kami membuat Homeland. Sebuah video yang icik icik ehemm. Dibuat dengan sepenuh hati, lengkap dengan suporter garis keras yang datang dari nJember dan nJakarta.

Kasodo kali ini kami datang lagi ke Bromo. Mengenang Homeland, sekaligus ajang silaturahmi yang sudah lama kami idamkan. Bila dulu hanya kenal lewat layar laptop, sekarang lewat momen Kasodo bisa tatap muka. Nah kehangatan seperti ini yang selalu kami rindukan.

8/6/12

Foi Moi Sentani

Foto-foto oleh Ayos Purwoaji

Lukisan kulit kayu adalah komoditas pariwisata 
paling dicari di Pulau Asei. Motif yang digambar biasanya 
diambil dari kisah kepahlawanan 
atau mitos kuno setempat. 

Banyak pemuda di Pulau Asei yang 
menghabiskan waktu dengan menombak ikan. 
Mereka mampu menyelam bermenit-menit 
dalam sekali tarikan nafas. 

Kole-kole atau jukung kayu adalah jenis 
transportasi tradisional yang menghubungkan 
pulau-pulau di danau Sentani sebelum adanya kapal mesin. 

Dayung berukir motif tribal yang banyak ditemui di Sentani. 
Sejak zaman dahulu, penduduk Sentani memang dikenal 
sebagai pengrajin kriya yang hebat. 

Totem pusaka Desa Babrongko yang disimpan di dasar danau. 
Bahannya kayu besi, semakin lama direndam air, semakin kuat.