Pages

1/23/12

Imlek Instagram

Photos by Ayos Purwoaji

Gong Xi Fa Cai.

1/5/12

Mat Kodak


Kota Bukittinggi, terletak di Luhak Agam -dalam peta Minangkabau- punya pemeo khas: "Airnya jernih, ikannya liar; benderanya merah dan lambangnya harimau". (alm. Ed Zoelverdi) 

Belum lama saya mengenal Ed Zoelverdi. Saya mulai rajin browsing karya fotonya ketika sebuah email masuk pada akhir November di milis yang saya ikuti, mengabarkan Zoelverdi sakit keras. Bagi penggemar fotojurnalistik, Ed Zoelverdi adalah sebuah legenda yang sama tuanya dengan Kartono Riyadi. Bedanya, Kartono Riyadi besar di harian Kompas, sedangkan Zoelverdi meletakkan dasar nilai fotojurnalistik di majalah berita mingguan Tempo.

Belakangan saya baru tahu bahwa dialah yang menginisiasi pameran koleksi pemenang kontes World Press Photo (WPP) untuk pertama kalinya di Indonesia pada tahun 1990. Zoelverdi juga yang mendorong para pewarta foto Indonesia untuk ikut melombakan karyanya di World Press Photo.

Mat Kodak, sebutan bagi para pewarta foto yang selalu membawa kamera kemanapun pergi, diciptakan oleh Zoelverdi. Sebutan itu semakin lekat karena pada tahun 1985, ia menerbitkan serial buku tentang panduan fotojurnalistik (yang saat ini menjadi karya klasik) berjudul Mat Kodak. 

Dan, foto di atas ini adalah hasil bidikan Mat Kodak yang paling saya suka. Alasannya ada dua: (1) Berkaitan dengan traveling, dan; (2) Memiliki angle yang unik.

Jika anda menuliskan lema "Bukittinggi" pada mesin pencari Google Images, maka yang Anda dapatkan adalah berbagai foto jam gadang, rumah minang, atau beragam menu yang biasa hadir di kapau. Tidak ada foto yang memiliki angle aneh seperti milik Zoelverdi. Meskipun setelah saya telusuri lebih lanjut, ternyata saya menemukan foto lain yang mirip di situs KFK Kompas dan forum Skycrapercity. Hanya saja dua foto tersebut tidak ada yang lebih tua -dan lebih bagus- dari milik Zoelverdi.

Foto patung macan yang mengangkangi landmark Bukittinggi ini menjadi bernilai karena Zoelverdi mampu memasukkan nilai dan folklore yang dipercaya masyarakat lokal di dalamnya. Dari sini terlihat Zoelverdi paham benar bahwa foto perjalanan yang baik mustilah mengangkat ciri khas sebuah destinasi. Foto perjalanan tidak hanya menjadi representasi estetika visual sebuah tempat, tapi juga menguarkan keunikan, serta mengandung nilai informasi dan dokumentasi. Foto ini juga bisa menjadi arsip sejarah yang berharga karena -saya baca beberapa sumber- patung macan di muka Jam Gadang ini sudah tidak eksis lagi.

Saya paham titizaman memang sudah berubah. Banyak alasan untuk menolak foto ala Zoelverdi bagi penerbitan majalah travel di Indonesia yang rata-rata dicetak glossy; foto yang kusam, tonal warna yang kurang vivid, sudut pandang yang ganjil, atau background yang kurang berkarakter. Tapi lebih dari semua kategori tersebut, foto Zoelverdi ini justru menawarkan insight yang lebih banyak, yaitu karakter dan budaya sebuah daerah. Lupakan foto sunset keemasan, lupakan foto langit berwarna biru dan hamparan laut yang selembut beludru. Foto-foto itu hanya menawarkan kerenyahan visual tanpa dilengkapi dengan kedalaman yang bisa diselami.

Lantas bagaimana bisa menghasilkan foto seperti Mat Kodak? "“Ente pengen jadi wartawan foto? Kuncinya curiosity... Rasa pengen tahu” kata Zoelverdi kepada seorang fotografer muda dalam satu masa di hidupnya.

Sebagaimana diketahui, Zoelverdi tak hanya piawai memotret. Pria kelahiran Aceh pada 12 Maret 1943 itu pun suka membaca dan menulis. Zoelverdi dikenal sebagai orang yang kocak. Ide kocaknya sering dituangkan dalam rubrik "Indonesiana" di majalah Tempo. "Dulu dia sering mengisi tulisan untuk "Indonesiana" (rubrik berisi cerita lucu di Indonesia),” ucap Amarzan Lubis, seorang wartawan senior sahabat Zoelverdi. Sahabat lain yang juga guru menulis bagi Zoelverdi, Goenawan Mohamad, mengatakan bahwa “Dia punya corak tersendiri, tidak suka ikut corak orang lain. Termasuk dalam berpakaian.”

Tampaknya dua hal itu; wawasan dan orisinalitas, yang akhirnya membuat seorang travel photographer menghasilkan sebuah karya canggih. "Profesi jurnalistik kehilangan marwahnya begitu para pelakunya -termasuk wartawan foto- abai menyadari pentingnya memelihara integritas pribadi, baik secara intelektual maupun spiritual," kata Zoelverdi.

Ah ini bukanlah sebuah obituari. Selamat jalan Mat Kodak!    

Kover majalah Tempo, 15 Januari 1972 karya Ed Zoelverdi
 
Buku "Minangkabau" (terbit tahun 1993, Penerbit Yayasan Gebu Minang) karya beberapa fotografer, salah satunya Ed Zoelverdi

1/2/12

Ampel at Rain

 
Photos courtesy by Afif Al Ghozaly, Ary Hartanto, and Ayos Purwoaji

Ampel di saat musim hujan tak kalah indah. Sinar lampu neon jatuh terperangkap tanah yang tergenang air hujan, orang-orang yang berlari kesetanan karena takut basah, rombongan ibu yang membawa anaknya liburan, dan pasar Ampel masih tetap ramai menjelang tahun baru. Ampel menjadi lebih kaya warna dan dipenuhi atmosfer ajaib. Saya masih yakin betul kalau Kampung Ampel adalah kampung paling indah di seantero Surabaya!