Pages

2/21/12

Hadramaut

Foto dari ponsel, akan diganti dengan hasil pemindaian yang lebih baik.

Judul: Hadramaut, Catatan Perjalanan M Anis
Tahun Terbit: 1996
Tebal: 103 hal

Setahun yang lampau, mas Mamuk Ismuntoro pernah memberitahu saya tentang buku ini. Sejak saat itu saya berburu. Cari informasi kesana kemari hasilnya buntu. Cari di Google -situs digdaya yang konon menampung informasi apapun yang terserak di kolong langit- juga tak ketemu.

Saya hampir melupakan buku ini hingga beberapa malam yang lalu bertemu langsung dengan penulisnya, M Anis, yang sedang makan malam di warung Gubeng Pojok. Saya cegat beliau saat akan beranjak pulang, saya tanyakan buku perjalanan yang pernah beliau tulis. Ya kok ndilalah dia membawanya. Sebelum berlalu, dia kasih buku itu -yang saya buru selama setahun- cuma-cuma.

Buku mungil setebal 103 halaman ini saya lahap satu malam saja. Saya masuk dalam cerita Anis. Mengikuti perjalanannya mulai dari tiba di kota Sana'a, hingga melakukan perjalanan overland sejauh ribuan kilometer menuju Hadramaut, lewat Mukalla.

Hadramaut. Saya hanya bisa mengingatnya lamat-lamat. Sekiranya pernah mendengar saat SD atau SMP, tentang daerah asal orang-orang Arab di Indonesia. Sebuah tempat yang seakan jauh sekali dari imajinasi saya. Saya lantas mengasosiasikannya dengan Aladin, Sinbad, dan kisah-kisah 1001 Malam lainnya.

Hadramaut memang menyimpan banyak kisah di balik tembok-temboknya yang berusia ribuan tahun. Kota Syibam, salah satu kota yang disinggahi Anis dalam perjalanannya digambarkan sebagai "sebuah lukisan kuno yang sarat misteri" dan masuk ke dalamnya "seperti masuk ke dunia dongeng". Syibam adalah kota berusia tujuh ratus tahun. Rumah-rumahnya menjulang tinggi, sedikitnya enam lantai. Hebatnya, bangunan-bangunan perkasa ini dindingnya terbuat dari tanah liat.

Bahkan Sana'a dianggap berusia jauh lebih tua dari Syibam, umurnya sekitar 3000 tahun. Bila diukur garis waktunya, maka Sana'a seharusnya sudah eksis sejak zaman Nabi Sulaiman (Solomon). "Anda boleh tidak percaya, tapi ornamen melengkung di rumah-rumah penduduk itu dahulu juga dipakai di istana Raja Sulaiman dan Ratu Balqis, penguasa Negeri Saba," kata Mohamad Abduh pada Anis.

Bagaimana bisa sebuah kota bertahan begitu lama tanpa ada banyak perubahan yang berarti? Daya tahan kota ini juga nampak pada etos masyarakatnya yang sekeras batu karang. Anis memberikan secuil narasi apik tentang semangat hidup orang-orang Hadramaut yang tak kenal surut. 

Saya membayangkan Hadramaut seperti Padang, penduduknya memiliki sejarah panjang dalam merantau. Etnis Arab di Indonesia sebagian besar merupakan keturunan para perantau Hadramaut. Marga Alkaf, Al Jufri, Al Nahdi, Al Zaidi, Syagran, dan Al Habsyi berasal dari kota Tarim. Sedangkan qabilah Assegaf, Al Attas, Baraja, Bawazier, Al Habsyi, Al Katiri, Bahmid, dan Gadhi berasal dari kota Saiyun. Di Hadramaut sendiri ada banyak keluarga Indonesia yang tinggal turun temurun. Sehari-hari orang Hadramaut tak lepas dari sarung tenun Indonesia saat berbusana. Mungkin buatan Gresik.

Beberapa kisah susah juga mewarnai perjalanan Anis dalam menyelami kehidupan di Hadramaut. Muntah karena mencoba makan daun Ghat (mungkin sama seperti sirih pinang yang biasa dimakan penduduk Indonesia bagian timur), tidak menemukan tempat bermalam di Aden dan Saiyun, juga diusir dari pasar Baab Al Yaman.

Sebetulnya ini bisa jadi sebuah perjalanan yang romantik, mengingat Anis memiliki darah Hadramaut dalam dirinya. Ia bisa saja menuliskan kisahnya dari sudut pandang seorang perantau yang pulang kampung atau pejalan yang melakukan napak tilas budaya leluhurnya.

Tapi tampaknya romantisme tidak penting lagi bagi Anis. Ia konsisten memakai kacamata seorang jurnalis dalam menuliskan kisahnya. Jadi tidak usah heran bila terdapat berbagai analisa politik dan sejarah timur tengah dalam berbagai feature di dalam buku ini.

Buku ini menemukan konteksnya lagi saat ini. Dimana isu tentang Habib meningkat dan menimbulkan berbagai reaksi di masyarakat. Tempo sendiri pernah mengulas isu ini dalam sebuah liputan khusus, dan buku Hadramaut milik Anis menjadi salah satu rujukan. Saya akan lampirkan PDF salah satu artikel yang mucul dalam lipsus Tempo.  

Hemat saya, laporan perjalanan milik Anis ini menjadi salah satu penanda penting dalam dunia travel writing di Indonesia. ”Dulu saya ke Hadramaut karena belum ada wartawan Indonesia yang menulis tentang daerah itu,” kata Anis, mantan wartawan Surabaya Post, yang berkunjung ke Hadramaut pasca Perang Teluk 1991.

Sebagai seorang pejalan, Anis juga pernah melakoni naik haji melalui jalur darat seperti yang dilakukan Bahari, wartawan Jawa Pos, belum lama ini. Bab berhaji ala backpacker ini akan saya bahas lain waktu, menunggu kelar riset yang saya lakukan terhadap beberapa contoh kasus haji tanpa ONH pada umumnya.

Buku mungil ini saya pikir bisa menjadi pengantar yang renyah sebelum melahap buku "Orang Arab di Nusantara" karya L.W.C van den Berg yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu. []

Pranala lain:
Artikel "Merindu Cadas Tandus Hadramaut" oleh Adek Media / Tempo  http://bit.ly/yCM4WZ
Berhaji Jalur Darat, Bahari / Jawa Pos http://bit.ly/Aeqf2W

2/18/12

Makassar Nol Kilometer



Untuk Anwar Jimpe Rachman

Sebenar-benarnya penyesalan melakoni pekerjaan sebagai seorang travel writer adalah: kau sudah menuliskan kisah tentang negeri-negeri yang jauh, tapi belum pernah sekalipun mengulas kota yang kau tinggali. Bumi yang kau pijak.

Ini bukan pepesan kosong. Saya pernah tanya ke Dina Duaransel, seorang nomad traveler asli Surabaya yang sudah keliling dunia, adakah tempat yang ingin ia eksplor lebih jauh lagi? Jawabannya: Indonesia. Dina sudah menjajal berbagai tempat eksotik di muka bumi bersama suaminya, Ryan. Tapi ia merasa kurang begitu dalam mengenal negerinya sendiri.

Saya pun dihinggapi sindrom yang sama. Hampir-hampir saya tidak pernah menulis panjang tentang Surabaya, dan tidak pernah menulis satu travelogue pun tentang Jember, kota kelahiran saya. Pemeo rumput tetangga jauh lebih hijau daripada rumput sendiri itu benar adanya. Karena sudah terbiasa, seringkali indera kita jadi lebih tumpul, radar kita jadi semakin mandul.

Tapi Jimpe sudah terbebas dari dosa besar macam itu. Pada awal 2005 dia mengumpulkan empat belas temannya, melakukan reportase berjamaah, lantas menerbitkan buku yang diberi judul ciamik: "Makassar Nol Kilometer". Ini adalah buku pertama yang ditulis anak-anak muda Makassar tentang budaya kontemporer Makassar.

Saya paham ini bukan pekerjaan mudah. Sudah saya bilang di awal bahwa kita akan lebih sulit menulis keunikan yang ada di sekitar kita ketimbang mendedah keunikan daerah lain yang baru pertama kali kita datangi. Beruntung Jimpe dan kawan-kawan tidak menyerah. Indera yang tumpul kembali diasah dan radar disetel ulang. Mereka pun menekuni daerah yang begitu familiar dan (barangkali) sudah terlihat biasa saja di mata mereka.

"Buku ini kami kerjakan selama sepuluh bulan, setiap minggu kami bertemu melakukan curah pikiran. Editing dilakukan secara ping-pong," kata Jimpe yang bertugas sebagai penyunting dan penjaga iman dalam proyek buku ini. Dengan sensor jurnalistik yang ketat, tak heran buku ini menjadi sekumpulan feature yang hebat. "Sampai informasi paling kecil juga kami verifikasi kebenarannya," kata Jimpe.

Saya sungguh menikmati berbagai tulisan yang ada di dalam buku ini. Isinya terkesan gado-gado, temanya luas dan beragam. Mengangkat gaya hidup hingga kuliner. Kisah para suporter bola hingga sepiring Palubassa. Dari pete-pete (angkot Makassar) hingga kafe-kafe di sepanjang Pantai Losari.

Gaya menulisnya pun beragam. Masing-masing penulis memiliki gayanya sendiri. Ada yang bergaya Tempo, ada yang bergaya Sindhunata, ada yang reflektif, ada yang kritis, ada yang lekas panas, ada pula yang intronya terlalu panjang. Personalitas menjadi bumbu dalam tulisan itu sendiri. Seringkali saya harus memberi jeda antar tulisan untuk sekedar mengambil nafas, menunggu kejutan apa yang akan saya dapat di tulisan berikutnya. 

Melalui susunan mosaik potret-potret kecil inilah kita akhirnya bisa melihat wajah kota dalam potret yang lebih besar. Saya pun mendapatkan perspektif baru dalam memandang Makassar. Rangkaian narasi yang disajikan membuat saya merasa dekat dengan keseharian. Tukang becak, mahasiswa, bahkan pendatang menjadi narasumber penting dalam buku ini. Setiap kisahnya berangkat dari sudut antroposentris yang kental.

Barangkali hal kecil seperti ini yang jamak dilupakan oleh para travel writer Indonesia. Karena sibuk mengulik keindahan sebuah destinasi, seringkali kisah manusia yang ada di dalamnya terlewatkan. Tulisan yang dihasilkan pun dingin tidak bernyawa. Bertabur deskripsi, namun miskin dialog. Dari buku ini kita belajar tentang dialog yang kaya dengan penduduk lokal.

Sayangnya saat membaca kumpulan tulisan yang renyah ini saya beberapa kali terganggu barisan footnote yang rakus merebut batas-batas halaman. Bahkan pada tulisan "Memotret Pernikahan di Makassar", ada catatan kaki yang luasnya hampir sepertiga halaman. Saya pikir fakta-fakta tersebut sebaiknya disisipkan saja pada tulisan.

Bagi saya pribadi, buku ini ibarat sepatu baru; padat tapi tetap empuk. Enak buat diajak jalan. Ukurannya kecil dan kertasnya yang ringan bisa jadi teman yang ramah selama bertetirah. Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca sebelum menjelajahi pesona kota Makassar! []

Terimakasih untuk Onny Wiranda yang sudah merekomendasikan buku ini :) 

2/17/12

Bubi Chen

Photograph by Agung Perkasa Nugraha

Saya tidak memiliki kedekatan khusus pada Bubi Chen, selain saya adalah pendengar taat dari berbagai komposisi yang dia bikin. Beberapa kali saya bertatap muka dengan legenda jazz Indonesia ini. Seringkali untuk keperluan editorial menulis di Majalah Rolling Stone Indonesia. Sisanya, saya pernah diajak Agung, teman kuliah saya, saat harus merampungkan riset sikripsinya yang berupa biografi Bubi Chen.

Bubi Chen adalah seorang musisi yang pelupa. Dia tidak ingat karya apa saja yang pernah dibuatnya. Dia tidak tahu berapa ribu komposisi yang sudah dia bikin, pun dia pasti alfa berapa banyak jumlah album yang sudah dia produksi. Sebagian besar karyanya tertinggal di Jerman, sisanya terserak di mana-mana. Saya pernah menemukan satu di Lokananta, dia bermain kuartet dengan Jack Lesmana.

Itu mengapa susah sekali mengumpulkan karya lengkap Bubi Chen. Termasuk saya kesusahan menemukan albumnya yang berjudul Djanger Bali.

Album ini istimewa karena mendapat banyak pujian dari kritikus musik di luar negeri. Sebuah jazz fusion yang menampilkan bebunyian khas Indonesia dalam balutan swing yang kental. Ini adalah proyek internasional yang melibatkan Tony Scott, klarinetis dunia, dan Joachim Ernst Berendt, paus musik Jazz, sebagai produser. Sisanya; Bubi Chen, Yopi Chen, Benny Mustafa, Marjono, dan Jack Lesmana adalah barisan pemain jazz muda garda depan waktu itu di Indonesia. 

Djanger Bali dikerjakan 1967 dengan semangat east meets west yang kental. Pada tahun yang sama muncul juga album Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band dari The Beatles yang sangat dipengaruhi gaya bermusik Ravi Shankar, musisi India paling sohor. Masa-masa itu, ketika flower generations merebak, memang masa dimana percampuran budaya antara timur dan barat dimulai. Spiritualitas dan eksotika Timur menjadi frasa yang seksi untuk dieksplorasi. 

Total ada enam komposisi di dalam album Djanger Bali. Empat diantara merupakan modifikasi dari musik Nusantara; Djanger Bali, Gambang Suling, Ilir Ilir, dan Burung Kaka Tua.

Saya baru bisa melihat wujud asli album ini saat Benny Chen menunjukkan koleksi vinyl ayahnya. Mata saya membesar, mulut saya melongo. Akhirnya saya bisa melihat sebuah album agung yang kelak menginspirasi generasi sesudahnya; Karimata, Krakatau, atau Simak Dialog.

Apresiasi karya ini sebaiknya dipusatkan pada usahanya untuk memberikan interpretasi baru dalam memainkan musik daerah yang seringkali dianggap minor. Setiap traveling, saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati musik daerah. Saya merekam pengamen jalanan yang konser di dalam bus Pantura, saya membeli cakram digital lagu Sunda, saya menyukai tabuh gendang Manggarai yang mengiringi tarian Caci, dan remix dangdut Madura. Menurut saya, musik adalah salah satu unsur penting dalam perjalanan.

Right' i said. 'but first, we need the car. and after that, the cocaine. and then the tape recorder, for special music..." kata Hunter S Thompson, pejalan sekaligus jurnalis paling sableng dalam sejarah Amerika modern. 

Mendengarkan musik daerah bagi saya adalah sebuah usaha pelestarian yang paling minimum. Syukur-syukur bisa menerjemahkannya dalam konteks modern dengan lebih baik seperti Jubing Kristianto atau Vicky Sianipar.

Semalam, setelah berita meninggalnya Bubi Chen beredar luas di jagat maya, playlist saya berubah, saya mendengarkan kembali Djanger Bali. Dengan lebih khusyuk. Selamat jalan om Bubi! 

2/15/12

Satu Trip Banyak Tulisan

Saya akan berbagi trik menulis artikel di majalah dengan metode "satu trip banyak tulisan". Jadi, dari sekali jalan kita bisa nulis berbagai macam artikel. Bukan tipu, bukan muslihat. Seperti dukun yang bisa menggandakan duit, travel writer juga berpotensi untuk 'menggandakan' tulisannya.

Pada dasarnya ada dua cara untuk melakukan praktik poligami ini, pertama, mencari info sebanyak-banyaknya dari daerah yang kita tuju. Pastikan sebelum melakukan trip, Anda wajib mempelajari daerah tujuan habis-habisan. Keunikan budaya, ragam kuliner, keindahan lanskap, atau atraksi turistik patut diriset sebelum pergi.

Contohnya jika Anda ingin pergi ke Garut, maka dodol, cokodot, Cipanas, Papandayan, dan sate domba musti masuk dalam pemetaan trip yang Anda bikin. Nantinya berbagai kata kunci ini bisa dikembangkan kira-kira dalam empat artikel: Cipanas, kuliner, lanskap, atau Garut secara general (contoh: 5 Alasan Berlibur ke Garut). Jadi sekali trip, Anda bisa menulis banyak artikel.

Kuncinya ya itu tadi, cari info sebanyak-banyaknya di lokasi, perkuat eksplorasi. Selain banyak data yang didapat, semakin banyak ide yang bisa ditulis.

 Lawatan saya ke Surabaya menghasilkan dua tulisan yang berbeda

Cara kedua adalah rewrite, menulis ulang artikel dengan sudut pandang dan gaya bahasa yang berbeda. Beberapa media memperbolehkan penulis untuk melakukan rewrite, asalkan sudut pandangnya berbeda.

Lantas, bagaimana cara melakukan rewrite? Saran saya, tentukan dulu media mana saja artikel ini dibuat. Masing-masing media memiliki ciri reportase sendiri, pelajari gayanya. Lalu tuliskan kisah dari sudut yang berbeda dan gaya bahasa yang sesuai dengan media yang akan dituju.

Melakukan rewrite itu merupakan senjata ampuh untuk melipatgandakan honor. Tapi ingat tulisan harus berbeda!

Kenapa harus berbeda? Karena setiap media berhak mendapatkan liputan yang eksklusif dari reporter atau kontributornya. Jadi kalau ditanya editor,"Ini sudah pernah terbit sebelumnya?" jawab saja jujur,"Sudah, tapi ini rewrite, ceritanya berubah." Jelaskan detailnya juga. 


Beberapa artikel tentang Pasar Terapung Banjarmasin di Garuda Inflight Magazine (Berbelanja di Atas Sungai), Majalah JalanJalan (River of Life), dan Majalah Warisan Indonesia (Down to the River)

Perhatikan juga masalah penggunaan foto. Untuk artikel rewrite, usahakan 50% foto yang digunakan berbeda dari artikel sebelumnya. Tapi ini kembali pada kebijakan masing-masing media.

Terakhir: menurut saya paling enak jika tripnya overland. Lebih lama dan bisa dapat berbagai macam cerita!

______________________________________________
Kontributor










Yudasmoro adalah freelance travel writer, hidup bahagia di Jakarta. Pecinta Smash, pemuja Morgan. Cita-cita besarnya: ingin membuat sebuah resto sop kikil. Sapa pria ini di @wordstraveler.  
______________________________________________