Pages

2/17/12

Bubi Chen

Photograph by Agung Perkasa Nugraha

Saya tidak memiliki kedekatan khusus pada Bubi Chen, selain saya adalah pendengar taat dari berbagai komposisi yang dia bikin. Beberapa kali saya bertatap muka dengan legenda jazz Indonesia ini. Seringkali untuk keperluan editorial menulis di Majalah Rolling Stone Indonesia. Sisanya, saya pernah diajak Agung, teman kuliah saya, saat harus merampungkan riset sikripsinya yang berupa biografi Bubi Chen.

Bubi Chen adalah seorang musisi yang pelupa. Dia tidak ingat karya apa saja yang pernah dibuatnya. Dia tidak tahu berapa ribu komposisi yang sudah dia bikin, pun dia pasti alfa berapa banyak jumlah album yang sudah dia produksi. Sebagian besar karyanya tertinggal di Jerman, sisanya terserak di mana-mana. Saya pernah menemukan satu di Lokananta, dia bermain kuartet dengan Jack Lesmana.

Itu mengapa susah sekali mengumpulkan karya lengkap Bubi Chen. Termasuk saya kesusahan menemukan albumnya yang berjudul Djanger Bali.

Album ini istimewa karena mendapat banyak pujian dari kritikus musik di luar negeri. Sebuah jazz fusion yang menampilkan bebunyian khas Indonesia dalam balutan swing yang kental. Ini adalah proyek internasional yang melibatkan Tony Scott, klarinetis dunia, dan Joachim Ernst Berendt, paus musik Jazz, sebagai produser. Sisanya; Bubi Chen, Yopi Chen, Benny Mustafa, Marjono, dan Jack Lesmana adalah barisan pemain jazz muda garda depan waktu itu di Indonesia. 

Djanger Bali dikerjakan 1967 dengan semangat east meets west yang kental. Pada tahun yang sama muncul juga album Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band dari The Beatles yang sangat dipengaruhi gaya bermusik Ravi Shankar, musisi India paling sohor. Masa-masa itu, ketika flower generations merebak, memang masa dimana percampuran budaya antara timur dan barat dimulai. Spiritualitas dan eksotika Timur menjadi frasa yang seksi untuk dieksplorasi. 

Total ada enam komposisi di dalam album Djanger Bali. Empat diantara merupakan modifikasi dari musik Nusantara; Djanger Bali, Gambang Suling, Ilir Ilir, dan Burung Kaka Tua.

Saya baru bisa melihat wujud asli album ini saat Benny Chen menunjukkan koleksi vinyl ayahnya. Mata saya membesar, mulut saya melongo. Akhirnya saya bisa melihat sebuah album agung yang kelak menginspirasi generasi sesudahnya; Karimata, Krakatau, atau Simak Dialog.

Apresiasi karya ini sebaiknya dipusatkan pada usahanya untuk memberikan interpretasi baru dalam memainkan musik daerah yang seringkali dianggap minor. Setiap traveling, saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati musik daerah. Saya merekam pengamen jalanan yang konser di dalam bus Pantura, saya membeli cakram digital lagu Sunda, saya menyukai tabuh gendang Manggarai yang mengiringi tarian Caci, dan remix dangdut Madura. Menurut saya, musik adalah salah satu unsur penting dalam perjalanan.

Right' i said. 'but first, we need the car. and after that, the cocaine. and then the tape recorder, for special music..." kata Hunter S Thompson, pejalan sekaligus jurnalis paling sableng dalam sejarah Amerika modern. 

Mendengarkan musik daerah bagi saya adalah sebuah usaha pelestarian yang paling minimum. Syukur-syukur bisa menerjemahkannya dalam konteks modern dengan lebih baik seperti Jubing Kristianto atau Vicky Sianipar.

Semalam, setelah berita meninggalnya Bubi Chen beredar luas di jagat maya, playlist saya berubah, saya mendengarkan kembali Djanger Bali. Dengan lebih khusyuk. Selamat jalan om Bubi! 

3 comments:

Agung Perkasa said...

Keren bgt Yos!
Musik itu memang bahasa universal yg bisa membuat damai siapa saja!

Agung Perkasa said...

kerennn banggettss Yos!!
musik mmg bahasa universal yg bisa membuat damai smua orang..hehee

Radit said...

Djanger Bali ini agaknya semacam Bitches Brew-nya Bubi Chen. RIP