Pages

3/22/12

Exhibition Opening

 Ilustrasi Herajeng Gustiayu dan Redi Murti 
diolah Deri Elfiyan untuk penutup dalam videonya

Apa yang lebih meriah daripada malam yang penuh teman?

Kami sudah menunggu lama untuk pameran ini. Terhitung sejak berakhirnya residensi Ajeng di surabaya, kami terus beranjak ke pekerjaan satu dan yang lain. Hifatlobrain menggarap video Vaastu, anak-anak c2o mengonsep platform Ayorek! -sebuah portal komunitas kreatif Surabaya- yang akan diluncurkan akhir Minggu ini, dan Ajeng kembali berkutat pada web design dan traveling.

Namun ide tentang pameran ini terus berkembang dan kami jaga nyala apinya. Tinta memunculkan nama Redi Murti, seniman muda cadas aseli Surabaya, untuk diajak kolaborasi. Karena kami adalah sekumpulan pelahap ide gila, tak butuh waktu lama kami pinang Redi untuk turut serta.

Alhamdulillah tanpa banyak bicara dia menerima ide kolaborasi ini. "Pertama kali saya diajak, saya langsung mau. Kebetulan ada proyek ini aku seneng banget," kata Redi. Pria lulusan komunikasi visual UK Petra ini memang cukup dikenal di kalangan perupa muda Surabaya. Bagaikan nabi, Inyo, panggilan akrab Redi, memiliki basis masa sendiri. Tokoh imajiner berwajah merah yang terinspirasi dari gerakan seni baru Tiongkok, Nudeface, menjadi trademark sendiri bagi karya-karya Inyo selama ini.

Bagi kami di Hifatlobrain, ini adalah perpaduan yang saling melengkapi. Ajeng, dengan latar belakang arsitektural, banyak merekam Surabaya dari keindahan gedung-gedungnya. Sementara Inyo, yang aseli arek Suroboyo, mendokumentasikan Surabaya dari sisi dinamika sosial. Klop!

Mendekati hari H, deadline karya semakin ketat. Tinta, sebagai promotor, harus berulang kali memensyen Inyo di Twitter. "Halo Redi, hari ini gambar apa saja?" begitu sapa Tinta setiap siang. Kami pun tak alfa mengingatkan Ajeng untuk selalu menambah jumlah karya. Kami takut galeri IFI Surabaya yang megah akan terasa melompong dengan jumlah karya yang tidak berimbang.

Tapi ketakutan itu sirna sehari sebelum pembukaan pameran. Kami bergotong royong menyiapkan bingkai dan mematut karya. Ternyata jumlah karya malah terlalu banyak. Terpaksa kami melakukan kurasi terhadap karya Ajeng. Beberapa kami tampilkan, sisanya biarkan jadi kejutan di buku yang sedang kami garap.

Ternyata banyak sekali yang harus disiapkan sebelum pameran. Sementara saya, Kat, Tinta, dan Ruli memasukkan gambar ke pigura, di sisi lain Putri sedang sibuk mengurus puluhan caption lukisan. "Aduuuh aku stag! Iki sing bonek ditulisi opooo?" tanya Putri berceracau. Dan Andriew masih stres memikirkan desain katalog yang oke di sela-sela kesibukannya mengurus layout DIY Report. "Tensiku lagi tinggi. Pokoke senggol bacok!" kata Andriew suntuk berat.

Beberapa media datang saat press conference. Mereka mewawancarai Ajeng dan Inyo, tentang alasan mereka menggambar, tentang proses kreatif, dan inspirasi kedua seniman. Saat sesi foto, ini yang bikin ketawa. Kedua makhluk eksperimental ini bukan jenis manusia fotogenik yang akrab dengan lensa. Tapi mereka dipaksa berpose di depan kamera oleh para fotografer. "Lihat sana ya mas, tunjuk sini ya mbak," perintah sang fotografer. Mereka berdua hanya kikuk.

Satu lagi makhluk dari Malang akhirnya turun gunung, Deri Elfiyan, sang videografer yang kerap dipanggil 'warkamsi' oleh Tinta. Dia membawa kepingan puzzle terakhir persiapan pameran: video yang digarap dengan animasi menarik! Yeah!

Syukurlah kami bisa menyelesaikannya dengan baik. Beberapa jam sebelum pembukaan, pigura sudah rapi terpajang, puluhan caption juga tercetak rapi di bawahnya, alat musik untuk Silampukau tampil live juga sudah siap, sedangkan katalog sudah diperbanyak oleh Tinta di fotokopi Pink yang legendaris.

Semakin malam pelataran IFI semakin ramai saja. Bahkan Mbak Laleia juga datang sejak jam lima sore, membawakan kami roti dan yoghurt. Oh lovely! Thanks mbak. Werdha dan Koplo datang lebih awal karena kecele di-BBM Ruli dengan informasi yang salah. Samuel Respati datang dengan rambut kece karena ia akan perform memainkan musik elektronik.

Jam tujuh tepat acara dimulai. Mbak Krishna dari IFI menjadi master of ceremony, dilanjutkan sambutan dari direktur IFI Surabaya, Pak Goujack. Dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah ia mengungkapkan perasaannya. Tak lupa ia mengingatkan bahwa IFI tak lama lagi bedhol desa. Berkemas dari gedung tua yang bertuliskan 'anno 1914' ini, pindah ke komplek AJBS.

Sebelum pintu dibuka, Silampukau memainkan empat lagu. Band yang sekarang berformat trio ini mendapat tempat khusus dalam proses kreatif Traveler In Residence karena lagu-lagu mereka banyak yang merefleksikan kehidupan kota -terutama Surabaya, di mana mereka tinggal. Silampukau menjadi pembuka yang hebat dan magnet yang kuat bagi siapapun yang hadir. Venie, chief editor Majalah Provoke, yang datang dari Jakarta turut hadir dalam pembukaan karena ingin melihat Silampukau main. "Salah satu band lokal Surabaya yang gue seneng ya Silampukau," kata Venie yang hanya tahan dua lagu sebelum ngebut menuju bandara mengejar penerbangan ke ibukota.

Malam itu ratusan orang hadir. Hitungan kasar saya lebih dari 200 orang. Ini adalah jumlah yang cukup banyak untuk pembukaan pameran. Sebagian adalah pembaca Hifatlobrain, sebagian lagi pemuja sekte Inyo, sebagian lagi member c2o Library, sebagian lagi groupies Silampukau, sebagian lagi pengunjung setia IFI Surabaya, dan sebagian lainnya adalah pecinta seni. Ini hanya perkiraan saya lho, bukan statistik akurat.

Pintu galeri dibuka dan para pengunjung menyeruak masuk. Udara sampai terasa gerah dibuatnya. Saya keringetan. Sementara Samuel mengambil alih panggung dan mulai memainkan musik-musik elektronik, para pengunjung di dalam galeri asyik menggambar bebas pada meja berlapis kertas samson yang kami sediakan. Mereka menggambar apa saja yang berhubungan dengan Surabaya. Mulai dari tempe penyet hingga nasi bebek, mulai dari Tugu Pahlawan sampai patung suro-boyo. Dan gambar-gambar itu bebas direspon oleh siapa saja yang baru datang. Ini adalah arena live drawing multirespon yang menyenangkan!

Di tengah suasana malam yang makin meriah dan makanan kecil yang dihidangkan oleh staff IFI, tak ada yang lebih membuat bahagia ketimbang teman-teman yang datang berombongan. Mas Lukman Simbah yang akhir-akhir ini sibuk mbutge (nyambut gawe, kerja kantoran) akhirnya bisa datang! Saya terharu. Ada juga mas Iman cinematicorgasm, mas Jerry Kusuma, mbak Laleia, Wardah Amelia (induk semang Ajeng selama residensi), Pak Handoko Suwono, Ardian Purwoseputro, Ari Tanglebun, Adinda Nurul, Gungun, Bagong, Faris WNKRM, Agoessam, Maya Jejak Petjinan, Nita Nitchii, dan Benny Wicaksono. Oh ya Phleg, Remi Kinetik dan mas Jimmy Ofisia juga datang bro! Wohoho. Kami senang deh.

Terimakasih atas kerja keras Herajeng Gustiayu dan Redi Murti dalam berkarya. Terimakasih untuk Deri Elfiyan atas videonya yang asedap. Terimakasih untuk Giri Prasetyo yang mau mendokumentasikan acara. Terimakasih untuk Ruli, Tinta, Kat, Andriew, Simbah, yang banyak membantu. Semoga kedepan Hifatlobrain bisa terus mengolah ide gila! Rawkz!

 Sebelum pembukaan.

 Registrasi pengunjung. 

Silampukau on stage.

Deri menjadi operator bagi penayangan videonya. 

The artists! Samuel Respati, Redi Murti, Deri Elfiyan, dan Herajeng Gustiayu.

Para pendukung acara pembukaan!

Deri datang Ruli senang. Aserehe. 

Duo cadas di balik Orkes Layar! Rawkz! 

Hifatlobrainers and special guest: Lukman Simbah. 

Kartu pos dengan gambar Herajeng Gustiayu dan 
Redi Murti yang ludes terjual. Tapi kami mencetak lagi kok :)

NB: 
Foto dokumentasi diambil oleh Giri Prasetyo.

3/20/12

Report: Travel Writing Workshop

Photo by Werdha Prasidha Wangsa

"Sampeyan jadi dateng mas?" tanya saya, dua minggu sebelum acara. Memastikan ketetapan hati Yudasmoro untuk sowan ke Surabaya berbagi ilmu menulis perjalanan.

"Pokoknya ada sop kikil, saya pasti datang! Ilmu saya gratis, Yos," kata Yudasmoro singkat. Hati saya lega.


Sampai detik ini belum pernah ada pelatihan penulisan perjalanan (travel writing) di Surabaya. Jadi ini memang yang pertama. Tak heran jika pesertanya membludak. Awalnya kami hanya menarget 20 orang peserta saja, mengingat ruangan dalam c2o Library yang terbatas. Tapi memang rasa ingin tahu tak mudah dibendung. Pendaftarnya membengkak jadi 35 orang. Sebagian besar dari Surabaya, sisanya dari Jember, Malang, Solo dan Jogja.

Kesungguhan mereka tak kuasa kami tolak. Apalagi melahirkan generasi baru penulis perjalanan sesuai dengan visi Hifatlobrain, yaitu "documenting Indonesia". Negeri ini butuh lebih banyak travel writer yang bisa mengulas budaya dan alam Indonesia yang begitu kaya.

Yudasmoro sendiri adalah penulis jempolan yang artikelnya banyak menghiasi majalah wisata dan inflight magazine di Indonesia. Kami, para pengurus Hifatlobrain, sudah lama menjadi penggemar tulisan-tulisan Yudasmoro. Tak jarang kami mengkajinya, mendedah tulisannya, dan kagum, karena pria satu ini begitu jenial menyisipkan guyonan sarkastik dalam artikel yang ditulis.

 Suasana lesehan santai dan Lalu Fatah -salah satu panitia- 
sibuk melakukan kultwit dari materi Yudasmoro.

Para peserta berkumpul di c2o Library jam delapan pagi. Kami menyiapkan brownies dan air putih sebagai pengganjal perut bagi yang belum sarapan. Yudasmoro sendiri terlihat prima dalam setelan kemeja kasual, sambil menunggu peserta lain, ia sibuk mempersiapkan slide dan mengatur proyektor.

Materi pertama yang disampaikan adalah perihal Life of Travel Writer. Sebetulnya ini adalah materi yang disiapkan untuk mengakhiri workshop, tapi Yudasmoro malah menceritakannya di depan. Dengan menarik, ia bercerita tentang kehidupan penulis perjalanan, ia bercerita tentang pengalamannya sendiri. "Travel writer itu harus bisa kerja di bawah tekanan. Saya sering dikontak editor untuk mengirim foto saat tengah malam. Atau tiba-tiba mendapat writers block menjelang deadline," kata Yudasmoro.

"Sering orang berpikir bahwa menjadi travel writer itu adalah pekerjaan impian. Dream job. Mereka tidak tahu tantangan saat berada di lapangan. Saya pernah sakit demam tinggi, dompet tipis, hingga dicopet orang saat melakukan liputan perjalanan," sambung Yudas.

Pria bernama lengkap mirip priyayi ini mengatakan bahwa dirinya menjadi travel writer lantaran passion yang kuat untuk jalan-jalan. "Gara-gara buku Laskar Pelangi, saya akhirnya meninggalkan pekerjaan lama saya sebagai operational manager McDonalds dan beralih menjadi penulis perjalanan." kata Yudasmoro.

Setelahnya Yudasmoro berbagi materi tentang pengetahuan teknis menulis perjalanan, seperti mencari ide untuk liputan dan kaidah penulisan yang sedap dibaca. "Sebetulnya ada banyak bahan tulisan di sekitar kita. Tidak perlu traveling jauh masuk ke hutan, tulis aja hal kecil seperti kuliner lokal yang sering kita jumpai," kata Yudasmoro.

Saat berada di lapangan seorang penulis perjalanan pun harus memiliki laku yang tekun: jeli mengamati sekitar, memaksimalkan panca indera, berbaur dengan penduduk lokal, melakukan eksplorasi, hingga memanfaatkan 'peralatan perang' seperti recorder hingga kamera.

"Apa seorang travel writer harus punya DSLR? Tidak harus! Saya lebih suka kamera saku, lebih ringan dan hasilnya tak kalah bagus. Bahkan pada beberapa liputan kuliner, saya menggunakan hape Sony Erricson jadul berkamera 5MP saja. Itu sudah cukup," kata Yudasmoro."Tapi sebaiknya gunakan setelan terbaik, yaitu memotret dengan RAW atau JPEG kualitas nomor satu untuk keperluan cetak majalah."

Di tengah penjelasan, Yudasmoro membuka ranselnya. Lantas mengeluarkan kamera Olympus E-330 dengan resolusi 7MP yang sudah menemani perjalananya selama enam tahun terakhir. Syahdan, seorang fotografer ternama ingin membeli kamera Yudasmoro untuk melengkapi koleksinya. "Dulu belinya nyicil. Umurnya sudah renta, tapi kamera ini punya banyak cerita. Saya tidak akan menjualnya," kata Yudasmoro.

Peralatan perang lain yang sering dibawanya adalah sebuah tape recorder yang masih menggunakan kaset sebagai media rekam. Milik Yudasmoro bermerk Sony, dibeli bekas dan di sisi belakang ditempel plester bertuliskan namanya. "Sekarang lebih enak pake recorder digital, kapasitasnya lebih besar, bisa merekam lebih lama. Kalo pake kaset, nggak bisa wawancara lama. Bisa-bisa pitanya habis sebelum wawancara selesai," kata pria lulusan Universitas Atmajaya ini.

Yudasmoro juga mengatakan bahwa seorang penulis perjalanan sebaiknya memiliki wawasan yang luas dan imajinasi yang baik. Dua hal tersebut sangat membantu untuk menghasilkan tulisan yang ciamik. "Dua hal itu bisa diperoleh dengan banyak membaca buku atau majalah, menonton film, atau mendengarkan musik," kata Yudasmoro.

"Saya sering menggunakan judul film atau musik untuk judul tulisan yang saya bikin, dan itu banyak sekali dipraktekkan di majalah-majalah wisata." lanjut Yudasmoro sambil menunjukkan artikel tentang Pulau Sempu yang ia beri judul "Close To The Edge" yang diambil dari sebuah lagu milik band progrock, YES. 

"Jangan lagi pakai judul monoton seperti: The Hidden Paradise atau The Perfect Sunset... Judul bisa dibuat lebih kreatif lagi. Judul tulisan berfungsi untuk menarik minat pembaca. Bahkan sampai hari ini saya bahkan masih merasa kesulitan untuk mencari judul yang bagus," kata Yudasmoro.    

Ide juga bisa muncul spontan di tengah perjalanan. Kisah yang unik seringkali muncul saat kita -sebagai penulis perjalanan- mau berbaur dan memiliki rasa ingin tahu yang besar.    

Pada tengah hari, saat matahari sedang panas-panasnya membakar Surabaya, para peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan peliputan dalam kota. Uki dari Solo kebagian kota tua. Purba dari Jogja memotret House of Sampoerna. Ferzya, editor majalah wisata online The Travelist menyusuri Kampung Ampel. Artika, kontributor National Geographic Traveler meliput Bonek Shop di Tambaksari. Semua kebagian jatah penugasan, tak terkecuali peserta tertua; Handoko Suwono, yang mendapat jatah liputan Taman Bungkul bersama Gita.

Tak lama setelah mereka liputan, panas matahari digantikan hujan deras. Musim memang sulit ditebak. Sebentar kering, sebentar basah. Tapi memang menjadi penulis perjalanan harus siap menghadapi kejutan-kejutan yang terjadi di lapangan. Selain memperkaya tulisan, tentu saja rangkaian kebetulan akan memperkaya batin seorang traveler.

Jam empat sore para peserta kembali ke c2o Library sambil membawa hasil liputan. Ada yang menulis panjang, ada yang menulis superpendek. Werdha, penggemar downhill yang ikut pelatihan, hanya menulis sepanjang dua paragraf saja! Sigh.

Dengan sabar Yudasmoro membacai seluruh tulisan peserta, lalu mengulasnya satu persatu. Wajah para peserta terlihat lelah. Kami suguhkan kopi Aceh dan teh yang disediakan free flow. Beberapa potong brownies juga masih ada.

Sambil bersantai, saya sempatkan untuk mengulas foto-foto yang diambil peserta saat liputan. Hampir semuanya baik dan mengerti dasar komposisi sebuah foto.

Pelatihan malam itu berakhir pukul 8 malam. Beberapa peserta masih tetap tinggal untuk mengobrol dengan Yudasmoro, memperdalam lagi metode menjual tulisan ke majalah yang tadi pagi sudah sempat disinggung.


Kami masih sempat berfoto bersama di ujung pertemuan. Meski lelah, tapi hari ini kami mendapat pengetahuan dan pengalaman baru. "Pengalaman baru seharian belajar travel writing bersama Yudasmoro, stoked!" tulis Werdha melalui Twitter. "Terimakasih Hifatlobrain, workshop kemarin seru! Terimakasih jg suhu Yudasmoro yang sudah berbagi ilmu..." tulis Uki sebelum kembali ke Solo.

Adios kawan-kawan, semoga bermanfaat!   

NB: 
Yudasmoro akan membagi materi pelatihannya dalam bentuk PDF, dalam waktu dekat. 

Sebetulnya kami menyiapkan sebuah podcast, tapi sayangnya kualitas rekamannya kurang baik dengan banyak noise. Ini menjadi perhatian kami dalam melakukan persiapan pelatihan yang lebih baik.

Surabaya Pictorial Journey

Salah satu majalah traveling digital yang paling saya gandrungi, Matador Network, pernah memuat tulisan berjudul "10 Things To Do in Surabaya". Maka daftar di bawah ini melengkapi apa yang sudah ditulis dan tidak ditulis di Matador. Kami menyajikannya dalam foto.

Sebelum datang ke Surabaya, silahkan nikmati pictorial journey hasil jepretan peserta workshop travel writing yang diadakan Hifatlobrain beberapa waktu lalu!

Kampung Ampel


Sate Kelopo Ondemohen


Pasar Barang Antik Indragiri


Lontong Balap Rajawali


Makam Kembang Kuning


Es Krim Zangrandi


Pasar Atom


Bonek Shop


House of Sampoerna


Semanggi Suroboyo


Gereja Kepanjen 

3/10/12

[Te-We] Travel Writer


Teks dan foto: Adie Riyanto

Kalau kita perhatikan, penerbitan buku-buku panduan perjalanan di Indonesia kian marak saja. Geliat industri pariwisata beberapa tahun belakangan mendorong orang untuk berlomba-lomba melakukan perjalanan ke suatu tempat dan mendokumentasikan pengalaman bertetirah dalam bentuk tulisan. Traveling seolah menjelma menjadi suatu tren dan bagian dari gaya hidup.

Bertempat di Ruang Cempaka I, Istora Senayan Jakarta, Sabtu lalu (3/3/2012), Gol A Gong yang lebih dikenal sebagai penulis novel Balada Si Roy, menyebut dirinya “koboi tua yang turun gunung” untuk turut meramaikan ranah penerbitan buku perjalanan dengan meluncurkan buku bertajuk Te-We (Travel Writer): being traveler, being writer.

Sebenarnya, jauh sebelum Trinity yang populer dengan serial buku The Naked Traveler dan Agustinus Wibowo dengan buku Selimut Debu, Gol A Gong telah menulis catatan perjalanan yaitu sebuah buku berjudul Perjalanan Asia (Puspa Swara, 1992), The Journey (Maximalis, Grafindo, 2008), serta serial tulisan perjalanan yang dimuat di majalah Anita Cemerlang, HAI, serta tabloid Warta Pramuka.

Berbeda dengan buku panduan perjalanan pada umumnya, melalui buku setebal 103 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) ini, Gol A Gong berbagi ilmu tentang proses kreatif untuk membuat sebuah catatan perjalanan yang menarik dan menekuni profesi sebagai seorang travel writer.

Profesi sebagai travel writer sebenarnya telah ada dari dulu. Tapi, istilah ini baru happening beberapa tahun belakangan. Banyak orang yang belum tahu tentang profesi travel writer ini. Seringnya, profesi travel writer disangka sebagai travel agent. Travel writer sendiri secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai seorang penulis kisah perjalanan. Dan ini jelas sangat jauh berbeda artinya dengan travel agent.

Selain berbeda dengan travel agent, istilah travel writer juga tak selalu identik dengan backpacker, traveler, turis, dan sebagainya. Istilah tersebut hanyalah mengkotak-kotakkan cara dalam melakukan perjalanan. 

Menurut Gol A Gong, “Penulis perjalanan adalah seseorang yang menulis catatan perjalanan dengan beragam sudut pandang, bisa tentang daerah, tujuan wisata, keunggulan pariwisatanya, hotel, kebudayaan setempat, atau tentang dirinya. Bisa juga catatan itu disertai dengan tips bagaimana ke sana, makan di mana, menginap di mana, dan tiket yang murah.” (halaman 10)

Dalam dunia traveling, seorang travel writer pada dasarnya adalah juga seorang pejalan. Untuk menjadi seorang travel writer, syarat mutlaknya adalah melakukan perjalanan, melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda dengan orang kebanyakan, dan mampu menyajikannya dalam bentuk tulisan.

Dalam acara tersebut, Gol A Gong menjelaskan bahwa untuk menulis catatan perjalanan, tulislah dengan bahasa bebas, mulailah dengan menulis daerah sendiri dan pergunakan teknologi yang kini sangat memudahkan seperti adanya blog dan situs jejaring sosial yang dapat digunakan sebagai media belajar sekaligus memperkenalkan tulisan kepada pembaca.

Sedangkan untuk menyiasati biaya perjalanan, Gol A Gong memberikan contoh dengan menceritakan pengalamannya saat melakukan perjalanan yaitu dengan modal jempol (hitchhiking) naik truk dan kereta untuk keliling Indonesia. Bahkan yang lebih gila, Gol A Gong pernah bertualang keliling Asia dengan naik sepeda. “Saya susuri Singapura, Malaysia, Thailand dengan bersepeda selama sebulan, kemudian lanjut ke Laos, Myanmar, Banglades, India, Nepal, dan Pakistan.”

Gol A Gong menambahkan, “Saya juga berencana untuk melakukan perjalanan secara backpacking bersama istri ke Singapura, dan kemudian lanjut ke Kuala Lumpur, Bangkok, New Delhi, Muscat, Dubai, dan Mekkah. Perjalanan ini akan berakhir di Doha, Qatar. Saya menyebut perjalanan ini sebagai ‘Honeymoon ala Backpacker’. Jika tak ada halangan, saya akan berangkat bulan Maret ini dan pulang bulan Mei mendatang.”

Untuk menyiasati biaya akomodasi, Gol A Gong menjelaskan bahwa dirinya sudah mengontak beberapa penerbit yang setuju akan menerbitkan catatan perjalanannya dengan mengambil honor atau royalti di depan. Selain itu, selama perjalanan Gol A Gong akan memberikan materi penulisan pada komunitas-komunitas penulisan kreatif. Honor dari situ juga akan digunakan untuk menutup biaya akomodasi.

Profesi menjadi seorang travel writer kelihatannya menyenangkan. Bisa jalan-jalan ke banyak tempat, bertemu dengan orang-orang baru, dan bisa mendapatkan uang dengan menulis catatan perjalanan.

Sedangkan untuk melakukan perjalanan, menurut hemat saya, seorang travel writer tidak harus melakukan perjalanan dengan model backpacker yang Gol A Gong contohkan, dimana segala sesuatunya harus dilakukan dengan biaya seminimal mungkin.

Dan tak ada teori sahih yang mengatakan bahwa backpacker itu lebih pintar dan jeli dalam melakukan perjalanan daripada seorang yang disebut turis. Percayalah, menurut pendapat orang lokal, secara umum, Anda yang melakukan perjalanan akan dianggap sebagai turis semua, tanpa membedakan apakah Anda menyebut diri sendiri sebagai backpacker, flashpacker, traveler, dan istilah-istilah lain yang merujuk pada sebutan untuk seseorang yang melakukan perjalanan.

Saya teringat dengan penjelasan dari Agustinus Wibowo bahwa seorang travel writer yang baik bukanlah seorang penulis perjalanan yang tulisannya mampu mendorong pembaca untuk mendatangi tempat-tempat yang ditulisnya. Tapi, seorang travel writer yang baik adalah seorang penulis perjalanan yang mampu menggambarkan perasaan (feeling) ketika melakukan perjalanan dan merefleksikan perasaan tersebut dalam tulisan sehingga seolah-olah pembaca merasakan sendiri perjalanan yang diceritakan.

Senada dengan penjelasan Agustinus Wibowo, editor-in-chief majalah Jalan-Jalan dan Garuda Indonesia Magazine, Cristian Rahadiansyah mengatakan, "Bahwa untuk menjadi penulis, saya tidak membedakan antara backpacker atau premium traveler. Artikel karya pribadi dan orisinal, belum dimuat di media lain di Indonesia, sebisa mungkin dilengkapi foto dan sumber kutipan. Itu yang akan saya muat."    

Traveling itu sangat personal. Orang dapat melakukan perjalanan sesuai dengan cara yang membuat dirinya senyaman mungkin. Sedangkan untuk membuat catatan perjalanan yang menarik, yang diperlukan seorang pejalan hanyalah menambah sedikit kepekaan terhadap segala sesuatu yang orang kebanyakan jarang memerhatikan. Dan melalui tips dan trik yang dipaparkan dalam buku Travel Writer ini, Anda dapat belajar untuk (pelan-pelan) mewujudkan istilah make money with your journey.

Jadi tunggu apalagi? Segeralah melakukan perjalanan dan mulailah menulis kisahnya. Seperti yang Gol A Gong bilang, sesungguhnya, dunia ini milik orang-orang pemberani.

Adie Riyanto dan Gol A Gong saat peluncuran buku TE-WE 

______________________________________________
Kontributor











Reviewer kali ini adalah Adie Riyanto, seorang abdi negara yang suka sekali membaca dan ingin menuntaskan cita-citanya sebagai seorang penulis. Pernah berfoto bersama Nicholas Saputra dan memiliki falsafah hidup: kegantengan adalah salah satu ujian terberat kaum lelaki. Temui dia di blognya.
______________________________________________ 

5 Tips Travel Writer ala Gol A Gong


Teks: Sri Anindiati Nursastri
Foto: Adie Riyanto

Menjadi seorang penulis perjalanan bukanlah hal yang sulit. Anda hanya perlu mempersiapkan beberapa hal, termasuk mempraktekkan 5 langkah dari pengarang buku Te-We (Travel Writer), Gol A Gong.

Ada banyak keuntungan ketika Anda menjadi seorang travel writer. Terutama karena hampir setiap orang di muka bumi ini suka melakukan traveling, jalan-jalan sambil belajar hal-hal baru. Tapi, selama ini traveling identik dengan ajang 'menghabiskan uang', walaupun dengan cara yang positif.

Asal Anda tahu saja, menurut Gol A Gong, justru traveling adalah 'cara positif menghasilkan uang'.

Bagaimana caranya? Tentu saja dengan menjadi seorang travel writer. Hal ini diungkapkan Gol A Gong saat peluncuran buku Te-We (Travel Writer) di Ruang Cempaka I, Istora Senayan, Sabtu (3/3/2012) kemarin.

Saat ditemui seusai acara peluncuran buku, Gol A Gong berbagi beberapa tips bagi para travel writer pemula. Berikut 5 langkah menjadi travel writer ala Gol A Gong:

1. Riset pustaka
Sebelum pergi ke sebuah kota, Anda harus mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang kota itu. Selain berselancar di dunia maya, Anda juga bisa melakukan riset dengan membaca koran, mendengarkan radio, menonton televisi, dan tentu saja membaca buku. Hal ini sangat penting agar Anda tahu kondisi dan apa saja yang harus disiapkan ketika traveling.

2. Bergabung dengan komunitas
Cobalah bergabung dengan komunitas-komunitas backpacker dan traveler. Selain agar tak ketinggalan informasi, berbagai destinasi yang disarankan oleh anggotanya bisa saja jadi tujuan Anda selanjutnya. Lewat berbagai komunitas ini, Anda juga bisa mendapat teman bahkan host ketika sedang berada di sebuah kota atau negara.

3. Cek kesehatan sebelum berangkat
Kesehatan adalah hal yang krusial. Jangan abaikan kesehatan Anda karena itu akan berdampak buruk pada kegiatan traveling. Otomatis, menulis perjalanan juga jadi tidak maksimal. Pastikan tubuh Anda sehat dan fit saat memulai dan selama perjalanan.

4. Menulis perjalanan
Ini dia esensi dari seorang travel writer. Menulis cerita perjalanan bisa dengan bahasa apa saja, tergantung keinginan. Mudahnya akses informasi di zaman sekarang memungkinkan Anda menulis saat traveling. Dengan kata lain, tak perlu menunggu perjalanan selesai untuk bisa berbagi cerita lewat tulisan!

5. Membuat blog perjalanan
Blog adalah media paling praktis agar seluruh dunia bisa membaca cerita perjalanan Anda. Banyak traveler langsung meng-update blog mereka saat itu juga, ketika mereka tengah traveling di suatu tempat. Jika Anda sudah cukup merasa percaya diri dengan isi blog Anda, coba saja kirimkan naskahnya ke beberapa penerbit. Anda bisa membuat buku berdasarkan pengalaman traveling sendiri, seperti yang dilakukan oleh banyak travel writer sejak bertahun silam.

PS:
Disadur dan diubah seperlunya dari artikel Sri Anindiati Nursastri di DetikTravel. Dan makasih mas Adie Riyanto untuk fotonya :)

Travel Writing Workshop with Yudasmoro

Click to enlarge. 

TRAVEL WRITING WORKSHOP
by Hifatlobrain Travel Institute

17 Maret 2012
08.00 WIB - selesai
di c2o Library
Jl. Cipto 20 Surabaya

Biaya SPP Rp 15.000,-

Dosen:
Yudasmoro Minasiani
Freelance travel writer, kontributor utama majalah JalanJalan dan Garuda Inflight Magazine.
@wordstraveler

Mata kuliah:
Writing concept (2 sks)
Getting ideas (2 sks)
Glimpse of travel photography (2 sks)
Proposing magazine (3 sks)
Life of travel writer (8 sks)

Pendaftaran rencana studi:
ayos@hifatlobrain.net

TEMPAT TERBATAS UNTUK 20 ORANG SAHAJA.

3/7/12

Currently.

Support us, we're currently working hard on it. 
more info: travelerinresidence.wordpress.com

3/5/12

Travel Video Workshop on FOCUS 2012


Teks: Dwi Putri Ratnasari
Foto: Purwo Subagiyo & Winda Savitri

Segala sesuatu yang ada di Jakarta rasanya memang terlalu besar untuk ukuran makhluk imut seperti saya. Sebutlah saya ndeso atau katrok, tapi menyebrangi shelter busway dari Bendungan Hilir ke Senayan, membuat tumpukan kentang yang saya lahap saat sarapan sukses tak meninggalkan rasa kenyang di perut. Juawuh buanget. Sampai di venue, lah kok masih sempat-sempatnya pula saya tersesat di arena FOCUS 2012 yang begitu luas.

Beruntunglah saya sedang tak membawa banyak uang, pameran kemarin memang cukup berpotensi menggoda saya yang seringkali tak kuat iman bila melihat barang obral. Lantas, karena kere, saya hanya berkonsentrasi di manakah letak Summit Lounge?
Ki-ka: Purwo Subagiyo, Giri Prasetyo, Winda Savitri, Lukki Sumarjo, Ary Hartanto, 
Dwi Putri Ratnasari, Opiqsaja, Tekno Bolang.

Setelah lebih dari setengah jam mengitari berbagai macam keramaian, akhirnya saya melihat segerombolan orang yang saya kenal sedang leyeh-leyeh di lantai. Mereka kebanyakan menggunakan kaos hitam dengan gambar yellow border di bagian tengahnya. Giri Prasetyo, Purwo Subagio, Lukki Sumarjo, dan Winda Savitri ada di sana. Haaah, lega rasanya bertemu mereka. Tak lama setelah datang pula Umbu Tekno Bolang yang baru saja menuntaskan perjalanan 17 hari di bumi Nusa Tenggara.

Lama tak jumpa, kami berfoto-foto terlebih dahulu. Selain itu untuk mencairkan ketegangan yang tampak dari wajah Giri Prasetyo selama beberapa hari terakhir di Jakarta. Sepertinya, lelaki muda tampak agak mual, seperti biasanya ketika dia masuk lift.

Yap, setengah jam kemudian, Giri menjadi pembicara tunggal dalam event kece yang digelar oleh Forum National Geographic Indonesia dalam pameran FOCUS 2012 ini. Dia akan memaparkan berbagai tips dan trik bagaimana membuat travel video agar tampak sedaps dan inspiratif.

Acara dipandu oleh moderator handal, digital strategist National Geographic Indonesia, Purwo Subagiyo. Maka Giri pun memulai menampilkan materi yang telah dia susun dalam bentuk slideshow pada 70 orang peserta yang memenuhi ruangan.

Why travel video?

Menurut lelaki yang siang itu menggunakan setelan jeans dan kaos berwarna hitam, video adalah media yang sangat persuasif. Penyampaiannya tergantung pada mood yang diinginkan oleh sang videografer. Berbeda dengan foto, dokumentasi berupa video mengandung rangkaian drama, alur cerita, audio, emosi, ekspresi serta pengalaman. Selain itu media ini memungkinkan untuk melakukan eksplorasi yang lebih luas.

Giri lalu memutar satu video yang dia buat karena kegelisahan dan kerinduannya akan laut.


Saya pribadi sudah melihat video ini sejak lama. Dan, jujur saja, saya sangat terprovokasi dengan audio dan mood yang berhasil hadir dalam video ini. Gara-gara "Poem of the Sea" ini pula, jika saya menemukan dermaga saat sedang traveling di sebuah destinasi, maka single "To Build Home" inilah yang akan saya putar berkali-kali di iPod. Hahaha! Maka sepertinya saya harus setuju jika video dikatakan sebagai media persuasif.

Sekarang ini mulai banyak traveler Indonesia yang mendokumentasikan perjalanannya dalam video dan menyebarkannya melalui internet. Tentu saja ini menyenangkan! Tapi pertanyaan berikutnya, bagaimana cara membuat travel video yang menarik?

Menurut Giri, seorang videografer hendaknya memiliki kedekatan dengan subjek pada saat mengambil gambar sehingga akan mendapatkan shot yang intim. Tak perlu menceritakan opini kita tentang sebuah destinasi. Let the destination speak by itself! Karena itulah, seorang videografer hendaknya harus jujur.

Apalagi berbicara masalah traveling. Di mana shit happened bisa saja terjadi secara tak terduga. Jadi tak perlu menghapus footage tersebut dan menggantinya dengan yang indah-indah saja. Justru, kisah sial dan susah ini akan memberikan warna yang menarik dalam alur cerita video perjalanan. Jangan lupa pula, rekam berbagai momen menarik di tengah perjalanan.

Pemilihan backsound video juga memegang peranan penting untuk memperkuat feel dari sebuah video. Tapi, itu bukan berarti, alur video yang harus mengikuti musik lho ya! Kalo yang ini sih, sama saja seperti video klip lagu. Banyak yang terjebak di sini. Makanya, saya pribadi menyarankan untuk sering-sering mendengarkan stok musik terutama free music yang disediakan, misalnya, oleh Vimeo.

Ada beberapa klasifikasi untuk membedakan video, yaitu naratif, observatif dan eksperimental. Giri mencontohkan videonya "Story of Caci" sebagai video naratif, di mana ada seorang pembicara yang menceritakan isi keseluruhan video.

Sedangkan video observatif merekam semua kegiatan tanpa ada narasi. Video eksperimental mengeksplor gambar-gambar aneh, abstrak yang mengandung semiotika metafora atau narasi poetica.

Oke, saat sudah menentukan ingin membuat video macam apa sebelum traveling, sebaiknya lakukan juga riset kecil-kecilan tentang kondisi destinasi. Apakah perlu membawa lensa tele? Atau cukup dengan lensa wide dan prime lens saja? Apakah ada spot underwater?

Selain itu untuk menghindari tumpukan shot yang mubadzir, sempatkan juga menyusun draft berupa shot list yang akan diambil. Walaupun pasti ada hal tak terduga yang seringkali terjadi dalam perjalanan.

Untuk menghindari gambar getar (shaky) saat memegang HDSLR, Giri memberikan tips, yaitu menahan nafas dan berdiri dengan meregangkan kedua kaki. Hal penting lainnya untuk meningkatkan kualitas video yang kita buat, Giri memberi petuah agar rajin melihat berbagai referensi video keren di dunia maya.

Sementara untuk setting video HDSLR, Giri merumuskan beberapa hal esensial, di antaranya adalah:

-Resolusi, Full HD atau HD
-FPS 24 atau 25 fps atau slow motion 60 fps
-Shutter speed
-Diafragma
-ISO, Gunakan kelipatan 160.
-White Balance, tergantung lokasi dan sesuaikan dengan emosi video.
-Picture style, untuk menghidupkan mood dalam cerita.
-Fokus, lebih banyak menggunakan manual fokus, karena mode autofocus HDSLR buruk.

Overall, menurut saya penampilan Giri selama satu jam lebih itu cukup memukau ya, apalagi dia juga memutar beberapa video andalannya yang mengundang banyak tepuk tangan dari audiens. Tapi untuk masalah yang teknis-teknis pada saat editing gitu, terkadang saya kurang dong dengan istilah yang dipakai. Seperti H.264. Makhluk apa itu saya juga ngga ngeh. Terus… hm, apalagi ya, untuk yang newbie mungkin bisa dikasih sedikit bahan pembelajaran untuk editing dasar. Mungkin rekomendasi situs-situs tertentu sekaligus cara mencari free music untuk ditempel ke video kita. :)

Sebaiknya Giri bikin ebook kali ya yang menjelaskan semua dari A-Z, and it will be great kalo sekaligus ngadain workshop bikin video bareng. Hehehe.
*Akan kami update dengan materi Giri, jika sudah diaplot ke Scribd. 

3/3/12

Indonesia on LIFE Magazine


"Jadi dalam pikiran saya, 
travelling itu bisa meninggalkan jejak sejarah. 
Mendokumentasikan sesuatu untuk orang banyak. 
Tak hanya diri sendiri..."
(Farchan Noor Rachman, 2012)

Farchan Noor Rachman, seorang teman penyuka jalan yang juga nayapraja pajak, kemarin siang membuat serial tweet tentang perjalanan Alfred Russel Wallace yang tertuang dalam buku babon The Malay Archipelago. Dua minggu lalu saya membeli buku terbitan Komunitas Bambu ini karena Gramedia sedang diskon. Saya mungkin tak bakal habis membacanya, padahal ingin sekali menulis reviewnya. Bukunya tebal dan penuh catatan keanekaragaman fauna Nusantara. Pfuuh.

Selain Wallace, tweet Farchan juga mengingatkan saya pada hal lain. Yaitu majalah fotografi LIFE yang pernah menerbitkan edisi khusus tentang Indonesia di tahun 1950. LIFE adalah majalah terkemuka untuk urusan fotojurnalistik, mereka memberi penugasan pada Co Rentmeester untuk berkelana keliling Indonesia dan memotret keadaan sosial budaya di dalamnya.

Co Rentmeester berfoto bersama dengan anak-anak Bromo 1968

Saat itu Indonesia masih muda. Majalah LIFE menyebut negara ini sebagai zamrud yang memanjang di khatulistiwa, negara yang mengagumkan, indah tiada tara, dan subur.

Rentmeester berkeliling Jawa, menembus rimba Kalimantan tempat habitat Orangutan, hingga menyaksikan kekayaan budaya Bali yang tak mudah luntur. Beberapa foto Rentmeester mengindikasikan proses pengambilan yang intim. Sebuah foto tentang kelahiran bayi di Jawa tentu saja diambil karena melalui proses pendekatan yang tidak gampang. Selain itu foto ini kuat dari segi isi, karena mampu menggambarkan ledakan penduduk Jawa yang masih terasa hingga saat ini.

Namun akhirnya Rentmeester tidak bisa lepas dari mata seorang 'bule' yang sedang melihat kemegahan 'mooi indie'. Foto-foto lanskap yang ia hasilkan memiliki seluruh elemen tersebut: barisan sawah berundak, gemunung yang tampak di balik halimun, atau seorang gembala yang sedang menuntun kerbau. Sebuah romantisme yang tak pernah hilang dari permukaan selembar postcard tentang Indonesia. 

Saya suka foto-foto milik Rentmeester. Ia memotret dengan jujur dalam skala estetika yang pas. Tidak kurang, juga tidak lebih. Pun disadari atau tidak, ia "mendokumentasikan sesuatu untuk orang banyak. Tak hanya diri sendiri..."
 
Ini adalah beberapa koleksi foto Co Rentmeester tentang Indonesia, diambil dari arsip majalah LIFE. Mana foto yang paling Anda suka? 

Note:

Di c2o Library, Surabaya, terdapat buku Three Faces of Indonesia, kumpulan foto Co Rentmeester selama berkeliling Nusantara.