Pages

3/3/12

Indonesia on LIFE Magazine


"Jadi dalam pikiran saya, 
travelling itu bisa meninggalkan jejak sejarah. 
Mendokumentasikan sesuatu untuk orang banyak. 
Tak hanya diri sendiri..."
(Farchan Noor Rachman, 2012)

Farchan Noor Rachman, seorang teman penyuka jalan yang juga nayapraja pajak, kemarin siang membuat serial tweet tentang perjalanan Alfred Russel Wallace yang tertuang dalam buku babon The Malay Archipelago. Dua minggu lalu saya membeli buku terbitan Komunitas Bambu ini karena Gramedia sedang diskon. Saya mungkin tak bakal habis membacanya, padahal ingin sekali menulis reviewnya. Bukunya tebal dan penuh catatan keanekaragaman fauna Nusantara. Pfuuh.

Selain Wallace, tweet Farchan juga mengingatkan saya pada hal lain. Yaitu majalah fotografi LIFE yang pernah menerbitkan edisi khusus tentang Indonesia di tahun 1950. LIFE adalah majalah terkemuka untuk urusan fotojurnalistik, mereka memberi penugasan pada Co Rentmeester untuk berkelana keliling Indonesia dan memotret keadaan sosial budaya di dalamnya.

Co Rentmeester berfoto bersama dengan anak-anak Bromo 1968

Saat itu Indonesia masih muda. Majalah LIFE menyebut negara ini sebagai zamrud yang memanjang di khatulistiwa, negara yang mengagumkan, indah tiada tara, dan subur.

Rentmeester berkeliling Jawa, menembus rimba Kalimantan tempat habitat Orangutan, hingga menyaksikan kekayaan budaya Bali yang tak mudah luntur. Beberapa foto Rentmeester mengindikasikan proses pengambilan yang intim. Sebuah foto tentang kelahiran bayi di Jawa tentu saja diambil karena melalui proses pendekatan yang tidak gampang. Selain itu foto ini kuat dari segi isi, karena mampu menggambarkan ledakan penduduk Jawa yang masih terasa hingga saat ini.

Namun akhirnya Rentmeester tidak bisa lepas dari mata seorang 'bule' yang sedang melihat kemegahan 'mooi indie'. Foto-foto lanskap yang ia hasilkan memiliki seluruh elemen tersebut: barisan sawah berundak, gemunung yang tampak di balik halimun, atau seorang gembala yang sedang menuntun kerbau. Sebuah romantisme yang tak pernah hilang dari permukaan selembar postcard tentang Indonesia. 

Saya suka foto-foto milik Rentmeester. Ia memotret dengan jujur dalam skala estetika yang pas. Tidak kurang, juga tidak lebih. Pun disadari atau tidak, ia "mendokumentasikan sesuatu untuk orang banyak. Tak hanya diri sendiri..."
 
Ini adalah beberapa koleksi foto Co Rentmeester tentang Indonesia, diambil dari arsip majalah LIFE. Mana foto yang paling Anda suka? 

Note:

Di c2o Library, Surabaya, terdapat buku Three Faces of Indonesia, kumpulan foto Co Rentmeester selama berkeliling Nusantara.

3 comments:

degreat said...

saya doyan poto pertama dan no2 dr bawah..

Muhammad Fadli said...

Melihat hal seperti ini saya selalu iri, kapan ya Indonesia diceritakan seperti itu dalam sudut pandang orang kita sendiri. Sayang di sini ga pernah ada lembaga spt LIFE dan NG society, jadi harus usaha masing2,..berat...

Ayos Purwoaji said...

Saya juga kadang iri sama lembaga sekelas Smithsonian mas, tapi apa mau dikata. Tampaknya usaha yang berat ini memang harus dijalani, sdikit demi sedikit...