Pages

3/10/12

[Te-We] Travel Writer


Teks dan foto: Adie Riyanto

Kalau kita perhatikan, penerbitan buku-buku panduan perjalanan di Indonesia kian marak saja. Geliat industri pariwisata beberapa tahun belakangan mendorong orang untuk berlomba-lomba melakukan perjalanan ke suatu tempat dan mendokumentasikan pengalaman bertetirah dalam bentuk tulisan. Traveling seolah menjelma menjadi suatu tren dan bagian dari gaya hidup.

Bertempat di Ruang Cempaka I, Istora Senayan Jakarta, Sabtu lalu (3/3/2012), Gol A Gong yang lebih dikenal sebagai penulis novel Balada Si Roy, menyebut dirinya “koboi tua yang turun gunung” untuk turut meramaikan ranah penerbitan buku perjalanan dengan meluncurkan buku bertajuk Te-We (Travel Writer): being traveler, being writer.

Sebenarnya, jauh sebelum Trinity yang populer dengan serial buku The Naked Traveler dan Agustinus Wibowo dengan buku Selimut Debu, Gol A Gong telah menulis catatan perjalanan yaitu sebuah buku berjudul Perjalanan Asia (Puspa Swara, 1992), The Journey (Maximalis, Grafindo, 2008), serta serial tulisan perjalanan yang dimuat di majalah Anita Cemerlang, HAI, serta tabloid Warta Pramuka.

Berbeda dengan buku panduan perjalanan pada umumnya, melalui buku setebal 103 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) ini, Gol A Gong berbagi ilmu tentang proses kreatif untuk membuat sebuah catatan perjalanan yang menarik dan menekuni profesi sebagai seorang travel writer.

Profesi sebagai travel writer sebenarnya telah ada dari dulu. Tapi, istilah ini baru happening beberapa tahun belakangan. Banyak orang yang belum tahu tentang profesi travel writer ini. Seringnya, profesi travel writer disangka sebagai travel agent. Travel writer sendiri secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai seorang penulis kisah perjalanan. Dan ini jelas sangat jauh berbeda artinya dengan travel agent.

Selain berbeda dengan travel agent, istilah travel writer juga tak selalu identik dengan backpacker, traveler, turis, dan sebagainya. Istilah tersebut hanyalah mengkotak-kotakkan cara dalam melakukan perjalanan. 

Menurut Gol A Gong, “Penulis perjalanan adalah seseorang yang menulis catatan perjalanan dengan beragam sudut pandang, bisa tentang daerah, tujuan wisata, keunggulan pariwisatanya, hotel, kebudayaan setempat, atau tentang dirinya. Bisa juga catatan itu disertai dengan tips bagaimana ke sana, makan di mana, menginap di mana, dan tiket yang murah.” (halaman 10)

Dalam dunia traveling, seorang travel writer pada dasarnya adalah juga seorang pejalan. Untuk menjadi seorang travel writer, syarat mutlaknya adalah melakukan perjalanan, melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda dengan orang kebanyakan, dan mampu menyajikannya dalam bentuk tulisan.

Dalam acara tersebut, Gol A Gong menjelaskan bahwa untuk menulis catatan perjalanan, tulislah dengan bahasa bebas, mulailah dengan menulis daerah sendiri dan pergunakan teknologi yang kini sangat memudahkan seperti adanya blog dan situs jejaring sosial yang dapat digunakan sebagai media belajar sekaligus memperkenalkan tulisan kepada pembaca.

Sedangkan untuk menyiasati biaya perjalanan, Gol A Gong memberikan contoh dengan menceritakan pengalamannya saat melakukan perjalanan yaitu dengan modal jempol (hitchhiking) naik truk dan kereta untuk keliling Indonesia. Bahkan yang lebih gila, Gol A Gong pernah bertualang keliling Asia dengan naik sepeda. “Saya susuri Singapura, Malaysia, Thailand dengan bersepeda selama sebulan, kemudian lanjut ke Laos, Myanmar, Banglades, India, Nepal, dan Pakistan.”

Gol A Gong menambahkan, “Saya juga berencana untuk melakukan perjalanan secara backpacking bersama istri ke Singapura, dan kemudian lanjut ke Kuala Lumpur, Bangkok, New Delhi, Muscat, Dubai, dan Mekkah. Perjalanan ini akan berakhir di Doha, Qatar. Saya menyebut perjalanan ini sebagai ‘Honeymoon ala Backpacker’. Jika tak ada halangan, saya akan berangkat bulan Maret ini dan pulang bulan Mei mendatang.”

Untuk menyiasati biaya akomodasi, Gol A Gong menjelaskan bahwa dirinya sudah mengontak beberapa penerbit yang setuju akan menerbitkan catatan perjalanannya dengan mengambil honor atau royalti di depan. Selain itu, selama perjalanan Gol A Gong akan memberikan materi penulisan pada komunitas-komunitas penulisan kreatif. Honor dari situ juga akan digunakan untuk menutup biaya akomodasi.

Profesi menjadi seorang travel writer kelihatannya menyenangkan. Bisa jalan-jalan ke banyak tempat, bertemu dengan orang-orang baru, dan bisa mendapatkan uang dengan menulis catatan perjalanan.

Sedangkan untuk melakukan perjalanan, menurut hemat saya, seorang travel writer tidak harus melakukan perjalanan dengan model backpacker yang Gol A Gong contohkan, dimana segala sesuatunya harus dilakukan dengan biaya seminimal mungkin.

Dan tak ada teori sahih yang mengatakan bahwa backpacker itu lebih pintar dan jeli dalam melakukan perjalanan daripada seorang yang disebut turis. Percayalah, menurut pendapat orang lokal, secara umum, Anda yang melakukan perjalanan akan dianggap sebagai turis semua, tanpa membedakan apakah Anda menyebut diri sendiri sebagai backpacker, flashpacker, traveler, dan istilah-istilah lain yang merujuk pada sebutan untuk seseorang yang melakukan perjalanan.

Saya teringat dengan penjelasan dari Agustinus Wibowo bahwa seorang travel writer yang baik bukanlah seorang penulis perjalanan yang tulisannya mampu mendorong pembaca untuk mendatangi tempat-tempat yang ditulisnya. Tapi, seorang travel writer yang baik adalah seorang penulis perjalanan yang mampu menggambarkan perasaan (feeling) ketika melakukan perjalanan dan merefleksikan perasaan tersebut dalam tulisan sehingga seolah-olah pembaca merasakan sendiri perjalanan yang diceritakan.

Senada dengan penjelasan Agustinus Wibowo, editor-in-chief majalah Jalan-Jalan dan Garuda Indonesia Magazine, Cristian Rahadiansyah mengatakan, "Bahwa untuk menjadi penulis, saya tidak membedakan antara backpacker atau premium traveler. Artikel karya pribadi dan orisinal, belum dimuat di media lain di Indonesia, sebisa mungkin dilengkapi foto dan sumber kutipan. Itu yang akan saya muat."    

Traveling itu sangat personal. Orang dapat melakukan perjalanan sesuai dengan cara yang membuat dirinya senyaman mungkin. Sedangkan untuk membuat catatan perjalanan yang menarik, yang diperlukan seorang pejalan hanyalah menambah sedikit kepekaan terhadap segala sesuatu yang orang kebanyakan jarang memerhatikan. Dan melalui tips dan trik yang dipaparkan dalam buku Travel Writer ini, Anda dapat belajar untuk (pelan-pelan) mewujudkan istilah make money with your journey.

Jadi tunggu apalagi? Segeralah melakukan perjalanan dan mulailah menulis kisahnya. Seperti yang Gol A Gong bilang, sesungguhnya, dunia ini milik orang-orang pemberani.

Adie Riyanto dan Gol A Gong saat peluncuran buku TE-WE 

______________________________________________
Kontributor











Reviewer kali ini adalah Adie Riyanto, seorang abdi negara yang suka sekali membaca dan ingin menuntaskan cita-citanya sebagai seorang penulis. Pernah berfoto bersama Nicholas Saputra dan memiliki falsafah hidup: kegantengan adalah salah satu ujian terberat kaum lelaki. Temui dia di blognya.
______________________________________________ 

3 comments:

jeri kusumaa said...

Sepertinya menarik ini, travel writing... cocok buat saya yang baru belajar menulis catatan perjalanan di blog. Memulai tahapan baru dari yg sebelumnya self traveler jadi share traveler :)

Tekno aka Bolang said...

Aku sudah baca tuntas Te-We nya..kerennnn

nicamperenique said...

saya pinjam fotonya buat tulisan saya yah :)