Pages

3/5/12

Travel Video Workshop on FOCUS 2012


Teks: Dwi Putri Ratnasari
Foto: Purwo Subagiyo & Winda Savitri

Segala sesuatu yang ada di Jakarta rasanya memang terlalu besar untuk ukuran makhluk imut seperti saya. Sebutlah saya ndeso atau katrok, tapi menyebrangi shelter busway dari Bendungan Hilir ke Senayan, membuat tumpukan kentang yang saya lahap saat sarapan sukses tak meninggalkan rasa kenyang di perut. Juawuh buanget. Sampai di venue, lah kok masih sempat-sempatnya pula saya tersesat di arena FOCUS 2012 yang begitu luas.

Beruntunglah saya sedang tak membawa banyak uang, pameran kemarin memang cukup berpotensi menggoda saya yang seringkali tak kuat iman bila melihat barang obral. Lantas, karena kere, saya hanya berkonsentrasi di manakah letak Summit Lounge?
Ki-ka: Purwo Subagiyo, Giri Prasetyo, Winda Savitri, Lukki Sumarjo, Ary Hartanto, 
Dwi Putri Ratnasari, Opiqsaja, Tekno Bolang.

Setelah lebih dari setengah jam mengitari berbagai macam keramaian, akhirnya saya melihat segerombolan orang yang saya kenal sedang leyeh-leyeh di lantai. Mereka kebanyakan menggunakan kaos hitam dengan gambar yellow border di bagian tengahnya. Giri Prasetyo, Purwo Subagio, Lukki Sumarjo, dan Winda Savitri ada di sana. Haaah, lega rasanya bertemu mereka. Tak lama setelah datang pula Umbu Tekno Bolang yang baru saja menuntaskan perjalanan 17 hari di bumi Nusa Tenggara.

Lama tak jumpa, kami berfoto-foto terlebih dahulu. Selain itu untuk mencairkan ketegangan yang tampak dari wajah Giri Prasetyo selama beberapa hari terakhir di Jakarta. Sepertinya, lelaki muda tampak agak mual, seperti biasanya ketika dia masuk lift.

Yap, setengah jam kemudian, Giri menjadi pembicara tunggal dalam event kece yang digelar oleh Forum National Geographic Indonesia dalam pameran FOCUS 2012 ini. Dia akan memaparkan berbagai tips dan trik bagaimana membuat travel video agar tampak sedaps dan inspiratif.

Acara dipandu oleh moderator handal, digital strategist National Geographic Indonesia, Purwo Subagiyo. Maka Giri pun memulai menampilkan materi yang telah dia susun dalam bentuk slideshow pada 70 orang peserta yang memenuhi ruangan.

Why travel video?

Menurut lelaki yang siang itu menggunakan setelan jeans dan kaos berwarna hitam, video adalah media yang sangat persuasif. Penyampaiannya tergantung pada mood yang diinginkan oleh sang videografer. Berbeda dengan foto, dokumentasi berupa video mengandung rangkaian drama, alur cerita, audio, emosi, ekspresi serta pengalaman. Selain itu media ini memungkinkan untuk melakukan eksplorasi yang lebih luas.

Giri lalu memutar satu video yang dia buat karena kegelisahan dan kerinduannya akan laut.


Saya pribadi sudah melihat video ini sejak lama. Dan, jujur saja, saya sangat terprovokasi dengan audio dan mood yang berhasil hadir dalam video ini. Gara-gara "Poem of the Sea" ini pula, jika saya menemukan dermaga saat sedang traveling di sebuah destinasi, maka single "To Build Home" inilah yang akan saya putar berkali-kali di iPod. Hahaha! Maka sepertinya saya harus setuju jika video dikatakan sebagai media persuasif.

Sekarang ini mulai banyak traveler Indonesia yang mendokumentasikan perjalanannya dalam video dan menyebarkannya melalui internet. Tentu saja ini menyenangkan! Tapi pertanyaan berikutnya, bagaimana cara membuat travel video yang menarik?

Menurut Giri, seorang videografer hendaknya memiliki kedekatan dengan subjek pada saat mengambil gambar sehingga akan mendapatkan shot yang intim. Tak perlu menceritakan opini kita tentang sebuah destinasi. Let the destination speak by itself! Karena itulah, seorang videografer hendaknya harus jujur.

Apalagi berbicara masalah traveling. Di mana shit happened bisa saja terjadi secara tak terduga. Jadi tak perlu menghapus footage tersebut dan menggantinya dengan yang indah-indah saja. Justru, kisah sial dan susah ini akan memberikan warna yang menarik dalam alur cerita video perjalanan. Jangan lupa pula, rekam berbagai momen menarik di tengah perjalanan.

Pemilihan backsound video juga memegang peranan penting untuk memperkuat feel dari sebuah video. Tapi, itu bukan berarti, alur video yang harus mengikuti musik lho ya! Kalo yang ini sih, sama saja seperti video klip lagu. Banyak yang terjebak di sini. Makanya, saya pribadi menyarankan untuk sering-sering mendengarkan stok musik terutama free music yang disediakan, misalnya, oleh Vimeo.

Ada beberapa klasifikasi untuk membedakan video, yaitu naratif, observatif dan eksperimental. Giri mencontohkan videonya "Story of Caci" sebagai video naratif, di mana ada seorang pembicara yang menceritakan isi keseluruhan video.

Sedangkan video observatif merekam semua kegiatan tanpa ada narasi. Video eksperimental mengeksplor gambar-gambar aneh, abstrak yang mengandung semiotika metafora atau narasi poetica.

Oke, saat sudah menentukan ingin membuat video macam apa sebelum traveling, sebaiknya lakukan juga riset kecil-kecilan tentang kondisi destinasi. Apakah perlu membawa lensa tele? Atau cukup dengan lensa wide dan prime lens saja? Apakah ada spot underwater?

Selain itu untuk menghindari tumpukan shot yang mubadzir, sempatkan juga menyusun draft berupa shot list yang akan diambil. Walaupun pasti ada hal tak terduga yang seringkali terjadi dalam perjalanan.

Untuk menghindari gambar getar (shaky) saat memegang HDSLR, Giri memberikan tips, yaitu menahan nafas dan berdiri dengan meregangkan kedua kaki. Hal penting lainnya untuk meningkatkan kualitas video yang kita buat, Giri memberi petuah agar rajin melihat berbagai referensi video keren di dunia maya.

Sementara untuk setting video HDSLR, Giri merumuskan beberapa hal esensial, di antaranya adalah:

-Resolusi, Full HD atau HD
-FPS 24 atau 25 fps atau slow motion 60 fps
-Shutter speed
-Diafragma
-ISO, Gunakan kelipatan 160.
-White Balance, tergantung lokasi dan sesuaikan dengan emosi video.
-Picture style, untuk menghidupkan mood dalam cerita.
-Fokus, lebih banyak menggunakan manual fokus, karena mode autofocus HDSLR buruk.

Overall, menurut saya penampilan Giri selama satu jam lebih itu cukup memukau ya, apalagi dia juga memutar beberapa video andalannya yang mengundang banyak tepuk tangan dari audiens. Tapi untuk masalah yang teknis-teknis pada saat editing gitu, terkadang saya kurang dong dengan istilah yang dipakai. Seperti H.264. Makhluk apa itu saya juga ngga ngeh. Terus… hm, apalagi ya, untuk yang newbie mungkin bisa dikasih sedikit bahan pembelajaran untuk editing dasar. Mungkin rekomendasi situs-situs tertentu sekaligus cara mencari free music untuk ditempel ke video kita. :)

Sebaiknya Giri bikin ebook kali ya yang menjelaskan semua dari A-Z, and it will be great kalo sekaligus ngadain workshop bikin video bareng. Hehehe.
*Akan kami update dengan materi Giri, jika sudah diaplot ke Scribd. 

6 comments:

Tekno aka Bolang said...

Ah kaos kuning ku ternyta membuatku terlihat meski kulit menggelap ha ha...Ngakak baca Umbu tekno Bolang nya putri ha ha. Btw Matur suwun cak giri sharingnya berguna sekali buat newbie macam saya ini. Jangan segan-segan menurunkan ilmu kanuragan nya ke saya ya... Sukses selalu buat kita semua. AMin

Lukki Sumarjo said...

pembicaranya keren dang ganteng ya... hmmmm.... :D

Minta Mas Giri segera bikin ebooknya.

Anonymous said...

mbuh is @opiqsaja. thanks

Ayos Purwoaji said...

Sudah diganti mas :)

wira said...

wah menyenangkan sekali sepertinya, sayang gak sempat dateng kemaren. Pengen bikin travel video juga, tapi cuma punya kamera jadul yang gak bisa pidio #caripinjeman

Fahmi said...

another nice Video, terus berkarya, :D