Pages

4/15/12

Sate Maranggi


Teks dan foto: Winda Savitri

Baru kali ini saya ke Purwakarta, mengantar kakak kondangan sekaligus ingin mengunjungi Waduk Cirata. Sebelumnya saya mampir ke warung makan 'Cibungur' yang menjual sate Maranggi. Saya ingin tahu seperti apa rasanya.

Tak heran jika banyak pengunjung yang datang dari jauh khusus untuk menikmati sajian sate yang tidak biasa ini. "Saya dari Tanah Kusir, Jakarta. Ke sini cuman pengen makan sate Maranggi" sahut seorang ibu di seberang meja saya.

Sebenarnya apa sih yang membuat Maranggi berbeda? Bahannya sama, bisa dipilih dari sapi, kambing atau ayam. Beda Maranggi dengan sate lainnya adalah, sate ini tidak memakai bumbu kacang sebagai sausnya, melainkan serupa sambal. Yaitu campuran tomat yang diiris tipis dengan cabai kecil hijau yang telah dihaluskan. Tak lupa perasan jeruk limau sebagai balancing. Wuhu, segar dan cukup membuat saya bermandi keringat saat mencicipinya.

Sate ini memiliki tekstur daging yang empuk. Bumbu lengkuasnya cukup rata di setiap irisan daging. Begitu dikunyah, hmm, manisnya terasa.

Maranggi bisa hadir sendiri, bisa juga dengan beberapa pilihan menu. Umumnya Maranggi ditemani sop, gulai, dan juga es kelapa muda.

Untuk perjalanan yang ditempuh sekitar 50 km dari rumah, Maranggi totally worthy. Letaknya juga tak jauh dari KM60 tol Cikampek dari arah Jakarta. Saya hitung di Google Maps jaraknya 95 kilometer dari pusat Jakarta, dengan mobil berkecepatan sedang, dalam dua jam kita bisa mencapai Purwakarta.

Harganya cukup oke, daripada dibuat ke mall. Sepuluh tusuk sate kambing, sepuluh tusuk sate sapi, semangkuk sop daging, tiga piring nasi putih, plus tiga es kelapa muda dibandrol seratus ribu rupiah. Menarik bukan?

Maka jika oom dan tante sekalian ada yang plesir ke Purwakarta atau sekitarnya, bolehlah mencoba sensasi sate Maranggi 'Cibungur' yang ada di daerah Sadang ini.

Bon appetite!

4/14/12

A Million Experiences


Teks: Sri Anindiati Nursastri
Foto: Miquele Silvestre

"I used to be a lawyer. I had a good life, good career, expensive cars. I work behind my desk."

Kalimat itu terlontar dari seorang pria hispanik berumur 43. Jambang pirangnya tumbuh tak beraturan, kulitnya memerah terbakar sinar matahari. Tapi senyum sumringah tak pernah lepas dari wajahnya. Tubuhnya tak terbilang tinggi untuk ukuran manusia Eropa. Dalam skala ukuran yang sama, ia juga tergolong slengean.

Setelah menyelesaikan kalimat itu ia menepuk bahu saya dan berkata, "Sastri, you are young."

Hari itu, tepat seminggu berlalu sejak Miquele Silvestre menginjakkan kakinya di Belawan, Sumatera Utara. Indonesia jadi negara ke-85 yang berhasil ditaklukkannya. Seorang diri? Tentu saja tidak. Ia punya teman traveling sepanjang masa: sebuah motor BMW RS 1200, yang belakangan saya dengar harganya mencapai setengah milyar rupiah.


Sebagai seorang jurnalis, saya berkesempatan menemui Silvestre dalam sebuah wawancara eksklusif di kantor BDO Tanubrata, Jakarta Pusat. Dua jam berbincang dengan Silvestre sepertinya tidak akan pernah berakhir. Selalu ada hal yang ia ceritakan. Awalnya ia berkisah tentang masa lalu, kemudian masa kini, kisah perjalanan, romansa percintaan, kuliner lokal, tradisi masyarakat, kehidupan pribadi, dan seks (ups!) hingga kami berbincang lama sekali tentang "zona nyaman".

Zona nyaman sempat membuat Silvestre betah jadi pengacara. Zona nyaman itu pula yang membuatnya rela menempuh ratusan ribu kilometer, melintasi berbagai kota-negara-benua, tidur di hostel murah dan makan seadanya. Mencuci baju pun jarang, kecuali bila orang lain tiba-tiba bermuka sengit sambil menatap Silvestre dan menutup hidung mereka.

Apa yang membuat pengacara jutawan ini rela menjadi gembel jalanan?

Alkisah, suatu hari di kota asalnya yaitu Madrid, Silvestre mengalami kecelakaan motor yang berakibat tulang siku kirinya patah. Silvestre pun mendekam berhari-hari di rumah sakit, tak bisa melakukan apa pun. Pada saat itulah terlintas sebuah hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya: liburan panjang.

"Then I decided to go to Italy," katanya.

Dalam benak saya: Oh oke, cuma negara tetangga. Pasti tak butuh effort kuat untuk sekadar pergi ke negara sebelah. Tapi kawan, itulah mengapa Lao Tzu berucap "A journey of a thousand miles begins with a single step".

Mengendarai motor kesayangannya, Silvestre meninggalkan Spanyol dengan praduga yang tinggi. Berbagai pertanyaan melintas di kepala setengah botaknya: Bagaimana ia akan bertahan? Bagaimana jika bensinnya habis? Mau makan apa sepanjang jalan? Bagaimana jika terjadi kejahatan? Berapa botol sunblock yang harus ia bawa?

Maka benarlah adagium: Tuhan bersama orang-orang yang melakukan perjalanan. Kepergian itu berbuah rasa nyaman. Alhasil, perjalanan ke Italia ditulis dan dipublikasikan di koran lokal kota asalnya.

Selanjutnya, mulutnya merapal negara lain yang pernah disinggahi: Kenya, Kazakhstan, Turki, Uzbekistan, Slovenia, Kanada, Bostwana, Cyprus, Spanyol, Amerika Serikat, India, Nepal, Malaysia, dan sebagainya. Saya tak mampu merekam dengan jelas, Silvestre mengucapkannya dengan cepat. Intinya, selama empat tahun belakangan, ia sudah mampir di 80 negara. Dan, kali ini ia berada di Jakarta, tepat di hadapan saya.

Silvestre pun berkisah, rutinitas yang ia lakukan selama ini adalah: berkendara santai dengan motornya mengandalkan GPS (Global Positioning System, yang sering saya terjemahkan sebagai Guide Penduduk Setempat, hehe). Ia menginap di hostel murah, mencuci baju hanya saat diperlukan. Ia makan apa pun kuliner lokal. Ia kenal mata uang tiap negara. Silvestre sudah menjadi penduduk dunia.

Kawan, bersalaman dengannya, serasa memegang tangan ribuan orang dari seluruh bumi.


Perjalanan bermotornya keliling Afrika diabadikan dalam buku berbahasa Spanyol, "Un millon de piedras" (A Million Stones). Semenjak itu pula Silvestre memutuskan untuk menjadi seorang penulis perjalanan. Berkelana keliling dunia sambil membuat artikel. Mengirimnya ke beberapa koran lokal, serta situs pribadi dan jejaring sosial.

Sosok Silvestre mengingatkan saya pada Gol A Gong dengan serial "Balada si Roy" buatannya. Wawancara singkat dengan Gol A Gong beberapa waktu lalu berhasil menetapkan statusnya sebagai salah satu travel writer favorit saya sepanjang masa.

Cekrek! Ia pun memotretku dengan salah satu Canon EOS-nya. Cekrek! cekrek! cekrek! beberapa kali.

Secepat kilat, Silvestre menukar kamera itu dengan satu Canon lainnya. Cekrek!

"See? This one is different. It's fish eye. Good for buildings, great for landscape," katanya sumringah.

Kami bertukar cerita tentang daerah yang penuh kenangan. Tahukah kau, ia menjawab apa? Sumatera! Dataran panjang itu rupanya membekas di hati Silvestre. Ia tak bercerita banyak tentang caranya menembus jalur ganas Sumatera. Namun, ia berhasil menaklukkan pulau itu empat hari lamanya. Sempat tersasar ke banyak tempat yang namanya pun tak dia ingat. Hingga akhirnya Pelabuhan Bakauheni menyambutnya dengan sukacita dan sebuah ferry mengantar perjalanannya ke Jawa.

"So Miquele, what is the most interesting experience that you found after these long, long, journey?" tanyaku.

Jauh dari ekspektasiku tentang pengalaman sepanjang perjalanan, Silvestre hanya melontarkan satu kata: "People."

"People, everyone who lives in this world is good. They have their own life, live their own dreams. People are nicer than what you saw on TV. Believe me, normal people, are going to help you anytime, anywhere."

Mata saya berbinar tepat saat ia menghembus nafas panjang, menyadari pukul 14.00 telah lewat. Ia harus menghadiri sebuah acara lainnya dan saya harus beranjak ke kantor untuk membuat ulasan tentangnya.

"One more question, mind you?"

"Absolutely."

"Are you going to stop traveling?"

Jawaban terakhirnya pun diucapkan pelan-pelan, dengan senyum mengembang.

"I think I have money and luck. Destiny may change, but He saved my life over and over again. I don't know when to stop. And um... I don't think so."

NB:
Ikuti perjalanan Silvestre pada blognya:
http://miquel.exploramoto.com


______________________________________________ 
Kontributor










Sri Anindiati Nursastri adalah jurnalis di Detik Travel. Suka mendengarkan musik Mew, Weezer dan Sigur Rós. Menganut falsafat 'traveling without moving' ala Jamiroquai. Menggemari tulisan Remy Sylado dan pssst hati-hati, sudah ada yang punya bro.

Twitter @saastrii
______________________________________________ 

4/13/12

Indonesia Underwater World


Apakah pakdhe budhe Hifatlobrainers sekalian ada yang sudah menonton film dokumenter bawah laut berjudul "Indonesia Underwater World" buatan Cahyo Alkantana? Mungkin beberapa orang yang kemarin datang ke pameran Deep and Extreme di Jakarta ada yang sudah mendapatkannya gratis...

Sebetulnya saya bingung untuk membahas film ini. Saya harus mulai dari mana? Saya bukan diver. Saya juga belum pernah lihat film dokumenter bawah air karya filmmaker lokal sebelumnya. Dan rasanya tidak adil jika harus membandingkan film sepanjang 24 menit ini dengan dokumenter lain seperti "March of the Pinguin" karya Luc Jaquet atau "Home" besutan Luc Besson. Jadi ya, biarkan saya berceracau saja yes.

Film ini menjadi berharga karena belum banyak orang Indonesia yang membuat hal serupa. Sedangkan Cahyo Alkantana sudah memulainya sejak awal tahun 1990-an. Bisa jadi, Cahyo Alkantana adalah Riza Marlon versi underwater. Jam terbangnya tinggi dan (mungkin) hampir semua dive site terbaik di negeri ini sudah pernah ia selami. Dokumenter singkat ini menjadi saksi ketekunan dan konsistensi Cahyo Alkantana dalam berkarya. Sepanjang film ini, saya menikmati alur, narasi, juga musik pengiringnya. Dan setelah menyaksikan film Indonesia Underwater World, yang saya mau hanyalah satu; mencari sertifikat menyelam secepatnya! Hahaha.

Saya mengenal Cahyo Alkantana dari Majalah SWA, jauh sebelum pria ini memproduseri program ekspedisi di Kompas TV, Teroka. Sejak saat itu saya ingin melihat hasil karyanya. Sayang, sulit sekali menemukan karya Cahyo di internet. Maka Indonesia Underwater World adalah perjumpaan pertama saya dengan film dokumenter karya Cahyo.

Hemat saya, film ini merupakan ensiklopedia dive site terbaik di Indonesia yang dikemas dalam dokumenter pendek. Dengan membandingkan begitu luasnya laut Indonesia dan besarnya potensi yang dikandungnya, tentu saja film ini bagaikan tahi lalat di wajah Revalina S. Temat. Membuat kita tidak puas dan terasa nanggung. Di sisi lain, film ini menjadi alat provokasi yang paling efektif untuk mengajak orang memulai diving. Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, saya adalah salah satu korbannya.

Melalui film ini, saya sebagai orang awam harus mengakui virtuositas Cahyo sebagai pembuat film dokumenter khusus bawah air. Gambar-gambarnya begitu filmis sekaligus saintis. Indah tapi juga bernilai edukasi. "...Saya seorang filmmaker, saya mengutamakan art-nya: angle, warna, motion, obyek, bagi saya semua itu penting," kata Cahyo yang menggunakan kamera Arriflex 16 mm Housing Arri SR2, Sony DSR PD 150 Housing Ikelite, Canon 5D mk2 Housing Ikelite , dan lighting HMI, HID sebagai senjatanya di bawah laut.

Setengah jam menonton film ini hampir tidak terasa. Apalagi gambarnya tidak monoton, cepat berubah dari satu satwa ke satwa lainnya, dari satu pemandangan ke pemandangan lain. Semua hampir ada di sini, mulai dari ubur-ubur Kakaban, penyu Sanggalaki, ikan sotong di perairan Lesser Sunda, hiu paus Kwatisore, hingga berbagai jenis nudibranch yang imut. Hampir tak ada satwa laut yang luput dari kamera Cahyo.

Kisah penyelamannya untuk mendapatkan rekaman hiu paus sendiri ditulis oleh Cahyo di majalah National Geographic Traveler edisi khusus Papua (vol.4/no.3) dengan judul "Terkepung 'Raksasa' Teluk Nabire". "Kami menyelam lebih dalam, 20 meter, dan mendapati belasan hiu paus. Yang membuat kami terpana, di antaranya berukuran panjang sekitar 15 meter, serupa bus Trans Jakarta." tulis Cahyo dalam artikelnya. 

Menariknya, sebelum film berakhir Cahyo menyisipkan salah satu footagenya yang paling mahal! Yaitu rekaman ikan pejantan jawfish yang sedang mengeluarkan ribuan telur dari mulutnya. Footage ini dibeli production house Zebra Films seharga US$ 25.000 atau sekitar Rp 225 juta. "Tapi, itu kategori best shoot yang saya rekam pukul empat pagi di Pulau Derawan," kata Cahyo. Sebuah harga yang wajar dari penantian selama 20 jam penyelaman. (Majalah SWA no. 2/XXVII/20, hal. 101)

Pria kelahiran Yogyakarta yang sudah menyelam lebih dari 6000 kali dan menghasilkan 52 ekspedisi ini karyanya sudah diputar di berbagai saluran bergengsi, seperti Animal Planet, TV France, BBC, NHK Jepang, dan National Geographic Channel. Wedyan bro!

Dokumentasi KompasTV

Foto oleh Purwo Subagiyo

Maka untuk menjadi seorang pembuat film dokumenter bawah air, Cahyo membagikan beberapa tips yang terdapat pada majalah DiveMag terbaru (Vol.3/No.025), yaitu:

1. Penyelam harus memiliki kemampuan buoyancy yang baik. Artinya bisa mempertahankan posisi selama melakukan shot tanpa mengayuhkan fins.

2. Setiap turun satu meter, warna bawah laut berubah. Itu mengapa penting sekali mengetahui setelan white balance yang pas. Meski ada teknik post-production, tapi ini nggak boleh jadi peganggan underwater videographer.

3. Mempelajari karakteristik hewan yang muncul pada momen tertentu dan perilakunya. Manfaatkan peralihan-peralihan tersebut untuk menangkap momen-momen yang sejalan dengan shot yang akan diambil.

4. Jangan menaruh kamera di atas karang. Be friendly to the environment. Kita mengambil gambar untuk kepentingan dan keuntungan kita, jangan sampai merugikan ekosistem.

5. Pengetahuan tentang obyek dan daerah yang akan diambil gambarnya itu sangat penting. Begitu juga harus paham tingkah laku obyek, pasang-surut, arus, dan kontur daerah penyelaman. Riset sangat dibutuhkan!

6. Jadilah diver yang bertanggung jawab. Ikuti peraturan setempat dan patuhi batas-batas penyelaman sesuai standar yang berlaku.[]

NB: Nuhun teh Riyanni yang sudah mengirim DiveMag terbaru dan DVD ini untuk diulas.  

4/8/12

Sense of Places


Kami sudah berjanji untuk membagi materi workshop travel writing yang diadakan beberapa waktu lalu. Tapi kalau sekedar share saja kurang asyik, maka dari itu kami meminta mas Yudasmoro untuk menambahi materinya agar yang semula asyik dilihat jadi enak dibaca. Setelahnya kami mengedit dan menghiasnya dengan layout yang ciamik. Karena sudah menjadi kebiasaan Hifatlobrain untuk merilis ebook dengan layout asik, atau minimal enak dilihat. 

Ebook ini bebas diunduh oleh siapa saja, terutama bagi mereka yang tertarik untuk mendalami ilmu kanuragan travel writing. Buku ini menjadi berbeda karena isinya lebih menekankan penulisan artikel untuk keperluan majalah. Jadi tidak hanya menulis perjalanan biasa saja. Awalnya malah Mas Yudasmoro memberi bonus sekilas materi tentang travel photography, tapi terpaksa kami sisihkan agar ebook ini fokus pada travel writing saja. Perihal travel photography akan kita compile dalam ebook tersendiri yang akan diterbitkan entah kapan, hehehe. 

Jika Anda jeli mengikuti penerbitan ebook Hifatlobrain, maka ada perbedaan nyata pada nama publisher. Beberapa ebook sebelumnya menggunakan publisher Travelista, maka ebook terbaru kami diterbitkan oleh Hifatlobrain Travel Institute. Sengaja kami lakukan untuk memperkaya lini penerbitan. Materi-materi serius yang berguna sebagai referensi akan kami terbitkan atas nama travel institute, sedangkan yang bergenre travel journal akan tetap kami terbitkan atas nama Travelista -hati-hati terpeleset dengan majalah online The Travelist karya kawan-kawan Jogja ya.

Ya begitu saja lah. Semoga berkenan. Dan bila ada feedback atau kritikan, sampaikan saja ya via email, kami akan senang sekali dan siap melakukan revisi bila ada kesalahan. Kami ucapkan terimakasih juga pada Ferzya Farhan dan Agyl PH yang fotonya kami gunakan dalam ebook ini.

Silahkan membaca dan mendonlotnya pada Scribd kami. 
Sense of Places

 Buat yang kesulitan mengunduh dari Scribd, kami sediakan link donlot di Mediafire:

http://ow.ly/a9owI


NB: Selamat ulang tahun mas Yudasmoro, ternyata bertepatan dengan penerbitan buku ini!

Birds of Baluran National Park


Judul: Birds of Baluran National Park
Penyusun: Swiss Winasis, Sutadi, Achmad Toha, dan Richard Noske.
Penerbit: Baluran National Park; dicetak oleh Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung.
Tebal: 270+ halaman


Sudah lama saya ingin mengucapkan selamat pada Swiss Winasis atas buku barunya, Birds of Baluran National Park. Tapi saya tahan sampai mendapatkan versi cetaknya. Kemarin saat saya numpang tidur di acara Ekspedisi FOBI, Swiss memberikan satu eksemplar buku tersebut. Cetakannya eksklusif, kovernya dove, layoutnya sedap dipandang, dan seluruh halamannya full color! Memegangnya saja saya sudah ikut senang, apalagi melihat foto-foto di dalamnya. Wuih saya jadi kangen Baluran, bos. Saya hanya membaca bagian depannya saja, karena begitu sampai di bagian species pages, kening saya langsung berkerut, hahaha. Sayang, di beberapa halaman, beberapa foto burung harus kalah dengan warna background yang sama gelap.
Layout dalam buku Birds of Baluran National Park.

Tiga per empat bagian buku ini memang menjelaskan 160 spesies avifauna yang terdapat di Taman Nasional Baluran. Mulai dari famili Ardeidae, Ciconiidae, Columbidae, hingga raptor dari kelompok Falconidae dan Accipitridae. Mendengarnya saja sudah puyeng kan? Dari buku ini juga saya jadi tahu kalau savana raya Baluran menyimpan kelompok burung berparuh besar dari kelompok Bucerotidae, atau lebih kita kenal sebagai hornbill.

Buku ini merupakan kerja keras tim PEH Baluran, mereka berkarya overtime di luar jadwal pekerjaan resmi mereka. Saya pikir tidak banyak nayapraja yang seperti ini. Inisiatif sering mati di bawah kasta birokrasi, maka yang mendobrak biasanya akan menginspirasi. "Saya percaya semangat mereka dalam menerbitkan buku ini bisa menjadi model yang baik bagi petugas taman nasional lain di Indonesia," kata Pramana Yuda dari Indonesian Ornithologist Union (IdOU) dalam sambutannya.

Kita tentu merindukan berbagai buku bermutu seperti ini mengingat banyak sekali taman nasional yang tersebar di Indonesia, mewakili harta biodiversitas yang luar biasa kaya. Andai saja terwujud, tentu kita tak memerlukan peneliti asing untuk mendokumentasikan tanah air sendiri. Apalagi dengar-dengar Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung menggelontorkan dana DIPA untuk mencetak buku-buku tentang daerah konservasi.  

Di balik tim penyusunan buku ini yang dikerjakan keroyokan, saya memberikan tabik pada Swiss Winasis, pria inspiratif yang seringkali menjadi raja bullying bagi kawan-kawan apes di sekitarnya. Buku ini menjadi indah karena karya fotonya. Secara intens, ia blusukan di dalam Baluran untuk mengamati dan mendokumentasikan burung-burung. Saya ingat betul bagaimana Swiss dengan heroik menenteng lensa tele sebesar knalpot di atas Wiwin, motor trail kesayangannya. Buku ini adalah manifestasi kerja blusukan Swiss selama empat tahun, sebelumnya materi yang sama pernah dibuat ebook dan bisa diunduh gratis melalui blog Swiss. Sedangkan buku yang tercetak sudah ada penambahan 23 spesies dengan keterangan taksonomi yang lebih lengkap dan berbahasa Inggris! Wedyan, nginternasional punya bos! Translatornya sendiri adalah Mas Oka FOBI dan Mbak Mumun Indohoy, dua orang traveler yang saya kenal.

Tapi Swiss bukanlah orang yang cepat puas."Aku lagi giat menyelam nih, dua tahun lagi lah bikin Baluran versi underwater," kata Swiss. Selain itu Swiss juga rajin bermain-main dengan lensa macro dalam mengabadikan kehidupan satwa kecil di Baluran. "Ini lensa sakti untuk menangkap cahaya Tuhan," kata Swiss mengutip Kang Bas (Karyadi Baskoro) yang juga menjadi salah satu editor dalam buku ini. Kontribusi Kang Bas memang tidak sedikit, dosen paruh waktu dan wildlifer penuh waktu ini merupakan pendiri Foto Biodiversitas Indonesia (FOBI) dan juga tim hore bagi Swiss dalam berkarya. Kemesraan mereka tampak dalam berbagai kesempatan, melebihi kemesraan Swiss bagi Mbak Ismi Wahid, istrinya yang manis itu.


Sebelum berpisah, tak lupa Swiss memberikan ciuman khusus untuk buku yang diberikan. Dia pasrah saja saat Mbak Ismi memulas bibir seksi Swiss dengan lipstik. Dan cup... sebuah signature istimewa pun menempel di kover dalam buku milik saya. Ditambah kata-kata: from Baluran with luph.

Ah Mas Swiss, makasih!   

NB:
Kisah kreatif di balik pembuatan buku ini juga patut disimak!
Birds of Baluran National Park, Tabungan Akhirat Kelak
Kabinet Gotong Royong BBB
Layout Primitif, Renaissance Sampai Eureka