Pages

4/8/12

Birds of Baluran National Park


Judul: Birds of Baluran National Park
Penyusun: Swiss Winasis, Sutadi, Achmad Toha, dan Richard Noske.
Penerbit: Baluran National Park; dicetak oleh Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung.
Tebal: 270+ halaman


Sudah lama saya ingin mengucapkan selamat pada Swiss Winasis atas buku barunya, Birds of Baluran National Park. Tapi saya tahan sampai mendapatkan versi cetaknya. Kemarin saat saya numpang tidur di acara Ekspedisi FOBI, Swiss memberikan satu eksemplar buku tersebut. Cetakannya eksklusif, kovernya dove, layoutnya sedap dipandang, dan seluruh halamannya full color! Memegangnya saja saya sudah ikut senang, apalagi melihat foto-foto di dalamnya. Wuih saya jadi kangen Baluran, bos. Saya hanya membaca bagian depannya saja, karena begitu sampai di bagian species pages, kening saya langsung berkerut, hahaha. Sayang, di beberapa halaman, beberapa foto burung harus kalah dengan warna background yang sama gelap.
Layout dalam buku Birds of Baluran National Park.

Tiga per empat bagian buku ini memang menjelaskan 160 spesies avifauna yang terdapat di Taman Nasional Baluran. Mulai dari famili Ardeidae, Ciconiidae, Columbidae, hingga raptor dari kelompok Falconidae dan Accipitridae. Mendengarnya saja sudah puyeng kan? Dari buku ini juga saya jadi tahu kalau savana raya Baluran menyimpan kelompok burung berparuh besar dari kelompok Bucerotidae, atau lebih kita kenal sebagai hornbill.

Buku ini merupakan kerja keras tim PEH Baluran, mereka berkarya overtime di luar jadwal pekerjaan resmi mereka. Saya pikir tidak banyak nayapraja yang seperti ini. Inisiatif sering mati di bawah kasta birokrasi, maka yang mendobrak biasanya akan menginspirasi. "Saya percaya semangat mereka dalam menerbitkan buku ini bisa menjadi model yang baik bagi petugas taman nasional lain di Indonesia," kata Pramana Yuda dari Indonesian Ornithologist Union (IdOU) dalam sambutannya.

Kita tentu merindukan berbagai buku bermutu seperti ini mengingat banyak sekali taman nasional yang tersebar di Indonesia, mewakili harta biodiversitas yang luar biasa kaya. Andai saja terwujud, tentu kita tak memerlukan peneliti asing untuk mendokumentasikan tanah air sendiri. Apalagi dengar-dengar Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung menggelontorkan dana DIPA untuk mencetak buku-buku tentang daerah konservasi.  

Di balik tim penyusunan buku ini yang dikerjakan keroyokan, saya memberikan tabik pada Swiss Winasis, pria inspiratif yang seringkali menjadi raja bullying bagi kawan-kawan apes di sekitarnya. Buku ini menjadi indah karena karya fotonya. Secara intens, ia blusukan di dalam Baluran untuk mengamati dan mendokumentasikan burung-burung. Saya ingat betul bagaimana Swiss dengan heroik menenteng lensa tele sebesar knalpot di atas Wiwin, motor trail kesayangannya. Buku ini adalah manifestasi kerja blusukan Swiss selama empat tahun, sebelumnya materi yang sama pernah dibuat ebook dan bisa diunduh gratis melalui blog Swiss. Sedangkan buku yang tercetak sudah ada penambahan 23 spesies dengan keterangan taksonomi yang lebih lengkap dan berbahasa Inggris! Wedyan, nginternasional punya bos! Translatornya sendiri adalah Mas Oka FOBI dan Mbak Mumun Indohoy, dua orang traveler yang saya kenal.

Tapi Swiss bukanlah orang yang cepat puas."Aku lagi giat menyelam nih, dua tahun lagi lah bikin Baluran versi underwater," kata Swiss. Selain itu Swiss juga rajin bermain-main dengan lensa macro dalam mengabadikan kehidupan satwa kecil di Baluran. "Ini lensa sakti untuk menangkap cahaya Tuhan," kata Swiss mengutip Kang Bas (Karyadi Baskoro) yang juga menjadi salah satu editor dalam buku ini. Kontribusi Kang Bas memang tidak sedikit, dosen paruh waktu dan wildlifer penuh waktu ini merupakan pendiri Foto Biodiversitas Indonesia (FOBI) dan juga tim hore bagi Swiss dalam berkarya. Kemesraan mereka tampak dalam berbagai kesempatan, melebihi kemesraan Swiss bagi Mbak Ismi Wahid, istrinya yang manis itu.


Sebelum berpisah, tak lupa Swiss memberikan ciuman khusus untuk buku yang diberikan. Dia pasrah saja saat Mbak Ismi memulas bibir seksi Swiss dengan lipstik. Dan cup... sebuah signature istimewa pun menempel di kover dalam buku milik saya. Ditambah kata-kata: from Baluran with luph.

Ah Mas Swiss, makasih!   

NB:
Kisah kreatif di balik pembuatan buku ini juga patut disimak!
Birds of Baluran National Park, Tabungan Akhirat Kelak
Kabinet Gotong Royong BBB
Layout Primitif, Renaissance Sampai Eureka

4 comments:

ririn datoek said...

nek meh tuku, iso pesen neng ndi iki, yos?

Journal Kinchan said...

Mas Swiss Winnasis!! I HEART YOUUUU!! hahaha

sayangnya waktu main ke sana eh cuma ketemu bentar sama ni orang. orang gila lebih tepatnya! haha
sukses buat baluran underwatermu mas! kalahkan cahyo alkantana! :))

kebogiraz said...

aku masih mau kok nyium sampeyan lagi.
thanks bro for any of your words.

still luph you

RuliDeGreat said...

mas swiss ancen maknyus.. pngontrol ekosistem, pendekar baluran, wildlife potografer, penulis, desainer grafis, diver, bojo mbanyol etc dan etc. salah satu dr sedikit pegawai negri sing gaji ne halal :D

mengetahui baluran di cekel ma orang model gini membuat hati saya tenang, karena meyakinkan saya bahwasanya africa'nya baluran akan bertahan lebih lama dr prediksi aklam manyun :p
smoga panjang rejeki bang swiss, amien.